III.A. Perjalanan Intelektual

Ayahanda Muhyiddin Ibnu Arabi, yg bernama Ali Ibnu Muhammad, berkebangsaan Arab dari garis keturunan Hatim al-Tha’i, lahir dan tumbuh dewasa di Andalusia. Ali Ibnu Muhammad adalah seorang Imam di bidang Hadits, Fiqih, ahli ibadah dan zuhud. Dia juga teman dekat Ibnu Rusyd, sang filsuf dari Cordoba.

Ayah Syaikh Ibnu Arabi tidak banyak tahu tentang tahapan² sufistik, ahwal dan maqam² kaum Sufi. Dia tidak terlalu mementingkan dunia batin sufisme melainkan lebih fokus mengerjakan ibadah dan menjalani kehidupan zuhud. Ali Ibnu Muhammad juga bergabung ke dalam halaqah2 orang² ahli ibadah dan zuhud, terus belajar untuk menguasai ilmu hadits dan ilmu fiqih. Jadi, dia adalah orang yg sangat alim, zahid, dan abid.

Ali Ibnu Muhammad menginginkan putranya kelak dapat mengikuti jejak langkahnya sendiri. Syaikh Ibnu Arabi diharapkan bergabung ke dalam halaqah orang² ahli ibadah dan zuhud. Dia pun sangat antusias dan serius dalam mempersiapkan semua pengajaran dan merancang ruang keilmuan bagi putranya, menjamin pendidikan keagamaannya dengan sempurna. Syaikh Ibnu Arabi, akhirnya, mulai menapaki jalan intelektualisme di bidang ilmu fiqih, hadits, dan sastra.

Pada suatu hari, Syaikh Ibnu Arabi ikut bersama ayahnya pergi meninggalkan tempat kelahirannya, Murcia, menuju Sevilla. Usianya pada waktu itu masih 8 tahun. Di Sevilla inilah, Syaikh Ibnu Arabi tumbuh dewasa dan belajar dengan tekun. Dia belajar membaca Al-Qur’an dengan tujuh macam qira’at, seperti dalam kitab al-Kafi, kepada Abu Bakar bin Khalaf, salah seorang ulama fiqih terkemuka di Sevilla. Dia pun menjadi mahir di bidang ini. Ketika telah menyelesaikan masa belajar Al-Qur’an, Ali bin Muhammad langsung menyerahkan putranya kepada guru² yg pakar di bidang hadits dan fiqih. Di usia yg masih sangat belia, Syaikh Ibnu Arabi sudah belajar kepada Ihnu Zarqun, al-Hafid Ibnu al-Jad, Abul Walid al-Hadhrami, dan Syaikh Abul Hasan Ibnu Nashr.

Semua jenis ilmu keislaman diperoleh Syaikh Ibnu Arabi pada usianya yg belum mencapai 20 tahun. Di usia inilah, kita melihat Syaikh Ibnu Arabi mulai melirik dunia khalwat, tasawuf, dan coba menjalani ahwal kaum Sufi. Khalwat adalah hal sufistik pertama yg dia coba. Seusai menjalani khalwat, dia turun gunung, menyampaikan seluruh ilmu yg dikuasainya, sesuai kapasitasnya. Masa pengajaran ini terjadi pada tahun 580 H/1184 M.

Tasawuf yg dijalani Syaikh Ibnu Arabi tidak menghancurkan ilmu² lain yg telah dipelajarinya. Sebaliknya, tasawuf menjadi tahapan pembuka yg mempermudah orientasi fiqih dan rasionalitasnya. Di sini, Syaikh Ibnu Arabi berbeda dengan Imam al-Ghazali. Bagi Imam al-Ghazali, tasawuf adalah penyelamat dari kesesatan. Sedang bagi Syaikh Ibnu Arabi, tasawuf adalah pelengkap.

Kita mungkin membagi periode kehidupan Syaikh Ibnu Arabi ke dalam empat periode: pertama, pembentukan cakrawala keilmuan selama tinggal di Andalusia, kedua, pengembaraan ke dunia Islam di Barat, ketiga, pengembaraan ke dunia Timur dan menetap di Mekkah, dan keempat, saat menetap di Damaskus.

A. Pertama, Pembentukan Cakrawala Keilmuan dan Amal

Dalam menapaki jalan intelektualitas, Syaikh Ibnu Arabi menempuh rute yg sama dengan ulama² hadits dan fiqih. Selain itu, kita juga tahu bahwa Syaikh Ibnu Arabi belajar dan menerima ahwal sufistik hanya dari ahlinya. Karena itulah, guru² Syaikh Ibnu Arabi sangat banyak, baik laki² maupun perempuan. Kita bisa mengetahui nama² mereka dalam karya² Syaikh Ibnu Arabi sendiri seperti al-Futuhat dan Risalah al-Quds.

Syaikh Ibnu Arabi belajar arti ‘ubudiyah kepada Abul Abbas al-‘Uryani, belajar menerima ilham² ilahiah dari Musa bin Imran al-Mirtali. Dia juga berguru kepada Abul Hujaj Yusuf al-Syubrabuli, salah seorang sufi yg bisa berjalan di atas air dan dikelilingi arwah² ghaib. Syaikh Ibnu Arabi belajar cara mengevaluasi diri kepada dua wali qutub: Abu Abdullah bin Mujahid dan Abu Abdullah bin Qaisum, belajar kesabaran menghadapi tekanan dari Abu Yahya al-Shanhaji al-Dharir.

Sedangkan Abu Abdullah mengajari Syaikh Ibnu Arabi tentang kemuliaan melakukan khalwat di dalam gelap, dengan menjauhi segala gangguan yg menyebabkan pikiran hilang fokus. Kebiasaan mengembara dan menempuh perjalanan jauh dipelajarinya dari Shaleh al-Barbari. Syaikh Ibnu Arabi juga mengabdi dan berkhidmat kepada seorang sufi perempuan bernama Fatimah bin Abul Mutsni selama dua tahun berturut-turut. Menurut ungkapan Syaikh Ibnu Arabi, Fatimah selalu bersama Allah, dan Allah Ta’ala menganugerahinya Surat al-Fatihah untuk menjadi khadamnya. Terakhir, Syaikh Ibnu Arabi belajar ilmu tawakkal kepada Abdullah al-Mauruni.

Begitulah kehidupan Syaikh Ibnu Arabi di Andalusia selama pernode pembentukan pengetahuan dan amal. Pembentukan cakrawala pengetahuan berarti mengabdi kepada orang² yg menjalani tarekat tersebut dalam rangka mempelajarinya. Sebab, pengabdian merupakan metode paling efisien untuk mencontoh karakter dan sifat guru yg dijadikan panutan dan teladan. Sedangkan amal berarti menjalankan khalwat, menjauhi keramaian, dan menempuh ahwal² sufistik yg dapat mendekatkan diri kepada Allah.

B. Kedua, Pengembaraan ke Dunia Islam di Barat

Syaikh Ibnu Arabi memulai pengembaraannya dari Afrika, suatu wilayah luas di luar batas negara Andalusia. Usianya pada waktu itu berkisar 30 tahun. Sekalipun ketenaran namanya di dunia tasawuf sudah tersebar luas, namun tujuan pengembaraan ini sebatas untuk berjumpa dengan orang² terkemuka di jamannya. Syaikh Ibnu Arabi ingin menyempurnakan sisi² Iain keilmuannya. Tidak ada batas akhir dalam menajamkan keilmuan, sebab di atas orang berilmu masih ada orang yg lebih berilmu.

Periode ini merupakan momen² istimewa. Syaikh Ibnu Arabi menempuh pengembaraan dan menemukan banyak pengalaman. Dimulai dari Fez, Bijaya, Tunis, kemudian kembali ke Sevilla dan Murcia. Perjalanannya yg kedua juga demikian. Selama masa pengembaraan ini, jiwa Syaikh Ibnu Arabi banyak mengalami visi² spiritual dan mendapat kabar² gembira. Sedangkan tangannya disibukkan dengan mencatat dan mengarang kitab.

C. Ketiga, Pengembaraan ke Timur (597-620 H)

Pada 597 H di usianya yg ke 37, Syaikh Ibnu Arabi memulai suatu tahapan penting dalam hidupnya. Dia akan kembali memulai pengembaraan, pengembaraan terakhir, yg pergi ke negara² Islam di Timur. Pengembaraannya ini adalah sebuah tafsiran atas suatu visi yg telah dilihatnya. Setelah melakukan perjalanan di Tunis, Kairo, dan Iskandariyah, kita melihat Syaikh Ibnu Arabi menempati kota² lain yg terpisah-pisah seperti Baghdad dan Konya, kemudian tinggal di Mekkah lebih lama. Dia sedang merampungkan eksiklopedi sufistiknya yg berjudul al-Futuhat al-Makkiyah.

Periode ini juga merupakan tahapan penting dalam kehidupan Syaikh Ibnu Arabi. Dia sempat berjumpa dengan tokoh² sufi terkemuka, termasuk Syaikh Syihabuddin al-Suhrawardi pada 608 H di Baghdad. Kehormatan dan penghargaan didapatnya dari para raja dan sultan. Bahkan, Raja Kaikawus I turun dari kursinya untuk menyambut kedatangan Syaikh Ibnu Arabi. Kata² Syaikh Ibnu Arabi didengar (dipatuhi) oleh al-Malik al-Dhahir, penguasa Kota Halb, putra Shalahuddin al-Ayyubi.

D. Keempat, Menetap di Damaskus (620-638 H)

Ketika usia Syaikh Ibnu Arabi mencapai 60 tahun, ketenarannya sudah tersebar luas di seluruh penjuru dunia Islam. Para raja berlomba-lomba untuk menemuinya. Orang² berdesak-desakan agar bisa duduk di depan pintunya untuk menimba ilmu dan belajar. Akan tetapi, kondisi kesehatan yg memburuk memaksa Syaikh Ibnu Arabi lebih banyak beristirahat. Tidak ada satu pun tempat yg lebih baik dan banyak memberi penghargaan kepada Syaikh Ibnu Arabi dibandingkan kota Damaskus.

Syaikh Ibnu Arabi berwasiat, “Jika kalian memiliki kemampuan untuk tinggal di Syam maka lakukanlah. Sebab Rasulullah Saw. bersabda agar kalian tinggal menetap di Syam. Karena di tanah Syam inilah Allah menurunkan kebaikan²Nya, dan di sana pula Allah menentukan hamba²Nya yg terpilih.”

Di Damaskus ini Syaikh Ibnu Arabi menikmati beragam penghargaan dan kehormatan. Ia disambut sebagai tamu al-Qadhi Muhyiddin Ibnu al-Zaki, yg dikenal memiliki hubungan akrab dengan Shalahuddin al-Ayyubi. Syamsuddin Ahmad al-Khuli, Qadhil Qudhat Mazhab Maliki juga mengabdikan diri kepada Syaikh Ibnu Arabi. Al-Malik al-Asyraf ibnu al-Malik al-Adil selalu mengikuti jam² pelajaran Syaikh Ibnu Arabi, dan pada 632 H dia mendapat ijazah langsung dari Syaikh Ibnu Arabi untuk meriwayatkan seluruh karya²nya.

Demikianlah kehidupan Syaikh Ibnu Arabi yg diliputi oleh beragam kehormatan dan kemuliaan. Dia pergi meninggalkan kehidupan dunia ini pada 638 H dengan membawa bermacam-macam keagungan.

Mendaki Tangga Langit

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Tingkatan Alam Menurut Para Sufi

“Tingkatan Alam Menurut Para Sufi” فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُّوحِى فَقَعُوا لَهُۥ سٰجِدِينَ “Maka…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Mengenal Yang Mulia Ayahanda Guru

Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin al-Khalidi qs.

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj (Rajab)

26 Jan - 05 Feb

Ramadhan

30 Mar - 09 Apr

Hari Guru & Idul Adha

20 Jun - 30 Jun

Muharam

27 Jul - 06 Ags

Maulid Nabi

28 Sep - 08 Okt

Rutin

30 Nov - 10 Des

All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

WhatsApp
Facebook
Telegram
Twitter
Email
Print