Tingkatan Alam Menurut Para Sufi

“Tingkatan Alam Menurut Para Sufi”

فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُّوحِى فَقَعُوا لَهُۥ سٰجِدِينَ

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr (15): 29)

Jika para ulama fiqih hanya membagi dua alam, yakni alam syahadah dan alam ghaib, para sufi membagi alam ke dalam berbagai tingkatan.

Pembagian besarnya tetap sama, hanya dibagi pada alam syahadah mutlak dan alam ghaib mutlak. Di antara dua alam mutlak itu ada alam antara (barzakh).

Alam barzakh sesungguhnya sudah masuk wilayah alam ghaib. Hanya saja alam ini dibagi dua.

Pertama, alam ghaib mudhaf, yakni alam ghaib yg relatif masih lebih dekat ke alam syahadah. Syaikh Ibnu Arabi menyebutnya alam mitsal, sedangkan Imam Al-Ghazali menyebutnya alam hayal, yg keduanya diartikan the imaginal world oleh William C Chittick.

Kedua, alam ghaib lainnya, ialah yg lebih dekat dengan alam ghaib mutlak, yaitu alam malakut, alam jabarut, sampai ke alam wahidiyat dan alam ahadiyat yg sebenarnya sudah tidak bisa lagi disebut alam. 

Para sufi seolah tidak mengenal alam ghaib dalam arti alam yg di luar kemampuan kognitif manusia untuk memahaminya atau alam yg tak teridentifikasi (unidentifying world). Alam ghaib oleh para sufi bukan sesuatu yg amat asing. Alam ghaib bagi mereka ialah alam yg berada di balik hijab.

Manakala hijab sudah terbuka (mukasyafah), hilanglah keghaiban itu. Kalaupun masih ada, yg terwujud hanyalah entitas tetap (al-a’yan al-tsabitah). Ini pun sudah di identifikasi dalam dua kategori, yaitu entitas wahidiyat yg masih bisa dikenali melalui Nama² (Al-Asma’)-Nya dan ahadiyat yg sudah tidak teridentifikasi atau disebut alam ghaib mutlak (asrar al-asrar/the sacred of the sacred).

Berbeda dengan para fuqaha yg seolah memberi wilayah alam ghaib amat luas, yaitu selain yg masuk dari kategori alam syahadah, alam dunia yg kita huni ini. Para sufi tidak mendikotomikan antara alam syahadah dan alam ghaib. Syaikh Ibnu Arabi termasuk di antara sufi yg berpendapat seperti itu.

Bagi Syaikh Ibnu Arabi, alam syahadah tidak murni alam fisik karena ia hanya elemen dasar dari rangkaian tingkatan alam yg terdiri atas tanah, air, udara, dan api. Alam syahadah mutlak disebut juga alam dunia (dari akar kata dana, berarti rendah). Alam dunia ini juga terdiri atas alam mineral, tumbuh²an, hewan, dan sebagian unsur manusia.

Alam mineral pun masih dapat di identifikasi dengan batu²an dan logam. Lalu logam masih dibedakan dengan logam biasa, seperti tembaga, besi, perak, dan logam mulia berupa emas. Emas juga dapat dibedakan berdasarkan karatnya, dari karat rendah sampai 24 karat.

Di atas alam mineral ada alam tumbuh²an yg memiliki daya untuk tumbuh sendiri (growth), makan (nutrilive faculty), dan kemampuan reproduksi.

Di atasnya masih ada alam hewan yg lebih kompleks karena sudah memliki selain apa yg dimiliki oleh alam mineral dan alam tumbuh²an.

Dunia hewan memiliki berbagai kemampuan, antara lain kemampuan penginderaan (sensation) dan gerak (harkah, locomotion), termasuk imajinasi sederhana, kekuatan khayal, dan memori² sederhana lainnya. Alam hewan juga sudah mengenal imajinasi (mutakhayyilah) dan indera² batin lainnya yg sesuai dengan tingkatannya.

Alam hewan sudah memiliki kemampuan pergerakan dan mobilitas secara vertikal dan horizontal yg tidak dimiliki alam mineral dan alam tumbuh²an. Di atas alam mineral dan alam tumbuh²an ialah alam manusia. Manusia secara biologis menghimpun semua potensi yg dimiliki tiga alam di bawahnya.

Manusia sering disebut sebagai binatang yg diberi kemampuan lebih (al-hayawan al-nathiq). Keunggulan manusia tak hanya terletak pada kesempurnaan jasmani dan jenis² indera yg dimilikinya, tapi manusia juga diberi keistimewaan khusus yg tidak dimiliki makhluk lain, yaitu ruh.

Ruh oleh para filsuf kadang disebut akal (intellect) kadang disebut jiwa rasional. Keberadaan ruh di dalam diri manusia, baik dalam proses maupun dalam substansi, dibahas secara luas oleh para sufi dan filsuf. Dalam kitab² tafsir sufi (Tafsir Isyari), ruh digambarkan sebagai unsur suci (malakut/lahut) yg ada pada diri manusia.

Itu yg membuat para malaikat dan makhluk lainnya tunduk (taskhir) dan bersujud, serta mengabdi kepada manusia, kecuali iblis yg kemudian membuatnya terkutuk. Keutamaan yg dimiliki manusia inilah menjadikannya sebagai khalifah Tuhan di bumi (khalaif al-ardl).

Ketika manusia masih dalam struktur sederhana, yg baru tersusun dari unsur mineral, tumbuh²an, dan hewani, belum ada perintah sujud dari Allah Ta’ala kepadanya.

Nanti setelah unsur suci itu di-install ke dalam diri Adam, barulah perintah sujud itu muncul (fasjudu li adam fa sajadu illa iblis).

Unsur ekstra, atau istilah khalqan akhar dalam firman Allah pada QS. Al-Mu’minun, membuat manusia sebagai makhluk istimewa. Ini pula yg membuat manusia menurut Syed Hussein Nasr, sebagai satu²nya makhluk eksistensialis yg derajatnya bisa fluktuatif, turun-naik, di mata Allah.

Manusia bisa tampil sebagai makhluk paling utama (ahsan taqwim) yg bisa menembus alam puncak (sidrah al-muntaha), di mana Jibril dan para malaikat utama lainnya tidak sanggup sampai ke sana.

Namun, kemampuan dan keutamaan yg dimiliki manusia seperti itu bisa juga membuatnya tersungkur jatuh ke lembah paling bawah (asfala safilin), terutama jika manusia menyia-nyiakan potensi tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُولٰٓئِكَ كَالْأَنْعٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat² Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda² kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat² Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang² yg lalai.” (QS. Al-A’raf (7): 179)

Transformasi dan transmutasi manusia menuju ke alam berikutnya sangat ditentukan oleh setiap individu. Jika mampu menggunakan potensi indera batinnya untuk menembus wilayah barzakh, manusia bisa melakukan transformasi itu.

Ada orang yg menunggu kematian untuk memasuki alam barzakh. Namun, ada juga orang yg mampu bolak-balik memasuki wilayah barzakh dan berkomunikasi dengan para penghuni barzakh lain atau alam² ghaib di level lebih tinggi.

Kalau di alam syahadah, mutlak seperti alam² dunia, mengalami proses evolusi untuk mencapai derajat utama.

Misalnya, mineral yg berupa tanah, batu, logam, perak, sampai kepada logam mulia seperti emas yg nilainya pasti lebih tinggi dibanding mineral lainnya dalam alam tumbuh²an, alam hewan, dan manusia demikian pula adanya.

Untuk menjadi logam mulia, sudah tentu harus melalui proses panjang. Demikian pula untuk menjadi batu permata juga harus melalui perjuangan panjang. Inilah analogi transmutasi evolusioner benda² alam syahadah yg pernah diungkap oleh seorang sufi sekaligus ahli kimia bernama Jabir bin Hayyan.

Penyair besar dan sufi Muslim, Jalaluddin Rumi, juga menjelaskan bahwa hubungan Al-Haq (Allah Ta’ala) dengan alam² tersebut adalah hubungan cinta. Menurut Rumi, sebagaimana dikutip Prof. Mulyadi, pergerakan, perputaran, dan thawafnya alam raya ini adalah reaksi dari pesona gelombang cinta Tuhan.

Mereka berputar laksana Sang Pencipta mabuk kepayang untuk berjumpa dengan kekasihnya. Mungkin ini yg menginspirasi Rumi menciptakan tarian sufi yg dikenal dengan Whirling Dervish.

Dalam level alam manusia juga mempunyai logika yg sama jika ia ingin mencapai martabat utama (maqaman mahmuda), sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسٰىٓ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

“Dan pada sebahagian malam hari, shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yg terpuji.” (QS. Al-Isra(17): 79)

Manusia juga harus menempuh diri dengan berbagai riyadhah dan mujahadah hingga mencapai posisi jiwa yg bersih (illuminated), selanjutnya mampu menembus batas² hijab. Jika hijab sudah tersingkap, mukasyafah terjadi.

Jika itu terjadi, wilayah alam ghaib menjadi berkurang karena alam barzakh sudah dapat di akses. Rupanya, inilah rahasia hadis Nabi Saw., “Mutu qabla anta mutu (matilah sebelum kalian mati yg sebenarnya).”

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Bacaan Lainnya

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Tingkatan Alam Menurut Para Sufi

“Tingkatan Alam Menurut Para Sufi” فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُّوحِى فَقَعُوا لَهُۥ سٰجِدِينَ “Maka…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj

17 Feb - 27 Feb

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

Ramadhan

7 Apr - 17 Apr

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

El Amin

Pekanbaru

Karya Limboto

Gorontalo

Hari Guru

10 Jun - 20 Jun

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Akhlaqul Amin

Lombok

Mujibul Amin

Samarinda

Idul Adha

29 Jun - 9 Jul

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Maulid Nabi

29 Sep - 9 Okt

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

El Amin

Pekanbaru

Rutin

15 Des - 25 Des

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Akhlaqul Amin

Lombok

Karya Limboto

Gorontalo

Ar Rahman

Johor Baru

Download:

Masalah 93

162 Masalah Sufistik (Masalah 93): Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Ghusyam az-Zaidi ra. bertanya: “Tentang orang²…

Masalah 92

162 Masalah Sufistik (Masalah 92): Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Ghusyam az-Zaidi ra. bertanya: “Tentang berbagai…
All articles loaded
No more articles to load

Masalah 93

162 Masalah Sufistik (Masalah 93): Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Ghusyam az-Zaidi ra. bertanya: “Tentang orang²…

Masalah 92

162 Masalah Sufistik (Masalah 92): Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Ghusyam az-Zaidi ra. bertanya: “Tentang berbagai…
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on telegram
Telegram
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Share on print
Print
Copy link
Powered by Social Snap