Sidratul Muntaha dan Hadiah Shalat untuk Umat Rasulullah Saw.

3 days ago

2 min read

Saat Rasulullah Saw. tiba di langit ketujuh dan bertemu dengan Nabi Ibrahim as., perjalanan Mi’raj belumlah berakhir. Dari sana, Rasulullah Saw. melanjutkan perjalanan menuju Sidratul Muntaha, titik tertinggi dan akhir dari perjalanan Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang sangat besar dan agung. Di tunas-tunasnya mengalir empat sungai; dua sungai mengalir ke surga, dan dua lainnya mengalir ke bumi. Daunnya selebar telinga gajah, dan di sana terdapat belalang-belalang dari emas, sebagai tanda keagungan ciptaan Allah Ta’ala.

Namun, perjalanan Rasulullah Saw. menuju Sidratul Muntaha tidak ditemani oleh Malaikat Jibril as. Malaikat Jibril as. berhenti dan berkata bahwa batas kemampuannya hanya sampai di langit ketujuh. Jika ia memaksakan diri melangkah lebih jauh, maka ia akan hancur.

Rasulullah Saw. pun melanjutkan perjalanan seorang diri.

Ketika Rasulullah Saw. tiba di Sidratul Muntaha, Beliau merasa bingung bagaimana harus mengucapkan salam. Maka Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada Beliau berupa lafadz salam.

Rasulullah Saw. mengucapkan:

ٱلتَّحِيَّاتُ ٱلْمُبَارَكَاتُ ٱلصَّلَوَاتُ ٱلطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ

Allah Ta’ala menjawab:

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ وَرَحْمَةُ ٱللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ketika menerima jawaban salam dari Allah Ta’ala, Rasulullah Saw. langsung teringat umatnya. Beliau pun menjawab:

ٱلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ ٱللَّهِ ٱلصَّالِحِينَ

Betapa besar kasih sayang Rasulullah Saw. kepada umatnya. Bahkan di tempat paling agung itu, Beliau tidak melupakan kita dalam doanya. Lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu, Rasulullah Saw. telah menyebut kita dalam salam dan doa yang Beliau panjatkan di Sidratul Muntaha.

Setelah itu, Rasulullah Saw. menerima perintah dari Allah Ta’ala untuk umat Islam, yaitu menunaikan shalat lima puluh waktu dalam sehari.

Rasulullah Saw. kemudian turun ke langit ketujuh dan kembali bertemu Nabi Ibrahim as., yang saat itu bersandar di Baitul Makmur. Perjalanan dilanjutkan turun ke langit keenam, hingga Rasulullah Saw. bertemu dengan Nabi Musa as.

Nabi Musa as. bertanya, “Wahai Muhammad, apa yang engkau dapatkan dari Allah?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Aku mendapatkan perintah untuk melaksanakan shalat lima puluh waktu dalam sehari.”

Nabi Musa as. pun berkata, “Wahai Muhammad, aku telah menguji umatku, mereka kuat dan besar, namun tidak sanggup melaksanakan kewajiban itu. Bagaimana dengan umatmu yang lebih lemah?”

Nabi Musa as. kemudian menyarankan agar Rasulullah Saw. kembali menghadap Allah Ta’ala untuk meminta keringanan. Rasulullah Saw. pun kembali menghadap Allah Ta’ala.

Setiap kali Rasulullah Saw. kembali ke Sidratul Muntaha, perintah shalat dikurangi lima waktu. Hingga akhirnya, Rasulullah Saw. bolak-balik sebanyak sembilan kali antara langit keenam dan Sidratul Muntaha.

Sampai pada akhirnya, Allah Ta’ala menetapkan shalat lima waktu dalam sehari.
Namun, setiap satu waktu shalat bernilai sepuluh pahala, sehingga pahalanya tetap seperti lima puluh waktu.

Ketika Rasulullah Saw. turun kembali dan bertemu Nabi Musa as., Beliau kembali disarankan untuk meminta keringanan.
Namun Rasulullah Saw. enggan melakukannya karena rasa malu kepada Allah Ta’ala setelah berkali-kali meminta keringanan.

Dengan penuh adab, Rasulullah Saw. berkata, “Aku telah menerima lima waktu yang paling pokok, dan Allah Ta’ala telah menjadikan setiap satu waktu bernilai sepuluh.”

Pada malam 27 Rajab, Rasulullah Saw. menerima hadiah terbesar dari Allah Ta’ala untuk umatnya: shalat wajib lima waktu.

Maka wahai sahabat yang dirahmati Allah Ta’ala, jangan pernah mengabaikan hadiah agung ini. Karena shalat adalah tiang agama. Siapa yang menegakkannya, ia telah menegakkan agama. Dan siapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah meruntuhkan sendi-sendi agama.

Share this post

January 6, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Artikel

Baca juga:

Baca berbagai artikel Islami dan tambah wawasan bersama.

Hidup Ini Terlalu Singkat | Pejalan Ruhani

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup ini terlalu singkat.Lakukan kebaikan sebelum terlambat. Hidup ini terlalu singkat.Jangan

11 Prinsip Dzikir | Pejalan Ruhani

1. Hush dar dam (sadar sewaktu bernafas) Suatu latihan konsentrasi: salik yg bersangkutan haruslah sadar setiap menarik nafas, menghembuskan nafas, dan ketika berhenti sebentar di

Tingkatan Alam Menurut Para Sufi | Pejalan Ruhani

“Tingkatan Alam Menurut Para Sufi” فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُّوحِى فَقَعُوا لَهُۥ سٰجِدِينَ “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Sekretariat:
Perum Jaya Maspion Permata Beryl
B2-10 Gedangan, Sidoarjo
Jawa Timur
61254

Email Sekretariat:
suraubaitulfatih@gmail.com
baruk46@gmail.com

Web/App Developer:
Hubungi nomor atau email berikut untuk perihal teknis yang berhubungan dengan website/aplikasi Pejalan Ruhani.

aldibudimanputra@gmail.com
Whatsapp link