Ada saatnya kita membaca ayat ini sambil berharap agar kesulitan segera berlalu:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Dalam keadaan letih, yang paling kita rindukan memang sebuah akhir. Penyakit berakhir. Kesedihan mereda. Persoalan menemukan jalan keluar. Kita membayangkan kemudahan sebagai hari yang akan datang, ketika segala yang memberatkan hari ini telah selesai.
Namun, ayat itu menyebut: bersama kesulitan.
Ada kelembutan yang patut direnungkan dalam kata “bersama” ini. Ia mengajak kita memperhatikan keadaan yang sedang kita jalani, bahkan sebelum keadaan itu berubah seperti yang kita harapkan.
Mungkin kesulitan telah begitu memenuhi pandangan, sehingga kita belum sempat mengenali kemudahan yang menyertainya.
Tubuh masih sakit, tetapi ada tangan yang merawat. Hati masih berduka, tetapi ada seseorang yang bersedia mendengarkan. Persoalan belum selesai, tetapi pertolongan hadir secukupnya untuk membuat kita mampu menjalani satu hari lagi.
Semua itu tidak menghapus beratnya ujian. Namun, semuanya juga layak dikenali sebagai pemberian.
Dari sini, kita dapat mendekati sebuah pertanyaan tentang syukur: apakah hati harus menunggu seluruh kesulitan berlalu sebelum dapat melihat nikmat Allah?
Imam Ibn ‘Arabi dalam Al-Futūḥāt Al-Makkiyyah, Bab 120 tentang Maqām al-Shukr, menegaskan:
ولا يصح الشكر إلا على النعم
“Syukur tidak berlaku kecuali atas nikmat.”
Beliau membedakan syukur dengan pujian kepada Allah Ta‘ala. Syukur berkaitan dengan nikmat yang dianugerahkan-Nya, sedangkan Allah dipuji pula karena kesempurnaan-Nya.
Maka, ketika seseorang bersyukur dalam kesulitan, pertanyaan yang perlu kita pahami ialah: nikmat apakah yang sedang ia saksikan?
Imam Ibn ‘Arabi menjelaskan adanya golongan khusus dari hamba-hamba Allah yang memandang segala sesuatu yang datang dari-Nya kepada mereka sebagai nikmat Ilahi.
فَهُمْ يَشْكُرُونَ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Maka mereka bersyukur dalam setiap keadaan.”
Betapa luas pengenalan mereka terhadap nikmat, hingga perubahan keadaan tidak menutup pandangan mereka terhadap pemberian Allah.
Kita dapat merenungkan hal ini melalui kisah Sayyidina Ibrahim ‘alaihissalam.
Beliau dilemparkan ke dalam api. Dalam pandangan manusia, peristiwa itu mengandung ancaman yang amat mengerikan. Tetapi Allah Ta‘ala berfirman:
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
“Wahai api! Jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” (QS. Al-Anbiya’: 69)
Di tempat yang tampak sebagai kebinasaan, Allah menghadirkan keselamatan.
Kita mengetahui kelanjutan kisah itu. Karena itulah kita dapat membaca peristiwanya dengan hati yang tenang: kita sudah mengetahui pertolongan yang Allah berikan kepada Sayyidina Ibrahim ‘alaihissalam.
Sedangkan dalam kehidupan sendiri, kita sering kali baru berada di tengah cerita.
Kita belum mengetahui bagaimana kesulitan ini akan berakhir. Kita belum memahami seluruh akibat dari sesuatu yang terjadi hari ini. Ada hal yang baru dapat kita mengerti setelah bertahun-tahun, dan ada yang hikmahnya tetap tidak kita ketahui.
Namun, ketidaktahuan kita tentang hikmah suatu peristiwa tidak berarti bahwa seluruh nikmat di dalam keadaan itu telah tiada.
Ada yang dapat kita kenali sekarang. Ada yang masih luput dari perhatian. Ada pula yang belum sanggup kita pahami.
Karena itu, syukur dapat dimulai dengan perhatian yang sederhana: di tengah segala yang sedang memberatkan ini, pemberian apa yang masih menyertaiku?
Pertanyaan itu kita tujukan kepada hati sendiri dengan lembut. Orang yang sedang terluka membutuhkan ruang untuk mengakui lukanya. Ia boleh menangis, mencari pertolongan, dan memohon agar penderitaannya diangkat. Kita pun tidak perlu memaksakan penjelasan tentang hikmah yang belum kita ketahui.
Mengenali nikmat dapat berjalan bersama ikhtiar untuk keluar dari kesulitan.
Lalu, setiap hari kita membaca dalam Al-Fatihah:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (QS. Al-Fatihah: 7)
Di antara mereka ada para nabi, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa’ ayat 69. Kita mengetahui bahwa kehidupan mereka dilalui dengan ujian yang berat.
Sayyidina Yusuf ‘alaihissalam pernah berada di dalam sumur dan penjara. Sayyidina Ayyub ‘alaihissalam mengalami penderitaan. Rasulullah ﷺ menghadapi kehilangan, penolakan, dan penganiayaan.
Mereka tetap termasuk orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah.
Dengan mengingat mereka, perlahan kita belajar bahwa keluasan nikmat Allah tidak dapat diukur hanya dari seberapa nyaman kehidupan seseorang.
Inilah yang membuat pembahasan maqam syukur begitu dalam. Hati diajak mengenali pemberian Allah melampaui apa yang segera menyenangkan dirinya.
Imam Ibn ‘Arabi menghubungkan golongan yang menyaksikan nikmat Ilahi dalam segala keadaan itu dengan firman Allah:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Ayat ini patut membuat kita menundukkan hati. Begitu banyak nikmat telah kita terima, sementara perhatian kita sering tertahan pada sesuatu yang belum diberikan atau yang telah diambil dari kita.
Maka, ketika kembali membaca “bersama kesulitan ada kemudahan”, semoga kita membacanya dengan perhatian yang lebih lapang.
Kita tetap berharap kesulitan itu berakhir. Sambil menantinya, kita belajar mengenali pemberian yang menyertai langkah kita hari ini.
Barangkali dari sanalah ucapan Alhamdulillah tumbuh dengan pengertian yang lebih dalam: dari hati yang masih merasakan beratnya ujian, sekaligus mulai mengenali bahwa Allah telah memberinya begitu banyak hal untuk tetap disyukuri.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Rujukan: Imam Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Al-Futūḥāt Al-Makkiyyah, Bab 120, Fī Ma‘rifat Maqām al-Shukr wa Asrārih. Hubungan antarayat, contoh keseharian, dan perenungan dalam tulisan ini merupakan pengembangan penulis menggunakan AI (GPT-6 Astra (High)).













