11 Prinsip Dzikir

1. Hush dar dam (sadar sewaktu bernafas)

Suatu latihan konsentrasi: salik yg bersangkutan haruslah sadar setiap menarik nafas, menghembuskan nafas, dan ketika berhenti sebentar di antara keduanya. Perhatian pada nafas, dalam keadaan sadar akan Allah, memberikan kekuatan spiritual dan membawa orang lebih hampir kepada Allah; lupa atau kurang perhatian berarti kematian spiritual dan membawa orang jauh dari Allah (Al-Kurdi).

 

2. Nazar bar qadam (menjaga langkah)
Sewaktu berjalan, murid/salik haruslah menjaga langkah²nya, sewaktu duduk memandang lurus ke depan, demikianlah agar supaya tujuan² (ruhani)nya tidak dikacaukan oleh segala hal di sekelilingnya yg tidak relevan.

 

3. Safar dar watan (melakukan perjalanan di tanah kelahirannya)
Melakukan perjalanan batin, yakni meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai makhluk yg mulia. [Atau, dengan penafsiran lain: suatu perjalanan fisik, melintasi sekian negeri, untuk mencari Mursyid yg sejati, kepada siapa seseorang sepenuhnya pasrah dan dialah yg akan menjadi perantaranya dengan Allah (Jami’ul Ushul, Gumusykhanawi)].

 

4. Khalwat dar anjuman (sepi di tengah keramaian)
Berbagai pengarang memberikan bermacam tafsiran, beberapa dekat pada konsep “innerweltliche Askese” dalam sosiologi agama Max Weber. Khalwat bermakna menyepinya seorang pertapa, anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu. Beberapa orang mengartikan asas ini sebagai “menyibukkan diri dengan terus-menerus membaca dzikir tanpa memperhatikan hal² lainnya bahkan sewaktu berada di tengah keramaian orang”; yg lain mengartikan sebagai perintah untuk turut serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat sementara pada waktu yg sama hatinya tetap tertaut kepada Allah saja dan selalu wara’. Keterlibatan banyak kaum Naqsyabandiyah secara aktif dalam politik dilegititimasikan (dan mungkin dirangsang) dengan mengacu kepada asas ini.

Catatan: Setiap murid/salik seyogyanya senantiasa menghadirkan hati (hudhurul qolbi) kehadirat Allah Ta’ala dlm segala keadaan, baik di waktu bersunyi sendiri maupun dlm keramaian orang banyak.

Dlm tarekat Naqsyabandiyah ada 2 bentuk khalwat:
1. Berkhalwat lahir, salik yg melaksanakan suluk dengan mengasingkan diri di tempat yg sunyi dari keramaian orang, pada waktu tertentu yg sdh ditentukan Guru Mursyid.
2. Berkhalwat batin, hati sanubari salik senantiasa musyahadah, menyaksikan rahasia² kebesaran Allah Ta’ala walaupun berada di tengah keramaian orang.

 

5. Yad kard (ingat/menyebut)
Terus-menerus mengulangi nama Allah, dzikir tauhid (berisi formula laa ilaaha illallaah), atau formula dzikir lainnya yg diberikan oleh seorang Guru, dalam hati atau dengan lisan. Oleh sebab itu, bagi penganut Naqsyabandiyah, dzikir itu tidak terbatas dilakukan secara berjama’ah ataupun sendirian sehabis shalat, tetapi harus terus-menerus, agar di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yg permanen.

Catatan: Selalu berkekalan dzikir kepada Allah Ta’ala, baik dzikir Ismu Dzat (Allah Allah Allah), dzikir Nafi Itsbat (Laa Ilaaha Illallaah), sampai pada keadaan yg disebut² tadi kita rasakan dengan kesadaran bahwa Dia Maha Hadir meliputi kita dalam setiap keadaan.

 

6. Baz gasyt (kembali/memperbarui)
Demi mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal² yg menyimpang (melantur), murid/salik harus membaca setelah dzikir tawhid atau ketika berhenti sebentar di antara dua nafas, formula Ilaahi Anta maqshudi wa ridhaka mathlubi (“Ya Tuhanku, Engkaulah tempatku memohon dan keridhaan-Mu lah yg kuharapkan”). Sewaktu mengucapkan dzikir, arti dari kalimah ini haruslah senantiasa berada di hati salik, untuk mengarahkan perasaannya yg paling halus kepada Tuhan semata. (Kebanyakan kitab pegangan Naqsyabandiyah mengajarkan salik untuk mengucapkan kalimah ini dalam hati sebelum memulai dzikir ismu dzat dan mengucapkannya sekali lagi di antara dzikir tawhid yg berurutan.

Note: Bagi yg sudah suluk dan sudah mendapat izin mengamalkan dzikir Nafi Itsbat, bisa memahami penjelasan asas ini. Bagi yg belum paham, segeralah bersuluk.

 

7. Nigah dasyt (waspada)
Yaitu menjaga pikiran dan perasaan terus-menerus sewaktu melakukan dzikir tauhid, untuk mencegah supaya pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran yg tetap akan Tuhan, dan untuk memelihara pikiran dan perilaku salik agar sesuai dengan makna kalimah tersebut. Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi qs. mengutip seorang Guru: “Kujaga hatiku selama sepuluh hari; kemudian hatiku menjagaku selama dua puluh tahun.”

Catatan: Salik harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yg dapat menggoda dan mengganggunya, walaupun hanya sebentar (contohnya: berangan angan sesuatu hal duniawi, ingin kaya, ingin pangkat derajat, ingin dipuji, ingin ini itu). Karena godaan yg mengganggu itu adalah masalah yg besar, yg tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar tarekat ini. Syaikh Abu Bakar al-Kattani qs. berkata, “Aku menjaga pintu hatiku selama 40 tahun, aku tiada membukakannya selain kepada Allah Ta’ala, sehingga hatiku menjadi tidak mengenal seorang pun selain Allah Ta’ala.”

Tawajjuh atau pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah Ta’ala terhadap Nur Dzat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengan kata². Haliyah/keadaan ini baru dapat dicapai oleh seorang salik, setelah dia mengalami fana’ dan baqa’ yg sempurna.

 

8. Yad dasyt (mengingat kembali)
Penglihatan yg diberkahi: secara langsung menyaksikan Dzat Allah, yg berbeda dari Sifat² dan Nama²Nya; mengalami bahwa segalanya berasal dari Allah Yang Esa dan beraneka ragam ciptaan terus berlanjut ke tak berhingga. Penglihatan ini ternyata hanya mungkin dalam keadaan jadzbah; itulah derajat ruhani tertinggi yg dapat dicapai.

Hal ini semula dikaitkan pada pengalaman langsung Kesatuan dengan Yang Ada (wahdat al-wujud); Syaikh Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi qs. dan pengikut²nya bahkan mengemukakan dalil adanya tingkat yg lebih tinggi, di mana sang sufi sadar bahwa kesatuan (kemanunggalan) ini hanyalah bersifat fenomenal, bukan ontologis (wahdat al-syuhud).

 

9. Wuquf zamani (memeriksa penggunaan waktu salik)
Mengamati secara teratur bagaimana salik menghabiskan waktunya. (Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi qs. menyarankan agar ini dikerjakan setiap dua atau tiga jam). Jika salik secara terus-menerus sadar dan tenggelam dalam dzikir, dan melakukan perbuatan terpuji, hendaklah berterima kasih dan bersyukur kepada Allah, jika salik tidak ada perhatian atau lupa atau melakukan perbuatan berdosa, hendaklah ia bertaubat dan meminta ampun kepada-Nya.

Catatan: Seperti juga disampaikan Syaikh Abul Abbas al-Mursi qs., murid & khalifah Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili qs., Sekaligus juga Guru Mursyidnya Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari qs. (pengarang kitab Al-Hikam). Dlm amaliahnya wuquf zamani ini, hendaknya setiap hari kita selalu muhasabah, introspeksi diri, dlm 2-3 jam kita setiap harinya itu, lebih banyak ingat atau lupanya kepada Allah Ta’ala.

Jika lebih banyak ingatnya, sadarilah itu semata karunia Allah, syukuri nikmat itu, banyak²lah Sholawat sebagai wujud syukur kita. Jika lebih banyak lupanya kepada Allah, sadari bahwa itulah kelemahan diri kita, sebab tebalnya hijab kita, maka perbanyaklah istighfar, dan mengistiqomahkan sholat syukrul wudhu & sholat tobat, seperti yg sdh diajarkan Guru kita.

 

10. Wuquf ‘adadi (memeriksa hitungan dzikir salik)
Dengan hati² berapa kali salik mengulangi kalimah dzikir (tanpa pikirannya mengembara ke mana²). Dzikir itu diucapkan dalam jumlah hitungan ganjil yg telah ditetapkan sebelumnya.

 

11. Wuquf qalbi (menjaga hati tetap terkontrol)
Dengan membayangkan hati seseorang (yang di dalamnya secara batin dzikir ditempatkan) berada di hadirat Allah, maka hati itu tidak sadar akan yg lain kecuali Allah, dan dengan demikian perhatian seseorang secara sempurna selaras dengan dzikir dan maknanya.

Sebagaimana yg dikatakan Syaikh Ubaidullah al-Ahrar qs., “Keadaan hati salik selalu hadir bersama Allah Ta’ala.” Pikiran yg ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenaga dan pancaindra untuk melakukan tawajjuh dengan mata hati yg hakiki, utk menyelami makrifat Tuhannya, sehingga tidak ada peluang sedikitpun dalam hati yg ditujukan kepada selain Allah Ta’ala.

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Bacaan Lainnya

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Nasihat

Dua Penjaga Manusia

Disebutkan dalam Hakaya Ash Shufiyah إن الله تعالى جعل لأهل الأرض أمانين . الأول : رسول الله صلى الله عليه وسلم . والثاني : الاستغفار

Tasawuf

Jalan Menuju Allah

Banyak orang mencari Allah Ta’ala, dengan berbagai cara dan mencari keluar kemana-mana, tetapi tidak ketemu, karena salah alamat. Bagi pejalan ruhani jika tidak tahu peta

Thariqat

Perbedaan Fungsi Antara Al-Qur’an & Dzikir

Imam Ghozali ditanya, “Anda mengagung-agungkan perkara dzikir, apakah dzikir itu lebih agung derajatnya dari membaca Al-Qur’an?” Imam Ghozali menjawab; فاعلم أن قراءة القرآن أفضل للخلق

Tauhid & Ma'rifat

Al-Ghayyur: Allah Maha Pencemburu

Allah (swt) adalah “Al-Ghayyur” atau “Tuhan Yang Maha Pencemburu”. Dia menyuruh diri kita untuk menyatukan semua cinta yang kita rasakan ke dalam Cinta Ilahiah-Nya; untuk

Hadits

Engkau Akan Bersama dengan Orang yang Kau Cintai

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi saw, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau saw berkataَ, “Apa yang telah engkau

Kewalian

Bay’at dengan Imam Mahdi (as)

Suatu ketika pada tahun 1970–tahun 70an, barangkali 1971, saya sedang dalam khalwat, tetapi tidak 100% khalwat, itu adalah setengah khalwat. Saya sedang duduk dan menulis

Fiqh

Memahami Musik Dengan Utuh

Oleh: Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya Dalam menikmati musik, setiap orang pasti mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Perubahan minat seseorang terhadap genre atau warna

Tasawuf

Mengenal Bisikan Dalam Jiwa

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. pernah ditanya muridnya tentang al-khatir (bisikan jiwa), lalu Beliau menjawab: “Memang apa yg engkau ketahui tentang al-khatir? Al-khatir itu bisa

Kemursyidan

Definisi Mursyid

Mursyid dalam literatur tasawuf berarti pembimbing spiritual bagi orang² yg menempuh jalan khusus mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah Ta’ala. Tugas dan fungsi Mursyid ialah membimbing,

Fiqh

Urutan Memotong Kuku

Suatu hari Grandsyekh (q) berkata kepada saya, “Tolong potong kukuku.” MasyaaAllah, beliau mempunyai sebuah pisau yang besar, dan sepanjang hidup saya, saya belum pernah melihatnya

Tasawuf

Memelihara Sadar dan Tenang

“Wahai jiwa yg tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yg puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jama’ah) hamba²Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS.

Tasawuf

Bagaimana Bahagia dari Dalam Diri

Sebagian besar dari kita menganggap bahagia itu ada syaratnya dan ada di luar diri kita. Saya akan bahagia jika keinginan saya terpenuhi, saya akan bahagia

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj

17 Feb - 27 Feb

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

Ramadhan

7 Apr - 17 Apr

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

El Amin

Pekanbaru

Karya Limboto

Gorontalo

Hari Guru

10 Jun - 20 Jun

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Akhlaqul Amin

Lombok

Mujibul Amin

Samarinda

Idul Adha

29 Jun - 9 Jul

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Maulid Nabi

29 Sep - 9 Okt

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

El Amin

Pekanbaru

Rutin

15 Des - 25 Des

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Akhlaqul Amin

Lombok

Karya Limboto

Gorontalo

Ar Rahman

Johor Baru

Download:

Fathur Rabbani

38. Keutamaan Laa ilaaha illa Allah

Dlm Fathur Rabbani: Majelis ke-38: “Keutamaan Laa ilaaha illa Allah” Pengajian Ahad pagi, 7 Rajab 545 H. di Ribath. Rasulullah Saw. bersabda: “Payahkanlah setan²mu dengan

Nasihat

Dua Penjaga Manusia

Disebutkan dalam Hakaya Ash Shufiyah إن الله تعالى جعل لأهل الأرض أمانين . الأول : رسول الله صلى الله عليه وسلم . والثاني : الاستغفار

Tasawuf

Jalan Menuju Allah

Banyak orang mencari Allah Ta’ala, dengan berbagai cara dan mencari keluar kemana-mana, tetapi tidak ketemu, karena salah alamat. Bagi pejalan ruhani jika tidak tahu peta

Thariqat

Perbedaan Fungsi Antara Al-Qur’an & Dzikir

Imam Ghozali ditanya, “Anda mengagung-agungkan perkara dzikir, apakah dzikir itu lebih agung derajatnya dari membaca Al-Qur’an?” Imam Ghozali menjawab; فاعلم أن قراءة القرآن أفضل للخلق

162 Masalah Sufistik

Masalah 42

162 Masalah Sufistik (Masalah 42): Syaikh Abdullah bin Ahmad az-Zubaidi ra. bertanya: “Tentang rasa panas yg didapati oleh sebagian orang yg suka berdzikir yg mana

Bidayatul Hidayah

26. Adab Mandi

آداب الغسل فإذا أصابتك جنابة، من احتلام أو وقاع، فخذ الإناء إلى المغتسل، واغسل يديك أولا ثلاثا، وأزل ما على بدنك من قذر، وتوضأ كما

Risalatul Mu'awanah

87. Uzlah (Mengucilkan Diri)

Dlm Risalatul Mu’awanah: 87. Uzlah (Mengucilkan Diri) (وعليك) إذا تفاحش ظهور المعاصي والمنكراتفي موضع أنت فيه وأيست من قبول الحق بالعزلة فإن فيها السلامة، أو

Al-Hikam

119. Allah Menutupi Rahasia Kewalian

Hikmah 119 dlm Al-Hikam: “Allah Menutupi Rahasia Kewalian” سُبْحاَنَ من سَتَرَ سِرَّالخُصُوصيَّةِ بِظُهُورِ البَشَرِيَّةِ وَظَهرَ بِعَظَمةِ الرُّبُوْبِيَّةِ فِى اِظهاَرِالعُبُودِيَّةِ Maha Suci Allah yg telah menutupi

Tauhid & Ma'rifat

Al-Ghayyur: Allah Maha Pencemburu

Allah (swt) adalah “Al-Ghayyur” atau “Tuhan Yang Maha Pencemburu”. Dia menyuruh diri kita untuk menyatukan semua cinta yang kita rasakan ke dalam Cinta Ilahiah-Nya; untuk

Fathur Rabbani

38. Keutamaan Laa ilaaha illa Allah

Dlm Fathur Rabbani: Majelis ke-38: “Keutamaan Laa ilaaha illa Allah” Pengajian Ahad pagi, 7 Rajab 545 H. di Ribath. Rasulullah Saw. bersabda: “Payahkanlah setan²mu dengan

162 Masalah Sufistik

Masalah 42

162 Masalah Sufistik (Masalah 42): Syaikh Abdullah bin Ahmad az-Zubaidi ra. bertanya: “Tentang rasa panas yg didapati oleh sebagian orang yg suka berdzikir yg mana

Bidayatul Hidayah

26. Adab Mandi

آداب الغسل فإذا أصابتك جنابة، من احتلام أو وقاع، فخذ الإناء إلى المغتسل، واغسل يديك أولا ثلاثا، وأزل ما على بدنك من قذر، وتوضأ كما

Risalatul Mu'awanah

87. Uzlah (Mengucilkan Diri)

Dlm Risalatul Mu’awanah: 87. Uzlah (Mengucilkan Diri) (وعليك) إذا تفاحش ظهور المعاصي والمنكراتفي موضع أنت فيه وأيست من قبول الحق بالعزلة فإن فيها السلامة، أو

Al-Hikam

119. Allah Menutupi Rahasia Kewalian

Hikmah 119 dlm Al-Hikam: “Allah Menutupi Rahasia Kewalian” سُبْحاَنَ من سَتَرَ سِرَّالخُصُوصيَّةِ بِظُهُورِ البَشَرِيَّةِ وَظَهرَ بِعَظَمةِ الرُّبُوْبِيَّةِ فِى اِظهاَرِالعُبُودِيَّةِ Maha Suci Allah yg telah menutupi

Sabilus Salikin

187. Hukum Perempuan Menjadi Mursyid dalam Tarekat

Dalam dunia tarekat, yang menjadi mursyid atau khalifah semuanya adalah dari kalangan pria. Hal ini disebabkan karena syarat seorang mursyid adalah laki-laki. Oleh karena itu,

Sabilus Salikin

186. Menggerakkan atau Menundukkan Kepala Ketika Berzikir

Tanya: Bagaimana hukum menggerak-gerakkan atau menundukkan kepala ketika berzikir? Jika dengan menggerak-gerakkan atau menundukkan kepala itu bisa menjadikan diri orang yang berzikir lebih khusyuk, maka

Sabilus Salikin

185. Tidak Boleh, Memberi Baiat Kepada Anak Kecil

Tanya: Menurut keputusan kongres Jam`iyah Tarekat Mu’tabarah di Tegal Rejo, bahwa orang baiat tarekat “mu’tabarah” diwajibkan menjalaninya. Lalu bagaimana hukumnya orang yang memberi baiat kepada

Sabilus Salikin

184. Masuk Tarekat Secara Bersama

Tanya: Apakah boleh seorang masuk tarekat Naqsyabandiyah dan lainnya secara bersama? Apakah demikian itu tidak seperti sebutir telur dierami dua induk ayam, sehingga akhirnya menjadi

Sabilus Salikin

183. Tanya Jawab Tasawuf dan Tarekat

Tanya: Bagaimana hukum masuk tarekat dan mengamalkannya? Jawab: Jikalau yang dikehendaki masuk tarekat itu belajar membersihkan hati dari sifat-sifat yang rendah, dan menghiasi sifat-sifat yang

Sabilus Salikin

182. Muraqabah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Muraqabah memiliki perbedaan dengan zikir terutama pada obyek pemusatan kesadaran (kosentrasinya). Zikir memikili obyek perhatian pada simbol, yang berupa kata atau kalimat, sedangkan muraqabah menjaga

Sabilus Salikin

181. Rabitah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Pengertian rabitah atau wasilah adalah perantara guru (syaikh), yaitu murid berwasilah pada guru (syaikh). Menurut al-Khalidi dalam kitabnya Bahjah as-Saniyah halaman 64, rabitah adalah menghadirkan rupa guru

Sabilus Salikin

180. Suluk Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Istilah suluk (merambah jalan kesufian) terdapat dalam Al-Qur’an Surat an-Nahl; 69. فَاسْلُوْكِىْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً ) النحل: 69 ( …. dan tempuhlah jalan Tuhan-mu yang telah

Sabilus Salikin

179. Pembaiatan

Dalam pelaksanaan zikir, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah melakukan beberapa tata acara amaliyah yang sudah ditetapkan, seperti baiat. Prosesi pembaiatan dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah biasanya

Sabilus Salikin

177. Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah

Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah merupakan gabungan dari Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah (TQN) yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas (1802-1872 M.) yang dikenal sebagai penulis

Sabilus Salikin

176. Aurad Tarekat Sanusiyah

Aurad Tarekat Sanusiyah secara umum yaitu: Membaca Al-Qur’an al-Karim Membaca istighfar Membaca tahlil Membaca salawat kepada Nabi Muhammad saw. Aurad Tarekat Sanusiyah yang telah ditulis

Sabilus Salikin

175. Sanad Tarekat Sanusiyah Melalui Enam Jalur Tarekat

Sanad Tarekat Hidiriyah Muhammadiyah yang diterima Syaikh Muhammad Sanusi dari Syaikh Ahmad al-Rifi al-Qal’i bin Abdu Qadir dari Syaikh Muhammad bin ‘Ali al-Syarif dari Syaikh Abi Abbas al-‘Aroisyi

Sabilus Salikin

174. Kewajiban Salik Tarekat Sanusiyah

Kewajiban salik Tarekat Sanusiyah untuk melakukan dakwah berpegang pada beberapa pedoman.  Menyampaikan wahyu Allah kepada manusia, meliputi menjelaskan dasar-dasar dan kaidah agama kepada manusia, menjelaskan

Sabilus Salikin

173. Tarekat Sanusiyah

Pendiri tarekat ini adalah Syaikh Muhammad bin Ali bin Sanusi bin Arabi bin Muhammad bin Abdul Qadir bin Syahidah bin Khamim bin Yusuf bin Abdullah

Sabilus Salikin

172. Aurad Tarekat Idrisiyah

Berikut ini adalah tata cara mengamalkan zikir Tarekat Idrisiyah yang dijelaskan di dalam kitab al-Nafahât al-Aqdasiyah fi Syarh al-Shalawât al-Ahmadiyah al-Idrisiyah, halaman: 21-22. Mukadimah aurad, membaca; بِسْمِ

Silakan muat-ulang halaman.

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

Share via
Copy link
Powered by Social Snap