Ujian Keimanan Setelah Isra dan Mi’raj

2 months ago

2 min read

Perjalanan Isra dan Mi’raj yang dilakukan Rasulullah Saw. pun telah selesai. Beliau turun kembali ke langit dunia, singgah di Baitul Maqdis, lalu kembali ke Mekah menjelang waktu subuh.

Setibanya di Mekah, Rasulullah Saw. diliputi perasaan cemas. Beliau memikirkan, apakah umatnya akan mempercayai peristiwa luar biasa yang baru saja Beliau alami —sebuah perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus lapisan-lapisan langit, semuanya terjadi hanya dalam satu malam.

Dalam kegundahannya, Rasulullah Saw. duduk di depan pintu Ka’bah. Tak lama kemudian, datanglah Abu Jahal, salah satu tokoh kafir Quraisy. Ia duduk di samping Rasulullah Saw. dan bertanya dengan nada mengejek, “Apakah ada berita ajaib hari ini, wahai Muhammad?”

Rasulullah Saw. pun menceritakan peristiwa Isra dan Mi’raj —dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, hingga naik ke langit ketujuh— yang semuanya terjadi dalam satu malam.

Mendengar hal itu, Abu Jahal menahan ejekannya. Ia lalu meminta Rasulullah Saw. untuk menceritakan kembali peristiwa tersebut di hadapan masyarakat Mekah. Permintaan itu bukanlah karena ingin mencari kebenaran, melainkan untuk mempermalukan Rasulullah Saw., dengan harapan umatnya akan berpaling setelah mendengar kisah yang dianggap tidak masuk akal.

Setelah Rasulullah Saw. mempersilahkan, Abu Jahal segera memanggil masyarakat Mekah agar berkumpul. Ketika orang-orang telah berkumpul, Rasulullah Saw. kembali menceritakan secara rinci perjalanan Isra’ Beliau menuju Baitul Maqdis.

Mendengar penjelasan bahwa Rasulullah Saw. sampai ke Baitul Maqdis hanya dalam satu malam, masyarakat Mekah pun menjadi gaduh. Di antara mereka, ada seseorang yang pernah pergi ke Baitul Maqdis dan meminta Rasulullah Saw. menjelaskan bagaimana bentuk dan wujudnya.

Dengan tenang, Rasulullah Saw. menggambarkan Baitul Maqdis secara rinci —mulai dari letaknya, wilayah sekitarnya, hingga struktur bangunannya. Beliau bahkan menceritakan tentang tiga kafilah yang Beliau lihat dalam perjalanan: kafilah pertama yang Beliau kenal, kafilah kedua tempat Beliau meminum air, dan kafilah ketiga yang kehilangan seekor unta.

Penduduk Mekah semakin heran.
Apa yang disampaikan Rasulullah Saw. terbukti benar dan sesuai kenyataan. Namun bagi mereka, secara logika manusia, perjalanan sejauh lebih dari seribu lima ratus kilometer itu mustahil ditempuh hanya dalam satu malam.

Salah seorang dari mereka berkata, “Penjelasan Muhammad itu tepat dan benar. Tetapi kami tetap tidak mempercayainya.”

Setelah itu, mereka pun bubar dengan menyimpan kegelisahan dan penolakan di hati mereka.

Kabar tentang Isra dan Mi’raj Rasulullah Saw. pun menyebar ke seluruh Mekah. Sebagian orang yang lemah imannya menjadi goyah, bahkan ada yang sampai murtad dan mengingkari peristiwa tersebut.

Di saat yang sama, orang-orang Quraisy mencoba melemahkan keimanan Sayyidina Abu Bakar ra. dengan menceritakan kabar itu kepadanya.

Namun dengan penuh keyakinan, Abu Bakar ra. berkata, “Demi Allah, jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu pasti benar.”

Abu Bakar ra. kemudian menemui Rasulullah Saw. untuk memastikan langsung peristiwa tersebut. Setelah Rasulullah Saw. menjelaskannya, Abu Bakar ra. berkata, “Engkau benar. Aku bersaksi bahwa engkau adalah kekasih Allah dan utusan-Nya.”

Mendengar keimanan yang begitu teguh itu, Rasulullah Saw. pun bersabda, “Wahai Abu Bakar, engkau adalah ash-Shiddiq.”

Sejak saat itulah, Abu Bakar ra. mendapat gelar ash-Shiddiq —gelar bagi seorang mukmin sejati yang membenarkan Rasulullah Saw. tanpa ragu, dan mempercayai setiap kabar dari Rasulullah Saw. dengan penuh keyakinan.

Share this post

January 6, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Artikel

Baca juga:

Baca berbagai artikel Islami dan tambah wawasan bersama.

Tragedi Haditsul Ifk: Air Mata Ummul Mukminin

Tertinggal sendiri di gurun dan dituduh berkhianat, Sayyidah Aisyah (ra.) memilih jalan “sabar yang indah”. Simak sejarah bagaimana langit menjawab tetesan air matanya dan membersihkan namanya dari segala tuduhan keji kaum munafik.

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Sekretariat:
Perum Jaya Maspion Permata Beryl
B2-10 Gedangan, Sidoarjo
Jawa Timur
61254

Email Sekretariat:
suraubaitulfatih@gmail.com
baruk46@gmail.com

Web/App Developer:
Hubungi nomor atau email berikut untuk perihal teknis yang berhubungan dengan website/aplikasi Pejalan Ruhani.

aldibudimanputra@gmail.com
Whatsapp link