Dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah Saw. pernah berada pada masa yang sangat berat. Kesedihan datang bertubi-tubi menghampiri Beliau.
Istri tercinta yang selalu setia mendampingi perjuangan dakwah, Sayyidah Khadijah ra., wafat meninggalkan Beliau. Tak lama berselang, paman yang selama ini melindungi dan membela Beliau, Abu Thalib, juga meninggal dunia.
Dua sosok penopang dakwah itu telah pergi.
Rasulullah Saw. benar-benar merasakan kehilangan yang mendalam.
Belum cukup sampai di situ, cobaan terus berdatangan. Kaum kafir Quraisy semakin keras menentang dakwah Beliau. Caci maki, penolakan, hingga perlakuan kasar menjadi makanan sehari-hari Rasulullah Saw.
Dalam keadaan itulah, Allah Ta’ala menghibur kekasih-Nya. Allah Ta’ala memperjalankan Rasulullah Saw. dalam satu malam yang penuh keajaiban, sebuah perjalanan agung yang dikenal dengan Isra dan Mi’raj.
Pada malam itu, Malaikat Jibril as. datang menemui Rasulullah Saw. bersama Malaikat Mikail as. dan satu malaikat lainnya yang membawa air Zamzam. Ketiga malaikat tersebut melakukan pembelahan dada Rasulullah Saw.
Hati Beliau disucikan dengan air Zamzam, dibersihkan dari segala keburukan, lalu dipenuhi dengan berbagai kebaikan —pengetahuan, keyakinan, dan kesempurnaan iman. Setelah itu, Rasulullah Saw. diajak menaiki kendaraan istimewa bernama Buraq.
Perjalanan pun dimulai. Dari Masjidil Haram, Rasulullah Saw. terbang bersama Malaikat Jibril as. menaiki Buraq. Mereka singgah di kota Madinah. Di sana, Malaikat Jibril as. menjelaskan bahwa kelak Rasulullah Saw. akan berhijrah ke kota tersebut. Keduanya pun melaksanakan shalat dua raka’at.
Perjalanan berlanjut ke kota Madyan, tempat Nabi Musa as. pernah bersembunyi dari kejaran Fir’aun. Di tempat itu, Rasulullah Saw. kembali melaksanakan shalat dua raka’at.
Kemudian, mereka singgah di Thuur Sina, tempat Nabi Musa as. berbicara langsung dengan Allah Ta’ala. Di sana pun Rasulullah Saw. menunaikan shalat dua raka’at.
Isra’ belum berakhir. Rasulullah Saw. bersama Malaikat Jibril as. melanjutkan perjalanan dan singgah di kota Bethlehem, tempat kelahiran Nabi Isa as. dari seorang perempuan suci bernama Maryam. Di tempat itu, Rasulullah Saw. kembali menunaikan shalat dua raka’at.
Akhirnya, tibalah Rasulullah Saw. di tempat terakhir perjalanan Isra’, yaitu Masjidil Aqsha. Di sana, Beliau bertemu dengan para nabi dan rasul terdahulu. Rasulullah Saw. kemudian mengimami mereka dalam shalat dua raka’at, sebuah kemuliaan besar yang Allah Ta’ala berikan kepadanya.
Setelah itu, Malaikat Jibril as. membawa Rasulullah Saw. naik menembus langit, memulai perjalanan Mi’raj, untuk bertemu dengan Allah Ta’ala —sebuah perjumpaan agung dengan Dzat Yang Maha Luar Biasa. Wallāhu a’lam













