Pernahkah kamu —atau seseorang yang kamu kenal— merasa mendapat “petunjuk langsung”, mendengar suara ghaib, atau mendapat ilham yang seolah-olah datang langsung dari Allah setelah rajin beribadah? Tunggu dulu, yakinkah itu benar-benar dari Allah, atau jangan-jangan cuma proyeksi dari dirimu sendiri?
Ketika seseorang sedang semangat-semangatnya mendekatkan diri kepada Allah (berhijrah), seringkali muncul fenomena-fenomena spiritual yang terasa ajaib. Banyak yang langsung merasa bangga dan mengira dirinya telah mencapai derajat “wali”. Padahal, para ulama salaf telah memberikan peringatan keras tentang fase kritis ini.
Mari kita renungkan sebuah naskah yang sangat tajam dari kitab tasawuf fenomenal, Madarij as-Salikin karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
Berdasarkan naskah pada gambar tersebut, dijelaskan sebuah fenomena psikologis dan spiritual yang sangat halus. Penulis kitab menjelaskan tentang “jenis wacana/suara ketiga” yang dialami seorang pencari kebenaran (salik).
Apa yang sebenarnya terjadi?
Naskah tersebut membeberkan bahwa terkadang seseorang merasa seolah-olah mendapat khitab (pesan/suara) dari luar dirinya yang ia yakini berasal dari Allah. Padahal, sejatinya suara atau pesan itu bermula dari dalam dirinya sendiri dan kembali kepada dirinya sendiri.
Hal ini bisa terjadi ketika seseorang melakukan riyadhah (latihan spiritual/ibadah yang intens) sehingga jiwanya menjadi jernih dan terlepas dari kesibukan duniawi. Akibat dominasi kekuatan spiritual ini, makna-makna abstrak di dalam pikiran dan hati seolah-olah mengambil wujud nyata.
Kekuatan batin itu mendikte pendengaran dan penglihatan, sehingga orang tersebut benar-benar merasa mendengar suara atau melihat sosok tertentu di luar dirinya. Ia bahkan berani bersumpah bahwa ia melihat dan mendengar hal itu secara nyata!
Namun, naskah ini memberikan pukulan telak: Ini adalah sebuah kesalahan dan tipu daya! Fenomena halusinasi spiritual ini terjadi karena bertemunya dua hal berbahaya: lemahnya daya nalar (kurangnya kemampuan membedakan) dan kurangnya ilmu syar’i (qillat al-‘ilm).
Pada akhirnya, hal ini murni hanyalah ghurur (tipuan diri) dan talbis (kebingungan/kerancuan) semata. Untuk mendukung naskah hikmah di atas, mari kita lihat panduan syari’at:
Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang tertipu oleh perasaan dan amalannya sendiri:
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 103-104)
Mengenai bahayanya ahli ibadah yang tidak dibekali ilmu agama yang kuat (seperti yang disinggung naskah tentang qillat al-‘ilm), Rasulullah Saw. bersabda:
“Satu orang faqih (orang yang berilmu dan paham agama) lebih ditakuti oleh setan daripada seribu ahli ibadah (yang tanpa ilmu).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Setan sangat mudah menipu ahli ibadah tanpa ilmu melalui halusinasi dan “ilham” palsu.
Syaikh Ibnu Atha’illah dalam kitab al-Hikam memberikan wejangan yang sangat sejalan dengan Madarij as-Salikin ini:
“Asal dari setiap maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah keridhaan terhadap hawa nafsu (mengandalkan diri sendiri). Sedangkan asal dari setiap ketaatan, kewaspadaan, dan kesucian adalah ketidakridhaan terhadap nafsu itu.”
Suara-suara atau “ilham” yang dijelaskan dalam naskah tersebut sejatinya adalah manifestasi dari “Nafs” (diri sendiri) yang terselubung jubah spiritual. Jika kita ridha, takjub, dan langsung membenarkan kehebatan diri kita karena mendapat pengalaman mistis itu, kita sedang jatuh ke dalam maksiat kesombongan (ghurur).
Seorang hamba sejati tidak akan peduli pada fenomena aneh; ia hanya peduli apakah amalannya hari ini sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah atau tidak.
Penutup:
Jangan mudah terpesona dengan pengalaman mistis, kasyaf, suara tanpa rupa, atau cahaya ghaib. Tolok ukur kedekatan dengan Allah Ta’ala bukanlah seberapa banyak hal ghaib yang kita lihat, melainkan seberapa lurus akhlak kita dan seberapa taat kita pada Syari’at-Nya. Teruslah mengaji dan perkuat fondasi ilmu tauhid dan fiqih, agar kita tidak menjadi korban halusinasi spiritual yang dimainkan oleh ego dan tipu daya setan. Wallāhu a’lam
Referensi:
- Kitab Madarij as-Salikin karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
- Al-Quran al-Karim (QS. al-Kahfi: 103-104)
- Sunan Tirmidzi & Sunan Ibnu Majah
- Kitab al-Hikam karya Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari













