Antara Sujud dan Kesombongan: Membedah Hakikat Ibadah Iblis

3 months ago

3 min read

Kisah Iblis sering kali menjadi cerminan paling pekat tentang bagaimana ibadah lahiriah yang ribuan tahun dapat runtuh seketika oleh satu penyakit batin. Ia bukanlah makhluk yang awam dalam ritual penyembahan; konon tiada jengkal di langit kecuali pernah menjadi saksi sujudnya. Namun, seluruh pengabdian itu menjadi debu yang beterbangan ketika satu perintah sederhana dihadapkan kepadanya: bersujud kepada Adam. Al-Qur’an merekam pembelaan dirinya yang ikonik, “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. Al-A’raf: 12).

Jawaban ini menyingkap tabir dari segala ritualnya. Iblis ternyata tidak pernah benar-benar mengenal Allah. Ibadahnya adalah ibadah yang buta dari musyahadah—penyaksian batin terhadap keagungan dan hakikat Ilahi. Ia gagal memahami bahwa perintah Allah adalah manifestasi dari kehendak-Nya yang mutlak, bukan sesuatu yang bisa ditawar dengan logika material penciptaan. Kesombongan telah menjadi hijab yang menghalanginya dari memandang esensi di balik bentuk. Ia hanya melihat tanah liat pada Adam, rahasia Ilahi yang dititipkan padanya.

Para ‘arif billah (orang-orang yang mengenal Allah) memberikan sudut pandang yang lebih dalam. Menurut Sayyidina Syekh Ali Wafa, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Dr. Muhammad Mehanna, “Andai Iblis melihat pancaran cahayanya (Nabi Muhammad ﷺ) di wajah Adam, niscaya ia yang pertama bersujud.” Ini mengisyaratkan bahwa pada diri Adam, terdapat pancaran Nur Muhammad, hakikat cahaya kenabian yang menjadi asal mula penciptaan. Namun, cahaya ini hanya dapat disaksikan dengan mata hati yang bening, bukan dengan mata lahiriah yang dipenuhi keakuan. Iblis tidak memiliki akses pada pandangan batin ini; ia tidak bertasawuf/tidak ber-ihsan secara sempurna, tidak beribadah seolah-olah memandang Allah Ta’ala.

Kegagalan Iblis adalah kegagalan dalam cinta dan pengenalan (ma’rifat). As-Syahid Sayyidi Syaikh Ramadhan Al-Bouthi pernah melontarkan pertanyaan retoris yang mendalam, “Apakah ada seseorang yang mengenal Tuhannya, lalu kemudian tidak mencintai-Nya?” Ini menegaskan bahwa pengenalan sejati kepada Allah niscaya akan melahirkan cinta tanpa syarat. Iblis, dengan kesombongannya, membuktikan bahwa ia tidak pernah sampai pada tingkat pengenalan ini. Ibadahnya selama ribuan tahun hanyalah rutinitas tanpa musyahadah.

Pelajaran ini sangat relevan bagi perjalanan spiritual setiap insan. Sayyidil Habib Umar bin Hafidz mengingatkan bahwa kualitas amalan sangat bergantung pada condongnya hati. “Berjihadlah, berpuasalah, shalatlah sebanyak yang kamu mau. Tapi jika kamu mencintai orang-orang fasik… maka pergilah kamu bersama mereka.” Pernyataan ini diperkuat oleh hadis shahih, “Seseorang itu akan bersama siapa yang ia cintai” (Al-mar’u Ma’a man Ahabba). Ini menunjukkan bahwa esensi dari seluruh amal adalah cinta. Kuantitas sujud dan ibadah menjadi sia-sia jika hati terikat pada selain Allah atau pada sifat-sifat yang dibenci-Nya, seperti kesombongan.

Maka dari itu, jalan para sufi adalah jalan penyaksian (syuhud). Mereka (Awliya Allah) meyakini bahwa anugerah tertinggi yang jika telah diberikan Allah tidak akan dicabut kembali adalah syuhud. Sebagaimana diungkapkan oleh Sayyidi Syaikh Rohimuddin An-Nawawi Al-Bantani, “as-syuhudu la yadurruhu dzanbun” (Syuhud tidak dirusak oleh dosa). Ini bukan berarti meremehkan dosa, melainkan sebuah penegasan betapa kokohnya hubungan seorang hamba yang telah mencapai tingkat penyaksian batin, sebuah tingkatan yang tak pernah dijamah oleh Iblis.

Pada akhirnya, kisah Iblis bukanlah sekadar cerita tentang makhluk terkutuk. Ia adalah pelajaran abadi tentang bahaya ibadah tanpa pengenalan, amal tanpa cinta, dan syariat tanpa hakikat. Imam Al-Ghazali bahkan menasihati agar kita tidak terlalu menyibukkan diri dengan melaknat Iblis. Sebab, kelak kita tidak akan ditanya mengapa tidak melaknatnya, melainkan akan ditanya tentang kualitas hubungan kita dengan Sang Pencipta. Fokus utama seorang hamba seharusnya adalah membangun cinta dan musyahadah kepada Allah, bukan memupuk kebencian pada musuh yang sudah nyata.

“Ketahuilah bahwasanya engkau tidak akan ditanya pada Hari Kiamat: “Kenapa engkau tidak melaknat fulan dan kenapa engkau diam?” Namun, walaupun engkau tidak melaknat Iblis sepanjang hidupmu, lisanmu juga tidak sibuk membicarakannya, engkau tidak akan ditanya tentang hal tersebut, dan tidak akan dituntut pada Hari Kiamat.”

Sayyidi Syaikh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (qs.)

Share this post

October 4, 2025

Copy Title and Content
Content has been copied.

Artikel

Baca juga:

Baca berbagai artikel Islami dan tambah wawasan bersama.

Sejarah Tarekat Qadiriyah | Pejalan Ruhani

Tumbuhnya tarekat dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama Islam itu sendiri, yaitu sejak Nabi Muhammad Saw. diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi

Adab dalam Berdzikir | Pejalan Ruhani

Berdzikir mempunyai adab-adab tertentu, baik sebagai penghantar, sesudah, atau ketika pelaksanaannya. Ada adab yang bersifat lahiriah dan ada pula yang bersifat batiniah. Sebelum melaksanakan dzikir,

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Sekretariat:
Perum Jaya Maspion Permata Beryl
B2-10 Gedangan, Sidoarjo
Jawa Timur
61254

Email Sekretariat:
suraubaitulfatih@gmail.com
baruk46@gmail.com

Web/App Developer:
Hubungi nomor atau email berikut untuk perihal teknis yang berhubungan dengan website/aplikasi Pejalan Ruhani.

aldibudimanputra@gmail.com
Whatsapp link