Pernahkah kamu merasa heran…
Dua orang membaca ayat al-Qur’an yang sama, mengaji pada guru yang sama, tapi hikmah yang mereka tangkap dan terapkan dalam hidup bisa sangat jauh berbeda? Mengapa bisa begitu?
Jawabannya ada pada satu kata yang sering kita lupakan: al-Fahm (Pemahaman).
Seringkali kita mengira bahwa “pintar agama” itu semata-mata soal seberapa kuat hafalan atau seberapa tinggi kecerdasan rasional kita. Padahal, dalam pandangan para ulama, pemahaman yang benar dan mendalam adalah hak prerogatif Allah yang dikaruniakan kepada hati hamba-hamba pilihan-Nya. Mari kita selami rahasia ini lebih dalam.
Pemahaman Adalah “Cahaya”
Dalam lembaran naskah kitab Madarij as-Salikin karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, beliau membahas Martabat al-Ifham (Tingkatan Pemahaman). Terdapat satu definisi yang sangat indah di dalamnya:
“Pemahaman adalah nikmat dari Allah atas hamba-Nya, dan ia adalah cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati, yang dengannya ia mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain…”
Naskah tersebut juga mencontohkan bagaimana Ibnu Abbas dan Umar bin Khattab memiliki pemahaman jauh melampaui sahabat lain saat menafsirkan Surah an-Nasr. Di saat sahabat lain melihatnya sebagai kabar gembira atas kemenangan Islam, Ibnu Abbas dengan ketajaman batinnya memahami bahwa surah itu adalah isyarat semakin dekatnya ajal Rasulullah Saw.
Naskah tersebut juga mengutip kisah Nabi Daud as. dan Nabi Sulaiman as. ketika mereka menghukumi sebuah perkara. Keduanya adalah nabi yang berilmu, namun Allah memberikan pemahaman spesifik mengenai keadilan kasus tersebut kepada Nabi Sulaiman as.
Allah Ta’ala berfirman:
“Maka Kami telah memberikan pemahaman kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu…” (QS. al-Anbiya’: 79)
Tanda Kebaikan dari Allah Ta’ala
Ilmu bisa didapat dengan banyak membaca, namun kefahaman agama adalah tanda cinta Allah Ta’ala.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menjemput Cahaya dengan Membersihkan Cermin Hati
Lalu pertanyaannya, bagaimana agar “Cahaya Pemahaman” yang disebut oleh Ibnu Qayyim tersebut bisa masuk ke dalam hati kita?
Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam kitab al-Hikam memberikan teguran yang sangat mendalam terkait kondisi hati kita:
“Bagaimana mungkin hati akan bersinar, sementara gambaran alam semesta (cinta dunia) masih melekat erat pada cerminnya? Atau bagaimana mungkin ia akan berangkat menuju Allah, sementara ia masih terbelenggu oleh syahwatnya?”
Pemahaman tidak diturunkan ke dalam hati yang keruh. Hati itu ibarat sebuah cermin. Cahaya pemahaman dari Allah Ta’ala tidak akan pernah bisa memantul atau masuk ke dalam cermin hati yang berdebu oleh dosa, dengki, ujub, dan ambisi duniawi yang berlebihan. Orang yang hatinya kotor mungkin bisa menghafal teks-teks agama, tapi ia akan gagal menangkap esensi dan hikmah sejati di baliknya.
Penutup:
Sahabat, ilmu memang diraih dengan kesungguhan belajar, tetapi pemahaman (fahm) diraih dengan ketakwaan dan kebersihan hati. Jangan hanya lelah mengejar ijazah atau kebanggaan intelektual, tapi lupa memohon cahaya kepada Sang Pemilik Ilmu.
Mari kita bersihkan cermin hati kita dan rutin memanjatkan doa yang pernah dipanjatkan Rasulullah Saw. untuk Ibnu Abbas:
“Allahumma faqqihni fid-diin, wa ‘allimni at-ta’wiil” (Ya Allah, pahamkanlah aku dalam agama, dan ajarilah aku ilmu tafsir/makna terdalam).
Sudahkah kita memeriksa cermin hati kita hari ini?
Referensi:
- Al-Qur’an al-Karim
- Shahih Bukhari & Shahih Muslim
- Kitab Madarij as-Salikin, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
- Kitab al-Hikam, Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari













