Setelah Rasulullah Saw. singgah di Masjidil Aqsha dalam perjalanan Isra’, Malaikat Jibril as. membawa Beliau menaiki Buraq untuk melanjutkan perjalanan Mi’raj, menembus lapisan-lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha.
Perjalanan pun dimulai dari Masjidil Aqsha dan berlanjut menuju langit pertama.
Ketika pintu langit pertama dibukakan, Rasulullah Saw. bertemu dengan Nabi Adam as. Rasulullah Saw. mengucapkan salam, dan Nabi Adam as. pun menjawab salam tersebut serta mengakui kenabian Nabi Muhammad Saw.
Pada langit pertama itu pula, Allah Ta’ala menampakkan ruh-ruh manusia. Di sebelah kanan terlihat ruh orang-orang yang berbahagia, sementara di sebelah kiri tampak ruh orang-orang yang sengsara.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju langit kedua.
Saat pintunya dibuka, Rasulullah Saw. bertemu dengan Nabi Yahya as. dan Nabi Isa as. Keduanya saling mengucapkan salam dan mendoakan kebaikan, serta menetapkan kenabian Rasulullah Saw. sebagaimana Nabi Adam as. sebelumnya.
Dari sana, Rasulullah Saw. dan Malaikat Jibril as. melanjutkan perjalanan ke langit ketiga.
Di sana, Rasulullah Saw. melihat seorang lelaki yang sangat tampan, bercahaya bagaikan rembulan di malam purnama di antara bintang-bintang.
Rasulullah Saw. pun bertanya kepada Malaikat Jibril as. tentang sosok tersebut. Malaikat Jibril as. menjelaskan bahwa dia adalah Nabi Yusuf as. Keduanya saling mengucapkan salam, dan Nabi Yusuf as. mendoakan kebaikan serta mengakui kenabian Rasulullah Saw.
Perjalanan Mi’raj berlanjut ke langit keempat.
Saat pintunya dibuka, Rasulullah Saw. bertemu dengan Nabi Idris as. Keduanya saling bertukar salam dan berbincang tentang kebesaran Allah Ta’ala, saling mengagumi keagungan ciptaan dan kekuasaan-Nya.
Kemudian Rasulullah Saw. dibawa naik ke langit kelima.
Di sana, Beliau bertemu dengan Nabi Harun as. Keduanya saling mengucapkan salam, dan Nabi Harun as. pun menetapkan kenabian Rasulullah Saw. serta mendoakan kebaikan baginya.
Perjalanan Mi’raj pun berlanjut ke langit keenam.
Di sana, Rasulullah Saw. bertemu dengan Nabi Musa as. Rasulullah Saw. melihat Nabi Musa as. sedang menangis, lalu bertanya, “Wahai Musa, apa yang membuatmu menangis?”
Nabi Musa as. menjawab, “Aku menangis karena ada seorang nabi yang diutus setelahku, usianya lebih muda dariku, namun umatnya lebih banyak yang masuk surga dibanding umatku.”
Tangisan Nabi Musa as. bukanlah karena iri kepada Nabi Muhammad Saw., melainkan karena penyesalan terhadap umatnya yang dahulu banyak melanggar perintah Allah Ta’ala.
Setelah itu, Rasulullah Saw. melanjutkan perjalanan menuju langit ketujuh.
Ketika pintunya dibuka, Beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Malaikat Jibril as. berkata, “Wahai Muhammad, ini adalah ayahmu. Ucapkanlah salam kepadanya.”
Rasulullah Saw. pun mengucapkan salam kepada Nabi Ibrahim as. yang saat itu bersandar di Baitul Makmur. Nabi Ibrahim as. menjawab salam tersebut dan berkata,
“Selamat datang anak yang shalih dan nabi yang shalih.”
Nabi Ibrahim as. kemudian berpesan kepada Rasulullah Saw., “Wahai Muhammad, perintahkanlah umatmu agar memperbanyak menanam pohon-pohon surga. Sesungguhnya tanah surga itu sangat luas dan subur.”
Rasulullah Saw. bertanya, “Apakah pohon surga itu?”
Nabi Ibrahim as. menjawab, “Pohon surga itu adalah kalimat:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.”













