23. Syafa’at

Pada Hari Kiamat, Rasulullah saw. akan memberikan syafa’at kepada umatnya, kita wajib meyakininya. Syafa’at Rasulullah saw. sungguh diterima oleh Allah. Beliaulah yang terdepan di antara semua yang bisa memberi syafa’at kelak, yakni para nabi, para rasul dan para malaikat yang didekatkan (al-muqarrabun).

Rasulullah saw. bersabda, “Di Hari Kiamat kelak, aku adalah orang yang pertama memberi syafa’at dan menerima syafa’at, bukan sombong.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadis tentang syafa’at ini mutawatir. Saat Hari Kiamat terjadi, manusia bangkit dari kubur sambil mengirapkan debu dari kepala dan wajah. Lalu mereka membuka mata seperti orang mabuk, padahal tidak mabuk, melainkan sibuk dengan diri masing-masing. Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menugaskan malaikat kepada masing-masing mereka, untuk menggiring mereka menuju al-mauqif (persinggahan), didampingi oleh saksi dari dirinya, yakni anggota tubuh dan jasadnya. Kemudian mereka digiring menuju padang mahsyar, yakni dataran seputih perak yang disediakan oleh Allah untuk mengumpulkan seluruh umat sejak yang awal sampai yang terakhir. Setelah mereka berkumpul, matahari mendekat di atas kepala mereka hingga hanya berjarak sekitar satu mil, dan panasnya dilipatgandakan sampai tujuh puluh kali lipat. Kondisi itu membuat otak mereka mendidih. Mereka semakin menderita dan berdesakan, hingga di atas setiap kaki bertumpuk seribu kaki. Keringat pun demikian deras dan membanjir, seperti disabdakan Rasulullah saw., “Sesungguhnya pada Hari Kiamat, keringat merasuk ke dalam bumi hingga sedalam tujuh puluh hasta, dan keringat mereka membanjir hingga setinggi mulut dan telinga mereka.” (HR. Muslim)

Tetapi keadaan seperti itu berlaku tidak untuk semua. Karena, keringat masing-masing orang pada waktu itu berbeda sesuai kadar dosanya. Di antara mereka ada yang terendam keringat hanya sampai mata kaki, ada yang sampai lutut, sampai ketiak, ada yang sampai leher, dan ada yang sampai tenggelam. Ada juga yang sama sekali tidak tersentuh banjir keringat. Di antara mereka juga ada yang mendapat keteduhan naungan ‘Arsy, yakni mereka yang dimuliakan oleh Allah, sebagaimana ditunjukkan di dalam hadis-hadis shahih Nabi saw.

Kemudian manusia berdiam—ma sya’ Allah—demikian lama hingga kepayahan dan kesusahan semakin mendera. Mereka menengadahkan wajah ke atas tanpa berucap sepatah kata pun. Menurut satu pendapat, keadaan itu berlangsung selama empat puluh tahun waktu dunia.

Setelah demikian lama menunggu dan kepayahan semakin mendera mereka, mereka berusaha mencari orang yang dapat menolong mereka, agar mereka bisa istirahat dari diam dan derita. Mereka bicara satu sama lain, “Mari kita mendatangi Adam bapak moyang kita, kita minta syafa’atnya pada Allah.” Mereka mendatangi Adam a.s. dan berkata, “Engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya sendiri, dan Dia telah memerintahkan malaikat bersujud kepadamu. Maka syafa’atilah kami, mohonkanlah kepada Allah agar Dia memindahkan kami dari tempat ini.” Adam menjawab, sungguhnya pada hari ini Allah Ta’ala amat murka, tidak pernah Dia semurka hari ini, tidak pula kelak. Sesungguhnya aku punya masalah vang membuatku amat khawatir dan tidak berani memohonkan syafa’at kepada Allah. Diriku, diriku, diriku,.. Pergilah kepada Nuh! Dia akan menyafa’ati kalian.”

Mereka mendatangi Nuh dan berkata, “Wahai Nuh, syafa’atilah kami, mohonkan kepada Allah agar Dia memindahkan kami dari tempat perhentian ini. Sungguh Allah telah menjadikanmu sebagai orang pilihan dan menamaimu dengan sebutan ‘abdan syakuran (hamba yang sungguh bersyukur).” Nuh memberikan jawaban kepada mereka sama seperti jawaban Adam. Nuh menyarankan mereka agar menemui Ibrahim a.s. Mereka pun mendatangi Ibrahim dan berkata kepadanya, “Engkau Khalilullah (kekasih Allah), syafa’atilah kami pada Allah.” Ibrahim memberikan jawaban kepada mereka sama seperti jawaban Adam dan Nuh. Ibrahim menyarankan mereka agar menemui Musa a.s. Mereka mendatangi Musa dan berkata, “Engkau kalimullah, syafa’atilah kami.” Namun Musa pun memberikan jawaban yang sama kepada mereka. Musa menyarankan mereka agar meminta syafa’at kepada ‘Isa a.s. Mereka pun mendatangi ‘Isa dan berkata, “Engkau adalah rasul Allah, engkau adalah kalimah-Nya yang telah dia titipkan di rahim Maryam, dan engkau pun adalah ruh dari-Nya. Berilah kami syafa’at.” Nabi ‘Isa memberikan jawaban yang sama kepada mereka. Lalu dia menyuruh mereka pergi kepada Sayyidina Muhammad saw.

Pada akhirnya mereka mendatangi Rasulullah Muhammad saw. Wajah beliau sungguh bercahaya menerangi seluruh makhluk. Lalu mereka memanggil-manggil beliau dari bawah mimbarnya yang tinggi, “Wahai sang kekasih Tuhan semesta alam, wahai sang penghulu para nabi dan rasul. Sungguh, masalah kami demikian berat. Telah lama kami berada di tempat ini, kepayahan dan kesusahan pun semakin dahsyat mendera kami. Berilah kami syafa’at, mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk memutus perkara kami, agar siapa di antara kami yang bakal menghuni surga segera diperintahkan masuk surga, dan siapa yang bakal menghuni neraka segera diperintahkan masuk neraka. Tolonglah kami…tolonglah kami, ya Muhammad. Engkaulah sang pemangku kebesaran yang telah diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.” Rasulullah saw. bersabda, “Ya. Aku akan memberi syafa’at, Insya Allah.”

Kemudian Rasulullah saw. berdiri di suatu tempat yang tidak seorang pun makhluk selain beliau bisa berdiri di tempat itu. Beliau bersujud kepada Allah Ta’ala. Beliau memuji-Nya dengan pujian yang Dia ilhamkan langsung saat itu kepada beliau, pujian yang tidak pernah diungkapkan siapa pun selain beliau. Lalu beliau diseru, “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah syafa’at, engkau bisa memberi syafa’at. Mintalah, engkau pasti diberi. Berbicaralah, engkau pasti didengar.” Kemudian Rasulullah saw. mengangkat kepala dan memohonkan syafa’at untuk seluruh umat agar segera dipindahkan dari tempat penantian itu. Beliau berucap, “Ya Rabb, perintahkanlah hamba-hamba-Mu untuk segera menjalani hisab. Sungguh, derita sudah sangat dahsyat mendera mereka.” Permohonan beliau dikabulkan. Inilah syafa’at yang pertama digelar, untuk mengistirahatkan umat dari derita penantian. Inilah al-maqam al-mahmud (kedudukan terpuji) yang disanjung-sanjung oleh semua makhluk, dari yang paling awal sampai yang paling akhir. Mereka tidak langsung diilhami untuk mendatangi Muhammad saw. pada kali yang pertama, itu untuk menampakkan keunggulan dan kemuliaan beliau.

Ketahuilah bahwa syafa’at terdiri dari beberapa macam. Syafa’at terbesar adalah syafa’at untuk segera memutus perkara dan mengistirahatkan umat dari penantian yang amat lama. Syafa’at ini khusus dimiliki oleh Rasulullah Muhammad saw. Kedua, syafa’at untuk memasukkan ahli surga ke surga tanpa hisab. Al-lmam an-Nawawi mengatakan bahwa syafa’at ini juga khusus dimiliki oleh Nabi Muhammad saw. Ketiga, syafa’at untuk menahan orang dari neraka, padahal orang itu harus masuk neraka. Keempat, syafa’at untuk mengeluarkan ahli tauhid dari neraka. Selain dimiliki oleh Rasulullah saw., syafa’at yang keempat ini juga dimiliki oleh para nabi, para malaikat dan kaum mukmin. Kelima, syafa’at untuk memberikan tambahan derajat di dalam surga bagi yang berhak. Keenam, syafa’at untuk meringankan siksa bagi orang yang mendapat siksa abadi. Syafa’at ini khusus dimiliki RasuluIlah Muhammad saw.

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Indeks

Tanwirul Qulub

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok