50. Penutup

Pasal penutup ini meliputi paparan sejumlah ayat Alquran dan hadis nabi yang suci. Kami memaparkannya sebagai bentuk tabarruk kami dengan firman Tuhan semesta alam dan hadis sang penghulu para rasul.

Di dalam satu riwayat disebutkan bahwa ‘Umar ibn al-Khaththab berkata, “Apabila turun wahyu kepada Rasulullah saw., di wajah beliau terdengar dengung seperti dengung suara lebah. Suatu hari Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah. Beberapa saat beliau terdiam, hingga kesusahan lenyap darinya, lalu beliau menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: ‘Ya Allah, tambahkan untuk kami dan janganlah Engkau mengurangi dari kami. Muliakanlah kami dan jangan Kau hinakan kami. Berilah kami dan janganlah Engkau menahan pemberian kepada kami. Utamakanlah kami dan jangan Kau telantarkan kami. Ya Allah, buatlah kami ridha dan ridhalah kepada kami.‘ Kemudian beliau bersabda, ‘Telah turun kepadaku sepuluh ayat. Barangsiapa mengamalkannya, pasti akan masuk surga.’ Lalu beliau membaca: qad afla hal-mu’minun… sampai tuntas sepuluh ayat.” [HR. at-Tirmidzi]

Allah Ta’ala berfirman, [al-Mu’minun 23:1-11]

  1. qad aflahal-mu’minun  (Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman). Ibnu ‘Abbas menafsir ayat tersebut, “Sungguh berbahagia orang-orang yang membenarkan dan meyakini tauhidullah, dan mereka abadi di dalam surga.” Di dalam satu keterangan disebutkan bahwa al-falah berarti mendapatkan apa yang dikehendaki dan terbebas dari hal yang dihindari. Jadi maknanya, orang-orang beriman itu berhasil mendapatkan hal yang dicarinya dan terbebas dari hal yang dihindarinya.
  1. al-ladzina hum fi shalatihim khasyi’un ([yaitu] orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya), yakni hati mereka ketakutan tetapi anggota badan mereka tetap tenang. Al-Hakim meriwayatkan, “Rasulullah saw. pernah melakukan shalat dengan pandangan mata terarah ke langit. Namun setelah turun ayat ini, beliau mengarahkan pandangannya ke tempat sujudnya.” ‘A’isyah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang menoleh di dalam shalat, beliau menjawab, ‘Itu adalah ikhtilas (pencurian). Setan mencuri shalat hamba.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan yang lainnya. Ikhtilas berarti ikhtithaf (perampasan).

Abu Dzarr mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah senantiasa menghadap kepada hamba yang sedang shalat selagi dia tidak menoleh-noleh. Apabila dia menoleh, maka Allah berpaling darinya.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i).

Ath-Thabrani meriwayatkan, dari Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ub dan ‘Imran bin Hashin, “Barangsiapa shalatnya tidak membuat dia tercegah dari perbuatan keji dan munkar, maka dia tidak akan mendapat tambahan dari Allah selain jarak yang semakin jauh.”

Salah seorang ulama salaf meriwayatkan, “Barangsiapa mengenali orang yang berada di sebelah kanan dan sebelah kirinya saat dia sedang shalat, maka tidak ada shalat untuknya.” 

  1. wal-ladzina hum ‘anil-laghwi mu’ridhun (dan orang-orang yang menjauhkan diri dari [perbuatan dan perkataan] yang tiada berguna). Yakni orang-orang yang meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna bagi agama dan dunianya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang masuk dalam kategori makruh maupun mubah. Seperti bergurau, bermain, membuang-buang waktu untuk hal yang tiada berguna, larut dalam syahwat dan hal-hal lainnya yang dilarang oleh Allah.

Kesimpulannya, manusia harus berusaha dalam setiap gerak dan diamnya untuk hal-hal yang bermanfaat, mengusahakan surga yang tinggi untuk tempat kembalinya atau mengusahakan dirham yang halal untuk penghidupan dan bekal ibadahnya.

Rasulullah saw. bersabda, “Salah satu tanda baik keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (HR. At-Tirmidzi dan yang lainnya)

  1. wal-ladzina hum liz-zakati fa’ilun (dan orang-orang yang menunaikan zakat).  Yakni orang-orang yang menunaikan zakat wajib. Allah menyifati mereka sebagai orang-orang yang menunaikan zakat setelah menyifati mereka sebagai orang-orang yang khusyuk dalam shalat untuk menunjukkan bahwa mereka telah mencapai puncak pelaksanaan ketaatan yang behubungan dengan badan dan harta.
  1.  wal-ladzina hum lifurujihim hafizhun (dan orang-orang yang menjaga kemaluannya). Yakni senantiasa menjaga diri dari jima’ (persetubuhan) dan semua yang dapat menimbulkannya, dalam setiap keadaan.
  1.  illa ‘ala azwajihim aw ma malakat aimanuhum fainnahum ghairu malumin. Kecuali terhadap istri-istri mereka,  yakni perempuan yang telah menjadi hak mereka melalui akad nikah. Atau budak yang mereka miliki, yakni budak perempuan atau jariyah yang berada dalam kuasa mereka. Namun ini tidak berlaku bagi budak laki-laki, tuan perempuan tidak boleh bersenang-senang dengan kemaluan budak laki-lakinya. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela, yakni mereka tidak menjadi tercela bila melakukannya terhadap istri yang sah atau budak perempuan mereka, selama dalam batas-batas yang diperbolehkan syara’ dan sesuai adab. Tidak melakukannya dalam keadaan terlarang, seperti saat isteri sedang haid atau nifas. Sebab hal itu merupakan kezaliman dan melampaui batas. Barangsiapa melakukannya, dia sungguh tercela.
  1. faman ibtagha wara’a dzalika fa’ula’ika humul-‘adun  (barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas). Yakni meyalurkan syahwatnya bukan dengan istri atau budaknya, entah dengan zina, sodomi, onani atau dengan binatang, maka mereka itu sungguh telah zalim dan melampaui batas dari halal ke haram.
  1. wal-ladzina hum li’amanatihim wa ‘ahdihim ra’un (dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat [yang dipikulnya] dan janjinya). Yakni mereka menjaga hal yang dipercayakan kepada mereka dan janji yang disepakatinya dengan orang lain. Mereka menjaganya dengan menunaikan amanat dan memenuhi janji terebut. Amanat terdiri dari beberapa macam, di antaranya adalah amanat yang terjalin di antara hamba dan Allah Ta’ala, seperti shalat, puasa dan ritual ibadah lainnya yang telah diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Amanat yang terjalin antara hamba dan hamba, seperti barang titipan atau pekerjaan. Amanat lainnya ada yang bersifat maknawi batini, seperti ikhlas dan jujur. Pemenuhan amanat dan janji itu wajib dilakukan, semuanya.
  1. wal-ladzina hum ‘ala shalawatihim yuhafizhun (dan orang-orang yang menjaga shalatnya). Yakni mereka senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, tepat waktu, menyerpurnakan syarat dan rukunnya, menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Penyebutan kembali shalat di dalam ayat ini menunjukkan betapa pentingnya shalat. Selain itu, yang diungkapkan pada ayat kedua adalah masalah khusyuk di dalam shalat, dan itu bukan merupakan bagian dari menjaga shalat yang diungkapkan pada ayat ini.
  1.  ula’ika humul-waritsun (Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi). Yaitu mereka yang telah menghimpun dan membuktikan sifat-sifat tersebut di dalam dirinya. Merekalah yang akan mengambil alih (mewarisi) tempat-tempat penghuni neraka di dalam surga. Rasulullah saw. bersabda, “Masing-masing diri kalian mempunyai dua tempat, satu tempat di neraka dan satu tempat lagi di surga. Apabila dia mati lalu masuk neraka, maka penghuni surga akan mewarisi tempatnya [di surga].” (HR. Ibnu Majah)
  1. al-ladzina yaritsunal-firdausa hum fiha khalidun  (yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya). Surga firdaus adalah surga yang paling tinggi. Diriwayatkan dari ‘Ubadan ibn ash-Shamit r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di surga ada seratus tingkat. Jarak tiap tingkatnya sejarak antara langit dan bumi, dan surga Firdaus adalah tingkat yang paling tinggi. Dari Firdaus mengalir sungai. Di atasnya adalah ‘Arsy ar-Rahman. Apabila engkau berdoa memohon kepada Allah, mohonlah surga Firdaus.” [HR. At-Tirmidzi dengan redaksinya. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari di dalam Shahih-nya.]. Mereka kekal di dalamnya, yakni tidak akan keluar dan tidak akan mati.

Allah Ta’ala berfirman, “Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” [QS. an-Nazi’at 79:37-39]. Yakni orang yang melampaui batas dalam permusuhan serta lebih memilih dan mengutamakan kehidupan dunia, tidak mempersiapkan diri untuk akhirat dengan beribadah dan mengekang nafsu, maka tempat baginya adalah Jahim (neraka yang sangat panas dan menyala-nyala).

Allah Ta’ala berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” [QS. an-Nazi’at 79:40-41]

Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya [yakni takut menghadapi hari di saat dia harus berdiri di hadapan-Nya. Rasa takut ini muncul karena dia tahu tempat mula dan tempat kembali dirinya, dan dia tahu bahwa dirinya pasti akan diadili. Mujahid berkata, “Ketakutan mereka kepada Allah Ta’ala saat di dunia itu terjadi ketika terlanjur melakukan dosa, dan karenanya mereka menghentikan perbuatan dosanya] dan dia menahan diri dari keinginan hawa nafsunya [yakni menahan nafsu yang menyuruh kepada tindakan mengikuti hasrat-hasrat terlarang, lalu memerangi nafsunya dengan kesabaran dan lebih mengutamakan akhirat] maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya [yakni, rumah nikmat tempat segala sesuatu yang diinginkannya terwujud].

Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [QS. al-A’raf 7:55-56]

Berdoalah kepada Tuhanmu. Ini merupakan perintah kepada semua hamba agar sungguh-sungguh menghadapkan diri kepada Allah Ta’ala dalam berdoa. Maksudnya, “Hadapkanlah hatimu kepada Allah dan mintalah kepada-Nya dengan lisanmu.” Karena, doa adalah permintaan dan permohonan. Doa merupakan salah satu bentuk ibadah. Sebab orang yang berdoa kepada Allah itu berdoa karena dirinya membutuhkan sesuatu yang tidak sanggup dia capai dan dia tahu bahwa Allah Ta’ala akan mendengar doanya serta mengetahui kebutuhan dirinya. Dia juga tahu bahwa Allah Mahakuasa untuk mengabulkan hajat itu kepada si pemohon. Dalam kondisi ini si hamba yang berdoa tahu bahwa dirinya bersifat lemah dan kekurangan, sementara Allah Mahakuasa dan sempurna.

Dengan berendah diri [yakni berdoalah kepada Tuhanmu dengan menampakkan kehinaan dan kerendahan di dalam diri] dan suara yang lembut [yakni suara lembut di dalam batin, bukan suara yang keras].

Salah satu adab berdoa adalah berdoa dengan suara lembut, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat ini. Selain dalil ayat ini, ada pula riwayat dari Abu Musa al-Asy’ari, “Kami sedang bersama Rasulullah saw. saat kami mendengar orang-orang menyaringkan suara takbir mereka. Lalu beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, rendahkanlah suara kalian. Sebab kalian tidak sedang berdoa kepada si tuli dan gahib. Sesungguhnya Allah bersama kalian, Dia mendengar dan dekat.” [Hadis muttafaq ‘alaih.]. Abu Musa berkata, “Aku yang tepat berada di belakang beliau berucap dalam batin, la haula wala quwwata illa billah. Tiba-tiba Rasulullah bertanya, ‘Wahai Abdullah ibn Qais, maukah kutunjukkan salah satu pusaka surga?’ Aku menjawab, ‘Tentu, ya Rasulullah?’ Lalu beliau bersabda, ‘La haula wala quwwata illa billah.”‘ 

Al-Hasan berkata, “Di antara doa sirri (dengan suara lembut) dan doa jahr (dengan suara keras) terdapat tujuh puluh lipatan perbandingan.” 

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Yakni mereka yang melewati batasan-batasan yang telah ditetapkan, dalam berdoa dan bentuk peribadatan lainnya. Dengan ayat ini Allah memperingatkan hamba yang berdoa agar dia tidak memohon sesuatu yang tidak layak baginya, seperti memohon derajat kenabian, atau minta naik ke langit dan hal-hal serupa lainnya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan melewati batas di dalam ayat tersebut adalah menjerit-jerit dalam berdoa.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.“‘ [QS. al-A’raf 7:56]

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi [dengan syirik dan maksiat] sesudah (Allah) memperbaikinya [dengan mengutus rasul dan memberlakukan hukum-hukum syara’] dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut [yakni takut kepada Allah dan siksa-Nya] dan harapan [mendapat ampunan dan pahala dari-Nya. Ibnu Juraij berkata, “yang dimaksud adalah: takutlah kamu pada keadilan-Nya dan berharaplah mendapatkan anugerah-Nya.”

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik [yakni orang-orang yang taat, walaupun rahmat Allah itu diperoleh mereka melalui tobat]. Yang dituntut adalah mendahulukan tobat daripada doa, agar doa muncul dari hati yang bersih sehingga lebih dekat untuk dikabulkan.

Di dalam satu riwayat disebutkan bahwa Jabir ibn ‘Abdullah r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya anak Adam berada dalam kelalaian terhadap ketentuan dia diciptakan. Apabila Allah hendak menciptakan anak Adam, Dia berfırman kepada malaikatnya: Tuliskanlah rezekinya, tuliskanlah amalnya, tuliskanlah ajalnya, tuliskanlah bahagia atau celakanya. Kemudian malaikat itu naik. Lalu Allah menugaskan dua malaikat untuk menulis amal baik dan buruknya. Apabila orang itu menjelang ajal, malaikat maut datang untuk mencabut ruhnya, sementara dua malaikat pencatat amalnya naik. Apabila anak Adam itu sudah diletakkan di dalam kubur, ruhnya dikembalikan ke dalam tubuhnya. Kemudian dua malaikat kubur datang untuk mengujinya. Setelah usai mengujinya, kedua malaikat itu naik. Apabila Hari Kiamat tiba, dua malaikat pencatat amal baik dan amal buruknya turun lagi. Lalu megikatkan buku catatan amal di lehernya. Kedua malaikat itu terus mendampinginya. Yang satu menjadi penuntut sedangkan yang satu menjadi saksi.’ Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya di depan kalian ada perkara yang amat besar yang tidak akan bisa kalian ukur. Maka mintalah perlindungan kepada Allah Yang MahaAgung.” (Dikeluarkan Oleh Ibnu Abi ad-Dunya’ dan Abu Na’im).

At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa ‘Abdurrahman ibn Samurah berkata, “Suatu hari Rasulullah saw mendatangi kami yang sedang berada di Masjid Madinah, lalu beliau bersabda, “Tadi malam aku bermimpi melihat hal yang menakjubkan. Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang dikelilingi malaikat adzab dari segala arah. Tiba-tiba wudhunya datang dan menyelamatkannya.

“Aku melihat seorang lelaki dari umatku mendatangi para nabi yang berada dalam halaqah-halaqah. Setiap kali melewati dia selalu ditolak dan diusir. Tiba-tiba mandi junub-nya datang dan menarik tangannya, lalu mendudukkannya di sampingku.

“Kemudian aku melihat seorang lelaki dari umatku yang sudah hampir ditimpa siksa kubur. Tetapi tiba-tiba shalatnya datang dan menyelamatkannya dari siksa kubur itu.

“Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang menjulurkan lidahnya karena sangat haus, lalu puasa ramadhan-nya datang dan memberinya minum.

“Aku melihat seorang laki-laki dari umatku yang diliputi kegelapan. Di hadapannya ada kegelapan, di belakangnya ada kegelapan, si samping kirinya ada kegelapan, di samping kanannya ada kegelapan, di atasnya ada kegelapan dan di bawahnya juga ada kegelapan. Lalu haji serta umrah-nya datang dan mengeluarkannya dari kegelapan itu.

“Aku melihat seorang lelaki dari umatku didatangi malaikat maut yang hendak mencabut ruhnya, namun tiba-tiba datang bakti-nya kepada kedua orang tua yang kemudian menghindarkan dia darinya. [Yakni, pada saat itu lelaki tersebut dihindarkan dari maut. Karena birrul-walidain (berbakti kepada orang tua) dapat menambah umur. Namun hal ini dinisbatkan dengan ketentuan yang telah tercantum di LauhMahfuzh.]

“Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang berkata kepada Orang-orang mukmin, tetapi dia tidak dihiraukan mereka. Lalu sillaturahim datang kepadanya dan berkata, ‘Lelaki ini suka menyambung tali kasih, maka ajaklah dia bercengkerama!’ Maka merekapun mengajaknya bercengkerama dan jadilah dia bersama mereka.

“Aku melihat seorang lelaki yang sedang menangkis-nangkis api yang menyambar-nyambar wajahnya, lalu sedekahnya datang dan menjadi pelindung di atas kepalanya dan menjadi benteng di hadapannya. 

“Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang sedang duduk bertumpu dengan kedua lututnya. Di antara dia dan Allah ada hijab. Lalu datang akhlak baiknya yang kemudian meraih tangannya dan memasukkannya ke hadirat Allah Ta’ala.

“Aku melihat seorang lelaki umatku yang didatangi oleh zabaniyah (juru siksa). Namun tiba-tiba datang amar ma’ruf nahyi munkar-nya dan menyelamatkannya.

“Aku juga melihat seorang lelaki dari umatku yang sedang turun ke neraka, lalu tiba-tiba datang tetes-tetes air mata dari tangisnya saat di dunia karena takut kepada Allah. Kemudian tetes-tetes air mata itu mengeluarkannya dari neraka.

“Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang buku catatan amalnya jatuh di tangan kirinya. Lalu rasa takutnya kepada Allah saat di dunia datang dan mengalihkan buku itu ke tangan kanannya.

“Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang timbangan amal baiknya lebih ringan dari timbangan amal buruknya, lalu datang anak-anaknya yang mati sebelum baligh dan dia merasakan derita kehilangan mereka namun tetap bersabar. Kemudian anak-anak itu memberatkan timbangan amal baiknya.

“Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang berada di tepi Jahanam, lalu rasa takutnya kepada Allah saat di dunia datang dan menyelamaatkannya. 

“Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang badannya gemetar menggigil seperti pelepah kurma, lalu datang prasangka baiknya kepada Allah dan meredakan gigilnya.

“Aku melihat seorang lelaki dari umatku yang saat melintasi di atas shirath kadang beringsut dan kadang merangkak. Tiba-tiba shalawatnya atas diriku datang dan memegang tangannya, lalu menegakkannya berdiri di atas shirath hingga dia dapat melewatinya dengan selamat.

“Aku melihat seorang lelaki dari umatku, sudah sampai di ambang pintu surga, namun pintu itu ditutup baginya. Lalu syahadat tauhidnya datang dan meraih tangannya, kemudian memasukkannya ke dalam surga.” 

Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh berbahagia orang yang tawadhu’ dalam agama, berendah diri pada selain kehinaan dan kenistaan, menafkahkan hartanya pada selain maksiat, bergaul dengan ahli fikih dan ahli hikmah, serta mengasihi orang-orang jelata dan miskin. Berbahagialah orang yang berendah diri, usahanya baik, nuraninya bersih (dengan memurnikan tauhid, percaya akan janji-Nya dan takut terhadap ancaman-Nya), penampilannya mulia (yakni cahaya nuraninya muncul pada anggota tubuh dalam rupa takwa dan akhlak yang mulia), dan menghindarkan kejahatan dirinya kepada orang-orang. Sungguh berbahagia orang yang beramal dengan ilmunya, menafkahkan kelebihan hartanya dan menahan kelebihan omongannya (dengan meninggalkan omongan yang tidak bermanfaat).” Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam At-Tarikh, diriwayatkan pula oleh perawi lain.

Abu Dzarr r.a. berkata, “Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang terdapat pada shuhuf Ibrahim a.s.?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘[Seluruhnya berupa amsal. Di antaranya, Wahai raja yang berkuasa dan diuji lagi diperdaya, sesungguhnya Aku mengutusmu bukan dengan tugas mengumpulkan dunia bagian demi bagian, tetapi Aku mengutusmu agar engkau menolak doa si teraniaya dariku-Ku, sebab Aku tidak akan menolak doa si teraniaya, walaupun dari orang kafir. Orang yang berakal, selagi akalnya masih sehat, harus mempunyai beberapa saat: saat untuk menyempatkan diri bermunajat kepada Tuhannya, saat untuk mengoreksi diri, saat untuk merenungkan ciptaan Allah, saat untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum. Orang berakal juga semestinya tidak beramal selain untuk tiga hal: berbekal untuk akhirat, atau untuk penghidupan yang baik, atau untuk kesenangan yang tidak haram. Orang berakal juga mesti waspada terhadap zamannya, menghadapi permasalahnya dan menjaga lidahnya. Barangsiapa menimbang perkataannya atas perbuatannya, maka dia akan menyedikitkan perkataannya hanya untuk yang bermanfaat.’

“Aku bertanya lagi, ‘Ya Rasulullah, apa yang terdapat pada shuhuf Musa a.s.?’ dan Rasulullah saw. menjawab, ‘[Seluruhnya berupa pelajaran. Di antaranya] Aku heran kepada orang yang meyakini adanya kematian kemudian dia bergembira. Aku heran kepada orang yang meyakini adanya neraka lalu dia tertawa-tawa. Aku heran kepada orang yang meyakini ketentuan qadar, lalu dia bersusah payah. Aku heran kepada orang yang melihat dunia selalu membolak-balik ahlinya kemudian dia merasa nyaman dengannya. Aku heran kepada orang yang meyakini akan adanya hisab di hari esok kemudian dia tidak beramal.’

“Kemudian aku berkata, ‘Ya Rasulullah, berilah aku wasiat (pesan)!’ Beliau bersabda, ‘Aku berwasiat kepadamu agar senantiasa bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya takwa adalah pokok semua urusan.’ Aku berkata lagi, ‘Ya Rasulullah, tambahlah nasihat untukku!’ lalu beliau bersabda, ‘Hendaklah engkau membaca Alqur’an. Sesungguhnya membaca Alqur’an merupakan cahaya bagimu di bumi dan sebutan buatmu di langit.’

“Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, tambahkanlah nasihat untukku!’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Hindarilah banyak tawa. Sungguh, tertawa dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.’ Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, tambahkanlah nasihat untukku!’ dan Rasulullah saw. bersabda, ‘Hendaklah engkau tidak bicara, kecuali tentang kebaikan. Sebab diam bisa menjadi penolak setan dan penolong bagimu dalam urusan agama.’ Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, tambahkanlah nasihat untukku!’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Berjihadlah! Sesungguhnya jihad merupakan kerahiban umatku.’ Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, tambahlah nasihat untukku!’ Rasulullah saw. berabda, ‘Cintailah orang-orang miskin dan duduklah bersama mereka.’ Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, tambahkanlah nasihat untukku!’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Pandanglah orang yang ada di bawahmu dan jangan memandang orang yang ada di atasmu, itu lebih layak bagimu agar engkau tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.’

“Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, tambahkanlah nasihat untukku!’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Katakanlah yang benar, meski kebenaran itu terasa pahit.’ Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, tambahkanlah nasihat untukku!’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Hendaklah (aib dan keburukan) yang kau ketahui ada pada dirimu bisa memalingkanmu dari (aib dan keburukan) orang lain [yakni, semestinya engkau sibuk dengan aib dan kejelekan yang ada pada dirimu, tidak perlu mencari tahu kebutukan orang lain yang tidak kau ketahui, tidak perlu mencari-cari dan memata-matai cacat dan aib orang lain]. Jangan marah kepada mereka karena kesalihan yang telah engkau perbuat[*]. Cukuplah sebagai aib bagi dirimu bila engkau mengetahui aib orang lain yang tidak kau dapati pada dirimu sendiri, atau engkau merasa lebih tinggi dari orang lain karena amal salih yang telah engkau lakukan.’ Kemudian Rasulullah menepuk dadaku dengan tangannya seraya berkata, ‘Tidak ada akal sebaik at-tadbir, tidak ada wara’ sebaik al-kaff, dan tidak ada kemuliaan sebaik husnul-khuluq.”’ [At-Tadbir, disiplin penyelarasan diri dengan aturan-aturan syari’at. Al-kaff, menahan diri dari keburukan dan perbuatan buruk terhadap orang lain. Husnul-khuluq, berakhlak baik dan terpuji.] Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan redaksinya. Diriwayatkan pula olah Al-Hakim di dalam shahih-nya.

[*] Jangan memandang mereka dengan pandangan menghinakan karena engkau merasa telah melakukan berbagai ketaatan dan pengorbanan yang tidak diperbuat mereka. Jika engkau sibuk dengan aib orang lain karena engkau tidak mendapati aib pada dirimu sendiri yang membuatmu sibuk hingga tidak sempat melihat aib orang lain, atau engkau berbangga diri seraya menghinakan mereka sebab engkau memandang mereka tidak sesalih dirimu, ini sungguh merupakan cacat yang paling besar. Karena jika engkau sibuk dengan aib orang lain, berarti engkau telah melanggar kehormatan dan harga diri mereka. Sedang bila engkau sombong dan menghinakan orang lain, berarti di dalam dirimu ada kecintaan terhadap nafsu, rasa senang terhadap nafsu dan sifat riya yang dapat melebur amal, na’udzu billahimin dzalik.

Wahab ibn Munabbih berkata, “Di dalam hikmah Alu Dawud disebutkan, ‘Orang yang berakal tidak boleh lalai dari empat saat. Yakni, saat untuk bermunajat kepada Tuhannya, saat untuk mengoreksi diri sendiri, saat untuk mendatangi saudara-sudaranya yang telah memberitahunya tentang aib-aib dirinya lalu mereka meluruskannya, dan terakhir adalah saat untuk memenuhi kebutuhannya yang halal dan baik. Saat yang terakhir ini dapat membantu saat-saat lainnya dan dapat menenteramkan hati.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn al-Mubarak di dalam kitab Az-Zuhd, dan diriwayatkan pula oleh Abu Bakr ibn Abi ad-Dunya.

Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memaafkan umatku dari kesalahan yang tidak disengaja, kelupaan dan keterpaksaan.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Baihaqi dan Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya. Hadis ini memiliki fungsi umum, karena ketiga hal tersebut bisa terjadi dalam semua bab fikih, dan karenanya sah disebut sebagai setengah dari hukum syari’at. 

Abu Dzarr r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. meriwayatkan dari Allah ‘Azza wa Jalla, “Wahai hamba-hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman terhadap diri-Ku, dan Aku juga telah mengharamkannya di antara sesama kalian, maka kalian jangan saling menzhalimi. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua dalam keadaan tersesat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua dalam keadaan lapar, kecuali orang yang aku beri makan, maka minta makanlah kepada-Ku, Aku akan memberi kalian makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua dalam keadaan telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi kalian pakaian. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua berbuat salah di siang dan di malam hari, dan Aku adalah pengampun semua dosa, maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tidak bisa mempunyai bahaya-Ku hingga membahayakan Aku, tidak pula kalian bisa mempunyai manfaat-Ku hingga bisa memberi-Ku manfaat. Wahai hamba-hamba-Ku, kalaupun kalian semua—sejak yang pertama sampai yang terakhir, dari golongan manusia dan jin—sehati dengan orang yang paling bertakwa di antara kalian, sungguh tidak akan memberikan tambahan sedikit pun pada kerajaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, kalaupun kalian semua—sejak yang pertama sampai yang terakhir, dari golongan manusia dan jin—sehati dengan orang yang paling durhaka di antara kalian, sungguh tidak akan mengakibatkan kerajaan-Ku berkurang sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, kalaupun kalian semua— sejak yang pertama sampai yang terakhir, dari golongan manusia dan jin—bersama-sama meminta secara serempak, lalu aku memberi permintaan masing-masing, sungguh itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku sedikit pun, laksana sebuah jarum yang dicelupkan ke dalam samudera. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya amal perbuatan kalian Aku hitung untuk kalian, lalu Aku beri kalian balasannya. Maka siapapun kalian yang mendapati amal dirinya baik, hendaklah dia memuji Allah. Dan siapapun kalian yang mendapati amalnya tidak baik, maka jangan pernah mencela selain kepada dirinya sendiri.” (HR. Muslim, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan dari Nabi saw. bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, “Barangsiapa menyakiti seorang wali-Ku, Aku sungguh menyatakan perang terhadap dia [orang yang diperangi Allah tentu tidak akan menang, selamanya. Pernyataan tersebut merupakan peringatan paling puncak, sebab orang yang diperangi Allah pasti akan sengsara dan hancur binasa.]. Hamba-ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada sesuatu yang telah Aku wajibkan atas dirinya. Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Dan apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia menggenggam dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan (yakni, Aku jadikan kuasa cinta-Ku mendominasinya dan merampas seluruh perhatiannya terhadap segala sesuatu selain yang dengannya dia mendekatkan diri kepada-Ku. Lalu jadilah dia sebagai orang yang menyepi dari kenikmatan duniawi dan berpaling dari syahwat nafsunya. Kemudian aku serasikan dia dengan amal-amal yang berkaitan langsung dengan anggota tubuhnya itu[*]). Jika dia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Apabila dia berlindung kepada-Ku, Aku pasti melindunginya.” (HR. Al-Bukhari)

[*] Maksudnya: Allah memudahkan jalan untuk dirinya melakukan hal-hal yang dicintai-Nya. Dan Dia menjaganya dari semua perbuatan yang tidak disukai-Nya, seperti mendengar dengan penuh perhatian hal-hal yang melalaikan yang sempat terdengar di telinganya, atau melihat hal-hal yang dilarang syara’, atau menggunakan tangannya untuk sesuatu yang tidak halal, atau melangkah menuju kebatilan dengan kakinya.

Ibnu ‘Abbas r.a. meriwayatkan hadis qudsi dari Rasulullah saw., “Sesungguhnya Allah Ta’ala menuliskan kebaikan dan keburukan, kemudian Dia menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan satu kebajikan namun dia tidak melakukannya, maka Allah akan mencatatkan baginya satu kebaikan sempurna. Apabila dia berniat melakukan satu kebaikan lalu dia melakukannya, maka Allah akan mencatatkan untuknya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih banyak lagi. Apabila dia berniat melakukan satu keburukan dan dia tidak jadi melakukannya, maka Allah akan mencatatkan satu kebaikan sempurna. Jika dia berniat melakukan satu keburukan dan dia sungguh melakukannya, maka akan dicatatkan baginya satu keburukan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bisikan-Bisikan Gaib

Ketahuilah bahwa bisikan-bisikan (khawathir) yang datang ke dalam hati ada empat macam. Pertama, bisikan rabbani (dari Rabb). Kedua, bisikan malaki (dari malaikat). Ketiga, bisikan syaithani (dari setan). Keempat, bisikan nafsi (dari nafsu). Ciri bisikan rabbani adalah tidak bisa ditolak, ia meresap dengan kuat laksana terkaman harimau, karena ia datang dari Tuhan Yang Maha Memaksa. Ciri bisikan malaki adalah perasaan nikmat dan sejuk yang datang menyertainya. Pemiliknya tidak merasakan kepedihan dan perubahan di dalam dada, dan bisikan ini seperti penasihat. Ciri bisikan nafsu adalah diikuti perasaan pedih di hati dan rasa sesak di dada, serta ada ledakan hasrat untuk melampiaskannya, sebab nafsu itu seperti anak kecil yang memaksa jika punya suatu keinginan dan tidak bisa dipalingkan pada yang lain. Sedangkan ciri bisikan setan adalah perasaan pedih yang muncul sesudahnya, dan bila engkau mengalihkannya pada sesuatu yang lain, ia ikut pindah. Sebab setan hendak menyesatkanmu dari arah mana pun engkau berada. 

Bisikan setan dan bisikan nafsu harus ditolak sejak pertama kali muncul, agar ia tidak mondar mandir datang ke dalam hati. Sebab jika berlarut-larut ia akan menjadi kuat dan tak tertahankan. Jadilah engkau bagai pedang melintang di pintu hatimu. Karena bila tidak ada bisikan rabbani dan bisikan malaki yang melintas dalam hati, hati akan selalu diserbu bisikan setan dan nafsu. Tolaklah ia setiap kali ia datang, jangan menerimanya. Lalu jangan berpikir selain tentang bisikan kemalaikatan, agar bisikan kemalaikatan itu menjadi kuat. Adapun bisikan rabbani, secara mutlak tidak mungkin dihambat dan diragukan, tidak pula si hamba bisa menahannya, karena bisikan rabbani ini amat cepat.

Tingkatan al-qashd (maksud hati) ada lima:

Pertama, hajis (kilasan), yaitu yang datang memaksa hati namun langsung lenyap dalam sekilas.

Kedua, khathir (bisikan), yang datang dengan paksa dan lenyap setelah sempat menetap sejenak dalam hati. 

Kedua jenis maksud hati tersebut tidak berakibat siksa—bila berkaitan dalam perbuatan maksiat dan kekufuran—dan tidak pula menghasilkan pahala bila berkaitan dengan ketaatan. Karena kedua-dua tidak termasuk dalam kategori kehendak pilihan (ikhtiyar).

Ketiga, hadits al-nafs (perang batin), yaitu keragu-raguan untuk melakukannya atau tidak. Jenis yang ketiga ini berakibat siksa apabila berkenaan dengan kekufuran. Oleh karena itu orang yang meragu, seketika itu pula dia kufur. Karena syarat iman adalah berketatapan hati sejak awal dan seterusnya. Namun bila keragu-raguan itu berkenan dengan perbuatan maka dosa, tidak akan berakibat siksa, sebagaimana ia tidak berpahala bila berkenaan dengan ketaatan. 

Keempat, al-hamm (cita-cita), yaitu kecenderungan untuk berbuat. Maksud hati yang jenis ini berakibat siksa bila terjadi dalam kekufuran, namun tidak bila sekadar dalam kemaksiatan, ini sebagai anugerah dari Allah Ta’ala. Sedang bila terjadi dalam ketaatan, maksud hati jenis ini bisa menghasilkan pahala. 

Kelima, al-‘azm wa at-tashmim ‘aqd an-niyyah (keinginan kuat, keteguhan hati dan ketetapan niat) terhadap sesuatu. Maksud hati jenis kelima ini berakibat siksa bila dalam keburukan dan menghasilkan pahala bila dalam kebaikan. 

Catatan

Catatan ini tentang perbedaan antara Hadis Qudsi, Alqur’an dan Hadis Nabawi. Alqur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah saw. dengan lafazh dan makna, membacanya adalah ibadah. Hadis Qudsi adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah saw. yang umumnya tanpa perantaraan malaikat, melainkan lewat ilham atau mimpi. Ada kalanya wahyu ini diberikan dengan lafadz beserta maknanya, dan ada kalanya hanya makna, lalu Rasulullah saw. mengungkapkan dengan lafadznya sendiri dan menyandarkannya kepada Allah Ta’ala. Wahyu Allah jenis ini tidak menjadi berpahala bila membacanya. Sedangkan Hadis Nabawi adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi saw. hanya maknanya saja, sementara redaksinya dari beliau dan tidak disandarkan kepada Allah Ta’ala. Yang paling mulia dari semuanya adalah Alqur’an, kemudian Hadis Qudsi.

Sampai di sini, purnalah kitab yang kami tulis ini, dengan pertolongan Allah, Maharaja Yang Maha Memberi. Alhamdulillah hamdan yuwafi ni’amahu yukafi mazidah.

(Penyusunan kitab ini selesai pada bulan Ramadhan tahun 1322 H.) ***

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Mursyid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri

Indeks

Tanwirul Qulub

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Mursyid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri