01. Pengantar

Bismillâhirrahmânirrahim

Segala puji bagi Allah Yang Menyendiri dengan keagungan malakut-Nya dan Manunggal dengan keindahan jabarut-Nya. Yang memiliki sifat-sifat istimewa yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Yang memiliki tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Dia tidak serupa dengan makhluk-Nya. Dialah Dzat Yang Mahasuci dari sesembahan yang membingungkan akal hingga akal tidak mampu memahami hakikat Dzat-Nya yang abadi, Mahasuci Dia dari sesembahan yang membingungkan hati hingga hati tidak bisa memahami keagungan sifat-sifat-Nya yang sempurna nan lestari. Dialah Yang dikenal dengan sifat rububiyyah dan disifati dengan sifat uluhiyyah. Barangsiapa telah merasakan manis keakraban dengan-Nya, niscaya dia akan melihat berbagai keajaiban dari kelembutanNya, akan memperoleh segala yang dia dambakan. Sedangkan orang yang mengharap selain Dia, niscaya akan dijauhi dan dicelakakan-Nya.

Aku memuji-Nya dengan pujian seorang hamba yang tenggelam dalam lautan nikmat-Nya. Aku bersyukur kepada-Nya dengan syukur seorang hamba yang ikhlash dalam ketaatan kepada-Nya serta larut dalam kecintaan kepada-Nya.

Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah semata, Dia Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia Yang Mahasuci dari kesertaan dan keserupaan, dengan kesaksian yang karenanya aku bisa selamat dari berbagai petaka dan terus mendaki hingga mencapai derajat-derajat yang tinggi. Dan aku bersaksi bahwa Sayyidina Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya yang telah diutus Allah untuk membawa risalah yang terang nan jelas, agama yang lurus yang datang menyempurnakaan semua agama yang telah diturunkan sebelumnya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada Sayyidina Muhammad Sang Pemimpin para nabi, Sayyidina Muhammad yang menjadi mahkota orang-orang suci, Sayyidina Muhammad yang telah diutus membawa ayat-ayat yang terang dan mukjizat-mukjizat yang agung, Sayyidina Muhammad yang merupakan manusia sejati dan sebab segala maujud. Ya Allah, sampaikanlah balasan dan terima kasih kami kepada beliau, balasan yang lebih dari para nabi dari umat-umat terdahulu. Ya Allah, berilah kami manfaat dari cinta kami kepada beliau saw. yang tersimpan di dalam hati kami, juga cinta kami kepada keluarga dan para sahabat beliau, serta cinta kami kepada putra-putrinya, istri-istrinya dan orang-orang yang dicintainya. Ya Allah, limpahkanlah padanya shalawat dan salam yang kekal, shalawat dan salam yang senantiasa mengalir dan tidak terputus dengan berlalunya waktu dan hari-hari.

Amma ba’d. Seorang hamba yang fakir dan senantiasa mengharap ampunan Rabbul-‘alamin, Muhammad Amin al-Kurdi yang dinisbatkan kepada Thariqah an-Naqsyabandiyyah—mudah-mudahan Allah Ta’alâ menguatkan kedudukannya yang tinggi—berkata, “Salah satu hal yang tidak samar lagi bagi orang yang berakal cerdas adalah bahwa hamba yang paling tinggi kedudukannya, hamba yang paling agung dan paling utama adalah hamba Allah yang paling bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya yang lain, hamba yang paling banyak mengajak ke jalan Allah. Dan di antara mereka yang paling besar manfaatnya serta paling baik karyanya adalah orang-orang yang mengajak dan membimbing hamba kepada Allah, yang memberikan petunjuk untuk menempuh jalan-Nya serta mengerjakan amal-amal yang diridhai-Nya. Betapa tidak, hal itu merupakan kebiasaan Nabi Muhammad saw., manusia paling mulia, sang pemimpin para nabi. Sungguh, untuk hal itu Allah Ta’ãlâ telah mengutus dan menugasi para nabi dan rasul, menyemangati dan mendorong mereka. Pada tugas itu pula para ulama al-‘ãmilin dan wali-wali yang salih pewaris para nabi itu mengikuti dan meneladani mereka. Namun sudah maklum bahwa kebanyakan ulama yang benar-benar mumpuni seperti mereka telah tiada. Dan di zaman sekarang ini tiada Iagi yang tersisa dari mereka selain jejaknya saja, seperti diungkapkan dalam sebuah syair:

Kemah itu sungguh seperti kemah mereka
Tetapi kulihat kaum Perempuan di kemah itu bukan Perempuan dari kemah mereka

Maka Anda hanya akan mendapati sedikit sekali orang yang mau mengingatkan tentang Allah, atau mencegah orang-orang dari perbuatan yang dilarang syariat, karena amat lemahnya semangat untuk menempuh jalan petunjuk serta menahan hati untuk tidak melintasi jalan kesesatan. Karena itu, Anda pun akan menyaksikan, betapa kebanyakan orang lebih memperhatikan kekurangan duniawi mereka daripada kekurangan dalam hal keberagamaan dan akhirat mereka. Anda lihat bagaimana mereka senang memperturutkan hawa nafsu dan hampir tidak memiliki kesadaran untuk melakukan amal-amal ketaatan. Buktinya mereka larut mengerjakan berbagai perbuatan haram. rasa takut kepada Allah sudah dilipat, penghargaan terhadap syariat telah hilang dari hati mereka. Bencana pun timbul merata dan kesengsaraan telah demikian dominan, sehingga kebanyakan orang bahkan hampir tidak tahu apa itu kebenaran, tidak tahu apa itu iman, tidak kenal akhirat dan tidak paham bahwa kita sedang bergerak menuju Maharaja Yang akan meminta pertanggungjawaban. Bahkan orang yang mengenal hal-hal itu pun malah mengenyampingkannya, lalu sibuk mengurusi harta benda yang pasti akan segera lenyap, sibuk mencapai berbagai kesenangan dan mengumpulkan harta. Kalau pun dia berdakwah dan beramal, itu semata-mata untuk tujuan-tujuan duniawi, untuk kepentingan pribadi dan kesenangan-kesenangan nafsu yang tidak abadi. Sementara Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui apa yang tersimpan dalam hati mereka. Dia senantiasa bersama mereka di mana pun mereka berada, senantiasa mendengar dan memperhatikan mereka. Tıdakkah mereka sadar bahwa kelak mereka akan dibangkitkan untuk menerima murka yang amat dahsyat, yang terornya bisa membuat bayi langsung beruban, karena pada saat itu mereka akan dimintai pertanggung jawaban atas semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan. Allah Ta’âlâ berfirman, “Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali, ” (QS al-Syu’arâ [26]: 227)

Sudah demikian lama kita mengalami hari-hari penuh bencana ini, dan sebagian di antaranya telah melemahkan kekuatan Islam. Karena itu aku—yang telah diberi ijazah yang sah dan jelas untuk memberikan bimbingan oleh pembesar dan pemuka utama di dalam tarekat agung al-Naqsyabandiyyah, semoga Allah menyucikan mereka dan menerangi kuburnya—mulai melakukan pembimbingan. Aku melakukannya sebagai bentuk pengamalan dan pemenuhan akan ijazah yang aku terima, dengan tetap mengikuti jejak-jejak para guru agung dari pendahulu-pendahuluku, sehingga aku mendapat pertolongan kekuatan dari Allah untuk mengembangkan tarekat ini di wilayah Mesir.

Ketika mulai membimbing para murid di jalan agung ini, aku menulis satu kitab bagi mereka yang berniat mengikutinya. Kitab itu aku beri nama al-‘Uhud al-Watsiqah fi al-Tamassuki bi al-Syari’ati wa al-Haqiqati, berisi uraian tentang hal-hal yang wajib diketahui oleh setiap murid. Di antaranya adalah masalah ushuluddin (pokok-pokok aqidah) berikut cabang-cabangnya yang harus diketahui oleh setiap orang yang sudah akil baligh agar dia terhindar dari kekeliruan dalam keimanannya. uraian dalam buku tersebut kami lengkapi pula dengan sejumlah hikmah dari jejak para pemuka kaum sufi yang agung, agar menjadi teladan dan pijakan bagi para peminat thariqah ini, serta menjadi peringatan bagi mereka yang sering melanggar perintah Allah.

Segala puji bagi Allah, buku tersebut hadir dengan kadar yang cukup untuk memenuhi tujuan ini, dengan susunan yang menarik dan makna yang mendalam. Kitab ini baik untuk disebarluaskan. Selain susunannya sistematis, juga mudah diperoleh oleh orang yang berminat terhadapnya. Kitab ini cukup laris hingga orang yang berminat membelinya harus menunggu cetak ulang. Kitab ini dicetak ulang karena kami mengharap pahala yang banyak dari Allah dan manfaat materi yang diperoleh darinya. Setelah pembahasannya diperluas, isi dan susunannya menjadi lebih lengkap.

Kemudian aku menambahkan uraian dalam kitab ini dengan menjelaskan berbagai masalah furu’, seperti bab nikah, thalaq, farâ’idh (ilmu waris), bab jual beli dan tambahan yang lain. Juga uraian masalah-masalah yang penting dengan sederhana, tidak terlalu ringkas dan tidak terlalu panjang, agar enak dipelajari dan dapat memenuhi harapan pembaca. Pada bentuknya yang baru, aku menamai kitab ini Tanwir al-Qulub fi Mu’amalati ‘Allam al-Ghuyub. Aku susun kitab ini terdiri dari satu pendahuluan dan tiga bagian isi. Pendahuluan berisi tentang dakwah kepada Allah dan Rasulnya. Bagian pertama berisi uraian tentang masalah-masalah pokok agama (ushul). Bagian kedua berisi uraian tentang masalah-masalah  furu’ berdasarkan mazhab Imam Syâfi’i. Bagian ketiga berisi uraian tentang tasawuf. Sekarang kami akan langsung menguraikan satu demi satu bagian yang sudah kami susun. Aku memohon pertolongan kepada Allah. Cukuplah Allah bagiku, Dia sungguh wali terbaik. Hanya Allah yang memberiku petunjuk, kepada-Nya aku berserah diri dan kepada-Nya aku kembali.[]

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri

Indeks

Tanwirul Qulub

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri