45. Bab XIII – Bersaudara dalam Ikatan Allah Ta’ala

Wahai saudaraku, semoga Allah memberi kami dan kalian taufik untuk menjalankan berbagai kebaikan dan melenyapkan segala kelalaian dari dalam hati kita. Saling mencintai dalam ikatan Allah dan persaudaraan dalam agama-Nya merupakan salah satu kekerabatan yang paling utama. Oleh karena itu, setiap muslim yang benar-benar bertauhid harus saling menyatukan hati dalam cinta dan menyamakan kata untuk meninggikan kalimat Allah. Juga harus menghimpun diri dalam kelompok (berjamaah) untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. 

Ada beberapa ayat Alqur’an dan juga banyak hadis Nabi saw. yang memerintahkan kaum muslimin agar saling mencintai dan bersaudara dalam ikatan agama Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bemusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” [QS. ali-Imran 3:103]. Di dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu ‘min, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. al-Anfal 8:62-63].

Rasulullah saw. bersabda, “Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana telah diperintahkan pada kalian.” [Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dan yang lainnya.]

Rasulullah saw. bersabda, “Yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla di antara kalian adalah orang-orang yang menyatukan hati dan orang-orang yang hatinya mau disatukan. Sedang orang yang paling dimurkai Allah ‘Azza wa Jalla di antara kalian adalah orang-orang yang berupaya mengadu domba dan memecah belah antara saudara.” [Diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam al-Awsath dan aslı-Shaghir.]

Rasulullah saw. bersabda, “Perbanyaklah saudara, karena di akhirat nanti setiap orang mukmin akan memiliki syafa’at.” (HR. Ibn an-Nazzar) 

Di dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, engkau akan mendapatkan apa yang kau niatkan. Kamu juga akan bertanggung jawab atas apa yang telah kamu usahakan. Dan engkau akan bersama-sama dengan orang yang kau cintai.”

Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin itu mencintai dan dicintai. Karena itu tiada kebaikan pada orang yang tidak dicintai dan tidak mencintai.” [Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dan al-Hakim. Diriwayatkan pula oleh perawi lainnya.]

Abdullah ibn ‘Umar mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, lalu dia berkata, ‘Aku mencintaimu karena Allah,’ maka keduanya akan masuk surga. Dan di antara kedua orang itu yang cintanya lebih besar itulah yang derajatnya lebih tinggi, dan dia lebih berhak untuk lebih dicintai Allah.” [Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan isnad hasan.]

Rasulullah saw. bersabda, “Ada tiga hal yang bila ada pada diri seseorang, maka dia akan merasakan manis iman. Yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada yang lain; mencintai seseorang hanya karena Allah Ta’ala; dia tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak mau dilemparkan ke dalam neraka.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Shahih-nya.

Rasulullah saw. bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku telah memastikan cinta-Ku bagi orang-orang yang saling mencintai, saling berkawan, saling mengunjungi dan saling berkorban dalam ikatan-Ku.” 

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan malaikat yang setengahnya dari api dan setengahnya lagi dari salju. Dan malaikat itu berdoa, ‘Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menyatukan antara salju dan api (dalam penciptaan-Ku), satukanlah hati hamba-hamba-Mu yang salih dalam ketaatan kepada-Mu.” [Diriwayatkan oleh ad-Dailami di dalam Musnad-nya, oleh Abu asy-Syaikh dan Ibn Hibban di dalam Kitab al-‘Udhmah.]

Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seseorang menjalin satu ikatan persaudaraan dalam Allah melainkan Allah akan menjadikan baginya satu tingkatan di surga.” (HR. Ibn Abi ad-Dunya dan ad-Dailami)

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kelak seseorang yang berada di surga akan berkata, ‘Apa yang diperbuat si fulan, sahabatku,’ sementara sahabatnya itu berada di neraka Jahim. Lalu Allah Ta’ala berfirman, ‘Keluarkanlah si fulan untuk menjadi temannya di surga.’ si fulan berkata, ‘Siapa yang masih tersisa? Padahal kami tidak lagi mempunyai siapa pun yang akan memberi syafa’at, tiada pula teman karib.” (HR. ad-Dailami)

Al-Imam ‘Ali k.w. menuturkan, “Kalian harus bersaudara, karena saudara merupakan bekal hidup di dunia dan akhirat.” Abu as-Su’ud berkata, “Barangsiapa ingin diberi derajat teratas, maka bersahabatlah dalam ikatan Allah.” 

Anas ibn Malik r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai hamba-hamba yang pada Hari Kiamat nanti akan diberi mimbar. Di atas mimbar-mimbar itu mereka duduk. Mereka adalah orang-orang yang pakaiannya adalah cahaya dan wajahnya pun bercahaya. Mereka bukan dari kalangan para nabi, bukan pula dari kalangan orang-orang yang mati syahid. Bahkan mereka membuat iri para nabi dan syuhada.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka, ya Rasulullah?’ Rasululluah saw. menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai, saling mengunjungi dan duduk bersama dalam ikatan Allah.”‘ [Diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam al-Ausath.] 

Abu Hurairah r.a. mengatakan Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luar. Kamar-kamar tersebut disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang saling mencintai, saling mengunjungi dan saling berkorban dalam ikatan-Nya.” (HR. ath-Thabrani)

Rasulullah saw. bersabda, “Orang-orang yang saling mencintai dalam ikatan Allah berada di atas tiang-tiang penyangga yang terbuat dari yaqut merah, dan di puncak tiang-tiang penyangga itu ada tujuh puluh ribu kamar. Mereka dimuliakan dari penghuni surga lainnya. Ketampanan mereka menyinari penghuni surga seperti matahari menyinari bumi. Para penghuni surga berkata, ‘Mari kita pergi melihat orang-orang yang saling mencinta dalam ikatan Allah.’ Ketampanan mereka menyinari penghuni surga seperti matahari yang bersinar terang. Mereka mengenakan pakaian dari tenunan sutera hijau, dan pada jubah mereka tertulis: “Orang-orang yang saling mencinta dalam ikatan Allah.” [Hadis ini diriwayatkan oleh al-Hakim dan at-Tirmidzi di dalam an-Nawadir.]

Ath-Thabrani mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang-orang yang saling mencinta dalam ikatan Allah berada di kursi-kursi yang terbuat dari yaqut di sekeliling ‘Arsy.”

Al-Hakim meriwayatkan hadis marfu’ bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiadalah dua orang yang saling mencintai dalam ikatan Allah lebih mulia salah satunya dari yang lain selain karena kadar cintanya yang lebih besar.”

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Mu’adz ibn Jabal secara marfu’ bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah dua orang saling mencinta dalam ikatan Allah Ta’ala melainkan Dia akan akan menyediakan kursi bagi keduanya, lalu Dia mendudukkan mereka di kursi itu hingga Allah selesai melakukan hisab.”

Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Cinta-Ku sungguh diperuntukkan bagi orang-orang yang saling mencinta karena Aku, juga bagi orang-orang yang saling menyambung tali silaturahim dan orang-orang yang saling berkorban dalam ikatan-Ku. Orang-orang yang saling mencintai itu berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya hingga membuat iri para nabi, shiddiqun dan para syuhada’.” [Dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad dan al-Hakim, dan mereka men-shahihkan-nya. Diriwayatkan pula oleh selain mereka dengan derajat marfu’.]. Di dalam riwayat lain ada tambahan, “…dan cinta-Ku sudah tentu bagi orang-orang yang duduk bersama dalam ikatan-Ku, cintaku sudah tentu bagi orang-orang yang saling bersua dalam ikatan-Ku.”

Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kalian tahu mana iman murni yang paling kokoh?” Ada sahabat yang menjawab, “Shalat.” Lalu Rasulullah bersabda, “Shalat adalah kebaikan. Bukan itu.” Lalu ada yang menjawab lagi, “Puasa.” Rasulullah bersabda lagi seperti tadi, sampai ada yang mengungkapkan jawaban, “Jihad,” dan Rasulullah pun masih memberikan jawaban yang sama. Akhirnya beliau bersabda, “Iman murni yang paling kokoh adalah mencinta dan marah karena Allah Ta’ala.” Di dalam riwayat lain beliau bersabda, “Iman murni yang paling kokoh adalah melayani karena Allah, mengasihi dan mencintai karena Allah dan marah karena Allah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, ath-Thayalisi dan ath-Thabrani) 

Orang yang bersaudara hendaknya memelihara berbagai etika persaudaraan. Di sini kami akan menuturkan beberapa hal tentangnya. Rasulullah saw. bersabda, “Seseorang tidak dikatakan beriman sempurna hingga dia menyukai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana sesuatu itu dia sukai untuk dirinya sendiri.” [HR. al-Bukhari dan Muslim.]. Yang dimaksud sesuatu di sini adalah hal-hal yang berupa amal-amal ketaatan dan hal-hal duniawi yang diperbolehkan, entah yang tampak berupa harta benda, maupun hal-hal yang bersifat maknawi seperti ilmu. Dengan demikian, dia dan saudaranya itu menjadi seperti satu tubuh, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw., “Kaum mukmin laksana satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, seluruh anggota tubuhnya akan merasa demam dan tidak bisa tidur.” [HR. Muslim dan al-Imam Ahmad.]

Ada seorang ‘arif yang berkata tentang etika persaudaraan, “Bila seorang sahabat meninggal, maka sahabat yang ditinggalkannya itu berarti kehilangan satu anggota tubuh. Seluruh malapetaka selain berpisah dengan saudara adalah ringan, seperti diungkapkan dalam sebuah syairnya, ‘Kudapati semua petaka zaman seringan kayu bakar kecuali berpisah dengan saudara.”’

Seorang ‘arif yang lain berkata, “Aku mengerti perasaan orang-orang yang sejak tiga puluh tahun lalu berpisah denganku. Aku tak dapat membayangkan kesedihan mereka.” 

Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian saling hasud, saling menyalakan permusuhan, saling memurkai, saling membelakangi, dan menjual dagangan dengan merusak dagangan orang lain. Dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Janganlah kalian saling hasud, saling menyalakan permusuhan, yakni dengan menaikkan harga dagangan dari harga umum karena menginginkan harga itu baik bagi dagangannya. Seandainya hal tersebut ditujukan untuk mempermainkan harga, maka berdasarkan kesepakatan ulama, hal tersebut termasuk perbuatan terlarang.

Jangan saling memurkai, yakni jangan saling memarahi dengan mencari-cari sebab yang dapat menimbulkan kebencian, seperti mencela, menolak pemberian, atau tidak mengucapkan salam.

Jangan saling membelakangi. Yang dimaksud membelakangi adalah keberpalingan yang dapat menyebabkan keterputusan hubungan dan menimbulkan permusuhan. Antara lain berpaling dari kewajiban dirinya sebagai saudara sesama muslim, seperti enggan memberi pertolongan dan bantuan, serta enggan berbicara lebih dari tiga hari, kecuali karena alasan yang dibenarkan syara’.

Jangan menjual dagangan dengan merusak dagangan orang lain. Misalnya dengan berkata kepada pembeli yang sedang bertransaksi dengan pedagang lain, “Batalkanlah pembelian ini, aku akan menjual barang yang sama dengan harga yang lebih murah, atau barang yang lebih baik dengan harga yang sama atau lebih murah.”

Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Usahakanlah sesuatu yang bisa membuat kalian saling bersaudara, antara lain melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mengikat hubungan dan menjauhi hal-hal yang merusaknya, seperti bermuka manis, bersalaman, menengok orang sakit, dan lain-lain. 

Rasulullah saw. bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Karena itu dia tidak menganiayanya, tidak menelantarkannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinakannya. Takwa tempatnya di sini (Rasulullah menunjuk dadanya tiga kali). Seseorang dianggap berbuat jahat bila dia menghinakan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya atas sesama muslim, demikian pula harta dan harga dirinya.” (HR. Muslim).

Seorang muslim tidak boleh menganiaya muslim lainnya, yakni tidak menimpakan bahaya kepadanya, entah dalam jiwanya, agamanya, kehormatannya ataupun hartanya. Tidak pula dia menelantarkannya dengan tidak menolongnya dalam kebenaranan. Karena salah satu hak islam adalah saling menolong dan saling membantu di dalam kebenaran. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” [QS. al-Ma’idah 5:2]. Rasulullah saw. juga bersabda, “Bantulah saudaramu sesama muslim, yang zalim maupun yang teraniaya.” Menolong muslim yang zalim adalah dengan menghindarkannya dari perbuatan zalim. Sedangkan menolong muslim yang teraniaya adalah dengan menyingkirkan si zalim dari dirinya.

Seseorang dianggap berbuat jahat bila dia menghinakan saudaranya sesama muslim. Ini merupakan peringatan keras. Sungguh, Allah Ta’ala telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum menghinakan kaum lainnya…” Yakni, jangan sampai engkau menghinakan orang lain, karena bisa jadi orang yang kau hinakan itu dalam pandangan Allah Ta’ala lebih mulia daripada dirimu. Atau barangkali kemudian dia menjadi mulia dan terhormat sementara engkau menjadi hina, lalu dia menuntut balas padamu.

Di dalam hadisnya yang lain Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa melegakan nafas orang mukmin dari kesempitan dunia, maka Allah akan melegakan nafasnya dari kesulitan Hari Kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang sedang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan membuat gampang jalan ke surga untuknya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid guna membaca Kitabullah dan saling memberikan pelajaran di antara mereka, melainkan mereka akan dituruni ketenteraman, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di sisi-Nya.” (HR. Muslim) []

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Mursyid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri

Indeks

Tanwirul Qulub

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Mursyid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri