40. Bab X – Tawakal, Tafwidh* dan Ikhlas

[*]Tafwidh (pemasrahan pengaturan) biasa dilawankan dengan tabdir (pengaturan). Maksudnya adalah memasrahkan pengaturan diri kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati.” [QS. al-Furqan 25:58]. “Dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” [QS. at-Taubah 9:51] “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” [QS. al-Ma’idah 5:23] “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” [QS. ath-Thalaq 65:3]. “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” [QS. al-Mu’min 40:44] 

‘Umar r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, pasti Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada para burung. Burung-burung itu berangkat pagi dalam keadaan perut yang kempis dan pulang di waktu sore dalam keadaan perut kenyang.”  (HR. al-Imam Ahmad, an-Nasa’i, at-Tirmidzi dan al-Hakim)

Al-Imam ath-Thabrani, Abu Ya’la, al-Hakim dan yang lainnya meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa ingin menjadi orang yang paling kuat, maka hendaklah dia bertawakal kepada Allah.”

Di dalam riwayat lain ath-Thabrani dan al-Baihaqi juga meriwayatkan bahwa apabila keluarga Rasulullah saw. sedang mengalami kesempitan, beliau menyuruh mereka mendirikan shalat, kemudian beliau membacakan ayat, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” [QS. Thaha 20:132]

Al-Imam Ahmad di dalam kitab az-Zuhd, dan Ibn Abi Hatim meriwayatkan di dalam kitab asy-Syu’ab, bahwa Tsabit berkata, “Apabila keluarga Nabi saw. sedang mengalami kemiskinan, beliau menyeru mereka untuk mendirikan shalat: Shalat! Shalat!” Tsabit juga berkata, “Para nabi meminta pertolongan dengan shalat bila menghadapi suatu masalah.” 

Al-Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah saw. membicarakan orang-orang yang masuk surga tanpa hisab, lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah saw., siapakah mereka itu?” dan beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang tidak memakai guna-guna atau mantera, tidak mencarinya, tidak meramal dengan burung, tidak berobat dengan besi panas, dan mereka bertawakal kepada Allah.” Yakni mereka yang beriman sempurna, yang tidak memiliki satu pun perilaku jahiliyah, seperti memakai mantera, meramal dengan burung atau lainnya, dan berlebihan dalam meyakini cara berobat dengan besi yang dipanaskan. Intinya, berlindung kepada sesuatu yang memiliki unsur kemusyrikan. Adapun orang yang memakai mantera atau mencarinya dalam Alqur’an dan hadis Nabi saw., atau berobat dengan besi yang dipanaskan dengan keyakinan bahwa hal itu hanya merupakan sebab wasilah dan hakikat kesembuhannya dari Allah Ta’ala, maka insya Allah tidak akan membahayakan.

Tawakal merupakan hal yang mesti adanya bagi kesempurnaan iman, karena tawakal berarti berserah diri kepada Sang Pencipta tanpa memandang makhluk. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, Allah akan memberinya kecukupan. Dan barangsiapa mencurahkan semua perhatiannya kepada Allah, niscaya Allah akan melindunginya. Allah Ta’ala berfirman, “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” [QS. az-Zumar 39:36]

Allah Ta’ala menyampaikan wahyu kepada Nabi Dawud a.s., “Wahai Dawud, barangsiapa berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Barangsiapa meminta pertolongan kepada-Ku, Aku akan menolongnya. Barangsiapa meminta bantuan kepada-Ku, Aku akan membantunya. Dan barangsiapa bertawakal kepada-Ku, Aku akan memberinya kecukupan.”

Seorang ulama menulis hikmah tawakal dalam bait-bait syairnya, 

Bertawakallah kepada Sang Pengasih dalam semua urusan

Sungguh hamba tidak akan merugi bila benar-benar bertawakal kepada-Nya

Jadilah sebagai orang yang benar-benar percaya kepada Allah

dan ridhalah pada semua keputusan-Nya

Pasti engkau akan memperoleh karunia yang engkau harap dari-Nya

Tawakal menjatuhkan badan dalam penghambaan diri kepada Allah (‘ubudiyyah), menempatkan hati pada pengasuhan Tuhan (rububiyyah) dan merasa tenteram dengan jaminan kecukupan dari Allah (kifayah). Bila diberi, dia bersyukur. Dan bila tertahan dari pemberian, dia bersabar.  Dzunnun berkata, “Tawakal ialah meninggalkan pengaturan diri dan melepaskan upaya dan kekuatan dengan cara memandang bahwa seseorang tidak memiliki upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Ta’ala.”

Obat yang dapat menghasilkan tawakal adalah terus menerus mengingat lima hal, yaitu:

  1. Senantiasa meyakini bahwa Allah Ta’ala mengetahui kondisi dirinya (sedang lapar atau kenyang dan sebagainya), walaupun dia berada di bawah lapisan bumi ketujuh atau di ujung dunia.
  2. Meyakini benar bahwa Kuasa Allah sungguh sempurna.
  3. Senantiasa meyakini bahwa Allah Mahasuci dari lalai dan lupa.
  4. Senantiasa meyakini bahwa Allah Mahasuci dari pengkhianatan janji. 
  5. Meyakini bahwa lemari harta Allah tidak akan pernah berkurang isinya, dan Dia sungguh Maha Pemurah dan Maha Penderma, tidak pernah melupakan hamba-Nya.

‘Umar ibn Sanan berkata, “Suatu hari, kami betemu Ibrahim al-Khawash, dan kami berkata kepadanya, ‘Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkan yang engkau jumpai di dalam perjalananmu.’ Lalu Ibrahim al-Khawash berkata, ‘Suatu hari, Khidir a.s. menjumpaiku, dia meminta aku menemaninya. Namun kemudian aku merasa khawatir hal itu akan merusak tawakalku, karena rasa tentramku padanya. Maka aku pun memisahkan diri darinya.”’

Seorang ‘arif berkata, “Suatu hari di dalam pengembaraan, aku berjalan mendahului kafilah. Lalu kulihat di depanku ada seseorang, maka aku pun segera menyusulnya. Ternyata orang yang kulihat iłu seorang perempuan, dia berjalan perlahan tersaruk-saruk dengan sebatang tongkat di tangan. Aku mengira ia kelelahan, lalu aku memasukkan tanganku ke dalam saku dan mengeluarkan dua puluh dirham.Aku berkata kepadanya, ‘Ambillah dan tunggu dulu di sini sampai kafilah menyusulmu. Dengan uang ini, sewalah kendaraan, lalu datang kepadaku malam nanti agar aku dapat memperbaiki keadaanmu.’ perempuan itu memberi isyarat dengan tangannya ke udara. Tiba-tiba di telapak tangannya tergenggam setumpuk dinar. Kemudian dia berkata, ‘Engkau mengambil beberapa dirham dari saku, sedang aku mengambil beberapa dinar dari alam gaib.”‘

Abu Sulaiman ad-Darani meriwayatkan bahwa di Makkah dia pernah melihat seseorang yang tidak memakan apapun selain seteguk air zamzam selama beberapa hari. Suatu hari, Abu Sulaiman bertanya kepadanya, “Bagaimana menurutmu jika air zamzam kering. Apa yang akan engkau minum?” Dia berdiri dan mencium kepala Abu Sulaiman seraya menjawab, “Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberimu balasan kebaikan, sebab engkau telah memberiku bimbingan. Ternyata sejak berhari-hari aku menghamba pada zamzam.” Setelah itu dia pun pergi.

Ibrahim al-Khawash bercerita bahwa di perjalanan menuju kota Syam dia melihat seorang pemuda yang baik budi. Si pemuda bertanya kepada Ibrahim, “Persahabatan apa yang engkau perlukan dariku?” Ibrahim menjawab, “Aku lapar.” Si pemuda berkata, “Bila engkau lapar, aku akan lapar bersamamu.” Empat hari berlalu, kemudian mereka mendapat sesuatu. Ibrahim berkata kepadanya, “Kemarilah!” Si pemuda menjawab, “Aku akan menahan lapar. Aku tidak akan mengambil perantara.” Ibrahim berkata lagi kepadanya, “Wahai anak muda, perutmu telah tipis.” Si pemuda menjawab, “Wahai Ibrahim, jangan bersikap sombong, karena sesungguhnya yang berhak menilai adalah Maharaja Yang Maha Melihat. Tawakallah!” Si pemuda melanjutkan, “Tingkat tawakal yang paling rendah adalah: engkau mengembalikan segala sumber kefakiran kepada dirimu. Janganlah engkau meninggikan dirimu kecuali kepada Dzat Yang pada-Nya terdapat kecukupan.”

Abu ‘Ali ar-Rudzabari menuturkan, “Bila baru lima hari tidak makan dan minum sang fakir berkata aku lapar, suruh agar pergi ke pasar, dan suruh juga dia agar bekerja dan berusaha.”

Abu Turab an-Nakhsyabi pernah melihat seorang sufi yang sedang menjulurkan tangannya ke karung gandum untuk makan, padahal dia baru tiga hari tidak makan. Maka Abu Turab pun berkata kepadanya, “Tasawuf tidak pantas untukmu, pergilah ke pasar!”

Khudzaifah al-Mar’asyi pernah berkhidmat kepada Ibrahim ibn Adham dan menemaninya. Dia pernah ditanya, “Apa yang membuat engkau kagum kepada Ibrahim ibn Adham?” lalu dia bercerita, “Selama beberapa hari kami berada di jalanan kota Makkah. Kami sama sekali tidak mendapatkan makanan. Kemudian kami memasuki kota Kufah, lalu beristirahat di masjid yang agak rusak. Ibrahim ibn Adham memandangku dan berkata, ‘Wahai Khudzaifah, kulihat engkau lapar.’ Aku menjawab, ‘Sebagaimana yang syaikh lihat.’ Dia berkala lagi, ‘Coba ambilkan tinta dan kertas.’ Aku pun segera mengambilkannya. Lalu dia menulis:

Bismillahirrahmanirrahim

Engkaulah yang dituju dalam segala kondisi

dan Engkau pula yang diisyaratkan dengan semua makna

Aku orang yang memuji, bersyukur dan berzikir

Aku orang yang lapar, tersia-sia dan telanjang

Itu semua berjumlah enam, dan aku menjamin setengahnya

Maka jadilah engkau sebagai penjamin yang setengah lagi, wahai Sang Pencipta

Sanjunganku pada selain engkau terbakar nyala api,

Maka jauhkan hamba kecil-Mu dari api neraka 

Bagiku, neraka seperti pertanyaan

Maka apakah engkau ingin untuk tidak membebaniku masuk neraka?

Kemudian Ibrahim ibn Adham memberikan tulisannya kepadaku. Dia berkata, ‘Pergilah, dan jangan kau ikatkan hatimu kepada selain Allah. Lalu berikanlah tulisan ini pada orang yang pertama engkau jumpai.’ Lalu aku pergi. Orang yang pertama aku jumpai adalah seorang pengendara keledai betina. Aku pun memberikan tulisan itu kepadanya. setelah mengambil dan membacanya, dia bertanya sambil menangis, Apa yang dilakukan oleh si pemilik tulisan ini?’ Aku menjawab, ‘Dia berada di masjid si fulan.’ Kemudian dia memberiku sekantung berisi enam ratus dinar. Kemudian aku bertemu dengan seorang lelaki lainnya, dan aku bertanya kepadanya, ‘Siapakah penunggang keledai betina itu?’ lelaki itu menjawab, ‘Seorang Nasrani.’ Kemudian aku kembali menemui ibrahim ibn Adham dan menceritakan kisahnya. Ibrahim ibn Adham berkata, ‘Engkau jangan menyentuh uang itu, sebab satu jam kemudian pemiliknya akan datang.’ Setelah satu jam berlalu, si Nasrani pemilik keledai betina itu datang dengan tiba-tiba. Dia menundukkan kepala di depan Ibrahim ibn Adham, lalu masuk Islam.”

Ciri orang yang tawakal adalah tidak meminta, tidak menolak pemberian, dan tidak kikir. Kondisi ruhani paling sempurna orang yang bertawakal adalah berada di hadapan Allah seperti mayit di tangan orang yang memandikannya, tidak memiliki gerak dan pengaturan sendiri, melainkan tergantung Sang Pengatur. Abu ad-Darda’ berkata, “Puncak keimanan adalah ikhlas, tawakal dan berserah diri secara total kepada Allah ‘Azza wa Jall.”

Di dalam maqamat (tingkatan-tingkatan ruhaniah), tidak ada satu pun tingkat yang lebih mulia daripada tawakal. Sungguh, tawakal kepada Allah dapat membuat hamba dicintai. Sementara penjaminan diri (tafwidh) kepada Allah, dapat membuatnya mendapat hidayah. Dengan hidayah Allah, hamba akan selaras dengan ridha-Nya. Dan kalau hamba sudah selaras dengan ridha-Nya, dia berhak menerima kemuliaan (karamah) dari Allah. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, berserah diri kepada segala keputusan (qadha)-Nya, menjaminkan segala urusan kepada-Nya, dan ridha kepada ketentuan (qadar)-Nya, maka dia dianggap sebagai orang yang telah benar-benar menegakkan agama, memperindah iman dan keyakinan, menyempurnakan kedua tangan dan kakinya untuk mengupayakan kebaikan dan menegakkan akhlak-akhlak yang salih yang berfungsi memperbaiki urusan hamba. Sebaliknya, orang yang diragukan dalam hal tawakal, diragukan pula keimanannya, karena keimanan selalu bersama-sama dengan tawakal. Barangsiapa mencintai ahli tawakal, sungguh dia telah mencintai Allah Ta’ala.

Awal tawakal adalah mengenal bahwa al-Wakil [Dia Yang diserahi dan diberi kepercayaan] sungguh Mahaagung dan Mahabijaksana. Apabila hamba yang hina menyaksikan bahwa Sang Maharaja nan Mahamulia sungguh bijak—melakukan pengaturan dan menentukan ukuran; di sisi-Nya gudang segala sesuatu, dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya [QS. ar-Ra’d 13:8], dan tidaklah Dia menurunkannya ke dunia melainkan dengan ketentuan yang telah diketahui; lalu dia menyaksikan bahwa al-Wakil itu menggenggam semua ubun-ubun para raja; bagi-Nya semua gudang langit, meliputi semua hukum dan ketentuan gaib; dan bagi-Nya pula semua gudang kerajaan bumi, meliputi seluruh tangan, hati, sebab-sebab dan segala yang terlihat [gudang-gudang langit adalah rezeki yang dibagikan Allah, sedang gudang-gudang bumi adalah harta yang sudah dijadikan-Nya berada di tangan makhluk], dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan, [QS. adz-Dzariyat 51:22-23]—tentu si hamba akan yakin bahwa kerajaan segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya, bahwa Dialah yang menguasai seluruh pendengaran dan penglihatan, Dialah yang membolak-balikkan semua hati dan tangan sebagaimana membolak-balikkan malam dan siang. Bagi orang-orang yang yakin, Dia sungguh sang pengatur dan penentu hukum yang paling baik. Dan Dia adalah hakim yang paling bijak dan pemberi rezeki yang paling baik. Allah Ta’ala berfirman, “Siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [QS. al-Ma’idah 5:50]. Allah Ta’ala juga berfirman, “Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorang pun yang akan memberi syafaat kecuali sesudah ada izin-Nya.” [QS. Yunus 10:3]

Apabila hamba telah menyaksikan semua itu, dia akan memandang Tuannya Yang Maha Perkasa, lalu dengan pandangannya itu dia menjadi kuat. Kemudian dengan kekuatannya karena Dia hamba akan menjadi perkasa. Dia akan menjadi kaya dengan kedekatan kepada-Nya. Dia akan menjadi mulia dengan kehadiran di sisi-Nya. Dia memandang-Nya dalam segala hal, teguh hati kepada-Nya, meggantungkan diri kepada-Nya, merasa puas dengan pemberian dari-Nya dalam batas paling minimal, serta tabah dan ridha kepada-Nya. Dalam kondisi seperti itu, si hamba yakin bahwa segala hal semestinya berasal dari Allah. 

Orang yang tidak menginginkan sesuatupun selain Dia, tidak berharap kecuali kepada-Nya, senantiasa melihat tangan-Nya dalam setiap pemberian, senantiasa melihat kebijaksanaan-Nya dalam setiap penghukuman, senantiasa melihat kuasa-Nya dalam setiap al-qabdh dan al-basth [*],  dia sungguh telah benar dalam penghambaannya kepada Allah dan sudah memurnikan tauhidnya. Maka dia pun mengenal makhluk dari mengenal Penciptanya. Dia mencari rezeki dari Dia Yang disembahnya. Dia tidak memuji dan mencela makhluk. Dia tidak memuji seseorang karena orang itu memberinya, atau mencela karena orang itu tidak memberinya. Dia tahu bahwa Allah, Dialah Yang Mahaawal nan Maha Pemberi. Dia berterima kasih kepada makhluk hanya karena Allah memerintahnya untuk berterima kasih dan berakhlak dengan akhlak-Nya serta mengikuti sunnah Rasulullah saw. 

[*] Secara etimologis, kata qabdh(sempit) adalah lawan dari kata basth(luas). Allah Ta’ala berfirman, “Allah menyempitkan dan meluaskan…” Sedangkan di kalangan sufi, qabdh berarti “rasa takut telah menguasai hati”, dan basth berarti “rasa harap telah menguasai hati”. Jika sufi merasa takut akan ancaman Allah, berarti ia qabdh, sedangkan jika penuh harap pada janji dan nikmat Allah, berarti ia basth. Sebagian imam sufi memandang bahwa Allah Ta’ala, jika menyingkapkan sifat-sifat keperkasaan-Nya kepada hamba, Dia menyempitkan/menahan-Nya, sedangkan jika menyingkapkan sifat keindahan-Nya, Dia meluaskannya. (Imam Qusyairi, al-Tahbir fi al-Tadzkir, hal. 45). Tentang makna qabdh dan basth, Imam al-Junaid bekata, “(Qabdh dan basth) adalah khauf dan raja’. Raja’ akan meluaskan pada ketaatan, sedangkan khauf akan menahan dari maksiat” (Lihat Abu Khizam, Mu’jam al-Musthalahat al-Shufiyyah, hal. 140; dan al-Syarqawi, Mu’jam Alfazh al-Shufiyyah, hal. 231.

Seorang ‘arif berkata, “Salah satu dosa paling buruk dalam pandangan Allah adalah meminta kepada-Nya untuk mendapatkan sesuatu lalu setelah mendapatkannya, kemudian berlepas diri dari-Nya. Kemudian jika Allah memberinya, dia pun memperoleh sesuatu dari-Nya, dia berkeluh kesah dan bersusah payah meminta agar Allah mengalihkan sesuatu yang telah diterimanya itu darinya. Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Pemurah, dan kemurahannya itu memancar meliputi semua hamba-Nya. Dia memiliki waktu-waktu di mana Dia tidak menolak permintaan hamba, meski sang hamba itu kafir. Allah Ta’ala tidak berada di bawah perintah dan ketaatan kita, sehingga misalnya kita berkata kepada-Nya pada pagi dini hari, ‘berikanlah perbuatlah bagi kami sesuatu.’ Kemudian di penghujung hari kita menyesal dan berkata lagi kepada-Nya, ‘Alihkanlah dari kami sesuatu yang telah Engkau berikan kepada kami pada pagi hari itu.”‘

Seorang ulama sufi berkata, “Bila Allah memberimu pilihan dalam sesuatu, engkau harus memilih. Dan tambatkanlah pilihanmu itu kepada pilihan-Nya, karena sesungguhnya engkau tidak tahu akibat dari segala sesuatu.”

Nabi Dawud a.s. pernah berkata kepada anaknya, Sulaiman a.s., “Wahai anakku, aku hanya akan menunjukkan tiga hal yang menjadi indikasi ketakwaan seseorang, yaitu:

  1. Tawakal yang baik terhadap sesuatu yang akan diperoleh.
  2. Keridhaan yang baik terhadap sesuatu yang telah diperoleh.
  3. Kesabaran yang baik terhadap sesuatu yang tidak diterima.

Luqman al-Hakim juga pernah menasihati anaknya, “Wahai anakku, sesungguhnya dunia itu samudera yang amat dalam, dan sudah banyak orang yang tenggelam di dalamnya. Karena itu, jadikanlah takwa kepada Allah sebagai perahumu untuk mengarunginya dan tawakal kepada Allah sebagai layarnya. Mudah-mudahan engkau selamat, dan aku tidak bisa memperkirakan keselamatanmu.” Di dalam Taurat tertulis, “Terkutuklah orang yang berpegang kepada manusia lainnya.”

Di dalam syair disebutkan:

Bila dengan kemuliaan-Nya Sang Pengasih memuliakan hamba

takkan ada satu makhluk pun yang mampu menghinakannya, tidak seharipun

dan siapa saja yang dihinakan oleh Dia Yang Maha Perkasa

takkan ada yang mampu membantunya menjadi mulia, tidak seharipun 

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa memasrahkan dirinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, Dia pasti mencukupkan segala perbekalannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia perhitungkan. Dan barangsiapa mencurahkan dirinya kepada dunia, Allah akan menguasakan dirinya kepada dunia.” (HR. ath-Thabrani dan al-Baihaqi)

Asy-Syibli r.a. berkata, “Barangsiapa bersandar kepada dunia, dia akan menjadi debu yang diterbangkan angin. Barangsiapa bersandar pada akhirat, dia akan terbakar oleh cahaya-Nya sehingga menjadi emas merah yang bermanfaat baginya. Barangsiapa bersandar kepada Allah, dia akan terbakar oleh cahaya tauhid sehingga menjadi mutiara yang harganya tiada banding.”

Para ulama sufi berkata, “Barangsiapa berlindung kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, maka Allah akan membuatnya dibutuhkan oleh manusia, kata-kata hikmah keluar dari mulutnya dan menjadikannya di antara raja dunia dan akhirat. Dan barangsiapa berlindung kepada makhluk, maka Allah akan menguasakannya kepada dunia, menyiksanya serta memutuskan semua sababnya untuk dunia dan akhirat.”

Yahya ibn Mu’adz pernah ditanya, “Kapankah seseorang dikatakan berlindung kepada Allah?” dia menjawab, “Bila hatinya terputus dari segala hubungan yang ada atau tidak ada, dan dia ridha Allah menjadi wakil-nya.”

Di dalam satu riwayat diceritakan bahwa suatu hari sekelompok orang masuk menemui al-Junaid r.a., lalu mereka berkata kepadanya, “Kami mencari rezeki kami.” Al-Junaid berkata, “Bila kalian tahu di mana rezeki kalian, maka carilah ia.” Mereka berkata, “Kami memohon hal tersebut kepada Allah.” Al-Junaid berkata, “Bila kalian tahu bahwa Allah melupakan kalian, maka ingatkanlah Dia.” Mereka berkata, ‘Kalau begitu kami akan coba masuk ke rumah dan bertawakal kepada Allah.” Al-Junaid berkata, “Coba-coba terhadap Allah sungguh merupakan keraguan yang amat membahayakan.” Mereka berkata, “Lalu bagaimana triknya?” Al-Junaid menjawab, “Meninggalkan muslihat.” Dalam syair dikatakan, 

Tinggalkan penyanggahan, sebab rezeki bukan urusanmu

tidak pula aturan pergerakan jagat raya

Jangan bertanya kepada Allah tentang perbuatan-Nya

siapa menyelami gelombang samudera pasti binasa

Hatim al-Ashamm adalah murid Syaqiq al-Balkhi. Suatu hari, Syaqiq al-Balkhi bertanya kepadanya, “Sudah berapa lama engkau bersahabat denganku?” Hatim al-Ashamm menjawab, “Tiga puluh tiga tahun.” Syaqiq al-Balkhi bertanya lagi, “Apa yang telah engkau pelajari selama itu?” Hatim al-Ashamm menjawab, “Delapan perkara.” Syaqiq al-Balkhi berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Usiaku lenyap bersamamu, namun engkau hanya mempelajari delapan perkara. Lalu apa delapan perkara itu?” Hatim al-Ashamm menjawab, “Pertama, aku perhatikan manusia dan kudapati masing-masing mereka mencintai sesuatu, namun yang dicintainya itu tidak selalu bersamanya. Bila dia masuk ke dalam kubur, yang dicintainya itu meninggalkannya. Karena itulah aku menjadikan kebaikan sebagai kekasihku. Bila aku masuk ke dalam kubur, maka kekasihku akan selalu bersamaku. Kedua, aku perhatikan firman Allah, Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). [QS. an-Nazi’at 79:40-41]. Aku tahu bahwa firman Allah itu sungguh benar. Karena itu aku memaksa diriku memerangi hawa nafsu hingga kokoh dalam ketaatan kepada Allah. Ketiga, aku perhatikan manusia dan kudapati masing-masing dari mereka memiliki sesuatu yang dianggapnya berharga dan bernilai sehingga selalu ia jaga. Kemudian aku perhatikan firman-Nya, Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. [QS. an-Nahl 16:96]. 01 Ketika aku memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai, aku menghadapkannya kepada Allah Ta’ala, agar ia tetap abadi bagiku. Keempat, aku perhatikan manusia dan kudapati masing-masing dari mereka merujuk kepada harta, kecukupan, kemuliaan dan keturunan. Saat kuperhatikan, ternyata semua itu tiada berharga. Kemudian aku memperhatikan firman Allah, Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. [QS. al-Hujurat 49:13]. Maka akupun menuju taqwa agar mulia di sisi Allah. Kelima, aku perhatikan manusia dan kudapati mereka saling mencela dan mengutuk. Aku tahu bahwa asal mula semua itu adalah hasud. Kemudian aku memperhatikan firman-Nya, Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. [QS. az-Zukhruf 43:32]. Karena itulah aku meninggalkan sifat hasud dan permusuhan. Aku tahu bahwa yang Allah bagikan untukku merupakan sesuatu yang semestinya. Keenam, aku perhatikan manusia saling menzalimi dan bermusuhan satu sama lain. Namun aku perhatikan bahwa musuhku yang sebenarnya adalah setan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu. [QS. Fathir 35:6]. Lalu aku memusuhinya dan aku mencintai manusia seluruhnya. Ketujuh, aku memperhatikan manusia dan kudapati mereka selalu mencari harta yang banyak hingga karena harta itu mereka menghinakan diri sendiri. Kemudian aku perhatikan firman Allah, Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. [QS. Hud 11:6]. Aku menyadari bahwa aku termasuk makhluk yang tentunya diberi rezeki. Karena itulah aku sibuk dengan Allah ‘Azza wa Jalla dan meninggalkan segala sesuatu selain Dia. Kedelapan, aku memperhatikan makhluk dan kudapati mereka bertawakal kepada sesama makhluk. Yang ini bertawakkal kepada niaganya, yang ini kepada industrinya, yang ini kepada kesehatan badannya. Setiap makhluk bertawakal kepada makhluk yang lainnya. Kemudian aku merujuk firman Allah Ta’ala, Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. [QS. ath-Thalaq 65:3]. Karena itulah aku bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” Syaqiq al-Balkhi akhirnya berkata, “Mudah-mudahan Allah memberimu taufik. Engkau benar-benar telah menghimpun semua perkara.” 

Al-Imam as-Suyuthi berbicara mengenai kata al-marjan, “Ibn ‘Abbas berkata, ‘Setiap tahun Khidir dan Ilyas selalu bertemu pada suatu musim. Lalu (setelah pertemuan) keduanya berpisah dengan meninggalkan kalimat-kalimat ini: “Bismillahi, ma sya’ Allahu la yasuqul-kahira illallah, ma sya’ Allah, la yashrifus-su’a illallah, ma sya’ Allah ma kana min ni ‘matin fa minallah, ma sya’ Allah wa la haula wa la quwwata illa billah” [*] Kemudian Ibn ‘Abbas berkata, ‘Barangsiapa membacanya di waktu pagi dan sore hari sebanyak tiga kali, Allah akan menyelamatkannya dari ketenggelaman, kebakaran, pencurian, dari setan dan raja, serta dari ular dan kalajengking.”‘ Karena itu setiap murid perlu mengamalkan ini. Amalan ini bisa menjadi sebab lahirnya tawakal. 

[*] Dengan menyebut nama Allah, apa pun yang Allah kehendaki, maka tiada yang menggiring kebaikan selain Allah. Apa pun yang Allah kehendaki, maka tiada yang yang memalingkan keburukan selain Allah. Apa pun yang Allah kehendaki, maka apa yang merupakan kenikmatan berasal dari Allah. Apa pun yang Allah kehendaki, maka tiada upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Sebagai pelengkap, kami ingin memberi penegasan tentang ikhlas. Allah Ta’ala berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” [QS. al-Bayyinah 98:5]

Dalam atsar diceritakan, “Sesungguhnya apabila hari kiamat telah terjadi, maka datanglah ikhlas dan syirik. Keduanya berkumpul di hadapan Allah Ta’ala. Allah berfirman kepada ikhlas, ‘Pergilah engkau dan ahlimu ke dalam surga.’ dan Dia berfirman kepada syirik, ‘Pergilah engkau dan ahlimu ke dalam neraka.”

Ikhlas adalah perbuatan hati yang tidak bisa dilihat selain oleh Allah. Ikhlas adalah engkau beribadah kepada Allah dengan totalitas dirimu dan tidak mempersekutukan-Nya dengan yang lain. Dia berfirman, “Dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” [QS. al-Kahfi 18:110]

Ada juga yang mengatakan bahwa ikhlas ialah pembeningan hati dari seluruh campuran. Rasulullah saw. bersabda, “Aku bertanya kepada Jibril mengenai ikhlas, dan Jibril berkata, ‘Aku bertanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla mengenai ikhlas, dan Allah berfirman, Ikhlas adalah satu rahasia dari rahasia-rahasia-Ku yang aku letakkan di dalam hati hamba-Ku yang Aku cintai.” [Hadis ini diriwayatkan oleh al-Qusyairi di dalam ar-Risalah dengan sanad yang lemah. Diriwayatkan pula oleh sejumlah hafizh di dalam musalsalah mereka, dan masing-masing perawi yang berada dalam silsilah periwayatannya menggunakan redaksi, “Aku bertanya kepada si fulan tentang apa yang disebut ikhlash…”

Lawan dari ikhlas adalah riya. Jadi barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan tanpa disertai riya, berarti ia ikhlas.[]

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Indeks

Tanwirul Qulub

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok