47. Adab Murid terhadap Syaikh

Ada banyak adab yang harus dipenuhi murid terhadap syaikh yang menjadi gurunya. Namun di sini kami akan meringkasnya dengan hanya mengemukakan adab-adabnya yang paling penting. Di antaranya yang harus diperhatikan adalah menghormati dan mengagungkan syaikh lahir batin, serta meyakini bahwa tujuan dirinya hanya akan tercapai melalui bantuan dan bimbingan syaikhnya. Apabila perhatian dirinya terpecah kepada syaikh lain yang bukan gurunya, dia akan terhalang dari syaikhnya, dan pancaran sang syaikh pun akan tertutup bagi dirinya.

Adab-adab lainnya yang harus dipenuhi murid terhadap syaikhnya sebagai berikut:

  1. Pasrah, teguh dan rela menerima pengaturan yang dilakukan syaikh terhadap dirinya. Melayani syaikh dengan harta dan jiwanya. Sebab, mutiara kehendak dan cinta hanya akan menjadi jelas melalui cara ini. Kadar kesungguhan dan keikhlasan hanya akan diketahui melalui timbangan ini.
  2. Tidak protes terhadap syaikh menyangkut perbuatan yang dilakukannya, meski secara lahiriah tampak perbuatan yang dilakukannya itu tampak haram. Jangan sampai dia berkata kepada syaikhnya, “Mengapa Anda melakukan ini?” Karena murid yang berkata mengapa kepada gurunya tidak akan berhasil selamanya. Terkadang dari seorang syaikh muncul sesuatu yang secara lahiriah tampak tercela, padahal secara batin ia terpuji. Seperti yang terjadi antara Khidir dan Musa. Tentang makna ini ada sebagian tokoh sufi bersenandung:

Jadilah engkau di hadapannya bagai mayit di tangan yang memandikannya

selalu patuh, apa pun yang dia lakukan terhadap dirinya

Jangan membantahnya mengenai urusannya yang tidak kau ketahui

karena membantah berarti menantang

serahkanlah kepadanya apa yang kau lihat

meski dia tampak bertindak tidak sesuai syari’at, nanti engkau akan tercela

Di dalam kisah Khidir yang mulia terdapat pelajaran

dia membunuh bocah dan Musa al-Kalim menentangnya

Ketika subuh datang menerangkan rahasia yang disembunyikan malam

dan pedang memutus tali si peminta alasan

Musa pun mengajukan udzur padanya

demikian pula ilmu kaum sufi tentangnya

  1. Berkumpul dengan syaikh hanya untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Melebur pilihan dirinya kepada pilihan syaikhnya, dalam urusan ibadah maupun adat, yang global maupun rinci. Salah satu ciri murid sejati adalah taat kepada syaikhnya, sekira syaikhnya berkata, “Masuklah ke perapian!” ia memasukinya tanpa tanya.
  3. Tidak memata-matai kondisi atau tingkah laku syaikh secara mutlak. Sebab perilaku memata-matai guru bisa menyebabkan dirinya hancur, seperti terjadi pada banyak orang. Murid harus senantiasa berbaik sangka kepada syaikhnya dalam segala keadaan.
  4. Senantiasa menjaga syaikh di ketidak hadirannya seperti menjaga dia di kehadirannya. Selalu mengingat syaikh saat dengan hatinya dalam setiap keadaan, sedang bepergian ataupun tidak, agar dia memperoleh berkahnya.
  5. Memandang bahwa berkah dunia dan akhirat yang diperolehnya itu didapat melalui berkah syaikhnya.
  6. Tidak menyembunyikan sesuatu pun dari syaikhnya, entah itu keadaan, bisikan gaib, peristiwa yang mengejutkan, ketersingkapan, karamah dan apa pun yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya melalui syaikh.
  7. Tidak mengira-ngira sendiri makna peristiwa atau mimpi atau ketersingkapan yang didapatnya, meskipun jelas. Tidak pula berpegang teguh padanya. Dan bila sudah melaporkan semuanya kepada syaikh, dia tinggal menunggu jawaban sang syaikh tentangnya, tanpa meminta syaikh memberikan jawabannya. Apabila ada salah seorang sahabat syaikh yang bertanya tentang sesuatu, hati-hatilah jangan sampai engkau serta merta menjawabnya.
  8. Tidak membeberkan rahasia syaikh, walau tubuhnya sampai digergaji.
  9. Tidak menikahi perempuan yang hendak dinikahi syaikhnya, atau perempuan yang dicerai syaikhnya, tidak pula janda syaikhnya.
  10. Tidak memberikan pendapat bila diajak bermusyawarah meninggalkan sesuatu atau mengerjakan sesuatu oleh syaikhnya. Mengembalikan semua pendapatnya kepada syaikhnya dengan keyakinan bahwa syaikh lebih tahu daripada dirinya dan dia tidak butuh saran dari dirinya. Syaikh mengajaknya musyawarah hanya untuk membuatnya senang. Kecuali bila jelas ada alasan yang kuat yang mengharuskan dirinya menyampaikan pendapat, itu pun tetap harus disertai etika yang sempurna terhadap syaikhnya.
  11. Tetap memperhatikan keluarga syaikhnya ketika sang syaikh pergi, dengan terus berbuat baik kepada mereka, misalnya dengan tetap melayani dan membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan. Sungguh, sikap ini bisa membuat hati syaikh senang kepadanya. Dalam hal ini, syaikh juga seperti saudara sesamanya. 
  12. Apabila murid mendapati diri merasa bangga dengan amalnya (‘ujub), atau merasa hebat dengan kondisi dirinya, hendaklah dia segera melapor kepada syaikhnya, agar syaikh memberikan penawarnya. Jika dia menyembunyikan hal itu dari syaikhnya, akan tumbuh riya dan kemunafikan dalam dirinya.
  13. Menghargai sesuatu yang diberikan oleh syaikh, tidak menjualnya kepada seseorang, apa pun yang diberikannya. Karena bisa jadi di dalam sesuatu yang diberikannya itu sang syaikh menyertakan salah satu rahasia para faqir (sufi) untuknya, yang bisa membantunya di dunia dan akhirat serta mengantarnya ke hadirat Allah ‘Azza wa Jalla.
  14. Yang lebih penting lagi adalah kesungguhan dalam perjuangan mencari syaikh. Karena para syaikh telah sepakat, bila seorang murid benar-benar sempurna kesertaannya bersama syaikh, bisa jadi manis ma’rifatullah akan sampai ke lubuk hatinya hanya dalam satu pertemuan, di awal perjumpaannya dengan sang syaikh.
  15. Tidak mengurangi keyakinan terhadap syaikhnya jika melihat sang syaikh kurang (turun) dari maqam-nya. Misalnya karena syaikh banyak tidur di waktu sahur, atau kurang wara’, atau hal-hal lainnya yang merupakan sifat kekurangan. Sebab, Allah kadang memberlakukan kekurangan itu terjadi pada wali-Nya di saat sang wali lalai atau lupa. Kemudian Allah mengingatkannya hingga dia sadar dari kelalaiannya dan segera menyusulnya dengan perbuatan lain yang patut dan mampu menutup kekurangan tersebut. Semua itu sebagai pembimbing bagi muridnya, agar dari fenomena yang tampak pada diri gurunya si murid menjadi tahu cara melepaskan diri dari ketergelinciran bila mengalami hal yang serupa. Selain itu, bisa jadi dengan kekurangan yang ditimpakan kepada wali-Nya, Allah membimbing sang wali untuk melihat besar kecilnya kadar kesungguhan dan kejujuran dia di maqam ridha bi qadha’illah wa qadarihi [Rela hati menerima qadha dan qadar Allah.]. Dengan perubahan-perubahan kondisi itu Allah mengenalkan para waliNya akan kenyataan diri mereka, agar mereka bersyukur atau memohon ampun kepada Allah Ta’ala di saat mereka sudah sadar. Karena itu, murid harus melestarikan keyakinan terhadap syaikhnya. Sungguh, para pemuka kaum ‘arif telah berkata, “Ketergelinciran kaum muqarrabun merupakan peninggi kedudukan mereka.” Ungkapan ini mereka landasi dengan kenyataan Adam. Dia melanggar larangan Allah hingga diusir, tetapi kemudian dia dijadikan makhluk pilihan dan dimuliakan.
  16. Tidak banyak berbicara di hadapan syaikhnya, meskipun syaikh memberinya keleluasaan untuk berbicara. Mengetahui kapan saat untuk berbicara dengan syaikh. Berbicara kepada syaikh hanya saat suasana syaikh lapang, disertai adab yang baik, khusyuk, khudhu’ dan tidak berlebihan menurut tingkat derajatnya. Bila syaikh berbicara memberi jawaban atas pertanyaannya, dengarkanlah secara seksama dengan wajah yang dihadapkan. Jika tidak, dia akan dicegah dari futuh. Dan barangsiapa telah dicegah dari futuh, dia akan sulit mendapatkan kedua. Hanya orang istimewa yang mendapat kesempatan kedua.
  17. Merendahkan suara di majlis syaikh. Sebab meninggikan suara di hadapan para pembesar merupakan kelancangan, tidak sopan.
  18. Tidak duduk bersila atau duduk di atas sajadah ketika berada di hadapan syaikh. Duduklah di hadapannya dengan penuh kerendahan dan rasa hina diri. Seorang ‘arif berkata, “Menurut kaum sufi, berkhidmat merupakan amal shalih yang paling utama.”
  19. Bersegera melaksanakan perintahnya, tidak menunda-nunda atau berleha-leha sebelum selesai melaksanakannya.
  20. Menghindari hal-hal yang tidak disenangi syaikhnya. Tidak menyukai hal-hal yang tidak disukai syaikhnya. 
  21. Tidak berteman dengan orang yang tidak disenangi syaikhnya dan mencintai orang yang dicintai syaikhnya.
  22. Bersabar menerima kemarahan dan keberpalingan syaikhnya, entah dari dirinya maupun dari orang lain. Jangan sampai bertanya, “Mengapa syaikh bersikap demikian kepada si fulan?” atau “Mengapa syaikh bersikap demikian kepada saya?”
  23. Tidak duduk di tempat yang disediakan khusus untuk syaikhnya. Tidak bepergian, tidak menikah dan tidak melakukan sesuatu pekerjaan yang penting tanpa izin syaikhnya. Ketahuilah bahwa syaikh yang ‘arif terkadang memberi keleluasaan kepada santri-santrinya. Lalu apabila telah mencium aroma kejujuran dan keseriusan dari mereka, dia mulai ketat terhadap mereka, kadang berpaling dari mereka dan menampakkan kemarahan, supaya jiwa mereka mati dari syahwat dan lebur dalam kecintan kepada Allah. Dengan sikap-sikap tersebut syaikh menguji kesetiaan murid-muridnya.
  24. Tidak memindai ucapan syaikhnya untuk diungkapkan kepada orang-orang selain yang sesuai dengan kadar pemahaman dan akal mereka.

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Indeks

Tanwirul Qulub

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok