49. Adab Murid terhadap Sesama Murid dan Kaum Muslimin

Saudara-saudaraku, ketahuilah—semoga Allah memberi kita petunjuk untuk cinta dan ridha-Nya—bahwa ikatan persaudaraan adalah pertalian di antara dua individu. Rasulullah saw. berabda, “Perumpamaan dua orang yang bersaudara laksana dua belah tangan yang saling mencuci satu sama lain.” [Hadis ini dikeluarkan oleh Abu Na’im di dalam al-Hilyah]

Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin bagi mukmin lainnya laksana sebuah bangunan, masing-masing bagian saling menguatkan.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim dan perawi lainnya.]. Salah seorang ahli ilmu berkata, “Tidaklah seorang sahabat menemani sahabatnya, walau sesaat, melainkan akan dimintai pertanggungjawaban akan persahabatannya: apakah di dalam persahabatannya itu dia memenuhi hak-hak Allah atau malah menyia-nyiakannya.” 

Apabila satu ikatan persahabatan telah terjalin, ada sejumlah hak persahabatan yang harus dipenuhi. Di antaranya adalah: 

  1. Engkau mencintai mereka seperti mencintai diri sendiri. Tidak mengistimewakan diri sendiri atas mereka.
  1. Setiap kali menjumpai mereka, engkau harus bersedia memulai salam, mengajak bersalaman dan berbicara manis. Rasulullah saw. bersabda, “Apabila dua orang muslim bersalaman, telapak tangan keduanya tiada lepas sebelum Allah memberikan ampunan pada keduanya.” (HR. ath-Thabrani)
  1. Memperlakukan mereka dengan akhlak yang baik. Engkau harus memperlakukan mereka dengan perlakuan yang kau senangi bila mereka memperlakukanmu dengan perlakuan itu, dengan cinta dan kasih sayang. Akhlak yang baik itu merupakan penghimpun kebaikan. Cukuplah pujian Allah terhadap Rasulullah saw. sebagai buktinya, “Sesungguhnya engkau benar-benar berada dalam akhlak yang agung.” [QS. al-Qalam 68:43]. Rasulullah saw. bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Salah seorang ‘arif bekata, “Tidaklah seorang mulia menjadi mulia karena banyak shalat atau banyak puasa, tidak pula karena banyak mujahadah. Dia menjadi mulia dengan akhlak yang baik.” Al-Junaid berkata, “Ada empat hal yang bisa mengangkat seorang hamba mencapai derajat paling tinggi, meskipun amal dan ilmunya amat sedikit. Yakni: bijaksana, berendah diri (tawadhu), dermawan dan berbudi pekerti yang baik.”

  1. Rendah hati terhadap saudara sesama muslim. Allah Taala berfirman, “Rendahkanlah dirimu kepada orang-orang mukmin.” [QS. al-Hijr 15:88]

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa rendah hati karena Allah, Allah akan meninggikannya. Dalam pandangan dirinya dia kecil, namun di mata orang-orang dia sungguh mulia. Dan barangsiapa bersikap sombong, Allah akan merendahkannya. Dalam pandangan dirinya dia besar, tetapi dalam pandangan orang-orang dia sungguh kecil, bahkan engkau akan melihat dia lebih hina dari anjing atau babi.” (HR. Ahmad, al-Bazzar dan ath-Thabrani)

Al-Imam asy-Syafi’i r.a. berkata, “Rendah hati merupakan akhlak orang-orang mulia, sedangkan sombong merupakan akhlak orang-orang tercela. Manusia yang paling tinggi derajatnya adalah orang yang tidak melihat dirinya berderajat. Dan orang yang paling besar keutamaannya adalah orang yang tidak melihat dirinya memiliki keutamaan.”

Rasulullah saw. bersabda, “Allah Ta’ala mewahyukan kepadaku, ‘Berendah dirilah kalian hingga seseorang tidak bersikap angkuh terhadap seorang pun, tidak pula seseorang berbuat lalim terhadap seorang pun.’” [Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dan Abu Dawud serta yang lainnya.]

Seorang penyair berkata, “Apakah kau dia tidak berpikir bahwa ia mulanya sekedar mani dan akhirnya menjadi bangkai tetapi dia bersikap sombong.”

Di dalam satu ungkapan disebutkan, “Karena hukum Allah Ta’ala berlaku bahwa setiap tumbuhan hanya akan berbuah bila ditanam di tanah yang bahkan lebih rendah dari sandal, maka orang-orang pilihan menjadikan diri mereka sebagai tanah bagi saudara-saudaranya.” Sungguh indah ungkapan sang penyair,

Rendah hatilah, engkau akan menjadi laksana bintang

di kedalaman air bayangnya tampak berkilau-kilau

padahal nyatanya dia luhur di langit tinggi

Jangan seperti asap membumbung tinggi ke udara

padahal dia sungguh rendah

Akhlak paling mulia dan agung seorang pemuda

adalah rendah hati di hadapan orang-orang, padahal dia luhur

dan sesuatu yang paling buruk

seseorang merasa diri mulia, padahal di mata semesta dia sungguh hina

Guru para guru kami, Al-Imam ar-Rabbani, bersenandung,

Jadilah engkau bumi agar padamu tumbuh mawar 

Sungguh, tempat tumbuh mawar adalah tanah

  1. Adab lainnya adalah meminta ridha mereka dan memandang mereka lebih lebih baik daripada dirimu. Saling membantu di dalam kebaikan, takwa dan mencintai Allah. Mendorong mereka untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai dan diridhai Allah. Membimbing meteka kepada kebenaran jika engkau lebih tua dari mereka, dan belajar kepada mereka bila engkau lebih muda.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” [QS. al-Ma’idah 5:2]

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila Allah menghendaki seorang penguasa menjadi baik, Allah akan menjadikan menterinya seorang yang jujur. Apabila sang penguasa itu lupa, sang menteri akan mengingatkannya, dan apabila sang raja tidak lupa, sang menteri akan membantunya. Apabila Allah menghendakinya tidak demikian, Dia akan menjadikan menterinya seorang yang buruk. Apabila sang raja lupa, sang menteri tidak akan mengingatkannya. Apabila sang raja ingat, sang menteri tidak akan membantunya.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan kategori sanad jayyid.]

  1. Mengasihi dan menyayangi semua saudaramu sesama muslim. Yakni dengan cara menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, serta melayani mereka meski dengan sekadar menyodorkan sandal yang hendak dipakainya. Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang tidak menghormati yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil bukanlah golonganku. ” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah saw. bersabda, “Orang-orang yang penyayang disayang oleh Yang Maha Penyayang Tabaraka wa Ta’ala. Maka sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.’ (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Di dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Jika kalian menginginkan kasih-Ku, maka sayangilah makhluk-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

  1. Bersikap lembut dalam menasihati mereka apabila engkau melihat mereka menyalahi aturan. Al-Imam asy-Syafi’i r.a. berkata, “Barangsiapa menasihati saudaranya dalam sembunyi, dia sungguh telah menasihatinya dan menghiasinya. Dan barangsiapa menasihati saudaranya di keramaian, dia sungguh telah mencemarkan dan melecehkannya.” Asy-Sya’rani berkata, ”Orang yang tidak menutupi kekeliruan yang dia lihat dari saudara-saudaranya, berarti dia telah membukakan pintu ketersingkapan aib dirinya sendiri dari sekadar ketersingkapan aib mereka.”

Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa menutupi aib saudaranya, Allah akan menutup aib dirinya. Dan barangsiapa menyingkapkan aib saudaranya, Allah akan menyingkapkan aib dirinya hingga karenanya dia menjadi tercemar bahkan di dalam rumahnya sendiri.” (HR. Ibnu Majah)

Suatu hari, seorang lelaki yang telah bersahabat dengan Ibrahim ibn Adham, ketika hendak berpisah, berkata kepada Ibrahim ibn Adham ”Sayyidi, kenapa anda tidak pernah mengingatkan aku akan aib yang ada pada diriku?” lalu Ibrahim ibn Adham menjawab, ”Saudaraku, aku tidak pernah melihat satu pun aib dalam dirimu, karena aku melihatmu dengan mata cinta. Bertanyalah kepada selain aku tentang aibmu.”

Sebagai sahabat, semestinya engkau menginginkan saudaramu selamat dari kekeliruan yang kau lihat padanya. Jangan meninggalkannya hanya karena kau lihat dia keliru. Itu akan lebih baik bagi dirimu daripada engkau meninggalkannya.

  1. Selalu berprasangka baik kepada mereka. Apabia engkau melihat ada aib pada mereka, berucaplah dalam diri, ”Sungguh, aib itu ada pada diriku. Karena seorang muslim adalah cermin bagi muslim lainnya. Yang dilihat seseorang pada cermin hanyalah bayangan dirinya sendiri.

Alangkah buruk orang yang melupakan aib diri sendiri

sementara aib saudaranya yang tersembuyi dia ingat-ingat

andai punya akal, tentu dia tidak akan mencela orang lain

sementara di dalam dirinya aib bertumpuk-tumpuk

  1. Menerima permintaan maaf saudaramu apabila dia meminta maaf, walaupun dia berbohong. Sebab orang yang meminta kerelaanmu secara lahir, walapun batinnya membencimu, ia sungguh telah mentaatimu dan menghormatimu, sekira dia tidak terang-terangan menentangmu. Tentang hal ini seorang ‘arif berkata,

Terimalah udzur orang yang datang meminta maaf kepadamu

tulus maupun dusta permohonannya itu

sungguh, orang yang lahirnya ridha kepadamu telah menaatimu

dan yang membantahmu dalam sembunyi pun telah menghormatimu

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa saudaranya datang meminta maaf dari kesalahannya, hendaklah dia menerimanya, entah dia bersungguh-sungguh maupun berpura-pura. Siapa yang tidak melakukannya, dia tidak akan sampai ke telagaku di Hari Kiamat.” [Diriwayatkan oleh al-Hakim, dan beliau menshahihkannya. Diriwayatkan pula oleh perawi lainnya.]

  1. Mendamaikan saudara yang terlibat perselisihan tanpa keberpihakan pada salah satunya. Tidak mendukung salah satu pihak dalam pertikaian mereka. Bersikap adil dan bijak dalam mendamaikan mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara dua saudaramu.” [QS. al-Hujurat 49:10]

Rasulullah saw. bersabda, “Sedekah yang paling utama adalah mendamaikan orang yang berselisih.” [HR. Ath-Thabrani dan al-Baihaqi]. Rasulullah saw. bersabda di dalam satu hadis marfu’, “Bertakwalah kalian kepada Allah dan damaikanlah orang-orang yang berselisih di antara kalian. Kelak pada Hari Kiamat, Allah akan mendamaikan orang-orang yang beriman.” Rasulullah saw. juga bersabda, “Orang yang mendamaikan orang-orang berselisih tidak dipandang sebagai pendusta kalaupun dia berbohong dengan menceritakan kebaikan kepada masing-masing pihak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) 

  1. Senantiasa bersikap jujur dan benar bersama mereka, dalam kondisi apa pun. Tidak melupakan mereka dalam doa, memohon ampunan mereka kepada Allah, dalam ketidakhadiran mereka.
  1. Memberi kelapangan kepada mereka di dalam majelis, dengan alasan sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya seorang muslim memiliki hak. Jika dia melihat saudaranya, hendaklah menyingkir lalu memberikan tempat untuknya.” (HR. Al-Baihaqi)
  1. Menanyakan nama dirinya dan nama bapaknya, dengan alasan sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan di dalam al-Syu’ab dengan sanad lemah, “Apabila engkau menjalin persaudaraan dengan seseorang, tanyalah namanya dan nama bapaknya. Sehingga saat dia tidak hadir, engkau bisa menjaganya. Jika ia sakit, engkau menjenguknya. Dan jika dia mati, engkau bersaksi terhadap dirinya.”

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian mencintai saudaranya karena Allah, maka kenalilah dia. Karena hal itu dapat mengabadikan rasa persahabatan dan mengokohkan rasa kasih sayang.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi al-Dunya, al-Imam Ahmad dan al-Bukhari di dalam al-Adab. Diriwayatkan pula oleh perawi Iainnya.]

  1. Menjaga kehormatan mereka di dalam ketidakhadiran mereka sehingga kehormatan mereka tidak tercemar. Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim berpaling dari kehormatan saudaranya yang muslim melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam kelak di hari kiamat.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) 
  1. Menunaikan janji jika engkau berjanji. Menurut ahli Allah, janji adalah hutang, dan menyalahi janji merupakan kemunafikan.

Di zaman sekarang, kaum muslim telah mengidap banyak kekeliruan. Sehingga ada di antara mereka yang saling membenci, tidak menyukai kebaikan bagi yang lain, saling mendengki, menyimpan dendam dalam hati, bermuka manis berhati busuk. Saat bersua tampak senang dan ceria, namun di belakang dia membicarakannya dengan hal yang tidak diridhai Allah dan Rasulullah saw. Mereka itulah orang yang tidak disukai Allah. Allah tidak akan melihat mereka dengan mata kasih-Nya, tidak pula akan menyucikan mereka. Bahkan bagi mereka telah disediakan azab yang sangat pedih, akibat pebuatan buruk yang telah mereka lakukan ,jika mereka tidak bertobat. Kita memohon kepada Allah agar Dia mengamankan kita dari petaka zaman ini. 

Keutamaan Membaca Silsilah

Abu Sa’id Muhammad al-Khadimi berkata, “Barangsiapa membaca silsilah para syaikh setelah membaca doa khatam Khojikan, atau saat menuntunkan zikir, atau saat memulai zikir dan seusai wirid, dia akan memperoleh taraqqi (peningkatan dalam pendakian spiritual) dan mukasyafah (ketersingkapan realitas gaib).”

Penyusun wirid dan zikir khatam Khojikan juga suka membacanya, khususnya ketika ruhaniah meliputinya. Beliau juga membacanya untuk menghilangkan keprihatinan, kesusahan, keresahan, memudahkan pemenuhan kebutuhan dan mengobati orang yang sakit. Selain dibaca, silsilah ini juga kadang ditulis dan dibawa-bawa (serupa wifik). Silsilah ini telah kami kemukanan pada bab terdahulu. [Lihat bab: Menganal Nasab dan Silsilah Guru sampai ke Rasulullah saw.]

Catatan:

Penamaan silsilah ini dibagi dalam beberapa julukan sesuai kurun. Dari Hadhrah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. sampai Syaikh Thayfur bin ‘Isa Abu Yazid al-Busthami qs. dinamakan Shiddiqiyah.

Dari Syaikh Abu Yazid sampai Khwaja Syaikh ‘Abdul Khaliq al-Ghujdawani qs. dinamakan Thayfuriyah.

Dari Khwaja Syaikh Abdul Khaliq sampai Sayyid Syaikh Muhammad Baha’uddin al-Husaini al-Uwaisi al-Bukhari qs. disebut Khwajaganiyah.

Dari Sayyid Syaikh Muhammad Baha’uddin sampai Hadhrah Syaikh ‘Ubaidillah al-Ahrar qs. disebut Naqsyabandiyah, dinisbatkan pada naqsya band, artinya adalah ikatan naqsy. Naqsy adalah gambar cap (stempel) bila dicapkan pada lilin atau lainnya. Ikatan naqsy ini akan tetap utuh, tidak hilang atau lebur. Karena Sayyid Syaikh Muhammad Baha’uddin an-Naqsyabandi qs. berdzikir dengan hati hingga lafadz jalalah mengecap dan timbul di luar hatinya. Karena itu dinamakan Naqsyabandiyah.

Kami pernah mendengar beberapa khalifah Naqsyabandiyah berkata, “Rasulullah Saw. meletakkan tangannya yang mulia di hati Syaikh Baha’uddin ketika Syaikh Baha’uddin dalam kondisi muraqabah. sehingga hatinya hanya bercap.”

Selanjutnya dari Syaikh ‘Ubaidillah sampai Hadhrah Imam Rabbani Syaikh Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi qs. disebut Ahrariyah.

Dari lmam ar-Rabbani sampai Hadhrah Maulana Syaikh Dhiya’uddin Khalid qs. disebut Mujaddidiyah.

Dari Syaikh Dhiya’uddin Khalid sampai sekarang ini dinamakan masa Khalidiyah.

Semoga Allah mengekalkan penyebutannya sampai akhir masa, memuliakan ahlinya dan menyediakan akhir yang baik bagi kita, dengan pangkat dan kedudukan mereka di hadapan-Nya (berkah madad dan syafa’at Guru Mursyid kita, serta sekalian Masyayikh Ahli Silsilah Thariqah Naqsyabandiyah Mujaddidiyah Khalidiyah).[]

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Mursyid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri

Indeks

Tanwirul Qulub

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Mursyid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri