Pikiran

Pikiran didahului dengan mendengar, sadar dan mengingat. Buah dari semua ini adalah ilmu. Karena barang siapa yang mendengar berarti ia sadar; siapa yang sadar akan mengingat; siapa yang ingat akan berpikir; barang siapa berpikir akan mengetahui; barang siapa mengetahui, maka akan mengamalkan jika ilmunya adalah ilmu untuk diamalkan. Namun, jika ilmunya ditujukan untuk ilmu itu sendiri, ia akan merasa bahagia. Dan kebahagiaan menjadi puncak pencarian.

Diambil dari Taman Kebenaran (Raudhatut Thalibin wa ‘Umdatus Salikin), Bab Makna Pikiran, Pendahuluan dan Turunannya, Imam Al-Ghazali, hal. 205

Paragraf di atas dapat dipahami sebagai berikut:

Ilmu dibagi menjadi 2:

1. Ilmu yang diamalkan:

“barang siapa mengetahui, maka akan mengamalkan jika ilmunya adalah ilmu untuk diamalkan”.

Contoh: Mengetahui tata cara dzikir, maka diamalkan.

2. Ilmu yang tidak diamalkan:

(barang siapa mengetahui, maka) … “ilmunya ditujukan untuk ilmu itu sendiri, ia akan merasa bahagia.”

Contoh: Mendengar tentang Qadha & Qadar, lalu menyadari bahwa ia tidak memiliki andil dalam hidupnya, sehingga hilang bebannya dan bahagia.

Note: Kesadaran perlu dilatih dengan amal.

🙏🙏🙏❤️

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Mursyid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri

Indeks

Kumpulan Tulisan

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Mursyid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Tomas
Baitul Fatih, Pangkalan Bun

Abangda Vici
Baitul Fatih, Kediri