Baiat Thariqah di Stasiun

Nur, cahaya, dan futuh, terbukanya hijab dan mata batin akan digapai oleh seorang murid sesuai dengan kadar adab dan akhlaknya kepada Gurunya. Demikianlah yang dituturkan Al-Imam Al-Quthb Al-Habib Ali bin Hasan Al-‘Attas ra. pengarang kitab Syarh Ratib Al-‘Aththas, sebagaimana dikutip Habib Zein bin Smith Madinah dalam karyanya Al-Manhaj As-Sawiy.

Sementara Syaikh “Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dalam karyanya Lawaqih Al-Anwar Al-Oudsiyyah fi Bayan Al-Uhud Al-Muhammadiyyah menceritakan, ketika hendak belajar kepada Gurunya, Imam Nawawi selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, “Ya Allah, tutuplah mataku dari melihat kekurangan Guruku, dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan Guruku kepadaku.” Di samping itu, Imam Nawawi ra. juga pernah mengatakan bahwa durhaka kepada orang tua dosanya bisa terhapus dengan taubat, tapi durhaka kepada Guru tidak ada satu pun yg dapat menghapusnya.

Terkait dengan hal itu Al-Imam Al-Quthb Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad ra. dalam karyanya Adab Suluk Al-Murid, hal. 54, mengatakan, “Sesuatu yg sangat berbahaya bagi seorang murid adalah berubahnya hati Sang Guru kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali Gurunya telah ridha kembali kepadanya.”

Diceritakan, ada seorang santri tengah menyapu tempat belajar milik Gurunya. Tiba² datanglah Nabiyyullah Khidir as. Anehnya santri tersebut tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara kepada Nabi Khidir as. Sampai Sang Nabi berkata kepadanya, “Hai santri, adakah engkau tidak mengenalku?” Maka santri itu menjawab, “Aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas Al-Khidhir as.” Nabi Khidir as. berkata lagi, “Lalu mengapa kamu tidak meminta sesuatu dariku?” Santri itu pun menjawab, “Guruku sudah cukup bagiku, sehingga tidak lagi tersisa satu hajatpun kepadamu.”

Al-Imam Al-Quthb Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad ra. dalam Ghayah Al-Gashdi wa Al-Murad, jilid 2, hal. 177, mengatakan, “Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada Gurunya, “Perintahkan aku ini, berikan aku ini. Karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Sebaiknya ia bersikap seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya.”

Para ulama ahli hikmah mengatakan, barangsiapa yg mengatakan, “Kenapa?” kepada Gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya. Bahkan para ulama hakikat sampai mengatakan bahwa tujuh puluh persen ilmu itu diperoleh karena faktor kuatnya hubungan batin, adab, dan baik sangka antara murid dengan Gurunya.

Terkait adab seorang murid dengan Gurunya, penulis teringat dengan sebuah peristiwa saat mengikuti beberapa agenda acara bersama Maulana Habib Luthfi bin Yahya di Jakarta. Kejadian ini terjadi pada hari Selasa, tanggal 1 Sya’ban tahun 1439 H. Di antara salah satu agenda tersebut adalah bertemu dengan salah satu Guru Mursyid Thariqah ‘Alawiyah, yaitu Al-‘Allamah Ad-Da’i ilallah Al-Habib Abu Bakar Al-Adni bin ‘Ali Al-Masyhur dari Aden Yaman. Saat itu bertepatan dengan momen di mana Habib Abu Bakar Al-‘Adni pertama kali menginjakkan kakinya di bumi nusantara bersama beberapa orang santri, murid, dan keluarganya.

Yg mengesankan, peristiwa bersejarah itu bukan terjadi di masjid, majelis ta’lim, maupun pondok pesantren, tetapi di sebuah ruangan khusus di stasiun kereta api Gambir. Ada beberapa acara yg dilakukan dalam pertemuan yg sangat singkat tersebut, di antaranya: bai’at Thariqah ‘Alawiyah, pemberian kenang²an, pembacaan qashidah, dan doa.

Setelah kedua ulama dunia itu berbincang-bincang cukup panjang tentang Islam, tasawuf, tarekat, kondisi negeri Indonesia dan sebagainya, kemudian Maulana Habib Luthfi bin Yahya memohon kepada Habib Abu Bakar Al-‘Adni untuk memberinya bai’at Thariqah ‘Alawiyah. Mulanya Habib Abu Bakar Al-‘Adni enggan, karena Beliau tahu bahwa Maulana Habib Luthfi bin Yahya adalah tokoh terkenal, populer, dan memiliki banyak Guru dan sanad thariqah.

Satu hal yg mengagumkan dan menjadi pelajaran berharga untuk para santri, termasuk penulis, adalah saat Beliau ditanya oleh Habib Abu Bakar Al-‘Adni, “Siapa saja Guru²mu?” Maka Habib Luthfi langsung menjawab dengan penuh kerendahan hati, “Saya tidak memiliki Guru kecuali yg ada di hadapan saya ini.” Habib Abu Bakar Al-‘Adni pun tersenyum mendengarnya.

Subhanallaah, begitulah akhlak dan adab seorang murid di hadapan Gurunya: selalu menunjukkan ketidaktahuannya bukan kepandaian, kerendahannya bukan ketinggian pangkatnya, kesederhanaannya dan bukan kesombongannya. Baik kesombongan karena memiliki santri yg banyak, pondok yg besar, sanad ng bercabang-cabang atau Guru yg bermacam-macam.

Setelah itu, berlangsunglah pembai’atan Thariqah ‘Alawiyah yg di ikuti oleh seluruh orang yg hadir di ruangan tersebut, termasuk orang² yg mengikuti Maulana Habib Luthfi bin Yahya, seperti di antaranya penulis, Almarhum Mas Fidri Jakarta, Habib Syarif Syihab, dan lain². Dalam suasana yg sangat hening seluruhnya mengikuti dengan khidmat dan penuh khusuk talqin dzikir, bai’at serta doa yg dipimpin langsung oleh Habib Abu Bakar Al-‘Adni.

Suasana semakin mengharukan saat seorang santri senior Habib Abu Bakar Al-‘Adni menangis dengan suara cukup keras dan meneteskan air mata yg berlinang-linang. Ia berkata, “Aku telah menjadi santri dari Habib Abu Bakar Al-‘Adni bin ‘Ali Al-Masyhur selama hampir dua puluh tahun, namun aku belum pernah memperoleh talqin dzikir langsung dari Beliau seperti saat ini. Justru aku baru mendapatkannya di Indonesia, di sebuah stasiun, bersama Maulana Habib Luthfi bin Yahya.”

Seusai acara, Maulana Habib Luthfi bin Yahya diberi hadiah kenang²an beberapa buku karya Habib Abu Bakar Al-‘Adni, yg langsung dibacakannya untuk tabarrukan selama beberapa saat. Setelah itu, Habib Luthfi juga mendapat hadiah sebuah cincin “Aqiq Yamani” berwarna hitam yg langsung dipakaikan di jari Habib Luthfi bin Yahya. Saat menerima hadiah cincin tersebut, mata Maulana Habib Luthfi tampak berlinang air mata. Bukan karena sedih tentunya, tapi karena terharu dan gembira. Beliau mengatakan, “Tidak saya lihat pemandangan di tempat tersebut kecuali seakan-akan saya berada di sebuah majelis, di kota Tarim, bersama para ulama, shalihin, auliya’, dan shahibusy syari’ah.”

Sesaat sebelum berpisah, Maulana Habib Luthfi bin Yahya mendekati Habib Abu Bakar Al-‘Adni, lalu keduanya berjabatan tangan sambil berpelukan. Kemudian Habib Abu Bakar memegang dada Maulana Habib Luthfi bin Yahya sambil membaca doa yg cukup panjang, Habib Luthfi pun mengamini doa tersebut sambil menundukkan kepala Beliau. (Wallaahu a’lam)

diambil dari buku Cahaya Dari Nusantara: Maulana Habib Luthfi bin Yahya hal. 83-86

Beli buku: Cahaya dari Nusantara

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Indeks

Kumpulan Tulisan

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok