14. Larangan Bersikap Munafik

Majelis ke  14
“Larangan Bersikap Munafik”

Pengajian Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs., Jum’at pagi tanggal 7 Dzulqoidah tahun 545 Hijriyah, di Madrasah.

Hai orang munafik! Semoga Allah melenyapkanmu dari muka bumi. Belum cukupkah kemunafikanmu sampai² engkau menggunjing para ulama, wali, dan kaum shaleh dengan memakan daging mereka? Engkau dan teman²mu sama munafiknya. Sebentar lagi belatung² akan memakan lisan dan daging (tubuh) kalian, mencabik² dan merobek² kalian. Bumi akan menjepit kalian, memanggang dan menggoreng kalian.

Tidak ada keberuntungan bagi orang yg berprasangka buruk pada Allah Ta’ala dan hamba²Nya yg saleh serta tawadhu’ menghormati mereka. Mengapa engkau tidak tawadhu’ pada mereka, sementara mereka adalah para pemimpin dan penguasa. Siapa dirimu dibandingkan dengan mereka. Allah Ta’ala menyerahkan penguraian dan pengikatan pada mereka. Berkat mereka langit mencurahkan hujan dan bumi menumbuhkan tumbuhan. Semua makhluk adalah gembala mereka. Masing² seperti gunung yg tidak tergoyahkan dan tergoncangkan oleh badai petaka dan musibah. Mereka tidak goyah dari posisi² pengesaan dan ridha mereka atas Junjungan Allah Ta’ala seraya mencari diri mereka dan selain mereka.

Bertaubatlah pada Allah dan mohonlah ampunan pada-Nya. Akuilah dosa² kalian pada-Nya. Bersimpuhlah di hadapan-Nya. Apa yg kalian miliki? Jikalau kalian mau mengaku, niscaya kalian tidak akan seperti kondisi kalian sekarang ini. Bersikap sopanlah di hadapan Allah Ta’ala sebagaimana engkau berlaku sopan pada senior² kalian. Kalian hanyalah banci dan perempuan jika dibandingkan dengan mereka. Keberanian kalian hanya pada hal² yg diperintahkan nafsu, hawa kesenangan, dan tabiat (hewani) kalian. Padahal keberanian terletak pada agama, atau dengan kata lain dalam memenuhi hak² Allah Ta’ala.

Janganlah meremehkan penuturan kaum bijak dan alim-ulama, sebab penuturan mereka adalah obat dan kata² mereka adalah buah wahyu Allah Ta’ala. Memang sudah tidak ada lagi sosok Nabi yg mewujud di tengah² kalian yg bisa kalian ikuti, namun jika kalian mengikuti para pengikut Nabi Saw. yg bersungguh² dalam mengikutinya, maka kalian seolah² sudah mengikutinya (Nabi). Jika kalian melihat mereka, maka kalian seolah² sudah melihatnya. Temanilah para ulama yg bertakwa, karena pertemanan kalian dengan mereka adalah barakah bagi kalian. Jangan temani ulama yg tidak mengamalkan ilmu mereka, sebab pertemanan kalian dengan mereka malah akan menjadi kesialan bagi kalian.

Jika engkau berteman dengan orang yg lebih besar ketakwaan dan keilmuannya daripadamu, maka pertemananmu dengannya adalah barakah bagi kalian, dan jika engkau, berteman dengan orang yg hanya lebih tua darimu, tanpa ketakwaan dan keilmuan, maka pertemananmu dengannya hanya akan menjadi kesialan bagimu. Beramallah demi Allah Ta’ala dan jangan beramal demi selain-Nya. Tinggalkanlah (suatu larangan) karena-Nya dan bukan karena selain-Nya. Amalan ng didedikasikan untuk selain-Nya adalah kekafiran dan meninggalkan (suatu larangan) karena selain-Nya adalah riya’. Barangsiapa yg tidak mengetahui hal ini dan malah melakukan selain ini, maka ia dalam kegilaan, dan sebentar lagi maut pun akan menjemput dan memotong kegilaan mereka.

Celakalah engkau! Sambunglah komunikasi hatimu dengan Tuhanmu dan putuskan interaksi dengan selain-Nya. Rasulullah Saw. bersabda:

“Sambunglah (hubungan yg terjalin) antara kalian dan Tuhan kalian, niscaya kalian akan bahagia.”

Bersihkanlah hubungan yg terjalin antara kalian dan Allah Ta’ala dengan menjaga hati kaum Shaleh.

Wahai pemuda! Jika engkau berlaku diskriminatif antara orang kaya dan miskin, maka tidak ada keberuntungan bagimu. Santunilah kaum fakir yg penyabar dan mintalah berkah (tabarruk) dengan mereka lewat menemui dan duduk berbincang bersama mereka. Rasulullah Saw. bersabda:

“Orang² fakir yg sabar adalah teman duduk Sang Maha Pengasih di Hari Kiamat.”

Sekarang (di dunia), mereka adalah teman² duduk-Nya dalam tataran hati mereka, dan kelak (di Hari Kiamat) mereka akan duduk bersama-Nya dengan jasad mereka. Merekalah orang² yg hatinya berzuhud meninggalkan keduniaan dan berpaling dari indah perhiasannya. Mereka lebih memilih kefakiran daripada kekayaan dan mereka bersabar dalam menghadapinya. Jika hal ini sempurna telah mereka jalankan, maka Akhirat akan meminang mereka, bahkan menawarkan dirinya pada mereka. Lalu mereka pun berhubungan dengannya (Akhirat), namun ketika mereka telah mendapatkan Akhirat, kemudian menyadari bahwa ia bukan Tuhan, maka mereka pun langsung mundur, membalikkan hati mereka, dan lari terbirit² meninggalkannya karena rasa malunya kepada Allah Ta’ala, bagaimana mereka bisa berdiri dengan selain-Nya dan merasa nikmat serta tenang dengan hal yg baru (al-muhdats). Maka mereka pun segera menyerahkan amal kebaikan dan segala ketaatan yg telah mereka lakukan padanya (Akhirat), untuk kemudian terbang menuju-Nya dengan sayap² kesungguhan dalam mencari Junjungan mereka Allah Ta’ala. Mereka tinggalkan sangkar padanya (Akhirat) dan keluar dari sangkar wujud mereka, lalu terbang menuju Pencipta mereka, mencari Sang Rafiq al-A’la (Teman Tertinggi), mencari Yang Maha Awal dan Akhir, Yang Maha Lahir dan Batin. Sampailah mereka ke menara kedekatan-Nya, menjadi orang² yg disebut Allah sebagai:

وَإِنَّهُمْ عِنْدَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْأَخْيَارِ

“Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar² termasuk orang² pilihan yg paling baik.” (QS. Sad (38): 47)

(Artinya) hati, cita angan dan esensi diri mereka berada di sisi Kami. Hati dan pikiran (albab) mereka ada di sisi Kami, baik di dunia dan Akhirat.

Jika hal ini telah sempuma dijalankan oleh suatu kaum, maka Allah tidak serta merta menghilangkan dunia, juga Akhirat dari sisi mereka, termasuk langit, bumi, dan apa yg di antara keduanya, di samping hati dan nurani mereka. Dia hanya membinasakan mereka dari selain-Nya, untuk kemudian mewujudkan mereka kembali hanya dengan-Nya. Ketika mereka memiliki ketentuan bagian di dunia, maka Dia mengembalikan pada kemanusiaan mereka demi menepati ketentuan bagian mereka agar tidak ada perubahan pada ilmu, preseden (ketetapan terdahulu), dan qadha (Allah). Mereka bersikap santun pada ‘Ilm Allah, qadha dan qadar-Nya. Mereka mengambil apa yg diberikan pada mereka dengan kaki kezuhudan dan keengganan, bukan dengan hawa nafsu dan keinginan.

Ketentuan hukum lahir tetap mereka jaga dalam segala kondisi. Mereka tidak kikir keduniaan pada manusia. Jika mampu, mereka akan mendekatkan diri mereka semua pada Allah Ta’ala. Tidak tersisa sesuatu pun berupa makhluk dan benda² baru (al-muhdatsat) di dalam hati mereka, sekalipun seberat biji sawi. Selama engkau melekat dengan dunia, maka engkau tidak akan pernah terhubung dengan Akhirat, dan selama engkau melekat dengan Akhirat, maka engkau tidak akan terhubung dengan al-Mawla.

Jadilah pengamal (ilmu) dan jangan bersikap masa bodoh, jika engkau tidak ingin termasuk orang yg disesatkan oleh Allah dengan ilmunya sendiri.

Menjalin solidaritas terhadap kaum fakir dengan apa yg engkau miliki adalah termasuk rangkaian membangun komunikasi dengan Allah Ta’ala. Tidakkah engkau tahu bahwa hakikat sedekah adalah transaksi dengan Allah Ta’ala Yang Maha Kaya lagi Mulia. Apakah seorang yg kaya dan mulia mau bertransaksi dengan orang yg pailit? Jika engkau dermakan harta sebiji sawi hanya karena meraih Wajah Allah, maka Allah akan memberimu segunung (pahala). Jika engkau dermakan setetes, maka Allah akan memberimu sesamudra di dunia dan Akhirat. Dia menepati pemberian pahala dan ganjaranmu.

Wahai manusia! Jika kalian berinteraksi dengan Allah Ta’ala, maka ladang kalian akan bersih, sungai² kalian akan mengalir, dan pohon² akan berdaun, berdahan, dan berbuah.

Serukanlah kebaikan, cegahlah kemungkaran, menangkanlah agama Allah Ta’ala, dan jalinlah pertemanan dengan-Nya. Barangsiapa yg menjalin pertemanan dengan-Nya dalam kebaikan, maka persahabatannya akan kekal dalam kesendirian dan keramaian, dalam suka dan duka, serta dalam penderitaan maupun kebahagiaan.

Mintalah kebutuhan²mu pada Allah Ta’ala, jangan pada makhluk-Nya. Jika memang mendesak harus meminta pada makhluk (manusia), maka menghadaplah pada Allah Ta’ala dengan hatimu. Niscaya Dia akan mengilhamimu untuk meminta dari pihak tertentu. Jika engkau diberi ataupun tak diberi, maka semua itu berasal dari-Nya, bukan dari mereka.

Hamba² shaleh pilihan mengeluarkan pikiran tentang rezeki dari hati mereka. Mereka mengetahui bahwa rezeki telah ditentukan pada waktu² yg telah ditentukan. Maka mereka pun tidak mencari-carinya dan malah berdiam di depan pintu Sang Penguasa mereka. Mereka tidak membutuhkan apa pun berkat kemurahan Allah Ta’ala, kedekatan dan ilmu-Nya. Ketika mereka telah melakukan hal ini dengan sempurna, maka mereka pun menjelma menjadi kiblat makhluk dan para khatib yg menyerunya untuk masuk menghadap Sang Penguasa mereka. Mereka memapah hati manusia untuk menuju-Nya dan bekerja keras melepas sikap menerima dan ridha (dengan manusia) dari diri mereka.

Diriwayatkan dari sebagian kalangan mereka – semoga Allah mengasihi mereka – bahwasanya mereka menuturkan, “Hamba² Allah Ta’ala adalah orang² yg penghambaannya pada Allah telah benar² terealisasi. Mereka tidak memohon dunia dan Akhirat pada-Nya, melainkan hanya menginginkan Dia semata, tanpa selain-Nya.” Ya Allah! Bimbinglah semua manusia menuju pintu-Mu. Ini permintaanku selamanya dan keputusannya ada pada-Mu. Ini adalah doa umum yg berpahala. Allah Ta’ala bertindak pada makhluk-Nya menurut Kehendak-Nya. Jika memang hati telah sehat, maka ia akan dipenuhi rahmat dan cinta kasih pada makhluk.

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok