12. Jangan Mencari Selain Allah

Dlm Fathur Rabbani:

Majelis ke  12
“Jangan Mencari Selain Allah”

Pengajian Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, Ahad pagi tanggal 2 Dzulqa’idah tahun 545 Hijriyah

Wahai pemuda! Keinginanmu akan Allah Ta’ala belum benar dan engkau tidak menginginkan-Nya, sebab setiap orang yg mengklaim menginginkan Allah Ta’ala, namun juga mengejar² selain-Nya, maka batallah klaimnya. Pengingin dunia sangatlah banyak di antara manusia, sementara pengingin akhirat adalah minoritas, dan lebih sedikit lagi adalah para pengingin Allah Ta’ala yg bersungguh² dengan keinginannya. Kalangan yg disebut terakhir ini seperti permata merah (al-kibrit al-ahmar), antara sangat sedikit dan tidak ada. Mereka adalah sosok² pilihan yg sangat jarang. Mereka adalah pencabut ritual². Mereka adalah bahan tambang di dalam bumi yg terdapat raja di dalamnya, serta bahan bakar negara dan manusia. Berkat mereka, bala cobaan tertolak dari makhluk. Berkat mereka juga, manusia dihujani, dan karena mereka, Allah menghujani langit dan menumbuhkan bumi.

Pada permulaan perilaku, mereka lari dari satu bukit ke bukit lain, dari satu negeri ke negeri lain, dan dari satu kharrah (pepuingan rumah) ke kharrah lain. Manakala identitas mereka diketahui, maka mereka akan pindah tempat. Mereka tidak memperdulikan semua yg selain Allah, dan menyerahkan kunci² dunia (kekayaan mereka) pada penginginnya (ahl ad-dunya). Mereka terus bersikap demikian hingga terbangun benteng di sekeliling mereka, sungai² mengalir ke hati mereka, dan tentara² Allah Ta’ala mengelilingi mereka. Masing² tentara itu mendapat tugas mengawal, sehingga mereka pun termuliakan dan terjaga. Merekalah yg mengendalikan makhluk, dan semua itu mereka lakukan dari belakang akal mereka. Saat itulah, keterbukaan mereka atas makhluk (manusia) menjadi sebuah kewajiban (faridlah). Mereka menjadi layaknya dokter, sementara para manusia adalah pasien mereka.

Celakalah! Kau mengaku sebagai salah satu dari mereka. Lalu apa tanda² mereka yg ada padamu? Mana tanda kedekatan Allah Ta’ala dan kelembutan-Nya? Pada posisi (manzilah) mana kedudukanmu di sisi Allah, juga pada maqam mana? Siapa nama dan laqab (julukan)mu di (alam) al-Malakut al-A’la? Mengapa pintumu selalu tertutup setiap malam? Makanan dan minumanmu yg mubah adalah halal mutlak? Kau iringi dunia, akhirat, atau kedekatan Allah Ta’ala? Siapa teman penyandingmu dalam kesendirian? Siapa teman dudukmu dalam kesepian? Hai pendusta! Temanmu dalam kesendirianmu adalah nafsumu, setan, hawa kesenangan, dan angan keduniaanmu, sedang temanmu dalarn keramaian adalah setan² manusia yg merupakan penyanding² bejat dan sahabat² penyebar isu.

Maqam ini tidak hadir (pada diri manusia) dengan halusinasi dan semata klaim. Penuturanmu dalam hal ini adalah igauan yg tidak bermanfaat apa² bagimu. Engkau harus diam dan berlaku bodoh di hadapan Allah Ta’ala, serta meninggalkan kekurangajaran. Jika memang mendesak harus bicara dalam masalah ini, maka usahakan penuturanmu dilandasi orientasi tabarruk dengan maqam ini dan dengan mengingat Pemiliknya. Jangan hanya mengklaimnya dengan laku lahirmu, akan tetapi hatimu kosong melompong darinya. Setiap gerak lahir yg tidak di ikuti gerak batin adalah igau kesia-siaan. Tidakkah pernah kau dengar sabda Rasulullah Saw:

“Tidaklah puasa bagi orang yg masih tetap memakan daging² manusia (menggunjing).”

Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa puasa bukanlah sekadar meninggalkan makan, minum, dan hal² yg bisa membatalkannya saja, akan tetapi juga ditambah keharusan meninggalkan dosa.

Hindari menggunjing orang (ghibah), sebab ia memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Hanya orang beruntung saja yg tidak membiasakannya (ghibah), dan barangsiapa yg dikenal luas melakukan hal tersebut, maka akan kukatakan di hadapan khalayak manusia bahwa, “Aku mengharamkannya!”

Hindari juga memandang dengan syahwat, sebab ia akan menanamkan benih maksiat di dalam hati kalian, dan akhirnya juga tidak baik di dunia dan akhirat. Hindari pula bersumpah palsu, sebab ia bisa menyulap rumah² menjadi padang pasir, dan menghilangkan barakah harta benda dan agama.

Celakalah! Engkau mendermakan hartamu dengan sumpah palsu dan kau pailitkan agamamu. Jika masih memiliki akal, mestinya engkau mengetahui bahwa sumpah palsu adalah kerugian itu sendiri. Kaukatakan, “Demi Allah Ta’ala! Tidak ada di seluruh negeri ini ladang yg seperti ini, juga milik siapa pun juga!” “Demi Allah! Ia menyamakan ini dan ini!” “Demi Allah! Aku harus begini dan begini!” Padahal kau berdusta dengan semua sumpah ini, lalu kau bersaksi palsu dan bersumpah demi Allah bahwa kau berkata benar, maka dalam waktu dekat akan datang kepadamu kebutaan dan penyakit kronis.

Bersikap sopanlah, niscaya Allah akan mengasihimu di pelukan tangan-Nya. Barangsiapa yg tidak bertindak menurut tata krama syara’, maka ia akan dihukum oleh api Neraka kelak di Hari Kiamat.

Seseorang bertanya, “Jadi, orang yg melakukan kelima tindakan ini, atau sebagiannya, kita hukumi telah batal puasa dan wudhunya?” Beliau menjawab, “Puasa dan wudhunya tidak batal. Ini hanya sekadar nasihat, peringatan, dan penakut-nakutan saja!”

Wahai pemuda! Bisa jadi besok datang dan kalian telah hilang dari permukaan bumi, atau bisa juga pada jam lain. Lalu apa yg kau buat dengan kelalaian ini. Betapa keras hati kalian? Batu cadaskah kalian? Aku dan juga orang lain telah berulang kali menuturi kalian, namun kalian tetap saja berbuat demikian. Al-Qur’an telah dibaca, begitu juga kbabar² Nabi dan sejarah² kaum terdahulu, namun dirimu tetap tidak berubah. Kau tidak berusaha menjauhi dan lakumu pun tidak berubah. Setiap orang yg menetap di sebuah kawasan, namun tidak mengambil nasihat di dalamnya, maka ia adalah penduduk yg paling buruk.

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok