HIkmah 77

Hikmah 77 dlm Al-Hikam:

“Sanksi yg Ditangguhkan Bisa Jadi merupakan Istidraj (Sanksi yg Ditimpakan secara Berangsur-angsur dan Tanpa Disadari)”

مِنْ جَهْلِ المُرِيدُ اَنْ يَنسِىء الاََدَبَ، فَتُوءَخِرُ العُقـُوْبَة ُ عَنْهُ فَيَقوُلُ، لَوْكاَنَ هٰذَا سُوْءَ اَدَبٍ لَقطَعَ الاِمداد وَاَوجب الاِبعادُ، فقد يقطعُ المَدَدُ عنهُ مِنْ حيثُ لاَ يَشْعُرُ ولَولَمْ يَكُنْ الاَ منعَ المَزِيدِ وقدْ يُقاَمُ مقاَمَ البُعْدِ وهُوَ لاَيَدْرِي ولَولَمْ يَكُنْ الاَّ اَنْيُخَلِّيَكَ وَماَتُرِيْدُ

Di antara tanda kebodohan seorang murid adalah jika bersikap tidak sopan, tetapi hukuman untuknya ditangguhkan, ia justru berkata, “Jika ini adalah sikap tidak sopan, tentu aku sudah tidak ditolong lagi dan dijauhi.” Bisa jadi, ia memang sudah tidak ditolong lagi. Namun, ia tidak menyadarinya karena mungkin bentuknya hanya berupa tidak ditambahnya pertolongan. Bisa jadi pula sebenarnya ia telah dijauhi. Namun, ia tidak menyadarinya karena mungkin bentuknya hanya berupa pembiaran dirinya dengan keinginannya.

Putusnya bantuan dari Allah adalah awal dari hijab. Jadi apabila murid sudah mulai terhijab sehingga ibadahnya tidak bisa khudhur kepada Allah, itu menjadi sebab gugurnya murid dari perhatian Allah, dan akan datang hijab dalam hatinya.

Syaikh Abul Qasim Junaid al-Baghdadi qs. berkata: “Ketika aku sedang menunggu jenazah bersama orang² banyak yg akan di shalatkan di masjid As-Syuniziyah, tiba² ada seorang pengemis miskin meminta-minta, maka dalam hatiku berkata, ‘Andaikan orang itu bekerja sedikit² supaya tidak meminta-minta, tentu akan lebih baik baginya’. Dan ketika pada malam harinya, aku akan mengerjakan wirid yg biasa aku kerjakan pada tiap malam, terasa sangat berat dan tidak dapat berbuat apa², sambil duduk akhirnya tertidurlah mataku. Tiba² aku bermimpi, orang² datang membawa orang miskin itu di atas talam (baki), dan orang² itu berkata kepadaku, ‘Makanlah daging orang ini sebab engkau telah meng-ghibah padanya’. Maka langsung aku terbangun dan sadar, dan aku tidak merasa ghibah padanya, hanya tergerak dalam hati, tetapi aku diperintahkan meminta halal kepada orang itu, maka tiap hari aku berusaha mencari orang itu, akhirnya bertemu di tepian sungai sedang mengambil daun²an yg rontok untuk dimakan dan ketika aku memberi salam kepadanya, langsung ia berkata, ‘Apakah kamu akan mengulangi lagi wahai Abul Qasim?’ Jawabku, ‘Tidak’. Maka ia berkata, ‘Semoga Allah mengampuni kami dan kamu’.”

Tanda² seseorang mendapat taufik itu ada tiga:

1.Mudah mengerjakan amal kebaikan, padahal ia tidak berniat dan bukan tujuannya.

2.Berusaha untuk berbuat maksiat, tetapi selalu terhindar dari padanya.

3.Selalu terbuka baginya kebutuhan dan hajat kepada Allah Ta’ala.

Sedangkan tanda² seseorang yg dihinakan oleh Allah juga ada tiga:

1.Sulit melakukan ibadah dan taat, padahal ia sudah berusaha sungguh².

2.Mudah terjerumus ke dalam maksiat, padahal ia berusaha menghindarkannya.

3.Tertutupnya pintu kebutuhan atau hajat kepada Allah, sehingga merasa tidak perlu berdoa dalam segala hal.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Tuhan telah mendidik aku sebaik-baik didikan dan menyuruhku melakukan akhlak yg sebaik-baiknya.”

Dalam satu ayat:

Ambillah hati mereka dengan suka memaafkan, dan anjurkan perbuatan² yg baik dan mudah, abaikanlah orang² yg masih bodoh, (jangan dituntut) mereka yg masih bodoh itu.

Seorang sufi kehilangan anak, hingga tiga hari tidak mendapat beritanya, maka ada orang yg berkata kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak minta kepada Allah, supaya mengembalikan anak itu kepadamu?’ Jawab sang sufi, ‘Tantanganku terhadap putusan Allah itu akan lebih berat bagiku dari pada hilangnya anak.’

Syaikh Abu Sulaiman ad-Darany qs. berkata: “Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as., ‘Sesungguhnya Aku menjadikan syahwat hanya untuk orang² yg lemah dari para hamba-Ku, karena itu waspadalah jangan sampai hatimu tertawan oleh syahwat itu, sebab seringan-ringan siksa untuknya ialah Aku cabut manisnya rasa cinta kepada-Ku dari dalam hatinya.”

Dan dalam bagian lain Allah berfirman kepada Nabi Dawud as., “Wahai Dawud! Berpeganglah pada ajaran-Ku, dan tahanlah nafsumu untuk ketenangan dirimu, jangan sampai engkau tertipu daripadanya, niscaya engkau terhijab dari cinta-Ku, putuskan syahwatmu untuk Aku, sebab Aku hanya memberikan syahwat itu untuk hamba-Ku yg lemah, untuk apakah orang² yg kuat akan memuaskan syahwat. Padahal ia akan mengurangi kelezatan bermunajat kepada-Ku, sebab Aku tidak merelakan dunia ini untuk kekasih-Ku, bahkan Aku bersihkan ia dari padanya.

Wahai Dawud! Jangan engkau mengadakan antara-Ku dengan engkau suatu alam yg dapat menghijab engkau karena mabuk pada alam itu daripada cinta kepada-Ku, mereka hanya perampok di tengah jalan terhadap hamba-Ku yg baru berjalan. Usahakanlah untuk meninggalkan syahwat dengan banyak puasa.

Wahai Dawud! Cintailah Aku dengan memusuhi hawa nafsumu, dan tahanlah dari syahwatnya, niscaya engkau melihat kepada-Ku, dan engkau akan dapat melihat yg terbuka antara-Ku dengan engkau’.”

Syaikh Ibrahim bin Adham ra. berkata: ”Seseorang tidak akan mencapai derajat orang² shaleh, kalau tidak melalui enam rintangan:

1. Menutup pintu kemuliaan, membuka pintu kehinaan.

2. Menutup pintu nikmat, membuka pintu kesulitan.

3. Menutup pintu istirahat, membuka pintu perjuangan.

4. Menutup pintu tidur, membuka pintu jaga.

5. Menutup pintu kekayaan, membuka pintu kemiskinan.

6. Menutup pintu harapan, membuka pintu siaga menghadapi maut.”

Syaikh Ibrahim al-Khawwash ra. berkata: ”Ketika aku di tengah perjalanan tiba² merasa lapar, sehingga sampai di kota Array, maka aku berkata dalam hati, ‘Di sini aku banyak sahabat, maka jika aku bertemu tentu mereka akan menjamuku, maka ketika aku telah masuk ke dalam kota, tiba² aku melihat perbuatan² mungkar (maksiat), dan aku merasa berkewajiban mencegah kemungkaran. Tiba² aku ditangkap dan dipukuli oleh orang².’ Sehingga aku bertanya-tanya dalam hati, ‘Mengapa aku dipukuli oleh semua orang padahal aku ini lapar.’ Tiba2 di ingatkan dalam hatiku, ‘Engkau mendapat hukuman itu karena engkau mengharap dijamu oleh sahabat²mu’.”

Firman Allah dalam salah satu wahyu-Nya (kepada Nabi Dawud as.): ”Sesungguhnya seringan-ringan siksa-Ku terhadap orang alim jika ia mengutamakan syahwatnya daripada cinta-Ku, maka Aku haramkan daripada merasakan kelezatan bermunajat kepada-Ku.”

Sangat penting bagi murid:

Imam al-Qusyairy berkata: Siapa saja yg menjadi murid salah satu guru sufi/tarekat, lalu menentang gurunya dengan hati, berarti dia sudah merusak perjanjiannya menjadi murid, dan murid tersebut harus bertobat.

Apabila ada seorang salik yg bermaksud wushul, tapi tidak bisa wushul itu disebabkan menentang pada gurunya, karena guru sufi/tarekat (yg sudah menetapi syarat) itu menjadi penunjuk jalan bagi para murid.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Bersikap tidak sopan bisa terjadi terhadap Allah, guru, manusia, bisa pula terhadap diri sendiri. Di antara contoh bersikap tidak sopan terhadap Allah adalah melanggar perintah-Nya, mentaati aturan selain aturan-Nya, mengeluhkan hukum²Nya yg dianggap memberatkan, dan mengadukan penderitaannya kepada makhluk. 

Di antara contoh bersikap tidak sopan terhadap guru adalah membangkang dan tidak mau menerima nasehat dan saran mereka. 

Sebagian orang berkata, ”Membangkang kepada guru tidak ada tobatnya.” 

Bahkan, ada yg mengatakan, ”Siapa yg berkata ‘mengapa’ kepada gurunya maka ia tidak akan pernah beruntung.”

Imam al-Qusyairy berkata, ”Siapa yg menemani seorang guru, namun kemudian membangkang dalam hatinya, berarti ia telah melanggar akad persahabatan itu dan harus segera bertobat.” 

Jika seorang salik mendapati dirinya belum juga sampai ke tujuannya, hendaknya ia sadar bahwa hal itu mungkin disebabkan oleh pembangkangannya secara diam² terhadap guru²nya. Karena guru ibarat duta bagi para murid di hadapan Tuhan.  

Di antara contoh bersikap tidak sopan terhadap diri sendiri adalah mengedepankan pemenuhan “syahwat yg di halalkan” daripada pemenuhan kewajiban yg sudah ditetapkan Allah. 

Orang yg bersikap tidak sopan bisa saja tidak segera dihukum. Misalnya, tidak langsung diberi penyakit atau petaka, baik yg menimpa tubuhnya maupun batinnya. Namun, Allah akan menghentikan bantuan kepadanya dan menjauhinya. Itulah awal mula terhijabnya ia dari Allah. 

Saat seorang murid tidak lagi mendapat pertolongan dan rahmat Allah ia akan jatuh di hadapan Allah dan terjuntailah tirai hijab di hatinya. Kerinduannya kepada Allah akan berganti menjadi keterasingan. Demikian pula saat seorang murid dijauhi-Nya, akan terurailah hijab yg menutupi dan menghalangi hatinya untuk masuk ke hadirat-Nya. Wallaahu a’lam

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok