Hikmah 75

Hikmah 75 dlm Al-Hikam:

مَنْ لَمْ يَشكُرِ النِّعَمِ فَقدْ تـَعَرَّضَ لِزَوَالِهاَ ومن شَكرَهاَ فقد قـَيَّدَ بِعِقاَلهاَ

Barangsiapa yg tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti berusaha untuk menghilangkan nikmat itu, dan barangsiapa mensyukuri nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yg kuat.

Mensyukuri nikmat itu berarti menetapkan dan menambah nikmat itu, firman Allah Ta’ala:

“Lain syakartum la adziydannakum.”

(Kalau kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat bagimu).

Bersyukur itu ada kalanya dengan hati, yaitu sadar kalau kenikmatan itu semua datang dari Allah, firman Allah Ta’ala:

“Wamaa bikum min ni’matin faminallahi.”

(Tiada terjadi suatu nikmat bagimu, maka itu dari Allah).

Ada kalanya dengan lisan, yaitu dengan menceritakan nikmat itu pada orang lain. Firman Allah Ta’ala:

“Wa ammaa bini’mati Rabbika fahaddits.”

(Adapun terhadap nikmat pemberian Tuhanmu, maka pergunakanlah/ceritakan dan sebarkan).

Dan ada kalanya dengan anggota badan, yaitu dengan taat kepada Allah sehingga jangan sampai anggota tubuh digunakan untuk melakukan perkara yg tidak diridhoi Allah.

Nu’man bin Basyir ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda:

“Barangsiapa yg tidak mensyukuri nikmat yg sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yg banyak, dan barangsiapa yg tidak berterima kasih kepada sesama manusia berarti tidak dapat bersyukur (berterima kasih) kepada Allah.”

Syukur ialah merasa dalam hati, dan menyebut dengan lidah, dan mengerjakan dengan anggota badan.

Syaikh Junaid al-Baghdadi qs. berkata:

“Ketika aku berusia tujuh tahun dan hadir dalam majelis As-Sari as-Saqathi, tiba² aku ditanya:

Apakah arti syukur?

Jawabku: Syukur ialah tidak menggunakan suatu nikmat yg diberikakan Allah untuk berbuat maksiat.

As-Sari berkata:

Aku khawatir kalau bagianmu dari karunia Allah hanya dalam lidahmu belaka.

Al-Junaid berkata:

Maka karena kalimat yg dikeluarkan oleh As-Sary itu aku selalu menangis, khawatir kalau benar apa yg dikatakan oleh As-Sary itu.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Syukur nikmat akan membuat nikmat itu abadi dan semakin bertambah. Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim (14): 7)

Sementara itu, kufur nikmat akan menyebabkan nikmat itu hilang. Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yg ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d (13): 11)

Artinya, jika mereka mengubah ketaatan mereka, yaitu dengan tidak mensyukuri nikmat yg diberikan-Nya, Allah tidak akan memberi mereka kebaikan dan kemurahan-Nya. 

Syukur nikmat bisa diwujudkan dengan hati, yaitu kita sadar bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Allah Ta’ala berfirman, ”Dan apa saja nikmat yg ada pada kamu maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl (16): 53)

Bisa pula diwujudkan dengan lisan, yaitu dengan membicarakan nikmat tersebut. Allah Ta’ala berfirman, ”Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu siarkan ( bicarakan).” (QS. Adh-Dhuha (93): 11)

Bisa juga dilakukan dengan anggota tubuh, misalnya dengan menggunakannya di jalan ketaatan kepada Allah dan menjauhkannya dari hal yg tidak diridhai-Nya. Wallaahu a’lam

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok