Hikmah 73

Hikmah 73 dlm Al-Hikam:

أنْتَ حُرُّمِمَّا اَنتَ عَنْهُ أيِسٌ وَعَبْد ٌ لمَا اَنتَ لهُ طاَمعُ

Engkau bebas merdeka dari segala sesuatu yg tidak engkau butuhkan, dan engkau tetap menjadi hamba kepada apa yg engkau inginkan.

Hikmah ini menunjukkan hinanya tamak, dan baiknya qana’ah.

Andaikan tidak ada keinginan² yg palsu dan sifat tamak, pasti orang akan bebas merdeka tidak akan diperbudak oleh sesuatu yg tidak berharga.

العبد حرّماقنع ٭ والحرُّعبد ٌماطمع

Budak itu merdeka/bebas selagi dia menerima pembagian dari Allah (qana’ah) *orang merdeka itu menjadi budak selagi dia tamak.

Qana’ah yaitu: tenangnya hati karena tidak adanya sesuatu yg sudah biasa ada. Dan qana’ah itu awal dari pada sifat zuhud.

Suatu hikayat:

Burung elang (rajawali) yg terbang tinggi di angkasa raya, sulit orang akan dapat menangkapnya, tetapi ia melihat sepotong daging yg tergantung pada perangkap, maka ia turun dari angkasa oleh karena sifat tamaknya (rakusnya), maka terjebaklah ia dari perangkap itu sehingga ia menjadi permainan anak² kecil.

Fateh al-Maushily ketika ditanya tentang ibarat orang yg menurutkan nafsu syahwat dan sifat tamaknya (rakusnya), sedang tidak jauh dari tempat itu ada dua anak sedang makan roti, yg satu hanya makan roti, sedang yg kedua makan roti dengan keju, lalu yg makan roti ingin yg keju, maka ia berkata kepada temannya:

“Berilah kepadaku keju.” Jawab temannya: “Jika engkau suka jadi anjingku, aku beri keju.”

Jawab anak yg meminta: ‘Baiklah.’

Maka di ikatlah lehernya dengan tali sebagai anjing dan dituntun.

Berkata Fateh kepada orang yg bertanya: “Andaikata anak itu tidak tamak (rakus) pada keju, niscaya ia tidak menjadi anjing.”

Suatu kejadian, ada seorang murid didatangi oleh Gurunya, maka ia ingin menjamu Gurunya, maka ia keluarkan roti tanpa lauk pauk, dan tergerak dalam hati si murid sekiranya ada lauk pauknya tentu lebih sempurna. Dan setelah selesai Sang Guru makan apa yg di hidangkan itu, berdirilah Sang Guru dan mengajak si murid keluar tiba² ia dibawa ke penjara untuk ditunjukkan berbagai macam orang yg dihukum, baik yg dirajam atau dipotong tangannya dan lain², lalu berkatalah Sang Guru kepada muridnya:

Semua orang² yg engkau lihat itu, yaitu orang yg tidak sabar makan roti saja tanpa lauk pauk.

Ada seorang yg baru dikeluarkan dari penjara, yg masih terikat kakinya dengan rantai, ia meminta-minta sepotong roti kepada seseorang, maka berkatalah orang tempatnya meminta:

Andaikata sejak dulu engkau mau menerima sepotong roti, maka tidak akan terikat kakimu itu.

Dalam hikayat lain dikisahkan:

Ada seseorang melihat seorang hakim sedang makan buah yg jatuh ke sungai, maka orang itu berkata, ‘Wahai bapak hakim, sekiranya engkau mau bekerja pada Baginda Raja tentu engkau tidak sampai makan buah yg jatuh ke dalam sungai.

Lalu dijawab oleh sang hakim:

Andaikan engkau suka menerima makanan ini, tidak perlu menjadi budaknya Raja.

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Ini adalah dalil lain yg menunjukkan betapa buruknya ketamakan dan terpujinya keengganan terhadap para makhluk dan sikap qana’ah terhadap rezeki yg sudah dibagi. 

Ketamakan pada sesuatu sama saja dengan penghambaan terhadap sesuatu itu. Sementara itu, keengganan terhadap sesuatu adalah bentuk kebebasan dari sesuatu itu. Keengganan itu membuktikan ketidaktertarikan dan ketidakbutuhan hati terhadap sesuatu itu. Orang yg tamak akan menjadi budak, sedangkan orang yg enggan (terhadap sesuatu) akan menjadi orang yg merdeka. 

Oleh sebab itu, dikatakan, ”Seorang budak akan merdeka selama ia puas. Seorang yg merdeka akan menjadi budak selama ia tamak.” 

Sifat qana’ah adalah sikap tenang saat hilangnya sesuatu yg biasa ada. Ini adalah awal langkah zuhud. Wallaahu a’lam

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok