Hikmah 59

Hikmah 59 dlm Al-Hikam:

“Tanda Hati Yang Mati”

مِنْ علاَماَتِ مَوْتِ القلبِ عَدَمُ الحُزنِ على ماَ فاَتكَ منَ المُواَفَقاَتِ وَتركُ النَّدَمِ علىَ ما فَعلتهُ من الزَّلاَّتِ.

Sebagian dari pada tanda matinya hati, yaitu jika tidak merasa sedih [susah] karena tertinggalnya suatu amal [perbuatan] kebaikan [kewajiban], juga tidak menyesal jika terjadi berbuat pelanggaran dosa.

Pada hikmah sebelumnya diterangkan supaya jangan meninggalkan dzikir walaupun hati belum bisa hadir ketika berdzikir. Begitu juga dengan ibadah dan amal kebaikan. Janganlah meninggalkan ibadah lantaran hati tidak khusyuk ketika beribadah dan jangan meninggalkan amal kebaikan lantaran hati belum ikhlas dalam melakukannya. Khusyuk dan ikhlas adalah sifat hati yg sempurna. Dzikir, ibadah dan amal kebaikan adalah cara² untuk membentuk hati agar menjadi sempurna. Hati yg belum mencapai tahap kesempurnaan dikatakan hati itu berpenyakit. Jika penyakit itu dibiarkan, tidak diambil langkah mengobatinya, pada satu masa, hati itu mungkin akan mati. Matinya hati berbeda dengan mati tubuh badan. Orang yg mati tubuh badan ditanam di dalam tanah. Orang yg mati hatinya, tubuh badannya masih sehat dan dia masih berjalan ke sana kemari dimuka bumi ini.

Manusia menjadi istimewa karena memiliki hati ruhani. Hati mempunyai nilai yg mulia yg tidak dimiliki oleh akal fikiran. Semua anggota dan akal fikiran menuju kepada alam benda sementara hati ruhani menuju kepada Pencipta alam benda. Hati mempunyai persediaan untuk beriman kepada Tuhan. Hati yg menghubungkan manusia dengan Pencipta. Hubungan dengan Pencipta memisahkan manusia dari daerah kehewanan dan mengangkat derajat mereka menjadi makhluk yg mulia. Hati yg cerdas, sehat dan dalam keasliannya yg murni, berhubung erat dengan Tuhannya. Hati itu membimbing akal fikiran agar akal fikiran dapat berfikir tentang Tuhan dan makhluk Tuhan. Hati itu membimbing juga kepada anggota tubuh badan agar mereka tunduk kepada perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Hati yg bisa mengalahkan akal fikiran dan anggota tubuh badannya serta mengarahkan mereka berbuat taat kepada Allah adalah hati yg sehat.

Dalam suatu hadits Rasulullah Saw.  bersabda:

“Barangsiapa yg merasa senang oleh amal kebaikannya, dan merasa sedih/menyesal atas perbuatan dosanya, maka ia seorang mukmin.”

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: ”Ketika kami dalam majelis Rasulullah Saw., tiba² datang seseorang yg turun dari kudanya dan mendekati Rasulullah Saw.  sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya telah melelahkan kudaku selama sembilan hari, maka saya jalankan terus menerus selama enam hari, tidak tidur di waktu malam dan puasa pada siang hari, hingga lelah benar kuda ini, demi hanya untuk menanyakan kepadamu dua masalah yg telah merisaukan hatiku hingga tidak dapat tidur’. Rasulullah Saw.  bertanya, ‘Siapakah engkau?’ Jawab orang itu, ‘Zaidul-Khoir’ Berkata Rasulullah Saw., ‘ Wahai Zaidul-Khoir, bertanyalah kemungkinan sesuatu yg sulit, yg belum pernah ditanyainya’ . Berkata Zaidul-Khoir, ‘Saya akan bertanya kepadamu tanda² orang yg disukai dan yg dimurkai?’ Jawab Rasulullah Saw., ‘Untung, untung, bagaimanakah keadaanmu saat ini wahai Zaid?’ Jawab Zaid, ‘Saya saat ini, suka kepada amal kebaikan dan orang² melakukan amal kebaikan, bahkan suka akan tersebarnya amal kebaikan itu, dan bila aku ketinggalan merasa menyesal dan rindu pada kebaikan itu, dan bila aku berbuat amal sedikit atau banyak, tetap saya yakin pahalanya’. Jawab Rasulullah Saw., ‘Ya itulah dia, andaikan Allah tidak suka kepadamu, tentu engkau disiapkan untuk melakukan yg lain daripada itu, dan tidak peduli di jurang yg mana engkau akan binasa’. Berkata Zaid, ‘Cukup wahai Rasulullah, lalu ia kembali ke atas kudanya, kemudian ia berangkat pulang’.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Tanda hidupnya hati ialah memancarnya cahaya Ilahi dari hatimu meskipun kau belum mendapatkan cahaya itu karena tebalnya hijabmu. 

Kesedihanmu atas ketaatan yg terlewatkan dan penyesalanmu atas kesalahan yg telah kau lakukan atau kebahagiaanmu atas amal² baikmu dan kesedihanmu atas amal² burukmu membuktikan bahwa kau termasuk ahli iradah (orang yg dikehendaki dan dicintai Allah). Oleh karena itu, giatlah dalam beramal shaleh dan jangan malas!

Wallaahu a’lam

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok