Hikmah 56

Hikmah 56 dlm Al-Hikam:

“Zahid Dan Roghib”

ماَقـَلَّ عَملٌ بَرَزَ من قلْبٍ زاَهِدٍ ولاكَثـُرَ عملٌ بَرَزَ من قلبٍ رَاغِبٍ

“Tidak dapat dianggap kecil/sedikit amal perbuatan yg dilakukan dengan hati yg zuhud, dan tidak dapat dianggap banyak amal yg dilakukan oleh seseorang yg cinta dunia.”

Kita telah diajarkan keluar dari alam kepada Pencipta alam, berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Kita diajar supaya memilih sahabat yg dapat membangkitkan semangat untuk berjuang pada jalan Allah dan berbuat taat kepada-Nya. Hikmah ini memberi gambaran apakah hijrah ruhani itu akan berhasil atau gagal. Alat untuk menilainya ialah dunia. Bagaimana kedudukan dunia di dalam hati akan mempengaruhi perjalanan keruhanian.

Ukuran amal itu menurut hati orang yg beramal, apabila amal itu dilakukan orang yg zuhud (hatinya tidak tergantung pada dunia), walaupun kelihatan sedikit akan tetapi hakikatnya banyak. Karena zahid itu amalnya bisa selamat dari penyakit yg menjadikan amalnya tertolak, seperti riya’ mencari kepentingan dunia, tidak karena Allah, dll. Sebaliknya amal orang yg roghib (cinta/rakus dunia) amalnya tidak selamat dari penyakit² tersebut.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata: “Tumpahkan semua hasrat keinginanmu itu kepada usaha untuk diterimanya amal perbuatanmu, sebab tidak dapat dianggap kecil/sedikit amal perbuatan yg diterima oleh Allah.”

Allah berfirman: “Innamaa yataqobbalullaahu minal muttaqiina” [Sesungguhnya Allah hanya menerima amal perbuatan dari orang yg bertakwa], ikhlas baginya, dan tepat menurut ajaran-Nya.

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: “Dua raka’at yg dilakukan oleh seorang ‘alim yg mengerti dan ikhlas [tidak tamak/rakus kepada dunia], lebih baik dari ibadah orang² ahli ibadah sepanjang masa tapi masih cinta dunia.”

Abu Sulaiman ad-Darani ra. bertanya kepada Ma’ruf al-Karkhi ra.: “Mengapakah orang² itu kuat taat sampai sedemikian rupa banyaknya? Jawabnya, ‘Karena mereka telah membersihkan hati mereka dari pada cinta dunia, andaikata masih ada sedikit cinta dunia, tidak akan diterima dari mereka amal perbuatan itu’.”

Seorang sholeh mengeluh kepada Abu Abdillah al-Qurasyi ra., bahwa ia telah berbuat berbagai amal kebaikan, tetapi belum bisa merasakan kelezatan amal kebaikan itu dalam hatinya. Jawab Abu Abdullah al-Qurasyi ra., ”Karena engkau masih memelihara putri iblis, yaitu kesenangan dunia, dan lazimnya seorang ayah itu selalu berziarah kepada putrinya.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Seorang zahid adalah orang yg tidak bergantung pada dunia. Amalnya, walaupun secara kasat mata tampak sedikit, secara maknawi amatlah banyak karena terbebas dari cacat dan kekurangan yg membuat amal itu tidak diterima, seperti berniat riya’, pura² di hadapan manusia, mengharap keuntungan duniawi, atau tanpa kehadiran hati di hadapan Tuhan. 

Sementara itu, amal yg bersumber dari hati yg tamak terhadap dunia, walaupun secara kasat mata amal itu terlihat banyak, secara maknawi amal itu dianggap sedikit karena tidak terbebas dari hal² yg mengotori dan mengurangi nilainya. 

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra., ”Dua raka’at (shalat sunnah) dari seorang zahid yg ‘alim lebih baik daripada ibadah para ‘abid dan mujtahid sepanjang hidup mereka.”

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok