Hikmah 50

Hikmah 50 dlm al-Hikam:

“Husnudzan Terhadap Allah”

اِن لَمْ تُحْسِنْ ظَنـَّكَ بِهِ لاَجْلِ حُسنِ وَصْفِهِ فَحَسِّنْ ظَنـَّكَ بهِ لِوُجوُدِ مُعَامَلتِهِ مَعَكَ فَهَلْ عَوَّدَكَ الاَّ حَسَناً اَسدىَ اِليكَ الاَّ مَنَناً

“Jika engkau tidak bisa berbaik sangka [husnudzan] terhadap Allah Ta’ala karena Sifat² Allah yg baik itu, berbaik sangkalah kepada Allah karena karunia pemberian-Nya kepadamu. Tidakkah selalu ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu?”

Manusia dalam hal husnudzan kepada Allah itu ada dua golongan:

1. Golongan khas-shah, yaitu orang yg berhusnudzan kepada Allah karena melihat Sifat² Allah yg bagus dan tinggi.

2. ‘Ammah, yaitu orang yg berhusnudzan kepada Allah karena macam²nya nikmat Allah dan anugrah dari Allah yg tidak bisa terhitung.

Apabila engkau tidak dapat berbaik sangka terhadap Allah, karena Allah itu bersifat: Rabbul ‘Alamiin [Tuhan yg mencipta, melengkapi, memelihara dan menjamin seisi alam, Ar-Rahman, Ar-Rahim: Pemurah, Penyayang]. Maka sudah selayaknya engkau harus berbaik sangka kepada Allah, karena tiada henti²nya nikmat dan karunia Allah atas dirimu dan anak keluargamu. Yakni sejak engkau berupa sperma hingga matimu. Dan sebaik-baik khusnudzan [baik sangka] terhadap Allah di waktu menerima nikmat Allah yg berupa ujian [musibah], bagaikan ayah yg menyambut anak yg disayang, demi untuk kebaikan anak itu sendiri.

Allah berfirman:

وَعَسٰىٓ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسٰىٓ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah (2): 216)

فَعَسٰىٓ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Maka mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, sedang Allah telah menjadikan padanya kebaikan yg banyak.” (QS. An-Nisa’ (4): 19)

Jabir ra. berkata: “Rasulullah Saw.  bersabda:

‘Barangsiapa yg dapat melakukan khusnudzan [baik sangka] kepada Allah, sehingga ia tidak akan mati kecuali tetap dalam khusnudzan terhadap Allah, maka hendaklah ia melakukannya’.” Kemudian ia membaca ayat:

وَذٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِى ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدٰىكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِّنَ الْخٰسِرِينَ

“Dan yg demikian itu adalah prasangkamu yg telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang² yg merugi.” (QS. Fussilat (41): 23)

Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya berbaik sangka kepada Allah itu, sebaik-sebaik melakukan ibadah kepada Allah.”

Ibnu Mas’ud ra. bersumpah: “Demi Allah tidak ada orang yg berbaik sangka terhadap Allah, melainkan pasti Allah akan memberikan kepadanya apa yg ia sangka, sebab kebaikan itu semuanya di tangan Allah, maka apabila Allah telah memberi khusnudzan, berarti Allah akan memberi apa yg disangkanya itu. Maka Allah yg memberinya khusnudzan [baik sangka] berarti akan melaksanakannya.”

Abu Said al-Khudry ra. berkata: “Rasulullah Saw. menjenguk orang sakit, maka Rasulullah Saw. bertanya kepada orang yg sakit itu, ‘Bagaimanakah persangkaanmu terhadap Tuhanmu?’ Jawabnya, ‘Wahai Rasulullah, aku khusnudzan [baik sangka]’. Maka bersabda Rasulullah Saw., ‘Sangkalah sesukamu kepada Allah, maka Allah selalu akan memberi apa yg disangkakan oleh orang mukmin’.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Dalam hikmah ini, Syaikh Ibnu Atha‘illah mengisyaratkan bahwa dalam berbaik sangka kepada Allah, manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan khusus dan golongan awam. 

Golongan khusus berbaik sangka kepada Allah atas Sifat²Nya yg baik. Sementara itu, golongan umum berbaik sangka kepada Allah atas perlakuan-Nya yg baik terhadap diri mereka, berupa karunia dan nikmat yg telah diberikan-Nya kepada mereka. 

Ada perbedaan yg mencolok antara dua maqam tersebut. Syaikh Ibnu Atha‘illah seakan berkata, ”Wahai murid, kau harus berbaik sangka kepada Allah secara mutlak, baik itu atas manfaat yg telah diberikan-Nya maupun bahaya yg telah dijauhkan-Nya darimu. Kau tidak boleh berpaling kepada selain-Nya. Jika kau tak sanggup berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang khusus, kau bisa berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang awam.

Sikap berbaik sangkamu kepada Allah atas kebaikan Sifat²Nya akan menumbuhkan cinta dan tawakkal yg benar kepada-Nya. Baik sangkamu kepada-Nya atas perlakuan-Nya yg baik terhadapmu akan membuahkan syukur atas nikmat dan rahmat-Nya. Wallaahu a’lam

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok