Hikmah 49

Hikmah 49 dlm Al-Hikam:

“Jangan Mengadu Kepada Selain Allah”

لاَ تـَرْفَعَنَّ اِلىَ غيرِهِ حاَجَةً هُوَ مُورِدُهاَ عَليْكَ فكَيْفَ يَرْفَعُ غيرَهُ ماكانَ هُوَ لهُ واضِعاً مَنْ لاَيَسْتَطِيعُ ان يَرْفَعَ حاَجةً عن نَفْسِهِ فَكيْفَ يَسْتَطِيعُ اَنْ يَكونَ لهاَ عَن غيرِهِ راَفِعاً

“Jangan mengadu dan meminta sesuatu kebutuhan/hajat selain kepada Allah, sebab DIA sendiri yg memberi dan menurunkan kebutuhan itu kepadamu. Maka bagaimanakah sesuatu selain Allah akan dapat menyingkirkan sesuatu yg diletakkan oleh Allah. Barangsiapa yg tidak dapat menyingkirkan bencana yg menimpa dirinya sendiri, maka bagaimanakah ia akan dapat menyingkirkan bencana yg ada pada orang lain.”

Adanya sesuatu bencana [musibah] itu menyebabkan engkau berhajat [butuh] kepada bantuan [pertolongan], maka dalam tiap kebutuhan [hajat] jangan mengharap selain kepada Allah, sebab segala sesuatu selain Allah itu juga berhajat seperti engkau. Sebab barangsiapa yg menyandarkan [menggantungkan nasib] pada sesuatu selain Allah, berarti ia tertipu oleh sesuatu bayangan fatamorgana, sebab tidak ada yg tetap selain Allah yg selalu tetap karunia dan nikmat serta rahmat-Nya kepadamu.

Syaikh Atho’ al-Khurasani berkata: “Saya bertemu dengan Wahab bin Munabbih di suatu jalan, maka saya berkata, ‘Ceritakanlah kepadaku suatu hadits yg dapat saya ingat, tetapi persingkatlah.’

Maka berkata Wahab, “Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as.: Wahai Dawud, demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, tidak ada seorang hamba-Ku yg minta tolong kepada-Ku, tidak pada selainnya, dan Aku ketahui yg demikian dari niatnya, kemudian orang itu akan ditipu oleh penduduk langit yg tujuh dan bumi yg tujuh, melainkan pasti Aku akan menghindarkannya dari semua itu, sebaliknya demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, tidak ada seorang yg berlindung kepada seorang makhluk-Ku, tidak kepada-Ku dan Aku ketahui yg demikian dari niatnya, melainkan Aku putuskan rahmat yg dari langit, dan Aku longsorkan bumi di bawahnya, dan tidak Aku pedulikan dalam lembah dan jurang yg mana ia binasa.”

Syakih Muhammad bin Husain bin Hamdan berkata: “Ketika saya di majlis Yazid bin Harun, saya bertanya kepada seseorang yg duduk disampingku, ‘Siapakah namamu?’ Jawabnya. ‘Said’. Saya bertanya, ‘Siapakah gelarmu?’ Jawabnya, ‘Abu Usman’. Lalu saya bertanya tentang keadaannya. Jawabnya, ‘Kini telah habis belanjaku. Lalu saya tanya, ‘Dan siapakah yg engkau harapkan untuk kebutuhanmu itu?’ Jawabnya. ‘Yazid bin Harun. Maka saya berkata kepadanya, ‘Jika demikian, maka ia tidak menyampaikan hajatmu, dan tidak akan membantu meringankan kebutuhanmu.’

Dia bertanya, ‘Dari mana engkau mengetahui hal itu?’ Jawabku, ‘Saya telah membaca dalam sebuah kitab: Bahwasanya Allah telah berfirman: Demi kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, dan kemurahan-Ku dan ketinggian kedudukan-Ku, di atas Arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yg mengharap kepada selain-Ku dengan kekecewaan, dan akan Aku singkirkan ia dari dekat-Ku, dan Aku putuskan dari hubungan-Ku. Mengapa ia berharap selain Aku dalam kesukaran, padahal kesukaran itu di tangan-Ku, dan Aku dapat menyingkirkannya, dan mengharap kepada selain Aku serta mengetuk pintu lain padahal kunci pintu² itu tertutup, hanya pintu-Ku yg terbuka bagi siapa yg berdoa kepada-Ku. Siapakah yg pernah mengharapkan Aku untuk menghalaukan kesukarannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yg pernah mengharapkan Aku karena besar dosanya, lalu Aku putuskan harapannya? Atau siapakah yg pernah mengetuk pintu-Ku, lalu tidak Aku bukakan? Aku telah mengadakan hubungan yg langsung antara-Ku dengan angan² dan harapan semua makhluk-Ku, maka mengapakah engkau bersandar kepada selain-Ku. Dan Aku telah menyediakan semua harapan hamba-Ku, tetapi tidak puas dengan perlindungan-Ku, dan Aku telah memenuhi langit-Ku dengan makhluk yg tidak jemu bertasbih kepada-Ku dari para Malaikat, dan Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antara-Ku dengan para hamba-Ku, tetapi mereka tidak percaya kepada firman-Ku. Tidakkah engkau mengetahui bahwa barangsiapa yg ditimpa oleh bencana yg Aku turunkan, tidak ada yg dapat menyingkirkan selain Aku, maka mengapakah Aku melihat ia dengan segala angan² dan harapannya selalu berpaling dari pada-Ku, mengapakah ia tertipu oleh selain-Ku. Aku telah memberi kepadanya dengan kemurahan-Ku apa² yg tidak ia minta, kemudian Aku yg mencabut dari padanya lalu ia tidak minta kepada-Ku untuk mengembalikannya, dan ia minta kepada selain-Ku. Apakah Aku yg memberi sebelum di minta, kemudian jika dimintai lalu tidak memberi kepada peminta?

Apakah Aku bakhil [kikir], sehingga dianggap bakhil oleh hamba-Ku. Tidakkah dunia dan akhirat itu semua milik-Ku? Tidakkah semua rahmat dan karunia itu di tangan-Ku? Tidakkah dermawan dan kemurahan itu sifat-Ku? Tidakkah hanya Aku tempat semua harapan? Maka siapakah yg dapat memutuskan dari pada-Ku. Dan apa pula yg diharapkan oleh orang² yg mengharap, andaikata Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi: Mintalah kepada-Ku, kemudian Aku memberi kepada masing² orang pikiran apa yg terpikir pada semuanya, lalu Aku beri semua itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku walau pun sekecil debu? Maka bagaimana akan berkurang kekayaan yg lengkap, sedang Aku yg mengawasinya?

Alangkah sial [celaka] orang yg putus dari rahmat-Ku, alangkah kecewa orang yg maksiat kepada-Ku dan tidak memperhatikan Aku, dan tetap melakukan yg haram dan tiada malu kepada-Ku’. Maka orang itu berkata: ‘Ulangilah keteranganmu itu, lalu ia menulisnya.’

Kemudian ia berkata: “Demi Allah, setelah ini saya tidak usah menulis suatu keterangan yg lain’.”

Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:

Jika ada musibah yg menimpamu, jangan kau meminta kepada selain Allah untuk menghilangkannya karena yg menurunkan musibah itu adalah Allah. Ingat, Allahlah Yang Unggul dan tak ada yg bisa mengalahkan-Nya. 

Orang yg tak bisa mengangkat musibahnya sendiri mustahil mampu mengangkat musibah yg menimpa orang lain. 

Kesimpulannya, siapa pun selain Allah, sekalipun itu seorang raja, tidak akan mampu mengangkat musibah orang lain. Selain itu, ia pun tentu lebih mencintai dirinya sendiri daripada orang lain. Demikian pula, jika memang benar ia mampu memberi manfaat kepada orang lain, tentu ia akan mendatangkan manfaat kepada dirinya sendiri terlebih dahulu. Namun kenyataannya, ia tidak mampu mendatangkan itu. Perlu di ingat, tak ada kelemahan melebihi kelemahan dalam memberi manfaat kepada diri sendiri.

Oleh karena itu, teramat sempit akalmu jika dalam hajat dan musibahmu kau bergantung pada orang yg juga butuh pertolongan seperti dirimu. Wallaahu a’lam

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok