Hikmah 29

Hikmah 29 dlm Al-Hikam:

مَاأَرَادَتْ هِمَّةُ سَالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَمَاكُشِفَ لَهَا إِلَّاوَنَادَتْهُ هَوَاتِفُ الْحَقِيْقَةِ الَّذِي تَطْلُبُ أَمَامَكَ, وَلَاتَبَرَّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمُكَوَّنَاتِ إِلَّا وَنَادَتْكَ حَقَائِقُهَا (إِنَّمَانَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ).

“Tiada berkehendak semangat seorang salik (yg berjalan menuju kepada Allah) untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yg ghaib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat. Itu bukan tujuan, dan teruslah berjalan ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya: “Bahwa kami semata² hanya sebagai ujian, maka janganlah tertipu sehingga menjadi kufur (terhijab).”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah:

Syaikh Abul Hasan At-Tustary berkata, “Di dalam jalan menuju kepada Allah jangan menoleh kepada yg lain, dan pergunakan selalu dzikrullah itu sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala sesuatu selain Allah, akan menghambat perjalananmu.“

Syaikh Abul Hasan Asy-Syazili ra. berkata, ”Jika engkau ingin mendapatkan apa yg telah dicapai oleh para waliyullah, maka hendaknya engkau mengabaikan semua manusia, kecuali orang² yg menunjukkan kepadamu jalan menuju Allah, dengan isyarat/ilmu yg tepat atau perbuatan yg tidak menyalahi Kitabullah dan Sunnah Rasul, serta abaikan dunia, tapi jangan mengabaikan sebagian untuk mendapat bagian yg lain, sebaliknya hendaknya engkau menjadi hamba Allah yg diperintah mengabaikan musuh-Nya. Apabila engkau telah dapat melakukan 2 sifat itu, yaitu:

– Mengabaikan manusia dan dunia, maka tetaplah tunduk kepada hukum Allah dengan istiqamah.

– Selalulah tunduk istighfar.

Pengertiannya sebagai berikut:

Supaya engkau benar² merasa diri sebagai hamba Allah dalam semua yg engkau kerjakan atau engkau tinggalkan, dan menjaga hati jangan sampai merasa seolah² di dalam alam ini ada kekuasaan selain Allah, yakni bersungguh² dalam menghayati “Laa hawla wa laa quwwata illa billaahi (Tiada daya dan kekuatan sama sekali, kecuali dengan pertolongan Allah).”

Bila masih merasa ada kekuatan diri sendiri, berarti belum sempurna pengakuan dirinya sebagai hamba Allah.

Nah, bila rasa dalam hati ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billaahi’ itu tetap istiqamah selama beberapa lama, niscaya Allah membukakan pintu rahasia² yg tidak pernah dibukakan kecuali untuk hamba²-Nya yg khusus.

Sedangkan Syaikh Fadhlala Haeri mensyarah:

Pencari jalan spiritual (salik) yg bersungguh² terkadang dibimbangkan oleh penglihatan batin dan pencerahan (yg dia alami). Allah memerintahkan untuk menyembah dengan total dan sepenuhnya kepada Nur-Nya yg mutlak, bukan pada pantulan²-Nya yg sekunder. Jika kamu benar² dan bersungguh² mencari Kebenaran (Al-Haqq), maka kamu akan diarahkan untuk menggapai saat terbukanya hijab. Namun, jika sebaliknya, maka kamu berada dalam konflik² dan penderitaan² makhluk yg terus-menerus akibat kemusyrikan yg halus serta hijab²nya.

Saat ini banyak orang yg merasa dirinya dekat dengan Allah, sudah merasa wushul, sudah merasa menjadi wali, sudah mampu mengerjakan yg khariqul ‘adah (yg diluar nalar) seperti terbang dan berjalan di atas air, dan merasa itu adalah pemberian Allah karena kedekatan kepadanya dari mendengar suara² ghaib. 

Waspadalah itu adalah tipuan setan, yg menjadikan orang itu ujub dan sombong.

Saat seseorang mengikuti hawa nafsunya, setan menggoda untuk terus bermaksiat, dan ketika seseorang itu taubat dan ibadah, gangguan setan adalah membisikinya untuk ujub dan merasa sombong, dan berhenti meningkatkan ibadah kepada Allah Ta’ala, karena merasa sudah baik, merasa sudah dekat dan sampai kepada Allah.

Padahal Nabi Muhammad Saw. selalu meningkatkan ibadahnya, shalat malamnya hingga bengkak, padahal Nabi sudah dijamin surga. Jangan terlalu terlena dengan satu amal sholeh, padahal masih banyak amal sholeh yg belum dikerjakan.

Syarah dari Syaikh Ramadhan Al-Buthi:

Apabila setan membisiki seseorang maka harus senantiasa ingat kepada Allah dan bayangkan bagaimana Allah mengazab kita di hari kiamat.

Nah Dulur, tekad yg kuat itu, sebaiknya kita dukung dengan ilmu yg memadai, agar jalan kita tetap bisa lurus ke depan.

Wallaahu a’lam

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok