Hikmah 28

Hikmah 28 dlm Al-Hikam:

لَاتَطْلُبْ مِنْهُ أَنْ يُخْرِ جَكَ مِنْ حَالَةٍ  لِيَسْتَعْمِلَكَ فِيْمَا سِوَاهَا, فَلَوْ أَرَادَ كَ لَاسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيرِ إِخْرَاجٍ.

“Jangan engkau meminta kepada Allah supaya di alihkan dari sesuatu kepada yg lain, sebab sekiranya Allah menghendakinya tentu Dia telah memindahkanmu, tanpa merubah keadaanmu yg lama.”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah:

Dalam hikayat:

Ada seorang shalih biasa bekerja dan melulu beribadah, lalu ia berkata, “Andaikan aku bisa mendapatkan 2 potong roti untuk tiap hari, niscaya aku tidak susah bekerja dan melulu beribadah.” Tiba² ia tertuduh dan karenanya ia harus masuk penjara, dan di dalam penjara tiap harinya ia menerima 2 potong roti. Setelah beberapa lama di penjara, ia merenung, ‘Bagaimana sampai terjadi kejadian ini?’ Tiba² ia teringat bahwa dia pernah menggumam: Engkau minta 2 potong roti, dan tidak minta selamat, maka Kami (Allah) memberi permintaanmu.

Setelah itu ia memohon ampun dan beristighfar, maka ia ketika itu pula dibebaskan dari penjara.

Sebab Allah menjadikan manusia dengan segala hajat kebutuhannya, sehingga manusia tidak usah khawatir atau ragu atau jemu terhadap sesuatu pemberian Allah, meskipun hal itu berbentuk penderitaan bala’ pada lahirnya, sebab hakikatnya nikmat besar bagi siapa yg mengetahui hakikatnya, sebab tidak ada sesuatu yg tidak terbit dari rahmat kurnia dan hikmat Allah Ta’ala.

Syaikh Fadhlala Haeri mensyarah:

Orang yg memperoleh anugrah nur Ilahiah (ma’rifat) melihat kesempurnaan dalam setiap keadaan dan situasi yg diberikan Allah kepadanya. Dalam kondisi sehat, ia akan bersyukur dan merasa bahagia. Jika ia sakit, ia pun menyadari rahmat dan karunia Allah dengan penuh kesabaran dan ridho.

Merasa ridho dengan takdir Allah adalah fondasi akhlak yg baik kepada Allah, dan merupakan pintu menuju pencerahan dan aktifnya indra batin seorang mukmin. Semuanya ini menegaskan, bahwa keadaan dan pengalaman berada dalam batas² jalan yg benar, oleh karenanya seseorang hendaknya segera bertaubat dan keluar dulu dari kemaksiatannya yg tak Allah ridhoi.

Keadaan saat ini tidak akan mencegah seseorang untuk berbuat baik, jika Allah Ta’ala menunjukinya.

Misal :

Jangan sampai seorang Dokter berandai² menjadi Ustadz hanya karena berharap akan mendapatkan pahala lebih banyak.

Ingatlah setiap keadaan yg sedang diterima saat ini, profesi yg baik apapun saat ini dapat menjadi ladang untuk mendulang pahala yg banyak, bahkan seorang dokter bisa mendapatkan pahala yg lebih banyak dari seorang Ustadz, karena keikhlasan dan kebaikannya dalam membantu orang sakit.

Kerjakanlah kebaikan apapun dengan keadaan yg telah Allah Ta’ala tetapkan saat ini, jangan berandai² menjadi orang lain. karena jika Allah Ta’ala menghendakimu mendapatkan pahala dan menjadi ahli surga, Allah Ta’ala dapat melakukannya tanpa merubah keadaanmu sekarang ini.

Dulur, mengingat ridho terhadap takdir Allah atas kita, adalah hal yg sangat menentukan masa depan kehidupan kita, marilah kita berjuang keras untuk dapat mencapai derajat itu. Dan kunci dari hal itu salah satunya adalah meningkatkan pengenalan terhadap diri dan Allah Ta’ala, baik Sifat, Asma, Af’al dan Dzat-Nya. Wallaahu a’lam

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok