Hikmah 12

Hikmah 12 dlm Al-Hikam:

مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْ  ءٌ  مِثْلُ عُزْلَةٍ  يَدْ خُلُ بِهَا مَيْدَا نَ فِكْرَ ةٍ.

“Tiada sesuatu yg sangat berguna bagi qalbu (hati), sebagaimana uzlah (menyendiri dari keramaian dengan niat tafakkur billah) untuk masuk ke medan tafakkur.”

Ustadz Salim Bahreisy mensyarah:

Rasulullah Saw. bersabda: “Perumpamaan kawan yg tidak baik bagaikan tukang besi yg sedang membakar besi, jika engkau tidak terbakar oleh percikan apinya, maka akan terkena sengatan bau tidak sedapnya.”

Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as.: ”Wahai putra Imran, waspadalah selalu dan pilihlah untuk dirimu sahabat, dan setiap sahabat yg tidak membantumu untuk berbuat taat kepada-Ku, maka ia adalah musuhmu.”

Demikian pula wahyu Allah kepada Nabi Daud as.: ”Hai Daud, mengapakah engkau menyendiri? Daud menjawab, ’Aku menjauhkan diri dari makhluk untuk mendekat kepada-Mu.’ Maka Allah pun berfirman: ‘Hai Daud, waspadalah selalu, dan pilihlah sahabat untukmu, dan setiap yg tidak membantumu berbakti kepada-Ku, maka itu adalah musuhmu, karena dia akan menyebabkan keras hatimu, serta jauh dari-Ku.”

Nabi Isa as. bersabda: ”Jangan berkawan dengan orang² yg ‘mati’, niscaya mati hatimu. Ketika Beliau ditanya: ’Siapakah mereka yg ‘mati’ itu? Beliau menjawab: ‘Mereka yg rakus kepada dunia.”

Rasulullah Saw. bersabda: “Yg sangat aku khawatirkan terhadap umatku adalah (mereka) lemah dalam iman keyakinan.”

Nabi Isa as. bersabda: ”Berbahagialah orang yg perkataannya dzikir, dan diamnya tafakkur serta pandangannya perhatian. Sesungguhnya orang yg sempurna akalnya ialah yg selalu muhasabah demi hari kemudian sesudah mati.”

Sahl bin Abdullah At-Tustary ra. berkata: Kebaikan itu terhimpun dalam 4 perkara, dan dengan itu tercapai maqam wali (disamping memenuhi kewajiban syariat), yaitu:

1. Lapar

2. Diam

3. Uzlah

4. Bangun/terjaga di Malam Hari (untuk shalat, munajat, dan ibadah kepada Allah).

Sedangkan Syarah Syaikh Fadhlala Haeri dalam terjemahnya:

Untuk kesehatan spiritual, kita harus berpaling dari keinginan² dan ambisi², kebingungan², dan syirik. Hati memerlukan pengalaman uzlah (menyendiri), kemudian di isi kembali melalui tafakkur dan peningkatan kesadaran kepada Tuhan. Kita harus menyeimbangkan pengalaman lahir dengan keadaan dan cahaya batin, sehingga pada waktunya nanti kita melihat seluruh perwujudan dan pengalaman yg berasal dari Zat Rabb Yang Maha Esa.

Syaikh Ibnu Arabi ra. dalam salah satu wasiatnya ketika menjelaskan pilar² ma’rifat menjelaskan bahwa Uzlah yg benar bisa menghasilkan ma’rifat tentang dunia. Sedang pilar yg lainnya adalah diam, lapar dan terjaga di malam hari.

Marilah kita semua berusaha keras untuk mampu mengamalkan uzlah ini agar qalbu kita berisi hanya Allah saja, dengan keyakinan bahwa setelah qalbu hanya terisi Allah saja, maka kemudian Allah menuntun dengan optimal perbuatan kita dalam menebarkan rahmat-Nya kepada semesta alam seisinya, Insya Allah.

Laa haula wa laa quwwata illa billaahi Al-’Aliy Al-’Adhim.

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok