Hikmah 07

Hikmah 7 dlm Al-Hikam:

لَا يُشَكِّكَنَّكَ  فِي الْوَ عْدِ عَدَ مُ وُقُوْعِ الْمَوْعُوْ دِ وَ إِ نْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ لِئَلَّا يَكُوْنَ ذَ لِكَ قَدْحًا فِي بَصِيْرَ تِكَ وَاِخْمَا دًالِنُوْ رِ سَرِيْرَ تِكَ.

“Janganlah kamu meragukan janji (Allah), karena tidak terjadinya apa yg telah Allah janjikan tersebut pada waktunya. Karena keraguanmu tersebut bisa menutupi mata-hatimu (bashirah) serta memadamkan nur cahaya batinmu (sirr-mu).”

Ustadz Salim Bareisy menjelaskan:

Manusia sebagai hamba tidak mengetahui bilakah Allah akan menurunkan karunia rahmat-Nya, sehingga manusia jika melihat tanda² ia menduga (mengira) mungkin telah tiba saatnya, padahal bagi Allah belum memenuhi semua syarat yg dikehendaki-Nya, maka bila tidak terjadi apa yg telah dikira-kira itu, hendaknya tiada ragu terhadap kebenaran janji Allah.

Sebagaimana yg terjadi dalam Sulhul-Hudaibiyah, ketika Rasulullah Saw. menceritakan impiannya kepada sahabat, sehingga mereka mengira bahwa pada tahun itu mereka akan dapat masuk Mekah dan melaksanakan ibadah umroh dengan aman sejahtera (yaitu mimpi Nabi Saw. yg tersebut dalam QS. Al-Fath: 27). Sehingga ketika gagal tujuan umroh karena ditolak oleh bangsa Quraisy dan terjadi penandatanganan perjanjian Sulhul Hudaibiyah, yg oleh Umar bin Khattab ra. dan sahabat² lainnya dianggap sangat mengecewakan, maka Umar ra. mengajukan beberapa pertanyaan, dijawab oleh Nabi Saw.: ”Aku hamba Allah dan juga utusan-Nya, dan Dia tidak akan mengabaikanku.”

Firman Allah:

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]: 216)

Syaikh Fadhalla Hairi, dalam syarah Al-Hikamnya, mengatakan:

Untuk mempertahankan jalan yg tepat menuju pencerahan batin, kita harus membuang semua keraguan terhadap kesempurnaan, keadilan, dan kebijaksanaan Allah di balik terjadinya peristiwa² sesuai dengan urutan dan waktunya yg tepat.

Yang terpenting adalah penyerahan diri sepenuhnya dan keyakinan total kita kepada kehendak dan tujuan Allah, meskipun kita mungkin sudah memperoleh ilham yg benar dan penglihatan batin menuju sebuah pencerahan maupun peristiwa, yg tidak terjadi.

Kita memang selayaknya berjuang sekuat tenaga agar kita tidak tergelincir dalam situasi dan kondisi yg menyebabkan kita ragu terhadap janji Allah. Hal itu bisa kita cegah antara lain dengan:

a. Mengingat-ingat pertolongan² Allah yg telah Dia anugrahkan kepada kita selama ini.

b. Mentafakkuri dengan qalbu yg tenang, nash² yg menunjukkan bahwa janji Allah pasti Dia tunaikan.

c. Mewaspadai tipuan hawa nafsu kita yg senantiasa membisiki kita dengan hal² yg mempertakuti kita kepada selain Allah.

Wallaahu A’lam bishshawwab.

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok