Hikmah 05

Hikmah 5 dlm Al-Hikam:

اِجْتِهَا دُ كَ فِيْمَاضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُ كَ فِيْمَاطُلِبَ مِنْكَ دَ لِيلٌ عَلَى انْطِمَا سِ الْبَصِيرَ ةِ مِنْكَ.

“Kesungguh-sungguhanmu untuk mencapai apa² yg telah dijaminkan bagimu serta keteledoranmu terhadap kewajiban² yg telah diamanahkan kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu.”

Tambahan keterangan Ustadz Salim Bahreisy:

وَكَأَيِّنْ مِّنْ دَآبَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yg tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yg memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ankabut [29]: 60)

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْئَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعٰقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yg memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yg baik) itu adalah bagi orang yg bertakwa.” (QS. Thaa Haa [20]: 132)

Kerjakan apa yg menjadi kewajiban kita terhadap Kami (Allah), dan Kami melengkapi bagi kita bagian Kami. Di sini ada 2 hal, satu, yg dijamin Allah, maka hendaknya kita jangan menuduh (su’udzon) terhadap Allah. Kedua, yg dituntut Allah maka jangan kita abaikan.

Dalam sebuah hadits yg kurang lebih artinya demikian:

“Mengapakah orang² yg mengagungkan orang yg kaya, pemboros dan menghina ahli² ibadah, serta yg selalu mengikuti tuntunan Al-Quran hanya yg sesuai dengan hawa nafsu mereka sedangkan ayat² yg tidak sesuai dengan hawa nafsunya mereka tinggalkan, padahal yg demikian itu berarti mempercayai sebagian Kitab Allah, dan mengabaikan (kufur) terhadap sebagian isi Kitab-Nya. Mereka berusaha untuk mencapai apa² yg dapat dicapai tanpa usaha, yaitu bagian yg pasti tiba dan ajal yg sudah ditentukan, dan rezeki yg menjadi bagiannya, tetapi tidak berusaha untuk mencapai apa yg tidak dicapai kecuali dengan usahanya, yaitu pahala² yg besar dan amal² ibadah dan ‘dagangan’ yg tidak akan rusak.”

Ibrahim Al-Khawwash berkata: “Jangan memaksakan diri untuk mencapai apa yg telah dijamin (dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yg di amanahkan kepadamu.”

Oleh sebab itu, maka siapa yg berusaha untuk mencapai yg sudah dijamin, dan mengabaikan apa yg ditugaskan kepadanya, maka berarti buta mata hatinya, karena sangat bodohnya.

Kewajiban yg hendaknya kita ikhtiarkan dengan perjuangan sekuat tenaga adalah secara singkat mencari keridhoan Allah Ta’ala dalam berbagai kondisi kita. Dan jika dirinci lebih lanjut a.l.:

– Dzikrullah baik dalam duduk, berdiri, berbaring, dsb (QS. 3:191)

– Khusyu’ dalam shalat (QS. 2:45-46)

– Shaum/puasa lahir maupun batin (QS. 2:183)

– Menyempurnakan keberserah-dirian kepada Allah Ta’ala (QS. 2:208)

– Takwa dengan sebenar-benarnya takwa (haqqatu qattihi; QS. 3:102)

– Menerima dengan ridho dan menjaga rezeki harta yg Allah anugrahkan

Sesungguhnya rezeki harta yg sudah, sedang maupun akan kita terima, telah Allah tetapkan (qodho) di Lauh Al-Mahfudz. Tentu saja, keyakinan kita terhadap hal tersebut serta penyikapan kita sesuai dengan tingkat keimanan dan ketakwaan kita masing². Itulah yg dimaksudkan oleh Syaikh Ibnu Atha’illah qs  sebagai apa² yg telah dijaminkan bagimu.

Sedangkan istiqamah dzikrullah, shalat yg khusyu’, keberserah-dirian yg total kepada Allah, menerima apa² yg Allah anugrahkan kepada kita tidaklah Allah berikan jika kita tidak berjuang dengan keras, itulah yg dimaksud oleh Beliau sebagai kewajiban² yg telah di amanahkan kepadamu.

Demikianlah, jika kita mengabaikan yg menjadi kewajiban karena energi dan kesempatan kita sudah habis dipergunakan mencari apa² yg sudah dijamin oleh Allah Ta’ala, maka kita disebut buta mata hati.

Marilah kita merenungi hikmah di atas dengan qalbu yg semoga Allah bebaskan dari penguasaan hawa nafsu, serta akal nalar yg mengikuti hukum²nya dengan optimal.

Laa haula wa laa quwwata illa billaahil Aliyyul Adziim.

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok