Hikmah 03

Hikmah 3 dlm Al-Hikam:

سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَخْرِقُ أَ سْوَارَالْأَ قْدَارِ. 

“Kekerasan himmah itu, tidak dapat menembus tirai takdir.”

Pengertian himmah menurut Ibnu Qoyyim ra. adalah awal hasrat. Secara khusus, orang² mengartikannya sebagai puncak hasrat. Hammu adalah permulaan hasrat, dan himmah adalah puncak hasrat.

Ustadz Salim Bahreisy dalam terjemahnya menambahkan dengan mengutip ayat² Al-Qur’an berikut:

“Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yg mau menempuh jalan yg lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. At-Takwir [81]: 27-29)

Juga,

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan [76]: 30)

Dalam Al-Qur’an, persoalan takdir Allah firmankan dengan serangkaian ayat²Nya yg membutuhkan qalb/hati yg suci dari penyakit²nya serta akal nalar yg memenuhi kaidah mantiq/hukum logika yg tertib. Karena seandainya kita memahami ayat² tersebut sepotong² dan tidak menganalisis secara nalar dengan paripurna, ditambah kemudian hati kita sedang terkuasai oleh penyakit melampiaskan hawa nafsu diri, maka kita pun akan salah dalam menangkap makna takdir seperti yg Allah kehendaki.

Sekedar menambah wawasan kita tentang takdir dalam Al-Qur’an, terdapat ayat² yg menerangkan bahwa Allah-lah yg memberi hidayah/petunjuk atau pun menyesatkan kepada kita, misalnya:

“Maka apakah orang yg dijadikan menganggap baik pekerjaannya yg buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yg dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yg dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yg mereka perbuat.” (QS. Fathir [35]: 8)

Namun pada ayat² lainnya disebutkan bahwa kita yg hendaknya mengubah keadaan diri kita.

“Bagi manusia ada malaikat² yg selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yg ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yg dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Dalam memahami persoalan takdir yg nampak rumit namun penting dalam kehidupan kita, sesungguhnya kita (saya lebih tepatnya) benar² memerlukan bimbingan seorang Guru yg telah memperoleh kesempurnaan makrifatullah.

Nah, dalam hikmah 3 di atas, Syaikh Ibnu Atha’illah qs., seorang yg qalb-nya telah mencapai kesempurnaan makrifatullah menyampaikan bahwa sekuat apa pun himmah kita, hal itu tidak akan mampu menembus takdir diri kita.

Dengan senantiasa memohon rahmat dan bimbingan Allah, marilah kita merenungkan serta berusaha mengamalkan hikmah tersebut. Semoga Allah meridhoi kita. Aamiin.

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok

Mulai perjalanan Tasawuf Anda sekarang.

Dengan panduan Guru Sufi (Murysid) di atas Jalan (Tarekat) Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.

PENGENALAN

KONTAK PERSON

Abangda Teguh
Baitul Fatih, Sidoarjo

Abangda Fariz
Baitul Malik, Depok