21. Jembatan (Ash-Shirath)

Salah satu bagian yang wajib diyakini keberadaannya adalah ash-shirath (jembatan). Keberadaan ash-shirath itu benar adanya. Ash-shirath adalah jembatan atau titian panjang yang terbentang di atas neraka Jahanam, yang harus dilintasi oleh semua manusia, sejak manusia yang pertama sampai yang terakhir.

Jembatan itu lebih tipis dari helai rambut dan lebih tajam dari pedang. Terbentang dari mahsyar sampai ke satu lapangan yang luas dan datar tempat undakan pertama tangga menuju pintu surga. Jembatan itu sepanjang tiga ribu tahun perjalanan. Seribu tahun menaik, seribu tahun menurun dan seribu tahun lagi rata. Namun al-Hafizh Ibn Hajar menyebutkan di dalam syarahnya, Fathul-Bari ‘ala Shahih al-Bukhari, bahwa panjang jembatan itu lima belas ribu tahun perjalanan.

Di kedua sisi jembatan itu terdapat sejenis duri tajam seperti duri sa’dan [tumbuh-tumbuhan sejenis ilalang]. Para malaikat berbaris di sisi kiri dan kanannya untuk menjaga mereka dari duri-duri itu.

Kebenaran adanya ash-shirath telah ditunjukkan Alqur’an dan hadis. Allah Ta’ala berfirman, “Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” [QS. al-Balad 90:11]. Mujahid dan adh-Dhahhak berkata, “Al-‘aqabah adalah jembatan yang dibentang di atas neraka Jahanam. ” Jadi makna ayat itu adalah, “Berhati-hatilah terhadap al-aqabah, nafkahkan harta pada sesuatu yang bisa membantu meringankan perjalanan untuk melintasinya, seperti memerdekakan budak dan yang lainnya.”

Di dalam Shahih Muslim ada satu hadis marfu’ yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jembatan itu dibentangkan di antara kedua sisi Jahanam. Aku dan umatku merupakan yang pertama melintasinya. Pada saat itu tidak ada yang berbicara selain para rasul, dan doa mereka saat itu adalah, “Ya Allah, selamatkanlah kami, selamatkanlah kami.” 

Waktu untuk melewati jembatan itu adalah setelah usai hisab (perhitungan amal). Barangsiapa mampu melintasi jembatan itu sampai ujung, dia tentu selamat dan beruntung. Mudah-mudahan Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai golongan orang yang selamat dan beruntung.

Tingkat keselamatan orang-orang saat itu bermacam-macam. Ada yang selamat tanpa sempat jatuh ke dalam neraka Jahanam, ada pula yang sempat jatuh dulu ke dalam neraka Jahanam. Dan yang jatuh itu ada yang sejenak dan ada yang lama, tergantung kehendak Allah. Mereka itu adalah orang-orang beriman yang berdosa. Lain halnya dengan orang kafir yang setelah jatuh ke dalam neraka itu tidak akan pernah diangkat lagi, selamanya.

Cepat lambatnya seseorang melewati jembatan tergantung kadar amalnya. Yang paling cepat melintasinya dalam keadaan selamat adalah orang yang paling unggul amal salihnya dan terbebas dari amal buruk, yakni orang-orang yang telah diistimewakan Allah dengan sabiqatul husna. Mereka melintasi jembatan dalam sekejap mata. Setelah mereka, ada orang-orang yang melintasi jembatan secepat kilat. Lalu ada yang secepat angin, ada yang secepat burung terbang, ada yang secepat kuda pacu. Di antara mereka juga ada yang melintasinya sambil berlari kecil, berjalan kaki dan ada pula yang merangkak.

Kesimpulannya, kemantapan mereka dalam melewati ash-shirath al-hisi (jembatan yang nyata) di akhirat sesuai kadar kemantapan mereka dalam menetapi ash-shirath al-ma’nawi (syariat Rasulullah) saat di dunia.

Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat, bukan jalan mereka yang Engkau murkai, bukan pula jalan mereka yang sesat, amin.

Hikmah adanya jembatan itu untuk membuat sedih orang kafir dengan kebahagiaan orang mukmin setelah sama-sama berada di persinggahan mahsyar. Selain itu, juga untuk menampakkan bahwa selamat dari neraka bagi orang yang beriman itu merupakan anugerah dan kemurahan dari Allah. Sungguh, Allah Ta’ala Mahakasih terhadap orang-orang yang beriman.

Tanwirul Qulub

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Tingkatan Alam Menurut Para Sufi

“Tingkatan Alam Menurut Para Sufi” فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُّوحِى فَقَعُوا لَهُۥ سٰجِدِينَ “Maka…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Mengenal Yang Mulia Ayahanda Guru

Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin al-Khalidi qs.

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj (Rajab)

26 Jan - 05 Feb

Ramadhan

30 Mar - 09 Apr

Hari Guru & Idul Adha

20 Jun - 30 Jun

Muharam

27 Jul - 06 Ags

Maulid Nabi

28 Sep - 08 Okt

Rutin

30 Nov - 10 Des

All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

WhatsApp
Facebook
Telegram
Twitter
Email
Print

Daftar Isi

Copy link
Powered by Social Snap