32. Bagian Kedua: Pencerahan Batin

Para Penempuh Jalan Ruhani

Ada enam kategori orang yang meladang akhirat dan menempuh jalan ruhani untuk mencapainya, yaitu ‘abid (ahli ibadah), ‘alim (ilmuwan), muta’allim (pelajar), wali (penguasa), muhtarif (kaum pekerja, profesional), dan muwahhid yang tenggelam dalam keesaan Dzat Yang Mahaesa, tempat bergantung seluruh makhluk.

Kategori yang pertama adalah ‘abid (ahli ibadah). Yaitu orang yang mengkhususkan diri dengan beribadah. Dia sama sekali tidak memiliki kesibukan selain ibadah. Jika dia meninggalkannya, dia tentu akan duduk menganggur. Yang paling pantas bagi orang seperti ini adalah menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah dan menghadiri majelis-majelis zikir. Di dalam satu riwayat disebutkan bahwa suatu kali Rasulullah saw. bersabda, “Jika kalian melewati taman surga, gembalakanlah diri kalian.” Lalu beliau ditanya, “Ya Rasulullah, apa taman surga itu?” dan Rasulullah saw. menjawab, “Perkumpulan-perkumpulan zikir.” Hadis ini dikeluarkan oleh at-Tirmidzi.

Kategori yang kedua adalah ‘alim (ilmuwan). Yaitu orang yang memanfaatkan ilmunya pada masyarakat dalam bentuk pemberian fatwa, mengajar, atau menulis buku. Jika memungkinkan baginya menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan ini, sesungguhnya hal tersebut lebih utama dilakukan setelah menjalankan ibadah fardhu dan sunnah rawãtib. Itu pun dengan syarat bertujuan membantu orang-orang dalam menempuh jalan akhirat (suluk). Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu yang membuat orang-orang mencintai akhirat, membuat mereka bersikap zuhud dalam dunia, atau membantu mereka dalam menempuh jalan akhirat. Bukan ilmu yang justeru meningkatkan kecintaan kepada harta benda, kedudukan dan penghargaan dari manusia.

Kategori yang ketiga adalah muta’allim (pelajar). Yaitu orang yang belajar karena Allah Ta’ala semata. Bagi orang yang seperti ini, kegiatan belajar lebih utama daripada berzikir atau mengerjakan ibadah sunnah mutlak. Namun dia tidak perlu mengosongkan diri dari wirid sejumlah zikir setiap harinya. Karena hal tersebut akan sangat membantunya dalam menempuh jalan belajar yang ditekuninya. Akan tetapi, bila pelajar itu dalam ketegori awam, maka menghadiri majelis petuah dan majelis ilmu lebih utama daripada disibukkan dengan berbagai wirid.

Ka’ab al-Akhbar r.a. berkata, “Seandainya pahala majelis para ilmuwan tampak di mata orang-orang, tentu mereka akan berlomba-lomba menghadirinya. Orang yang berkekuasaan akan membiarkan kekuasaan mereka. Orang yang punya warung di pasar pun akan meninggalkan warungnya.”

‘Umar ibn al-Khaththab r.a. berkata, “Seseorang keluar dari rumahnya dengan beban dosa segunung Tihamah. Bia dia mendengar seorang ‘alim, lalu dia merasa takut dan kemudian bertobat dari dosa-dosanya, maka dia akan kembali ke rumahnya tanpa beban dosa sedikit pun. Oleh karena itu, kalian jangan memisahkan diri dari majelis ulama. Sungguh, Allah ‘Azza wa Jalla tidak menciptakan di muka bumi ini sebidang lahan yang lebih utama dari majelis ulama.” 

Atha ibn Abu Ribah r.a. berkata, “Menghadiri majelis ilmu dapat menutupi tujuh puluh majelis senda gurau dan permainan.”

Kesimpulannya, sekecil apa pun hal yang membuat satu saja ikatan cinta dunia terlepas dari hati, yang disebabkan oleh perkataan seorang pemberi petuah yang santun dan berbudi luhur, itu lebih mulia dan lebih bermanfaat daripada banyaknya rakaat shalat sunnat yang dilakukan dalam kondisi hati yang penuh cinta dunia.

Kategori yang keempat adalah muhtarif (kaum pekerja, profesional). Yaitu orang yang membutuhkan materi untuk menafkahi keluarganya. Dia tidak bisa begitu saja menelantarkan keluarganya untuk kemudian menghabiskan waktu dalam pelaksanaan ritual-ritual ibadah. Orang yang seperti ini wiridnya di waktu bekerja, pergi ke pasar dan sibuk bekerja. Tetapi dia jangan sampai lupa berzikir kepada Allah di dalam hatinya pada waktu-waktu tersebut. Dia harus tekun bertasbih, berzikir dan membaca Alqur’an. Semua amalan itu bisa dilakukan sambil bekerja, tidak harus melewatinya. Lalu bila selesai kerja dan menghasilkan nafkah secukupnya, dia kembali lagi mengerjakan ritual-ritual ibadah.

Kategori yang kelima adalah wali (pemimpin), seperti imam, hakim dan setiap orang yang diserahi tanggung jawab untuk menciptakan berbagai kebijakan demi kemaslahatan kaum muslimin. Bagi orang seperti ini, melaksanakan tugas melayani kebutuhan dan kepentingan kaum muslimin sesuai dengan tuntunan syara’ dan dengan niat ikhlas, itu lebih utama daripada dia menyibukkan diri dengan wirid. Kewajibannya adalah melayani dan memenuhi hak orang-orang. Untuk itu di siang hari dia cukup meringkas ritual ibadahnya dengan hanya melaksanakan yang fardhu dan sunnah rawatib. Baru di malam hari dia mengamalkan awrad-nya.

Kategori yang keenam adalah muwahhid. Yaitu orang yang tenggelam dalam keesaan Allah Ta’ala sehingga dia tidak lagi mempunyai kerinduan selain kepada-Nya, tidak lagi punya cinta selain kepada-Nya, dan tidak lagi memiliki ketakutan selain kepada-Nya. Dia tidak lagi mengandalkan rezeki selain dari-Nya. Orang yang sudah mencapai derajat ini, tidak lagi memerlukan berbagai awrad dan keragamannya. Awrad-nya setelah shalat fardhu dan sunnah rawatibnya hanya satu, yakni hadir hati bersama Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Baginya, semua hal yang terbersit di benaknya, terngiang di telinganya dan tampak di matanya, selalu memunculkan pelajaran dan kehadiran. Seluruh keadaan dirinya bisa menjadi sebab peningkatan kehadiran hatinya bersama Allah Ta’ala. Ini adalah puncak tingkatan shiddiqqun. Namun tingkatan ini bisa dicapai seseorang hanya bila sebelumnya dia telah mengamalkan berbagai awrad secara tertib dan sungguh-sungguh dalam tempo yang cukup lama. Oleh karena itu, seorang murid jangan sampai terperdaya dan mengaku diri telah mencapai tingkatan ini lalu bermalas-malasan dalam melaksanakan ritual ibadah. Ada sejumlah tanda pada diri orang yang telah mencapai tingkatan muwahhid. Antara lain, di hatinya tidak sedikit pun terbesit rasa waswas, tidak sedikit pun terbayang kemaksiatan, dan tidak sedikit pun merasa takut menghadapi berbagai hal yang mengerikan.

Ketahuilah bahwa amal salih mempunyai manfaat yang sangat besar dalam pembenahan dan penerangan hati. Tetapi hasilnya hanya akan muncul di hati jika amal shalih itu dilakukan terus-menerus (mudawamah). Sebab, orang yang membiasakan diri melakukan suatu amal kebaikan, lalu berhenti dan tidak melakukannya lagi, dia akan dimurkai. Oleh karena itu Rasulullah saw. bersabda, “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang paling terus-menerus pelaksanannya, meskipun amal itu hanya sedikit.” Hadis ini dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim.

Karena itu, wahai saudara-sudaraku, kuatkanlah tanganmu dalam memelihara amal baik. Sungguh, orang yang memelihara amal baik akan merasakan manisnya iman dan iman akan menyatu dalam hatinya dengan sempurna. Saat seorang hamba mencapai kondisi ini, kesamaran dan keraguan akan lenyap darinya. Dan baginya, ibadah terasa demikian nikmat hingga dia lebih memilih sibuk beribadah daripada mengusahakan harta benda duniawi. Dalam keadaan seperti ini, iman meresap di hati seperti hasrat untuk minum air segar di hari yang sangat terik pada orang yang amat kehausan. Lelah dalam beribadah tergantikan oleh rasa nikmat yang dia dapat dalam beribadah. Bahkan ketaatan itu kemudian menjadi makanan bagi hatinya, menjadi penenang dan penentram hatinya, menjadi kenikmatan bagi ruhnya. Dan dia merasakan nikmat ibadah itu bahkan lebih nikmat daripada kesenangan-kesenangan jasmani.

Berbeda halnya dengan amal shalih, perbuatan-perbuatan dosa berbahaya bagi hati, seperti racun membahayakan tubuh, dengan beragam tingkat bahayanya. Tidak ada keburukan dan penyakit di dunia dan akhirat ini yang tidak disebabkan oleh perbuatan dosa dan maksiat. Maksiat mempunyai banyak pengaruh buruk yang membahayakan hati dan badan, di dunia dan akhirat, dan hanya Allah Ta’ala yang mengetahui berapa banyak pengaruh buruk yang ditimbulkan maksiat itu.

Salah satu pengaruh buruk maksiat adalah tertahannya ilmu yang bermanfaat bagi si pelaku maksiat. Karena, ilmu adalah cahaya yang Allah pancarkan ke dalam hati hamba. Sementara laku maksiat akan memadamkan cahaya yang sudah tertanam atau akan menjadi penghalang masuknya cahaya ke dalam hati jika cahaya belum ada di hati si hamba. 

Pengaruh lain dari maksiat adalah derita keterasingan yang dirasakan si pelaku antara dirinya dengan Allah Ta’ala, keterasingan yang tak terhingga. Akibat lainnya adalah mengalami kesulitan dalam mengatasi semua problem yang dia hadapi. Dia tidak mendapati jalan keluar untuk penyelesaian masalahnya, dan kalaupun ada terasa demikian susah.

Pengaruh lainnya dari laku maksiat adalah gelap yang didapat si pelaku dalam hatinya, hingga dia merasa seolah-olah dunia ini gelap gulita. Semakin bertambah pekat gelap yang dia rasakan, semakin bertambah pula kebingungannya. Lalu gulita dalam hati itu nampak di wajahnya hingga jelas terlihat di mata para ahli bashirah.

Selain itu maksiat juga bisa melemahkan hati dan badan serta menghalanginya untuk melakukan ketaatan. Laku maksiat juga bisa melebur berkah umur, menjatuhkan harga diri dan membuat akal menjadi tumpul. Akal adalah cahaya, dan laku maksiat akan memadamkannya. Maksiat juga akan melenyapkan nikmat dan menimbulkan kefakiran. Suatu nikmat tidak akan lenyap dari seorang hamba selain karena dosa, dan siksa tidak akan menimpa seorang hamba selain karena dosa. Allah Ta’ala berfirman, “Dan musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. asy-Syura 42:30]

Tanwirul Qulub

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Nasihat

Dua Penjaga Manusia

Disebutkan dalam Hakaya Ash Shufiyah إن الله تعالى جعل لأهل الأرض أمانين . الأول : رسول الله صلى الله عليه وسلم . والثاني : الاستغفار

Tasawuf

Jalan Menuju Allah

Banyak orang mencari Allah Ta’ala, dengan berbagai cara dan mencari keluar kemana-mana, tetapi tidak ketemu, karena salah alamat. Bagi pejalan ruhani jika tidak tahu peta

Thariqat

Perbedaan Fungsi Antara Al-Qur’an & Dzikir

Imam Ghozali ditanya, “Anda mengagung-agungkan perkara dzikir, apakah dzikir itu lebih agung derajatnya dari membaca Al-Qur’an?” Imam Ghozali menjawab; فاعلم أن قراءة القرآن أفضل للخلق

Tauhid & Ma'rifat

Al-Ghayyur: Allah Maha Pencemburu

Allah (swt) adalah “Al-Ghayyur” atau “Tuhan Yang Maha Pencemburu”. Dia menyuruh diri kita untuk menyatukan semua cinta yang kita rasakan ke dalam Cinta Ilahiah-Nya; untuk

Hadits

Engkau Akan Bersama dengan Orang yang Kau Cintai

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi saw, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau saw berkataَ, “Apa yang telah engkau

Kewalian

Bay’at dengan Imam Mahdi (as)

Suatu ketika pada tahun 1970–tahun 70an, barangkali 1971, saya sedang dalam khalwat, tetapi tidak 100% khalwat, itu adalah setengah khalwat. Saya sedang duduk dan menulis

Fiqh

Memahami Musik Dengan Utuh

Oleh: Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya Dalam menikmati musik, setiap orang pasti mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Perubahan minat seseorang terhadap genre atau warna

Tasawuf

Mengenal Bisikan Dalam Jiwa

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. pernah ditanya muridnya tentang al-khatir (bisikan jiwa), lalu Beliau menjawab: “Memang apa yg engkau ketahui tentang al-khatir? Al-khatir itu bisa

Kemursyidan

Definisi Mursyid

Mursyid dalam literatur tasawuf berarti pembimbing spiritual bagi orang² yg menempuh jalan khusus mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah Ta’ala. Tugas dan fungsi Mursyid ialah membimbing,

Fiqh

Urutan Memotong Kuku

Suatu hari Grandsyekh (q) berkata kepada saya, “Tolong potong kukuku.” MasyaaAllah, beliau mempunyai sebuah pisau yang besar, dan sepanjang hidup saya, saya belum pernah melihatnya

Tasawuf

Memelihara Sadar dan Tenang

“Wahai jiwa yg tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yg puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jama’ah) hamba²Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS.

Tasawuf

Bagaimana Bahagia dari Dalam Diri

Sebagian besar dari kita menganggap bahagia itu ada syaratnya dan ada di luar diri kita. Saya akan bahagia jika keinginan saya terpenuhi, saya akan bahagia

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj

17 Feb - 27 Feb

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

Ramadhan

7 Apr - 17 Apr

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

El Amin

Pekanbaru

Karya Limboto

Gorontalo

Hari Guru

10 Jun - 20 Jun

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Akhlaqul Amin

Lombok

Mujibul Amin

Samarinda

Idul Adha

29 Jun - 9 Jul

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Maulid Nabi

29 Sep - 9 Okt

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

El Amin

Pekanbaru

Rutin

15 Des - 25 Des

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Akhlaqul Amin

Lombok

Karya Limboto

Gorontalo

Ar Rahman

Johor Baru

Download:

Fathur Rabbani

38. Keutamaan Laa ilaaha illa Allah

Dlm Fathur Rabbani: Majelis ke-38: “Keutamaan Laa ilaaha illa Allah” Pengajian Ahad pagi, 7 Rajab 545 H. di Ribath. Rasulullah Saw. bersabda: “Payahkanlah setan²mu dengan

Nasihat

Dua Penjaga Manusia

Disebutkan dalam Hakaya Ash Shufiyah إن الله تعالى جعل لأهل الأرض أمانين . الأول : رسول الله صلى الله عليه وسلم . والثاني : الاستغفار

Tasawuf

Jalan Menuju Allah

Banyak orang mencari Allah Ta’ala, dengan berbagai cara dan mencari keluar kemana-mana, tetapi tidak ketemu, karena salah alamat. Bagi pejalan ruhani jika tidak tahu peta

Thariqat

Perbedaan Fungsi Antara Al-Qur’an & Dzikir

Imam Ghozali ditanya, “Anda mengagung-agungkan perkara dzikir, apakah dzikir itu lebih agung derajatnya dari membaca Al-Qur’an?” Imam Ghozali menjawab; فاعلم أن قراءة القرآن أفضل للخلق

162 Masalah Sufistik

Masalah 42

162 Masalah Sufistik (Masalah 42): Syaikh Abdullah bin Ahmad az-Zubaidi ra. bertanya: “Tentang rasa panas yg didapati oleh sebagian orang yg suka berdzikir yg mana

Bidayatul Hidayah

26. Adab Mandi

آداب الغسل فإذا أصابتك جنابة، من احتلام أو وقاع، فخذ الإناء إلى المغتسل، واغسل يديك أولا ثلاثا، وأزل ما على بدنك من قذر، وتوضأ كما

Risalatul Mu'awanah

87. Uzlah (Mengucilkan Diri)

Dlm Risalatul Mu’awanah: 87. Uzlah (Mengucilkan Diri) (وعليك) إذا تفاحش ظهور المعاصي والمنكراتفي موضع أنت فيه وأيست من قبول الحق بالعزلة فإن فيها السلامة، أو

Al-Hikam

119. Allah Menutupi Rahasia Kewalian

Hikmah 119 dlm Al-Hikam: “Allah Menutupi Rahasia Kewalian” سُبْحاَنَ من سَتَرَ سِرَّالخُصُوصيَّةِ بِظُهُورِ البَشَرِيَّةِ وَظَهرَ بِعَظَمةِ الرُّبُوْبِيَّةِ فِى اِظهاَرِالعُبُودِيَّةِ Maha Suci Allah yg telah menutupi

Tauhid & Ma'rifat

Al-Ghayyur: Allah Maha Pencemburu

Allah (swt) adalah “Al-Ghayyur” atau “Tuhan Yang Maha Pencemburu”. Dia menyuruh diri kita untuk menyatukan semua cinta yang kita rasakan ke dalam Cinta Ilahiah-Nya; untuk

Fathur Rabbani

38. Keutamaan Laa ilaaha illa Allah

Dlm Fathur Rabbani: Majelis ke-38: “Keutamaan Laa ilaaha illa Allah” Pengajian Ahad pagi, 7 Rajab 545 H. di Ribath. Rasulullah Saw. bersabda: “Payahkanlah setan²mu dengan

162 Masalah Sufistik

Masalah 42

162 Masalah Sufistik (Masalah 42): Syaikh Abdullah bin Ahmad az-Zubaidi ra. bertanya: “Tentang rasa panas yg didapati oleh sebagian orang yg suka berdzikir yg mana

Bidayatul Hidayah

26. Adab Mandi

آداب الغسل فإذا أصابتك جنابة، من احتلام أو وقاع، فخذ الإناء إلى المغتسل، واغسل يديك أولا ثلاثا، وأزل ما على بدنك من قذر، وتوضأ كما

Risalatul Mu'awanah

87. Uzlah (Mengucilkan Diri)

Dlm Risalatul Mu’awanah: 87. Uzlah (Mengucilkan Diri) (وعليك) إذا تفاحش ظهور المعاصي والمنكراتفي موضع أنت فيه وأيست من قبول الحق بالعزلة فإن فيها السلامة، أو

Al-Hikam

119. Allah Menutupi Rahasia Kewalian

Hikmah 119 dlm Al-Hikam: “Allah Menutupi Rahasia Kewalian” سُبْحاَنَ من سَتَرَ سِرَّالخُصُوصيَّةِ بِظُهُورِ البَشَرِيَّةِ وَظَهرَ بِعَظَمةِ الرُّبُوْبِيَّةِ فِى اِظهاَرِالعُبُودِيَّةِ Maha Suci Allah yg telah menutupi

Sabilus Salikin

187. Hukum Perempuan Menjadi Mursyid dalam Tarekat

Dalam dunia tarekat, yang menjadi mursyid atau khalifah semuanya adalah dari kalangan pria. Hal ini disebabkan karena syarat seorang mursyid adalah laki-laki. Oleh karena itu,

Sabilus Salikin

186. Menggerakkan atau Menundukkan Kepala Ketika Berzikir

Tanya: Bagaimana hukum menggerak-gerakkan atau menundukkan kepala ketika berzikir? Jika dengan menggerak-gerakkan atau menundukkan kepala itu bisa menjadikan diri orang yang berzikir lebih khusyuk, maka

Sabilus Salikin

185. Tidak Boleh, Memberi Baiat Kepada Anak Kecil

Tanya: Menurut keputusan kongres Jam`iyah Tarekat Mu’tabarah di Tegal Rejo, bahwa orang baiat tarekat “mu’tabarah” diwajibkan menjalaninya. Lalu bagaimana hukumnya orang yang memberi baiat kepada

Sabilus Salikin

184. Masuk Tarekat Secara Bersama

Tanya: Apakah boleh seorang masuk tarekat Naqsyabandiyah dan lainnya secara bersama? Apakah demikian itu tidak seperti sebutir telur dierami dua induk ayam, sehingga akhirnya menjadi

Sabilus Salikin

183. Tanya Jawab Tasawuf dan Tarekat

Tanya: Bagaimana hukum masuk tarekat dan mengamalkannya? Jawab: Jikalau yang dikehendaki masuk tarekat itu belajar membersihkan hati dari sifat-sifat yang rendah, dan menghiasi sifat-sifat yang

Sabilus Salikin

182. Muraqabah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Muraqabah memiliki perbedaan dengan zikir terutama pada obyek pemusatan kesadaran (kosentrasinya). Zikir memikili obyek perhatian pada simbol, yang berupa kata atau kalimat, sedangkan muraqabah menjaga

Sabilus Salikin

181. Rabitah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Pengertian rabitah atau wasilah adalah perantara guru (syaikh), yaitu murid berwasilah pada guru (syaikh). Menurut al-Khalidi dalam kitabnya Bahjah as-Saniyah halaman 64, rabitah adalah menghadirkan rupa guru

Sabilus Salikin

180. Suluk Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Istilah suluk (merambah jalan kesufian) terdapat dalam Al-Qur’an Surat an-Nahl; 69. فَاسْلُوْكِىْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً ) النحل: 69 ( …. dan tempuhlah jalan Tuhan-mu yang telah

Sabilus Salikin

179. Pembaiatan

Dalam pelaksanaan zikir, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah melakukan beberapa tata acara amaliyah yang sudah ditetapkan, seperti baiat. Prosesi pembaiatan dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah biasanya

Sabilus Salikin

177. Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah

Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah merupakan gabungan dari Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah (TQN) yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas (1802-1872 M.) yang dikenal sebagai penulis

Sabilus Salikin

176. Aurad Tarekat Sanusiyah

Aurad Tarekat Sanusiyah secara umum yaitu: Membaca Al-Qur’an al-Karim Membaca istighfar Membaca tahlil Membaca salawat kepada Nabi Muhammad saw. Aurad Tarekat Sanusiyah yang telah ditulis

Sabilus Salikin

175. Sanad Tarekat Sanusiyah Melalui Enam Jalur Tarekat

Sanad Tarekat Hidiriyah Muhammadiyah yang diterima Syaikh Muhammad Sanusi dari Syaikh Ahmad al-Rifi al-Qal’i bin Abdu Qadir dari Syaikh Muhammad bin ‘Ali al-Syarif dari Syaikh Abi Abbas al-‘Aroisyi

Sabilus Salikin

174. Kewajiban Salik Tarekat Sanusiyah

Kewajiban salik Tarekat Sanusiyah untuk melakukan dakwah berpegang pada beberapa pedoman.  Menyampaikan wahyu Allah kepada manusia, meliputi menjelaskan dasar-dasar dan kaidah agama kepada manusia, menjelaskan

Sabilus Salikin

173. Tarekat Sanusiyah

Pendiri tarekat ini adalah Syaikh Muhammad bin Ali bin Sanusi bin Arabi bin Muhammad bin Abdul Qadir bin Syahidah bin Khamim bin Yusuf bin Abdullah

Sabilus Salikin

172. Aurad Tarekat Idrisiyah

Berikut ini adalah tata cara mengamalkan zikir Tarekat Idrisiyah yang dijelaskan di dalam kitab al-Nafahât al-Aqdasiyah fi Syarh al-Shalawât al-Ahmadiyah al-Idrisiyah, halaman: 21-22. Mukadimah aurad, membaca; بِسْمِ

Silakan muat-ulang halaman.

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

Daftar Isi

Share via
Copy link
Powered by Social Snap