33. Bab V – Tasawuf

Ketahuilah bahwa tasawuf yang juga disebut ilmu batin merupakan ilmu yang paling besar nilainya dan paling agung posisinya, serta paling tinggi pancaran sinarnya. Orang yang menjalankannya dilebihkan oleh Allah Ta’ala atas hamba-hamba-Nya yang lain setelah para nabi dan rasul a.s. Allah menjadikan qalbu mereka sebagai tempat menyimpan berbagai rahasia. Mereka dijadikan Allah sebagai kelompok elit umat, sebagai tempat terbitnya berbagai sinar Ilahiah di kalangan makhluk. Mereka adalah penolong bagi makhluk. Mereka juga merupakan poros bagi keumuman kondisi ruhani makhluk (ahwal) karena kehadiran mereka menyertai kebenaran (al-haqq).

Ath-Thayyibi berkata, “Seorang ulama, meskipun dia amat mendalam ilmunya hingga tidak ada yang menyamai zamannya, tidak pantas merasa puas dengan ilmunya sendiri. Dia mesti berkumpul bersama ahli thariqah (para penempuh jalan ruhani) agar mereka menunjukinya jalan istiqamah, hingga dia menjadi bagian dari mereka yang diajak bicara oleh al-Haqq di dalam sirr-nya karena batinnya menjadi amat bening dan bebas dari berbagai kotoran. Selain itu, agar dia bisa menjauhi berbagai residu hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan ego busuk yang mengotori ilmunya. Dengan begitu, qalbunya akan siap menerima pancaran berbagai ilmu ladunni dan pengutipan langsung (iqtibas) dari lentera cahaya kenabian (misykat anwar an-nubuwwah).”

Menurut ath-Thayyibi, biasanya predikat seperti itu tidak mudah dicapai, kecuali dengan bimbingan seorang syaikh yang sempurna, syaikh yang mengetahui cara-cara penyembuhan berbagai penyakit jiwa, mengetahui cara penyuciannya dari berbagai najis yang bersifat maknawi, serta memiliki hikmah (kemampuan supranatural) untuk mengolahnya, baik dengan ilmu maupun intuisi. Tujuannya agar nafsu yang memerintah kepada kejahatan dan racun-racunnya yang tersembunyi bisa keluar dari dalam dirinya.”

Para ulama ahli thariqah sepakat mengenai keharusan mengambil seorang syaikh untuk menjadi pembimbing guna menghilangkan sifat-sifat yang menghalangi masuknya hadhrah Allah ke dalam qalbu, agar kehadiran dan kekhusukan di dalam menjalankan berbagai ritual ibadah benar-benar nyata. Kesepakatan ini merupakan bagian dari bab ma la yatimmu al-wajib illa bihi fa huwa wajib (sesuatu yang tanpanya menjadikan kewajiban tidak sempurna, berarti sesuatu itu wajib).”

Menyembuhkan penyakit-penyakit batin termasuk suatu kewajiban. Karena itu, orang yang mengidap berbagai penyakit batin itu harus mencari seorang syaikh yang dapat mengeluarkannya dari setiap dilema. Jika dia tidak mendapatkan syaikh tersebut di lingkungan tempat tinggalnya, dia harus pergi mencarinya ke daerah lain, meskipun jauh.

Al-lmam Ahmad ibn Hanbal r.a. pernah berkata kepada putranya, ‘Abdullah, “Wahai anakku, engkau harus mempelajari hadis, dan berhati-hatilah jangan sampai engkau duduk bersama mereka yang menamai dirinya sebagai kaum sufi. Tidak jarang di antara mereka ada yang bodoh terhadap hukum-hukum agamanya.” Namun setelah beliau bersahabat dengan Abu Hamzah al-Baghdadi dan mengetahui berbagai kondisi ruhani (ahwal) kaum sufi, al-lmam Ahmad ibn Hanbal berkata Iagi kepada putranya, “Wahai anakku, engkau harus duduk bersama kaum sufi karena mereka telah menambahkan banyak ilmu kepadaku, menambahkan kedekatan diri dengan Allah, rasa takut akan tertahannya rahmat, zuhud dalam dunia dan ketinggian semangat.”

Selain al-Imam Ahmad ibn Hanbal, al-Imam asy-Syafi’i juga sering duduk bersama kaum sufi. Bahkan al-Imam asy-Syafi’i berkata, “Seorang faqih (ahli fikih) perlu mengenal dan mengetahui benar istilah-istilah kaum sufi, agar mereka bisa memberinya manfaat ilmu yang tidak dia miliki.”

Al-Imam asy-Syafi’i dan Ahmad ibn Hanbal sering bolak-balik untuk menghadiri majelis orang-orang sufi. Beliau hadir untuk mengikuti majelis zikir mereka. Suatu hari, mereka ditanya, “Mengapa kalian sering bolak-balik mendatangi orang-orang bodoh seperti mereka?” Al-Imam asy-Syafi’i dan Ahmad ibn Hambal memberikan jawaban, “Sesungguhnya mereka itu mempunyai dan mengetahui semua pokok urusan. Yaitu taqwallah (bertaqwa kepada Allah), mahabbatullah (mencintai Allah) dan ma’rifatullah (makrifat kepada Allah).” Sebagian ulama lain berkomentar, “Siapa pun Anda yang mempercayai ucapan ahli Thariqah, mintalah dia berdoa untukmu, sebab dia mujabud-da’wah (doanya dikabulkan).”

Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Tasawuf

Setiap orang yang hendak mendalami suatu disiplin ilmu, hendaklah terlebih dahulu memahami gambaran tentangnya sehingga dalam menjalankannya bisa benar-benar jelas dan terarah. Penggambaran itu hanya bisa didapat dengan mengenali prinsip dasar yang sepuluh (al-mabadi al-‘asyrah). Yaitu: defnisi, objek kajian, manfaat mempelajarinya, keunggulannya, korelasinya dengan ilmu-ilmu yang lain, peletak dasarnya, namanya, sumber-sumber pengambilannya, hukum mempelajarinya dan permasalahannya.

  1. Definisi Tasawuf

Tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui berbagai kondisi jiwa (ahwal an-nafs) yang terpuji dan tercela, cara penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela, cara menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji, cara menempuh suluk menuju Allah dan berlari kepada-Nya. Di dalam satu nazham disebutkan:

Ilmu tasawuf adalah ilmu yang tidak bisa didapat

selain oleh si cerdas yang dikenal al-haqq

Bagaimana bisa orang yang tidak menyaksikannya dapat mengenalinya Bagaimana bisa si buta menyaksikan sinar mentari

  1. Objek Tasawuf

Objek kajian ilmu tasawuf adalah perbuatan-perbuatan hati dan indera lahir (af’al al-qalb wal-hawas) serta cara penyucian dan pemurniannya (tazkiyah wa tashfiyah).

  1. Hasil Tasawuf

Ada banyak hasil yang didapat dari tasawuf, di antaranya adalah mendidik hati dan mengetahui alam metafisika (alam gaib), dengan perasaan ruhani (dzauq) maupun dengan perasaan hati (wijdan). Hasil lainnya adalah keselamatan di akhirat, meraih ridha Allah Ta’ala, memperoleh kebahagian yang abadi, mengalami penyinaran dan pembeningan hati hingga bisa menyingkap berbagai perkara besar dan menyaksikan kondisi-kondisi ruhaniah yang mengagumkan, serta mampu melihat sesuatu yang tak tampak dalam penglihatan orang lain. 

  1. Keutamaan Tasawuf

Ilmu tasawuf merupakan ilmu yang paling mulia karena hubungannya dengan makrifat dan cinta Allah Ta’ala. Makrifat dan cinta kepada Allah merupakan keutamaan yang bersifat mutlak.

  1. Hubungan Tasawuf dengan Ilmu-ilmu yang Lain

Tasawuf merupakan pangkal dan syarat bagi ilmu-ilmu lainnya. Karena, tidak ada satu pun ilmu dan amal yang akan bermanfaat selain yang dimaksudkan untuk menghadap (tawajjuh) kepada Allah. Jika ilmu-ilmu yang lain adalah jasad, maka tawasuf laksana ruh baginya.

  1. Peletak Dasar Tasawuf

Tasawuf diciptakan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dan diwahyukannya kepada Nabi Muhammad saw. serta para nabi sebelumnya. Tasawuf adalah ruh bagi seluruh syariat agama yang diturunkan Allah. Berkaitan dengan ini, ada tiga istilah yang maknanya terkadang tidak jelas bagi orang awam, yaitu syari’ah, thariqah dan haqiqah.

Syari’ah adalah hukum-hukum yang diturunkan kepada Rasulullah saw. yang dipahami oleh para ulama dari Alqur’an dan sunnah, yang tekstual maupun melalui istinbath (analogi). Hukum yang dimaksud di sini adalah hukum-hukum yang jelas tentang ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu tasawuf.

Sedangkan yang dimaksud dengan thariqah adalah pengamalan syariat dengan sungguh-sungguh dan tidak sekadar mengamalkan yang gampang-gampangnya saja. Atau menjauhi semua larangan Allah Ta’ala, baik lahir maupun batin, serta menjalankan segala perintah-Nya secara maksimal. Atau menjauhi segala yang haram dan yang makruh, tidak berlebihan dalam hal yang mubah, serta menunaikan hal-hal yang fardhu dan amalan-amalan sunnah secara maksimal. Dalam menjalankan itu semua, seorang hamba seharusnya berada dalam pengawasan seorang al-‘arif billah (orang yang sungguh mengenal Allah).

Adapun haqiqah, terbagi tiga bagian, yaitu:

Pertama, tersingkapnya hijab antara si hamba dengan sesuatu yang diimaninya sebagai Allah, sifat-sifat-Nya, keagungan-Nya, kesempurnaan-Nya, kedekatan-Nya, hakikat kenabian, kesempurnaan-kesempurnaan para nabi a.s.—terutama kesempurnaan Rasulullah saw. yang menjadi pemuka para nabi dan rasul—serta segala hal yang telah diinformasikannya, antara lain: nikmat dan siksa kubur, kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksa yang ada di dalamnya, surga dan berbagai kenikmatannya. Ketersingkapan ini membuat si hamba melihat semua itu dengan jelas dan nyata. Ketersingkapan hijab ini diikuti dengan berbagai kondisi ruhani (ahwal) yang nampak pada orang yang berhasil menggapainya, antara lain zuhud dalam dunia, mabuk ketuhanan, kelinglungan (dzuhul), tergoncang, sangat rindu dan cinta kepada Allah. Selain itu, ketersingkapan ini juga mungkin disertai dengan ketersingkapan sesuatu—yang dikehendaki Allah—dari alam atas atau alam bawah serta kejadian-kejadian di masa lalu atau kejadian-kejadian di masa depan. 

Haqiqah model ini digambarkan dalam ungkapan Haritsah ibn Malik al-Anshari ketika Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Wahai Haritsah, apa kabarmu pagi ini?” Haritsah menjawab, “Pagi ini aku benar-benar menjadi seorang mukmin.” Rasulullah saw. berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya setiap perkataan itu memiliki hakikat. Apa hakikat keimananmu itu?” Haritsah menjawab, “Jiwaku berpaling dari dunia. Bagiku, batu dan emas dari dunia ini sama saja. Karena itulah aku tak tidur di malam hari dan menahan haus di siang hari. Aku seolah-olah melihat singgasana Tuhanku demikian nampak. Aku seolah-olah melihat ahli surga saling mengunjungi. Dan aku seolah-olah mendengar jeritan ahli neraka.” Kemudian Rasulullah saw. berkata lagi, “Aku tahu, maka tetaplah pada jalan ini.” Dalam riwayat lain dikatakan, “Barangsiapa ingin melihat orang yang qalbunya telah disinari cahaya oleh Allah, maka lihatlah Haritsah ibn Malik.” Hadis ini diriwayatkan Oleh ath-Thabrani dan al-Bazzar serta yang lainnya.

Haqiqah model ini merupakan bagian haqiqah paling tinggi, jenis haqiqah paling agung dan merupakan induk bagi dua model haqiqah lainnya.

Kedua, kekosongan diri (takhalli) dari berbagai akhlak yang kotor serta memenuhinya dengan sifat-sifat yang diridhai dan akhlak yang terpuji (tahalli), sehingga dia benar-benar kokoh padanya serta sifat-sifat yang diridhai dan akhlak yang terpuji itu menjadi adat kebiasaannya. 

Ketiga, kemudahan menjalankan amal salih sehingga tidak diperoleh rasa berat dan rasa sukar. Bahkan apabila dia hendak meninggalkan amal salih itu, jiwanya tidak rela dan tidak patuh. Kelapangan dada untuk Islam telah benar-benar sempurna pada dirinya. Jiwanya benar-benar tenteram dalam menjauhi larangan Allah Ta’ala dan menjalankan perintah-Nya. Ketundukan sejati benar-benar sempurna melekat pada dirinya, sehingga dia seperti malaikat dalam rupa manusia.

Haqiqah merupakan buah dari thariqah. Oleh sebab itu penempuh jalan akhirat harus berupaya menghimpun ketiganya (syari’ah, thariqah dan haqiqah) dan tidak boleh mengabaikan satu pun darinya. Karena, al-haqiqah bila syari’ah bathilah wa asy-syari’ah bila haqiqah ‘athilah (Hakikat tanpa syariat adalah batil, dan syariat tanpa hakikat adalah sia-sia).” Al-Imam Malik r.a. berkata, “Barangsiapa bersyariat namun tidak berhakikat, berarti dia telah berbuat fasik. Barangsiapa berhakikat namun tidak bersyariat, berarti dia telah zindik. Dan barangsiapa telah menghimpun keduanya, dia sungguh telah berbuat benar.”

Syari’ah ibarat perahu karena menjadi media penghantar untuk mencapai tujuan dan meraih keselamatan dari kehancuran. Thariqah seumpama lautan yang menyimpan mutiara. Sedangkan haqiqah seumpama mutiara besar yang hanya bisa ditemukan di lautan. Seseorang tidak akan bisa sampai ke lautan selain dengan perahu.

Barangsiapa memandang hakikat segala sesuatu dengan Allah, dia akan mendapati bahwa syari’ah dan haqiqah merupakan dua hal yang korelatif dan inheren seperti air bagi sebatang kayu, dan ruh bagi jasad. Syari’ah bagaikan pohon, thariqah bagaikan rantingnya dan haqiqah adalah buahnya.

  1. Penamaan Tasawuf

Ilmu ini dinamai ilmu tasawuf (tashawwuf). Secara morfologis, tashawwuf terambil dari kata shafa’ (bersih, jernih, suci). Kata shufi berarti orang yang hatinya bersih, jernih dan suci dari kotoran serta penuh dengan berbagai keteladanan, dan bagi mereka emas tak lagi lebih berharga daripada tanah lempung.

Salah seorang ‘arif billah berkata, “Wahai orang yang menyifatiku, pada kenyataanya engkaulah yang kusifati. Wahai yang mengenal aku, janganlah engkau menipu. Engkau adalah yang kukenal. Sesungguhnya yang disebut pemuda itu ialah orang yang memenuhi janji azalinya. Ia seorang yang bersih (shafi) lalu menjadi yang jernih-suci (shufi), dan karena inilah ia dinamai shufi.”

Pokok tasawuf ada lima. Pertama, takwa kepada Allah Ta’ala di dalam kesendirian maupun di keramaian. Hal tersebut bisa direalisasikan dengan cara menjauhkan diri dari dosa (sikap wara’) dan istiqamah. Kedua, mengikuti sunnah, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Hal ini dapat direalisasikan dengan cara menghafalnya dan berakhlak baik. Ketiga, berpaling dari makhluk, tidak perduli dengan penyambutan maupun penolakan mereka. Hal tersebut bisa terwujud dengan cara sabar dan tawakal. Keempat, ridha kepada Allah, saat kekurangan maupun berkelimpahan. Hal ini bisa dicapai dengan bersikap qana’ah (merasa puas dengan sesuatu yang telah ada) dan pasrah kepada-Nya. Kelima, kembali kepada Allah dalam suka maupun duka, saat susah maupun senang. Hal ini bisa dicapai dengan cara bersyukur kepada Allah saat senang dan berlindung kepada-Nya saat susah.

  1. Sumber Pengambilan Tasawuf

Ilmu tasawuf bersumber pada Alqur’an, Sunnah dan qaul umat pilihan (khawashil-ummah).

  1. Hukum Mempelajari Tasawuf

Hukum mempelajari tasawuf adalah fardhu ‘ain, yaitu wajib bagi setiap individu orang muslim. Alasannya antara lain karena tidak ada seorang pun yang terlepas dari aib atau penyakit hati selain para nabi dan rasul. Salah seorang al-‘arif billah berkata, “Barangsiapa tidak ikut dalam jalan ini, yakni ilmu batin, aku khawatir dia tertimpa su’ al-khatimah. Tingkatan partisipasi terendah dalam ilmu ini adalah membenarkannya serta menyerahkannya kepada ahlinya.”

  1. Permasalahan Tasawuf

Permasalahan tasawuf ialah preposisi-preposisi (qadhaya) yang membahas sifat-sifat hati, termasuk penjelasan istilah-istilah yang beredar di antara kaum sufi, seperti zuhud (berpaling dari dunia), wara’ (waspada, menjaga diri dari dosa), mahabbah (cinta), fana’ (kesirnaan) dan baqa’ (keabadian).[]

Tanwirul Qulub

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Nasihat

Dua Penjaga Manusia

Disebutkan dalam Hakaya Ash Shufiyah إن الله تعالى جعل لأهل الأرض أمانين . الأول : رسول الله صلى الله عليه وسلم . والثاني : الاستغفار

Tasawuf

Jalan Menuju Allah

Banyak orang mencari Allah Ta’ala, dengan berbagai cara dan mencari keluar kemana-mana, tetapi tidak ketemu, karena salah alamat. Bagi pejalan ruhani jika tidak tahu peta

Thariqat

Perbedaan Fungsi Antara Al-Qur’an & Dzikir

Imam Ghozali ditanya, “Anda mengagung-agungkan perkara dzikir, apakah dzikir itu lebih agung derajatnya dari membaca Al-Qur’an?” Imam Ghozali menjawab; فاعلم أن قراءة القرآن أفضل للخلق

Tauhid & Ma'rifat

Al-Ghayyur: Allah Maha Pencemburu

Allah (swt) adalah “Al-Ghayyur” atau “Tuhan Yang Maha Pencemburu”. Dia menyuruh diri kita untuk menyatukan semua cinta yang kita rasakan ke dalam Cinta Ilahiah-Nya; untuk

Hadits

Engkau Akan Bersama dengan Orang yang Kau Cintai

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi saw, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau saw berkataَ, “Apa yang telah engkau

Kewalian

Bay’at dengan Imam Mahdi (as)

Suatu ketika pada tahun 1970–tahun 70an, barangkali 1971, saya sedang dalam khalwat, tetapi tidak 100% khalwat, itu adalah setengah khalwat. Saya sedang duduk dan menulis

Fiqh

Memahami Musik Dengan Utuh

Oleh: Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya Dalam menikmati musik, setiap orang pasti mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Perubahan minat seseorang terhadap genre atau warna

Tasawuf

Mengenal Bisikan Dalam Jiwa

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. pernah ditanya muridnya tentang al-khatir (bisikan jiwa), lalu Beliau menjawab: “Memang apa yg engkau ketahui tentang al-khatir? Al-khatir itu bisa

Kemursyidan

Definisi Mursyid

Mursyid dalam literatur tasawuf berarti pembimbing spiritual bagi orang² yg menempuh jalan khusus mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah Ta’ala. Tugas dan fungsi Mursyid ialah membimbing,

Fiqh

Urutan Memotong Kuku

Suatu hari Grandsyekh (q) berkata kepada saya, “Tolong potong kukuku.” MasyaaAllah, beliau mempunyai sebuah pisau yang besar, dan sepanjang hidup saya, saya belum pernah melihatnya

Tasawuf

Memelihara Sadar dan Tenang

“Wahai jiwa yg tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yg puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jama’ah) hamba²Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS.

Tasawuf

Bagaimana Bahagia dari Dalam Diri

Sebagian besar dari kita menganggap bahagia itu ada syaratnya dan ada di luar diri kita. Saya akan bahagia jika keinginan saya terpenuhi, saya akan bahagia

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj

17 Feb - 27 Feb

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

Ramadhan

7 Apr - 17 Apr

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

El Amin

Pekanbaru

Karya Limboto

Gorontalo

Hari Guru

10 Jun - 20 Jun

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Akhlaqul Amin

Lombok

Mujibul Amin

Samarinda

Idul Adha

29 Jun - 9 Jul

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Maulid Nabi

29 Sep - 9 Okt

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

El Amin

Pekanbaru

Rutin

15 Des - 25 Des

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Akhlaqul Amin

Lombok

Karya Limboto

Gorontalo

Ar Rahman

Johor Baru

Download:

Fathur Rabbani

38. Keutamaan Laa ilaaha illa Allah

Dlm Fathur Rabbani: Majelis ke-38: “Keutamaan Laa ilaaha illa Allah” Pengajian Ahad pagi, 7 Rajab 545 H. di Ribath. Rasulullah Saw. bersabda: “Payahkanlah setan²mu dengan

Nasihat

Dua Penjaga Manusia

Disebutkan dalam Hakaya Ash Shufiyah إن الله تعالى جعل لأهل الأرض أمانين . الأول : رسول الله صلى الله عليه وسلم . والثاني : الاستغفار

Tasawuf

Jalan Menuju Allah

Banyak orang mencari Allah Ta’ala, dengan berbagai cara dan mencari keluar kemana-mana, tetapi tidak ketemu, karena salah alamat. Bagi pejalan ruhani jika tidak tahu peta

Thariqat

Perbedaan Fungsi Antara Al-Qur’an & Dzikir

Imam Ghozali ditanya, “Anda mengagung-agungkan perkara dzikir, apakah dzikir itu lebih agung derajatnya dari membaca Al-Qur’an?” Imam Ghozali menjawab; فاعلم أن قراءة القرآن أفضل للخلق

162 Masalah Sufistik

Masalah 42

162 Masalah Sufistik (Masalah 42): Syaikh Abdullah bin Ahmad az-Zubaidi ra. bertanya: “Tentang rasa panas yg didapati oleh sebagian orang yg suka berdzikir yg mana

Bidayatul Hidayah

26. Adab Mandi

آداب الغسل فإذا أصابتك جنابة، من احتلام أو وقاع، فخذ الإناء إلى المغتسل، واغسل يديك أولا ثلاثا، وأزل ما على بدنك من قذر، وتوضأ كما

Risalatul Mu'awanah

87. Uzlah (Mengucilkan Diri)

Dlm Risalatul Mu’awanah: 87. Uzlah (Mengucilkan Diri) (وعليك) إذا تفاحش ظهور المعاصي والمنكراتفي موضع أنت فيه وأيست من قبول الحق بالعزلة فإن فيها السلامة، أو

Al-Hikam

119. Allah Menutupi Rahasia Kewalian

Hikmah 119 dlm Al-Hikam: “Allah Menutupi Rahasia Kewalian” سُبْحاَنَ من سَتَرَ سِرَّالخُصُوصيَّةِ بِظُهُورِ البَشَرِيَّةِ وَظَهرَ بِعَظَمةِ الرُّبُوْبِيَّةِ فِى اِظهاَرِالعُبُودِيَّةِ Maha Suci Allah yg telah menutupi

Tauhid & Ma'rifat

Al-Ghayyur: Allah Maha Pencemburu

Allah (swt) adalah “Al-Ghayyur” atau “Tuhan Yang Maha Pencemburu”. Dia menyuruh diri kita untuk menyatukan semua cinta yang kita rasakan ke dalam Cinta Ilahiah-Nya; untuk

Fathur Rabbani

38. Keutamaan Laa ilaaha illa Allah

Dlm Fathur Rabbani: Majelis ke-38: “Keutamaan Laa ilaaha illa Allah” Pengajian Ahad pagi, 7 Rajab 545 H. di Ribath. Rasulullah Saw. bersabda: “Payahkanlah setan²mu dengan

162 Masalah Sufistik

Masalah 42

162 Masalah Sufistik (Masalah 42): Syaikh Abdullah bin Ahmad az-Zubaidi ra. bertanya: “Tentang rasa panas yg didapati oleh sebagian orang yg suka berdzikir yg mana

Bidayatul Hidayah

26. Adab Mandi

آداب الغسل فإذا أصابتك جنابة، من احتلام أو وقاع، فخذ الإناء إلى المغتسل، واغسل يديك أولا ثلاثا، وأزل ما على بدنك من قذر، وتوضأ كما

Risalatul Mu'awanah

87. Uzlah (Mengucilkan Diri)

Dlm Risalatul Mu’awanah: 87. Uzlah (Mengucilkan Diri) (وعليك) إذا تفاحش ظهور المعاصي والمنكراتفي موضع أنت فيه وأيست من قبول الحق بالعزلة فإن فيها السلامة، أو

Al-Hikam

119. Allah Menutupi Rahasia Kewalian

Hikmah 119 dlm Al-Hikam: “Allah Menutupi Rahasia Kewalian” سُبْحاَنَ من سَتَرَ سِرَّالخُصُوصيَّةِ بِظُهُورِ البَشَرِيَّةِ وَظَهرَ بِعَظَمةِ الرُّبُوْبِيَّةِ فِى اِظهاَرِالعُبُودِيَّةِ Maha Suci Allah yg telah menutupi

Sabilus Salikin

187. Hukum Perempuan Menjadi Mursyid dalam Tarekat

Dalam dunia tarekat, yang menjadi mursyid atau khalifah semuanya adalah dari kalangan pria. Hal ini disebabkan karena syarat seorang mursyid adalah laki-laki. Oleh karena itu,

Sabilus Salikin

186. Menggerakkan atau Menundukkan Kepala Ketika Berzikir

Tanya: Bagaimana hukum menggerak-gerakkan atau menundukkan kepala ketika berzikir? Jika dengan menggerak-gerakkan atau menundukkan kepala itu bisa menjadikan diri orang yang berzikir lebih khusyuk, maka

Sabilus Salikin

185. Tidak Boleh, Memberi Baiat Kepada Anak Kecil

Tanya: Menurut keputusan kongres Jam`iyah Tarekat Mu’tabarah di Tegal Rejo, bahwa orang baiat tarekat “mu’tabarah” diwajibkan menjalaninya. Lalu bagaimana hukumnya orang yang memberi baiat kepada

Sabilus Salikin

184. Masuk Tarekat Secara Bersama

Tanya: Apakah boleh seorang masuk tarekat Naqsyabandiyah dan lainnya secara bersama? Apakah demikian itu tidak seperti sebutir telur dierami dua induk ayam, sehingga akhirnya menjadi

Sabilus Salikin

183. Tanya Jawab Tasawuf dan Tarekat

Tanya: Bagaimana hukum masuk tarekat dan mengamalkannya? Jawab: Jikalau yang dikehendaki masuk tarekat itu belajar membersihkan hati dari sifat-sifat yang rendah, dan menghiasi sifat-sifat yang

Sabilus Salikin

182. Muraqabah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Muraqabah memiliki perbedaan dengan zikir terutama pada obyek pemusatan kesadaran (kosentrasinya). Zikir memikili obyek perhatian pada simbol, yang berupa kata atau kalimat, sedangkan muraqabah menjaga

Sabilus Salikin

181. Rabitah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Pengertian rabitah atau wasilah adalah perantara guru (syaikh), yaitu murid berwasilah pada guru (syaikh). Menurut al-Khalidi dalam kitabnya Bahjah as-Saniyah halaman 64, rabitah adalah menghadirkan rupa guru

Sabilus Salikin

180. Suluk Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Istilah suluk (merambah jalan kesufian) terdapat dalam Al-Qur’an Surat an-Nahl; 69. فَاسْلُوْكِىْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً ) النحل: 69 ( …. dan tempuhlah jalan Tuhan-mu yang telah

Sabilus Salikin

179. Pembaiatan

Dalam pelaksanaan zikir, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah melakukan beberapa tata acara amaliyah yang sudah ditetapkan, seperti baiat. Prosesi pembaiatan dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah biasanya

Sabilus Salikin

177. Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah

Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah merupakan gabungan dari Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah (TQN) yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas (1802-1872 M.) yang dikenal sebagai penulis

Sabilus Salikin

176. Aurad Tarekat Sanusiyah

Aurad Tarekat Sanusiyah secara umum yaitu: Membaca Al-Qur’an al-Karim Membaca istighfar Membaca tahlil Membaca salawat kepada Nabi Muhammad saw. Aurad Tarekat Sanusiyah yang telah ditulis

Sabilus Salikin

175. Sanad Tarekat Sanusiyah Melalui Enam Jalur Tarekat

Sanad Tarekat Hidiriyah Muhammadiyah yang diterima Syaikh Muhammad Sanusi dari Syaikh Ahmad al-Rifi al-Qal’i bin Abdu Qadir dari Syaikh Muhammad bin ‘Ali al-Syarif dari Syaikh Abi Abbas al-‘Aroisyi

Sabilus Salikin

174. Kewajiban Salik Tarekat Sanusiyah

Kewajiban salik Tarekat Sanusiyah untuk melakukan dakwah berpegang pada beberapa pedoman.  Menyampaikan wahyu Allah kepada manusia, meliputi menjelaskan dasar-dasar dan kaidah agama kepada manusia, menjelaskan

Sabilus Salikin

173. Tarekat Sanusiyah

Pendiri tarekat ini adalah Syaikh Muhammad bin Ali bin Sanusi bin Arabi bin Muhammad bin Abdul Qadir bin Syahidah bin Khamim bin Yusuf bin Abdullah

Sabilus Salikin

172. Aurad Tarekat Idrisiyah

Berikut ini adalah tata cara mengamalkan zikir Tarekat Idrisiyah yang dijelaskan di dalam kitab al-Nafahât al-Aqdasiyah fi Syarh al-Shalawât al-Ahmadiyah al-Idrisiyah, halaman: 21-22. Mukadimah aurad, membaca; بِسْمِ

Silakan muat-ulang halaman.

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

Daftar Isi

Share via
Copy link
Powered by Social Snap