Mengenali nafs [*] merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu. Sebab barangsiapa telah mengenal dirinya berarti dia mengenal Tuhannya. Maksudnya, orang yang mengenali bahwa dirinya hina, tidak berdaya, lemah dan fana, maka dia akan mengenal bahwa Tuhannya Mahamulia, Mahakuasa dan kekal. Sedangkan orang yang tidak mengenal diri pribadinya, tentu lebih tidak kenal lagi kepada Tuhannya.

[*] An-nafs, ‘aql, qalb, ruh, dan sirr adalah nama-nama untuk satu hal, yang lembut, bersifat ketuhanan, bersifat cahaya, disimpan pada objek yang bersifat jasmani dan gelap. Munculnya perbedaan nama disebabkan oleh perbedaan ahwal dan pergeseran kondisi. Misalnya air hujan yang turun ke dasar pohon, kemudian naik ke cabang, lalu itu memunculkan daun, bunga dan kembang selanjutnya memunculkan buah. Pohon itu tumbuh sempurna, air yang menumbuhkannya satu, sedangkan namanya berbeda-beda sesuai dengan kondisinya. Demikian penjelasan as-Sahili di dalam karyanya, al-Bugyah. Menurut Ibn Atha’illah selama ruh pekat dengan maksiat, dosa, keinginan dan aib, ia disebut nafsu. Jika ruh tercegah dan terikat, ia disebut akal. Ruh senantiasa bolak-balik antara lalai dan hadir, karena itu disebut hati (qalb). Jika ruh tenang, tentram dan istirah dari dari letih kemanusiaan, maka disebut ruh. Jika ruh bersih dari kegelapan indera maka ia disebut sirr(rahasia/jiwa) karena keberadaannya menjadi rahasia dari rahasia-rahasia Allah, tepatnya ketika ruh kembali kepada asalnya, yaitu sirral-jabarut (rahasia jabarut).

Oleh karena itu, hendaklah orang yang berakal segera mengusahakan makrifat dengan sungguh-sungguh dan tidak menunda-nunda, agar saat dijemput maut dia dalam keadaan makrifat, tidak menderita ketidaktahuan. Sungguh, bila hati telah buta, tak ada jalan baginya untuk sampai bisa melihat setelah mati. Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” [QS. al-Isra’ 17:72]

Ketahuilah bahwa an-nafs adalah lathifah rabbaniyah, yakni ruh sebelum dilekatkan pada tubuh. Allah menciptakan ruh-ruh sebelum menciptakan jasad, dan sebelum dilekatkan pada tubuh, ruh itu berada di sisi-Nya. Ketika ruh itu diperintahkan untuk melekat di tubuh, ia segera mengenali yang lain dan terhijab dari hadirat Allah karena sibuk dengan yang lain. Karena itu ia membutuhkan pengingat. Allah Ta’ala berfirman, “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” [QS. adz-Dzariyat 51:55]

An-nafs adalah substansi yang menyinari (menghidupi) badan. Apabila ia menyinari badan lahir dan batin, maka dihasilkan kondisi terjaga. Apabila ia hanya menyinari badan bagian dalam, maka dihasilkan kondisi tidur. Apabila penyinarannya terputus secara total dari badan, maka dihasilkan kondisi mati. 

Biang semua maksiat, kelalaian, syahwat dan syirik adalah keridhaan pada nafs. Perhatikanlah bagaimana Fir’aun ketika benar-benar meridhai dirinya, dia melampaui batas hingga berkata, “Akulah tuhan kalian yang paling tinggi.” [QS. an-Nazi’at 79-24]

Pokok semua ketaatan, kesadaran, keterjagaan dan musyahadah adalah ketidakridhaan terhadap nafs. Karena itu tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba selain mendidik nafs-nya. 

Dilihat dari keterpengaruhannya oleh mujahadah (perjuangan ruhani melawan nafs), nafs terdiri dari tujuh tingkatan, yaitu: 

Pertama, an-nafsu al-ammarah (jiwa yang memerintah kepada keburukan), yakni jiwa yang cenderung kepada tabiat badaniah, memerintahkan pemenuhan kesenangan-kesenangan dan syahwat yang terlarang menurut syara’, serta menarik-narik hati kepada hal-hal yang hina. An-nafs al-ammarah ini merupakan tempat berbagai keburukan dan sumber akhlak tercela, seperti sombong, tamak, syahwat, dengki, marah, bakhil dan dendam. Tingkatan ini merupakan kondisi umum nafs manusia sebelum mujahadah.

Kedua, an-nafs al-lawwamah (jiwa yang mencela), yakni jiwa yang sudah mendapat terang cahaya hati, sehingga kadang menuruti kekuatan akal dan terkadang membangkang, namun setelah membangkang itu ia merasakan penyesalan dan lalu mencela dirinya sendiri. Pada tingkatan ini, jiwa menjadi sumber penyesalan, tempat bermula hasrat nafsu, kelalaian dan ketamakan.

Ketiga, an-nafs al-muthmainnah, yakni jiwa yang telah mendapat terang cahaya hati hingga kosong dari sifat-sifatnya yang tercela lalu merasa nyaman dan tenteram terhadap sifat-sifat kesempurnaan. Maqam-nya merupakan tempat bermula kesempurnaan. Jika seorang salik sudah menapakkan kakinya pada maqam ini, dia dianggap sebagai ahli thariqah, karena keberpindahannya dari talwin (keterpilahan dan keberpendaran) kepada tamkin (keberhimpunan dan kemapanan). Orang yang jiwanya sudah berada pada tingkatan ini akan mengalami mabuk ketuhanan. Padanya berhembus angin sepoi ketersambungan. Dia berbicara seperti biasa dengan sesama manusia sementara hatinya jauh dari mereka, karena demikian kuat keterkaitannya kepada Allah Ta’ala.

Keempat, an-nafs al-mulhimah (jiwa yang terilhami), yakni jiwa yang telah diberi ilham oleh Allah berupa ilmu, tawadhu’, qana’ah dan sakha’ (kedermawanan). Karenanya dalam tingkatan ini jiwa menjadi pemancar kesabaran, kesanggupan menanggung derita dan rasa syukur.

Kelima, an-nafs ar-radhiyah (jiwa yang ridha), yakni jiwa yang senantiasa ridha kepada Allah Ta’ala, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala, “ …dan mereka pun ridha kepada-Nya.” [QS. al-Bayyin 98:8]. Pada tingkatan ini, jiwa dalam kondisi berserah dan menikmati mabuk kerinduan kepada Allah. Sebagai terungkap dalam sebuah syair:

Tambahi aku mabuk cinta kepada-Mu

Aku sungguh tergila-gila kepada-Mu

Kasihilah hatiku dengan api cinta kepada-Mu

Keenam, an-nafs al-mardhiyyah (jiwa yang diridhai Allah), yakni jiwa yang diridhai Allah Ta’âlâ, danjejak ridha-Nya itu muncul pada jiwanya dalam rupa karamah, keikhlasan dan zikir (senantiasa dalam kondisi ingat Allah). Pada tingkatan ini, seorang salik menjejakkan kakinya yang pertama dalam pengenalan kepada Allah (ma’rifatullah) dengan pengenalan sejati. Pada tingkatan ini muncul tajalli af’al (manifestasi perbuatan perbuatan Allah).

Ketujuh, an-nafs al-kamilah (jiwa yang sempurna), yakni jiwa yang padanya kesempurnaan telah menjadi tabiat dan watak, dan dalam kesempurnaan ini ia terus mendaki. Lalu ia diperintahkan untuk kembali kepada hamba-hamba Allah, untuk melakukan pembimbingan dan penyempurnaan terhadap mereka. Maqam jiwa yang seperti ini adalah maqam tajalli al-asma’ wa as-sifat (manifestasi nama-nama dan sifat-sifat). Sedangkan hal-nya adalah al-baqa’ billah, berjalan dengan Allah, kepada Allah, kembali dari Allah, dan menuju kepada Allah. Tiada tempat baginya selain Dia, dan ilmu-ilmunya diambil dari Allah. Seperti diungkapkan dalam sebuah syair,

Dan setelah fana dalam Allah, jadilah sebagaimana engkau kehendaki 

Karena ilmumu tiada mengandung kebodohan

pun perbuatanmu tiada mengandung dosa

Ketahuilah, bahwa pendakian dari satu maqam ke maqam selanjutnya hanya bisa ditempuh dengan bimbingan guru yang makrifat, yang mengetahui maqamat dan ahwal jalan spiritual. Jangan kau kira bahwa penyucian jiwa bisa dengan mudah dilakukan melalui jalan akal seperti diduga oleh para filsuf, kaum empirisme dan kelompok-kelompok lainnya yang menempuh cara penyucian jiwa dengan latihan spiritual yang serampangan, tanpa bimbingan guru yang ‘arif. Sehingga mereka jatuh ke dalam kerusakan, kesamaran dan kesesatan.

Penyucian jiwa seperti pengobatan badan lahir. Orang yang badan fisiknya sakit tidak boleh minum obat selain atas petunjuk dokter yang ahli dan berpengalaman melakukan pengobatan. Demikian pula penyucian jiwa tidak mudah dilakukan kecuali dengan petunjuk dan tuntunan nabi atau wali yang mempunyai keahlian dalam masalah ini.

Ketahuilah bahwa jiwa memiliki banyak hijab yang bersifat cahaya dan hijab yang bersifat kegelapan. Jalan bagi seorang murid untuk sampai pada pembebasan diri dari hijab-hijab tersebut bisa ditempuh dengan memerangi dan menentang nafsu dan keluar dari hasrat nafsu. Sungguh, nafsu merupakan penghalang terbesar antara seorang hamba dan Tuhannya.

Ada banyak ragam mujahadah (perjuangan memerangi nafsu), dan setiap murid mempunyai jalan mujahadah-nya sendiri yang cocok untuk diri masing-masing. Kecocokan model mujahadah bagi setiap murid disesuaikan dengan kadar kemampuannya dan kadar pengenalannya tentang mana yang paling berat, dengan melihat keadaan dirinya, tempo mujahadah-nya serta hal-hal lainnya.

Bagi seorang raja, mujahadah yang berupa puasa dan shalat itu lebih berat daripada mujahadah berupa sedekah atau memerdekaan budak. Sedangkan bagi si miskin dan orang-orang yang rakus justeru sebaliknya. Bagi sejumlah ilmuwan, mujahadah dengan meninggalkan perberdebatan, perselisihan, menampakkan kelebihan dan bersaing di dalam forum, itu lebih berat daripada mujahadah dengan puasa atau shalat. Mujahadah dengan puasa di musim panas tentu lebih berat daripada di musim dingin. Sedangkan mujahadah dengan shalat malam justru lebih berat di musim dingin daripada di musim panas.

Penentuan berbagai jenis mujahadah bagi para murid diserahkan kepada pendapat syaikh yang menjadi pembimbing dan penuntun mereka di jalan spiritual, bukan pada pilihan murid sendiri. Sebab jika pemilihan model mujahadah itu ditentukan oleh murid bisa sangat membahayakan.

Pokok mujahadah adalah penyapihan jiwa dari segala bentuk kesenangannya serta mendorongnya untuk melawan semua keinginan pada keseluruhan waktu. Salah seorang ‘arif berkata, “Kami mengambil tasawuf bukan dari pendapat ini dan itu, tetapi kami mengambilnya dari rasa lapar, meninggalkan dunia, menyapih segala kebiasaan jiwa, menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Seorang syaikh sufi berkata, “Barangsiapa memasuki mazhab kami (yakni jalan tasawuf), hendaklah dia menjadikan empat kematian dalam dirinya. Yakni, kematian merah, kematian hitam, kematian putih dan kematian hijau. Kematian merah adalah melawan hawa nafsu. Kematian hitam adalah menanggung derita menyakitkan yang ditimpakan orang lain kepada dirinya. Kematian putih adalah rasa lapar dan kematian hijau adalah membuang keutamaan yang telah disematkan orang lain kepadanya satu persatu.”

Ibrahim ibn Adham berkata, “Seseorang tidak akan mencapai derajat keshalihan sebelum melampaui enam penderitaan. Pertama, menutup pintu kesenangan dan membuka pintu kesusahan. Kedua, menutup pintu mulia dan membuka pintu hina. Ketiga, menutup pintu istirahat dan membuka pintu lelah. Keempat, menutup pintu tidur dan membuka pintu terjaga. Kelima, menutup pintu kaya dan membuka pintu fakir. Keenam, menutup pintu angan-angan dan membuka pintu bersiap menghadapi kematian.” 

Jiwa (nafs) memiliki kecenderungan alamiah pada perangai buruk. Sementara hamba diperintahkan untuk terus menerus berperangai baik. Dengan kecenderungan alamiahnya itu jiwa berjalan di medan penentangan. Sementara hamba dituntut untuk menarik dirinya dari segala permintaan nafsu yang buruk. Barangsiapa melepas tali kendalinya, berarti dia adalah temannya dalam melakukan kerusakan. Nafsu adalah musuh abadi manusia, berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw., “Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang berada di antara kedua sisimu.” (HR. al-Baihaqi)

Di dalam satu riwayat disebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman kepada salah seorang wali-Nya di dalam mimpi, “Musuhilah nafsumu! Sungguh, di kerajaan-Ku ini tidak ada yang memusuhi-Ku selain dia.” Yakni, nafsu menuntut apa yang menjadi milik Allah, yaitu kesombongan dan keagungan, dan ia menuntun manusia untuk mengikuti dan menaatinya. Padahal di dalam riwayat disebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Maka barangsiapa merebutnya dari-Ku, akan Aku siksa dia, dan Aku tidak perduli.”

Apabila engkau ingin menguasai jiwa atau nafsu, maka jangan kau jadikan ia sebagai raja. Persempitlah ruang geraknya, jangan diberi keleluasaan. Jika engkau menjadikannya sebagai raja, ia akan menguasaimu. Jika engkau tidak mempersempit ruang geraknya, maka ia akan leluasa. Apabila engkau ingin lebih kuat dari dia, maka lemahkanlah dia dengan memutuskan sebab-sebabnya. Jika tidak, dia akan menjadi lebih kuat darimu dan akan membantingmu. Gunakanlah lapar sebagai bantuan bagimu untuk mengalahkan nafsu. Sebab lapar merupakan tali kendali yang ampuh untuk melemahkannya. 

Seorang ahli hikmah ditanya, “Dengan tali apa nafsu bisa diikat?” dan dia menjawab, “Ikatlah dengan lapar dan haus. Hinakanlah dia dengan pembasmian kemuliaan dan pemadaman syahwat. Kecilkanlah dia dengan meletakkaannya di bawah kaki anak-anak akhirat. Pecahkanlah dia dengan cara tidak mengenakan perhiasan orang kaya. Selamatkanlah dirimu dari berbagai petaka yang ditimbulkannya dengan cara terus menerus berprasangka buruk kepadanya. Dan temanilah dia dengan cara menolak semua keinginannya.” 

At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan, “Suatu hari, seorang lelaki bersendawa di majlis Rasulullah saw., lalu beliau bersabda, Kurangilah sendawa kenyangmu itu, sebab orang yang paling lama rasa laparnya nanti di Hari Kiamat adalah orang yang paling banyak kenyang saat di dunia.” Al-Baihaqi juga meriwayatkan hadis serupa, dia menyebutkan bahwa lelaki yang dimaksud adalah Abu Juhaifah. Al-Baihaqi juga menyebutkan bahwa Abu Juhaifah berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah lagi memenuhi perutku dengan makanan sejak saat itu sampai sekarang, dan aku berharap Allah ‘Azza wa Jalla menjagaku sampai sisa hari-hariku.”

Pada kenyataannya, urusan jiwa dan cara penanganannya merupakan hal yang sulit, tidak cukup satu atau dua kali, melainkan harus berkali-kali, sedikit demi sedikit. Jiwa itu serupa binatang tunggangan yang keras kepala, tidak bisa dituntun selain dengan tali kendali. Ada tiga hal yang harus dilakukan untuk merendahkan dan menjinakkannya. Pertama, menghalangi berbagai hasrat dan keinginannya. Sebab binatang tunggangan yang keras kepala juga akan melunak bila dikurangi kebiasaannya. Kedua, memikulkan beban-beban ketaatan. Seperti binatang tunggangan yang keras kepala, bila kebiasaannya dikurangi dan muatannya ditambah, kekuatannya akan menjadi rendah, kecil dan lemah sehingga akhirnya menjadi tunduk dan penurut. Ketiga, memohon pertolongan dan berendah diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk melawannya. Sahl ibn ‘Abdullah berkata, “Ibadah kepada Allah tidak ada yang seberat melawan nafsu.”

Di dalam satu cerita disebutkan, alkisah di negeri Mesir ada seorang rahib yang amat terkenal karena mukasyafah. Lalu ada seorang ulama muslim berkata, “Dia harus dibunuh, karena dikhawatirkan akan membahayakan kaum muslimin.” Si orang alim yang muslim itu mendatanginya sambil membawa sebilah pisau beracun. Ketika dia mengetuk pintu rumah sang rahib, dari dalam terdengar sang rahib berkata, “Letakkan pisau itu, wahai orang alim muslim.” Sang alim yang muslim itu pun meletakkan pisau beracunnya dan masuk ke rumah sang rahib. Setelah berhadapan, sang alim yang muslim bertanya, “Dari mana engkau memperoleh cahaya mukasyafah itu?” dan sang rahib menjawab, “Dengan melawan nafsu.” Lalu sang alim yang muslim itu bertanya, “Apakah engkau kemudian memeluk Islam?” dia menjawab, “Ya. Asyhadu al-la ilaha illallah wa asyhadu anna mummmadar-rasulullah.” Sang alim yang muslim itu bertanya lagi, “Apa yang membawamu padanya?” sang rahib menjawab, “Aku menawarkan Islam kepada diriku dan dia tidak mau menerimanya. Maka aku pun melawannya.”

Di dalam satu riwayat disebutkan bahwa Abu Yazid berkata, “Aku melihat Rabbul-‘izzah di dalam tidurku. Lalu aku berkata, ‘Ya Rabb, bagaimana cara untuk sampai kepada-Mu?’ dan Dia berflrman, ‘Tinggalkanlah nafsumu dan kemarilah.”

Untuk melihat lebih jelas masalah nafsu, dengan senang hati di sini kami akan menuturkan ungkapan al-Imam al-Ghazali tentang cara menegur dan mencerca nafsu. Apa yang diungkapkan beliau sungguh mengandung banyak manfaat berharga dan faedah yang berlimpah. Al-Imam al-Ghazali r.a. Berkata,

“Cara untuk mengalahkan diri pribadi adalah dengan menolaknya serta menegaskan kebodohan dan ketololannya. Katakanlah kepadanya: 

Hai diri, sungguh besar kebodohanmu. Engkau mengaku-ngaku bijak, mengaku cerdas dan pintar, padahal engkau manusia paling bodoh. Tidakkah engkau tahu surga dan neraka ada di hadapanmu, dan sebentar lagi engkau akan menjadi penghuni salah satunya!? Apa yang engkau pikirkan hingga engkau bergembira, tertawa-tawa dan sibuk melampiaskan hasrat nafsu, padahal engkau adalah buruan bencana besar itu!? Kulihat engkau menganggap kematian masih jauh, padahal Allah melihatnya sangat dekat. Tidakkah engkau paham bahwa yang jauh itu bakal datang, sementara semua yang pasti akan datang itu dekat sekali. Tidakkah engkau tahu bahwa kematian itu datang tiba-tiba, tanpa utusan yang mengabarkannya atau menjalin kesepakatan lebih dulu. Sungguh, kematian tidak memandang keadaan, atau musim, siang atau malam, tua atau muda. Setiap yang berjiwa bisa didatangi maut secara tiba-tiba. Kalau pun bukan kematian yang tiba-tiba datang mengejutkan, sakit bisa datang tiba-tiba, lalu mengantarkanmu pada kematian. Mengapa engkau tidak bersiap-siap menyongsong kematian Sementara kematian berada di depanmu demikian dekat, amat lekat!? Tidakkah engkau merenungi firman Allah Ta’ala, Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amal mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling dari padanya. Tidak datang kepada mereka satu ayat Alqur’an pun yang baru diturunkan dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bemain-main, lagi hati mereka dalam keadaan lalai. [QS. al-Anbiya’ 21:1-3]

“Sungguh celaka engkau, wahai diri! Bila kelancanganmu kepada Allah karena anggapanmu bahwa Allah itu tidak melihatmu, sungguh besar kekufuranmu. Dan bila kelancanganmu kepada-Nya itu kau perbuat padahal engkau tahu bahwa Allah memperhatikanmu, alangkah beraninya engkau, betapa engkau tidak tahu malu. Apakah engkau sanggup menahan pedih siksa-Nya? Tidak, tidak mungkin sanggup. Coba saja sesaat kau berjemur di terik matahari, atau berendam di pemandian air panas, atau dekatkan jarimu ke perapian, agar jelas seberapa besar kadar kemampuanmu. Atau, apakah engkau telah terperdaya oleh kemurahan Allah Ta’ala, oleh kebaikan-Nya, oleh ketidak buruan-Nya akan ketaatan dan ibadahmu!? Mengapa engkau tidak berpegang pada kemurahan Allah Ta’ala dalam urusan-urusan duniamu? Kenapa engkau selalu berusaha menolak udzur dan memenuhi hasrat-hasrat nafsumu, lalu kau bantah ruh dan memenuhi nafsumu dengan berbagai cara!? Apakah engkau mengira bahwa Allah Ta’ala hanya pemurah di akhirat, tidak di dunia, padahal engkau tahu bahwa ketentuan Allah tidak tergantikan, dan bahwa Sang Penguasa akhirat adalah juga Sang Penguasa dunia!? 

“Sungguh celaka engkau, wahai diri! Betapa aneh kemunafikan dan pengakuanmu yang batil itu. Engkau mengaku iman dengan lidahmu, sementara jejak kemunafikan demikian nampak dalam dirimu. Apakah Tuanmu belum berfirman kepadamu: Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. [QS. Hud 11:6]. Dan di dalam urusan akhirat Dia berfirman, Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. [QS. an-Najm 53:39]. Allah telah memberi jaminan untukmu dalam urusan duniamu hingga engkau tidak perlu mengusahakannya, tetapi dengan tindakan-tindakanmu engkau menganggap Dia bohong dalam jaminan-Nya. Buktinya, engkau demikian rakus dan mati-matian berusaha mencari dunia. Sementara untuk urusan akhirat yang telah Dia kuasakan kepada amalmu, engkau malah berpaling, terperdaya dan meremehkannya. Ini sungguh bukan ciri orang yang beriman. Seandainya iman cukup di lisan saja, kenapa orang-orang munafik berada di dasar neraka!

“Sungguh celaka engkau, wahai diri! Seakan-akan engkau tidak percaya kepada Hari Kiamat dan engkau menyangka bahwa seandainya engkau mati engkau akan lepas bebas begitu saja!? Jauh sekali dugaanmu itu. Apakah engkau menyangka bahwa engkau terabaikan tanpa diurus? Jika sangkaanmu itu muncul dari hatimu, engkau sungguh kafir dan tolol. Apakah engkau tidak menyadari dari apa engkau diciptakan? Allah telah menciptakanmu dari setetes mani, lalu Dia menentukan takdirmu dan memudahkan jalan bagimu memenuhi takdirmu. Kemudian Dia mematikanmu dan menguburmu. Apakah engkau mendustakan firman-Nya: Kemudian bila Dia menghendaki, Dia akan membangkitkannya kembali [QS. ‘Abasa 80:22] ?! Kalaulah engkau tidak mendustakannya, mengapa engkau tidak berhati-hati?! Padahal seandainya saat engkau sakit kemudian ada orang Yahudi menyampaikan informasi kepadamu bahwa makananmu yang paling enak itu bisa membahayakanmu, niscaya engkau akan bersabar untuk tidak memakannya dan berusaha keras melawan nafsumu. Apakah ucapan para nabi yang diperkuat dengan mukjizat dan firman Allah di dalam kitab-Nya yang diturunkan itu tidak lebih berkesan dalam dirimu daripada ucapan seorang Yahudi yang bahkan hanya bersumber dari keraguan dan prasangka, bahkan dengan kekerdilan akan dan kelemahan ilmunya.

“Wahai diri, jika engkau benar-benar mengetahui itu semua dan mengimaninya, kenapa engkau menunda-nunda amal kebaikan, sementara kematian selalu mengincarmu dan mungkin akan menyergapmu tiba-tiba?! Apa yang mencegahmu segara beramal? Apa yang mendorongmu untuk selalu menunda-nunda? Adakah, karena dalam peperangan melawan nafsu ada lelah dan beban berat yang harus dipikul?! Apa yang tidak mampu kau pikul hari ini, maka esok hari engkau lebih tidak mampu lagi memikulnya. Sungguh, syahwat itu laksana pohon yang tertancap kuat ke dalam bumi dan sulit dicabut. Apabila hamba tidak segera mencabutnya, dan malah menangguhkannya, dia seperti seorang pemuda kuat yang tidak akan terlalu kelelahan mencabutnya di hari ini tetapi dia malah menangguhkannya sampai tahun depan, padahal dia tahu bahwa semakin bertambah usia, dirinya akan semakin lemah, sementara pohon itu akan semakin kuat mengakar di bumi. Apa yang tidak sanggup dipikul saat muda, akan lebih berat saat dia telah beruban. Pendidikan akhlak di usia renta sungguh lebih sulit dilakukan. Menjinakkan serigala merupakan penyiksaan. Dahan yang muda bisa mudah kau lengkungkan, tetapi ranting tua yang telah kering dan kaku hanya bisa kau patahkan.

“Hai diri, jika engkau tidak memahami urusan yang demikian jelas itu dan engkau cenderung untuk terus menunda-nunda amal, lalu apa pikirmu hingga engkau mengaku bijak, ketololan apa lagi yang bertumpuk melapisi ketololanmu. Mungkin engkau berkata, ‘Tiada yang menghalangiku untuk istiqamah selain ketamakanku pada kenikmatan nafsu dan ketidak sabaranku menanggung derita dan kesusahan.’ O… alangkah tololnya dirimu, betapa buruk alasanmu. Jika engkau benar dalam pengakuanmu itu, carilah kenikmatan dan bersenang-senanglah dengan hasrat suci yang bebas dari kotoran dan bisa bertahan untuk selamanya, bukan kenikmatan sesaat! Di surga, hanya di surga nikmat seperti itu bisa didapat. Jika engkau berpikir untuk syahwatmu, berpikirlah dalam kebalikannya. Karena banyak kejadian satu suapan berakibat tercegahnya banyak suapan.

“Apa pendapatmu tentang si cerdik yang sedang sakit, yang oleh dokternya disarankan untuk tidak minum air dingin selama tiga hari agar dia sembuh dan kemudian bisa menikmati minuman dingin untuk seumur hidupnya, bahkan dokternya memberitahu dia bahwa jika dalam tiga hari itu dia meminumnya, maka dia akan sakit untuk selamanya dan tidak bisa lagi minum minuman dingin tersebut? Bagaimana putusan akal sehat tentang hal syahwat? Apakah dia harus bersabar selama tiga hari supaya merasa nikmat di sepanjang sisa usianya? Atau penuhi saja hasrat minum air dingin itu karena takut menderita penentangan nafsu selama tiga hari, sehingga kemudian dia harus menanggung derita penentangan hasratnya tiga ribu tiga ratus hari? 

“Bila sepenuh usiamu di dunia diukur dengan masa keabadian yang merupakan masa kenikmatan penghuni surga dan siksa penghuni neraka, sungguh tidak lebih lama dari tiga hari yang diukur dengan ukuran hidup di dunia, sepanjang apa pun usia dunianya. Apakah derita bersabar menahan hasrat nafsu lebih dahsyat dan lebih lama dibanding derita siksa neraka di lembah Jahannam? Orang yang tidak kuat menahan derita mujahadah bagaimana dia akan kuat menahan derita siksa Allah!

“Sungguh celaka engkau, wahai diri! Kehidupan dunia ini tidak perlu memperdayakanmu. Jangan sampai setan memperdayamu dalam ketaatan kepada Allah. Lihatlah dirimu! Engkau tidak diperintah untuk kepentingan orang lain. Jangan menyia-nyiakan waktumu. Nafas di dunia ini terbatas. Jika satu nafasmu telah berlalu, itu berarti sebagian dirimu telah lenyap. Manfaatkanlah sehat sebelum engkau sakit. Manfaatkanlah keluangan sebelum engkau sibuk. Manfaatkanlah kekayaan sebelum engkau jatuh miskin. Manfaatkanlah kemudaan sebelum engkau beruban. Manfaatkanlah hidup sebelum engkau mati. Bersiaplah untuk kehidupan akhirat sesuai kadar keabadianmu di sana. Apakah engkau tidak mempersiapkan diri untuk menyongsong musim dingin dengan bekal secukupnya, dengan mengumpulkan bahan makanan, pakaian, kayu bakar dan kebutuhan lain dalam kadar yang cukup untuk selama musim dingin itu? Apakah engkau menduga bahwa dinginnya Jahanam lebih ringan dan lebih pendek sejenak daripada dinginnya musim dingin? Tidak. Tidak demikian kenyataannya. Dingin dan dahsyatnya musim dingin tak bisa dibandingkan dengan neraka.

“Apakah kau kira seorang hamba bisa selamat dari neraka tanpa berusaha menyelamatkan diri darinya? Tidak. Janganlah berpikir demikian! Sebagaimana dinginnya musim dingin tidak bisa dihindari tanpa jubah, api dan sarana-sarana lain yang bisa menghangatkan tubuh, demikian pula panas dan dinginnya neraka tidak dapat ditolak tanpa benteng tauhid dan parit ketaatan.

“Sungguh celaka engkau, wahai diri! Kulihat engkau selalu menghimpun dunia dan tergila-gila pada dunia, sampai engkau demikian susah berpisah darinya. Apakah engkau tidak tahu bahwa orang yang melirik kesenangan dunia dan akrab dengan dunia, sementara kematian menguntit di belakangnya, berarti telah memperbanyak kesengsaraan saat berpisah dengannya (saat kematian), dan tanpa sadar dia telah mengumpulkan racun membinasakan dalam dirinya. 

“Wahai diri, tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah berlalu sebelummu!? Mereka membangun gedung-gedung yang tinggi, lalu mereka pergi meninggalkannya dan mengosongkannya. Lalu Allah mewariskan tanah dan rumah mereka kepada musuh-musuh mereka. Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana mereka mengumpulkan harta yang tidak mereka makan, membangun rumah-rumah yang tidak mereka huni dan mengangankan sesuatu yang tidak mereka jumpai!? Masing-masing mereka membangun istana, gedung pencakar langit, padahal tempat tinggalnya dalam kubur di perut bumi. Apakah di dunia ini ada yang lebih tolol dari orang seperti itu? Seseorang memakmurkan dunianya, sementara dia sedang dalam perjalanan meninggalkannya, pasti. Dia menghancurkan akhiratnya, padahal dia pasti akan menghuninya!

“Wahai diri, alangkah aneh perkaramu, betapa tolol dirimu dan sungguh tampak kelalimanmu. Bagaimana engkau bisa buta tentang hal yang terang dan jelas ini!? Wahai diri, sepertinya cinta pangkat telah memabukkanmu dan membuatmu linglung hingga tidak bisa memahami perkara-perkara yang jelas itu. Tidakkah engkau berpikir bahwa sebenarnya jabatan itu bila kau raih, orang-orang yang condong kepadamu karena jabatan yang ada padamu. Karena itu, anggaplah misalnya seluruh penduduk bumi ini bersujud kepadamu dan taat kepadamu. Lalu bayangkan lima puluh tahun setelahnya. Sungguh, engkau sudah tidak lagi di dunia ini, tidak pula seorang pun dari mereka yang menyembahmu itu akan abadi di dunia ini. Lalu datang masa ketika tak ada lagi orang-orang yang mengingatmu, tidak pula orang yang mengingat mereka yang mengingatmu. Seperti yang terjadi pada para raja sebelummu. Dan berapa banyak telah Kami binasakan bangsa-bangsa sebelum mereka. Adakah kamu lihat seorang saja dari mereka atau kamu dengar suaranya yang samar-samar? [QS. Maryam 19:98]. Wahai diri, kenapa engkau rela menjual yang akan abadi selamanya dengan sesuatu yang tidak akan bertahan lebih dari lima puluh tahun. 

“Wahai diri, sungguh celaka engkau bila tidak meninggalkan dunia demi mengharap akhirat hanya karena ketidaktahuanmu dan kebutaan mata hatimu. Mengapa engkau tidak meninggalkan dunia demi menghindari kehinaan para sekutunya, membersihkan diri dari kesulitan-kesulitannya dan menjaga diri dari percepatan kehilangannya? Mengapa engkau tidak zuhud dalam sedikitnya dunia, walaupun ia telah menghindar darimu. Kenapa engkau merasa gembira dengan dunia. Kalaupun dunia membahagiakanmu, sungguh negerimu tidak pernah kosong dari orang-orang Yahudi dan Majusi yang menyaingimu dalam dunia, yang harta benda dan kekayaannya lebih darimu. Maka, hindarilah dunia! Sungguh, dengan dunia itu orang-orang celaka dan hina telah mendahuluimu.

”Hai diri, kenapa engkau begitu bodoh, lemah dan picik sehingga engkau tidak suka berada di dalam golongan orang-orang yang didekatkan—yakni, para nabi dan shiddiqun—di sisi Allah Sang Penguasa semesta alam. Alangkah ruginya engkau bila dunia akhirat engkau juga merugi. Segeralah engkau beramal!

”Hai diri, celaka engkau! Engkau hampir binasa, sementara kematian sudah amat dekat dan pemberi peringatan pun telah datang. Siapa yang akan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu? Siapa yang akan memohonkan ridha-Nya bagimu setelah engkau mati? Wahai diri, adakah engkau mengetahui bahwa kematian adalah kepastian yang telah dijanjikan akan menimpamu, bahwa kuburan adalah rumahmu, tanah adalah alas tidurmu, ulat menjadi temanmu dan teror yang amat dahsyat di hadapanmu!?

”Hai diri, apakah engkau tidak malu menghiasai lahirmu untuk makhluk, sementara kepada Allah kau menghadap dengan hati penuh kebusukan. Mengapa engkau malu kepada makhluk tetapi tidak kepada Sang Pencipta!? Sungguh celaka engkau! Engkau menganggap enteng pengawasan Sang Pencipta terhadap dirimu. Engkau memerintahkan orang-orang berbuat baik sementara dirimu berlumur noda. Engkau mengajak orang-orang mendekatkan diri kepada Allah sementara engkau sendiri berlari menjauh dari-Nya. Engkau mengingatkan orang-orang kepada Allah sementara dirimu lupa dan lalai kepada-Nya. Tidakkah engkau tahu bahwa pendosa itu lebih busuk daripada tahi manusia, dan tahi manusia tidak bisa menyucikan apa-apa!? Lalu kenapa engkau demikian rakus menyucikan yang lain sementara dirimu sendiri tidak suci!?

”Wahai diri, sungguh celaka engkau! Seandainya engkau benar-benar mengetahui dirimu sendiri, tentu engkau akan mengira bahwa orang-orang tidak akan tertimpa bencana selain karena keburukanmu. Sungguh aneh, engkau merasa bangga dengan bertambahnya harta bendamu tetapi engkau tidak merasa sedih dengan berkurangnya umurmu. Apalah artinya harta bertambah sementara umur terus berkurang.

“Wahai diri, celaka engkau! Engkau berpaling dari akhirat sementara ia terus menghampirimu, dan engkau menghadap ke dunia sementara ia terus berpaling darimu. Berapa banyak orang yang memiliki harinya tapi tidak sampai menghabiskannya. Berapa banyak orang yang berangan-angan untuk besok hari, namun dia tak sampai hari esok. Engkau telah sering menyaksikan keadaan saudara, kerabat serta tetanggamu saat dijemput maut yang membuat engkau bersedih hati. Tetapi engkau tidak juga mau kembali dari kebodohanmu.

“Wahai diri, sungguh celaka engkau! Apa yang membuatmu terus beralasan, apa yang membuatmu tidak punya malu, apa yang membuatmu demikian tolol dan apa pula yang membuatmu sungguh lancang berbuat maksiat!? Wahai diri, berapa banyak janji telah kau jalin lalu kau rusak dan kau abaikan!? Wahai diri, tidakkah bagimu ada pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu mendahuluimu!? Apakah engkau mengira bahwa mereka dipanggil ke akhirat sementara engkau akan kekal di dunia?! Tidak. O… alangkah buruk prasangkanmu itu! Maka, wahai diri, ambillah pelajaran pada nasihat ini, terimalah nasihat ini. Sungguh, orang yang berpaling dari nasihat berarti telah merelakan dirinya untuk neraka. Kulihat engkau tidak rela dirimu masuk neraka, tetapi engkau tidak pula rela menerima nasihat ini!”

Demikain uraian ringkas dari al-Imam al-Ghazali tentang cara mengatasi nafsu.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *