47. Adab Murid terhadap Syaikh

Ada banyak adab yang harus dipenuhi murid terhadap syaikh yang menjadi gurunya. Namun di sini kami akan meringkasnya dengan hanya mengemukakan adab-adabnya yang paling penting. Di antaranya yang harus diperhatikan adalah menghormati dan mengagungkan syaikh lahir batin, serta meyakini bahwa tujuan dirinya hanya akan tercapai melalui bantuan dan bimbingan syaikhnya. Apabila perhatian dirinya terpecah kepada syaikh lain yang bukan gurunya, dia akan terhalang dari syaikhnya, dan pancaran sang syaikh pun akan tertutup bagi dirinya.

Adab-adab lainnya yang harus dipenuhi murid terhadap syaikhnya sebagai berikut:

  1. Pasrah, teguh dan rela menerima pengaturan yang dilakukan syaikh terhadap dirinya. Melayani syaikh dengan harta dan jiwanya. Sebab, mutiara kehendak dan cinta hanya akan menjadi jelas melalui cara ini. Kadar kesungguhan dan keikhlasan hanya akan diketahui melalui timbangan ini.
  2. Tidak protes terhadap syaikh menyangkut perbuatan yang dilakukannya, meski secara lahiriah tampak perbuatan yang dilakukannya itu tampak haram. Jangan sampai dia berkata kepada syaikhnya, “Mengapa Anda melakukan ini?” Karena murid yang berkata mengapa kepada gurunya tidak akan berhasil selamanya. Terkadang dari seorang syaikh muncul sesuatu yang secara lahiriah tampak tercela, padahal secara batin ia terpuji. Seperti yang terjadi antara Khidir dan Musa. Tentang makna ini ada sebagian tokoh sufi bersenandung:

Jadilah engkau di hadapannya bagai mayit di tangan yang memandikannya

selalu patuh, apa pun yang dia lakukan terhadap dirinya

Jangan membantahnya mengenai urusannya yang tidak kau ketahui

karena membantah berarti menantang

serahkanlah kepadanya apa yang kau lihat

meski dia tampak bertindak tidak sesuai syari’at, nanti engkau akan tercela

Di dalam kisah Khidir yang mulia terdapat pelajaran

dia membunuh bocah dan Musa al-Kalim menentangnya

Ketika subuh datang menerangkan rahasia yang disembunyikan malam

dan pedang memutus tali si peminta alasan

Musa pun mengajukan udzur padanya

demikian pula ilmu kaum sufi tentangnya

  1. Berkumpul dengan syaikh hanya untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Melebur pilihan dirinya kepada pilihan syaikhnya, dalam urusan ibadah maupun adat, yang global maupun rinci. Salah satu ciri murid sejati adalah taat kepada syaikhnya, sekira syaikhnya berkata, “Masuklah ke perapian!” ia memasukinya tanpa tanya.
  3. Tidak memata-matai kondisi atau tingkah laku syaikh secara mutlak. Sebab perilaku memata-matai guru bisa menyebabkan dirinya hancur, seperti terjadi pada banyak orang. Murid harus senantiasa berbaik sangka kepada syaikhnya dalam segala keadaan.
  4. Senantiasa menjaga syaikh di ketidak hadirannya seperti menjaga dia di kehadirannya. Selalu mengingat syaikh saat dengan hatinya dalam setiap keadaan, sedang bepergian ataupun tidak, agar dia memperoleh berkahnya.
  5. Memandang bahwa berkah dunia dan akhirat yang diperolehnya itu didapat melalui berkah syaikhnya.
  6. Tidak menyembunyikan sesuatu pun dari syaikhnya, entah itu keadaan, bisikan gaib, peristiwa yang mengejutkan, ketersingkapan, karamah dan apa pun yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya melalui syaikh.
  7. Tidak mengira-ngira sendiri makna peristiwa atau mimpi atau ketersingkapan yang didapatnya, meskipun jelas. Tidak pula berpegang teguh padanya. Dan bila sudah melaporkan semuanya kepada syaikh, dia tinggal menunggu jawaban sang syaikh tentangnya, tanpa meminta syaikh memberikan jawabannya. Apabila ada salah seorang sahabat syaikh yang bertanya tentang sesuatu, hati-hatilah jangan sampai engkau serta merta menjawabnya.
  8. Tidak membeberkan rahasia syaikh, walau tubuhnya sampai digergaji.
  9. Tidak menikahi perempuan yang hendak dinikahi syaikhnya, atau perempuan yang dicerai syaikhnya, tidak pula janda syaikhnya.
  10. Tidak memberikan pendapat bila diajak bermusyawarah meninggalkan sesuatu atau mengerjakan sesuatu oleh syaikhnya. Mengembalikan semua pendapatnya kepada syaikhnya dengan keyakinan bahwa syaikh lebih tahu daripada dirinya dan dia tidak butuh saran dari dirinya. Syaikh mengajaknya musyawarah hanya untuk membuatnya senang. Kecuali bila jelas ada alasan yang kuat yang mengharuskan dirinya menyampaikan pendapat, itu pun tetap harus disertai etika yang sempurna terhadap syaikhnya.
  11. Tetap memperhatikan keluarga syaikhnya ketika sang syaikh pergi, dengan terus berbuat baik kepada mereka, misalnya dengan tetap melayani dan membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan. Sungguh, sikap ini bisa membuat hati syaikh senang kepadanya. Dalam hal ini, syaikh juga seperti saudara sesamanya. 
  12. Apabila murid mendapati diri merasa bangga dengan amalnya (‘ujub), atau merasa hebat dengan kondisi dirinya, hendaklah dia segera melapor kepada syaikhnya, agar syaikh memberikan penawarnya. Jika dia menyembunyikan hal itu dari syaikhnya, akan tumbuh riya dan kemunafikan dalam dirinya.
  13. Menghargai sesuatu yang diberikan oleh syaikh, tidak menjualnya kepada seseorang, apa pun yang diberikannya. Karena bisa jadi di dalam sesuatu yang diberikannya itu sang syaikh menyertakan salah satu rahasia para faqir (sufi) untuknya, yang bisa membantunya di dunia dan akhirat serta mengantarnya ke hadirat Allah ‘Azza wa Jalla.
  14. Yang lebih penting lagi adalah kesungguhan dalam perjuangan mencari syaikh. Karena para syaikh telah sepakat, bila seorang murid benar-benar sempurna kesertaannya bersama syaikh, bisa jadi manis ma’rifatullah akan sampai ke lubuk hatinya hanya dalam satu pertemuan, di awal perjumpaannya dengan sang syaikh.
  15. Tidak mengurangi keyakinan terhadap syaikhnya jika melihat sang syaikh kurang (turun) dari maqam-nya. Misalnya karena syaikh banyak tidur di waktu sahur, atau kurang wara’, atau hal-hal lainnya yang merupakan sifat kekurangan. Sebab, Allah kadang memberlakukan kekurangan itu terjadi pada wali-Nya di saat sang wali lalai atau lupa. Kemudian Allah mengingatkannya hingga dia sadar dari kelalaiannya dan segera menyusulnya dengan perbuatan lain yang patut dan mampu menutup kekurangan tersebut. Semua itu sebagai pembimbing bagi muridnya, agar dari fenomena yang tampak pada diri gurunya si murid menjadi tahu cara melepaskan diri dari ketergelinciran bila mengalami hal yang serupa. Selain itu, bisa jadi dengan kekurangan yang ditimpakan kepada wali-Nya, Allah membimbing sang wali untuk melihat besar kecilnya kadar kesungguhan dan kejujuran dia di maqam ridha bi qadha’illah wa qadarihi [Rela hati menerima qadha dan qadar Allah.]. Dengan perubahan-perubahan kondisi itu Allah mengenalkan para waliNya akan kenyataan diri mereka, agar mereka bersyukur atau memohon ampun kepada Allah Ta’ala di saat mereka sudah sadar. Karena itu, murid harus melestarikan keyakinan terhadap syaikhnya. Sungguh, para pemuka kaum ‘arif telah berkata, “Ketergelinciran kaum muqarrabun merupakan peninggi kedudukan mereka.” Ungkapan ini mereka landasi dengan kenyataan Adam. Dia melanggar larangan Allah hingga diusir, tetapi kemudian dia dijadikan makhluk pilihan dan dimuliakan.
  16. Tidak banyak berbicara di hadapan syaikhnya, meskipun syaikh memberinya keleluasaan untuk berbicara. Mengetahui kapan saat untuk berbicara dengan syaikh. Berbicara kepada syaikh hanya saat suasana syaikh lapang, disertai adab yang baik, khusyuk, khudhu’ dan tidak berlebihan menurut tingkat derajatnya. Bila syaikh berbicara memberi jawaban atas pertanyaannya, dengarkanlah secara seksama dengan wajah yang dihadapkan. Jika tidak, dia akan dicegah dari futuh. Dan barangsiapa telah dicegah dari futuh, dia akan sulit mendapatkan kedua. Hanya orang istimewa yang mendapat kesempatan kedua.
  17. Merendahkan suara di majlis syaikh. Sebab meninggikan suara di hadapan para pembesar merupakan kelancangan, tidak sopan.
  18. Tidak duduk bersila atau duduk di atas sajadah ketika berada di hadapan syaikh. Duduklah di hadapannya dengan penuh kerendahan dan rasa hina diri. Seorang ‘arif berkata, “Menurut kaum sufi, berkhidmat merupakan amal shalih yang paling utama.”
  19. Bersegera melaksanakan perintahnya, tidak menunda-nunda atau berleha-leha sebelum selesai melaksanakannya.
  20. Menghindari hal-hal yang tidak disenangi syaikhnya. Tidak menyukai hal-hal yang tidak disukai syaikhnya. 
  21. Tidak berteman dengan orang yang tidak disenangi syaikhnya dan mencintai orang yang dicintai syaikhnya.
  22. Bersabar menerima kemarahan dan keberpalingan syaikhnya, entah dari dirinya maupun dari orang lain. Jangan sampai bertanya, “Mengapa syaikh bersikap demikian kepada si fulan?” atau “Mengapa syaikh bersikap demikian kepada saya?”
  23. Tidak duduk di tempat yang disediakan khusus untuk syaikhnya. Tidak bepergian, tidak menikah dan tidak melakukan sesuatu pekerjaan yang penting tanpa izin syaikhnya. Ketahuilah bahwa syaikh yang ‘arif terkadang memberi keleluasaan kepada santri-santrinya. Lalu apabila telah mencium aroma kejujuran dan keseriusan dari mereka, dia mulai ketat terhadap mereka, kadang berpaling dari mereka dan menampakkan kemarahan, supaya jiwa mereka mati dari syahwat dan lebur dalam kecintan kepada Allah. Dengan sikap-sikap tersebut syaikh menguji kesetiaan murid-muridnya.
  24. Tidak memindai ucapan syaikhnya untuk diungkapkan kepada orang-orang selain yang sesuai dengan kadar pemahaman dan akal mereka.

Tanwirul Qulub

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Nasihat

Dua Penjaga Manusia

Disebutkan dalam Hakaya Ash Shufiyah إن الله تعالى جعل لأهل الأرض أمانين . الأول : رسول الله صلى الله عليه وسلم . والثاني : الاستغفار

Tasawuf

Jalan Menuju Allah

Banyak orang mencari Allah Ta’ala, dengan berbagai cara dan mencari keluar kemana-mana, tetapi tidak ketemu, karena salah alamat. Bagi pejalan ruhani jika tidak tahu peta

Thariqat

Perbedaan Fungsi Antara Al-Qur’an & Dzikir

Imam Ghozali ditanya, “Anda mengagung-agungkan perkara dzikir, apakah dzikir itu lebih agung derajatnya dari membaca Al-Qur’an?” Imam Ghozali menjawab; فاعلم أن قراءة القرآن أفضل للخلق

Tauhid & Ma'rifat

Al-Ghayyur: Allah Maha Pencemburu

Allah (swt) adalah “Al-Ghayyur” atau “Tuhan Yang Maha Pencemburu”. Dia menyuruh diri kita untuk menyatukan semua cinta yang kita rasakan ke dalam Cinta Ilahiah-Nya; untuk

Hadits

Engkau Akan Bersama dengan Orang yang Kau Cintai

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya kepada Nabi saw, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau saw berkataَ, “Apa yang telah engkau

Kewalian

Bay’at dengan Imam Mahdi (as)

Suatu ketika pada tahun 1970–tahun 70an, barangkali 1971, saya sedang dalam khalwat, tetapi tidak 100% khalwat, itu adalah setengah khalwat. Saya sedang duduk dan menulis

Fiqh

Memahami Musik Dengan Utuh

Oleh: Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya Dalam menikmati musik, setiap orang pasti mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Perubahan minat seseorang terhadap genre atau warna

Tasawuf

Mengenal Bisikan Dalam Jiwa

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. pernah ditanya muridnya tentang al-khatir (bisikan jiwa), lalu Beliau menjawab: “Memang apa yg engkau ketahui tentang al-khatir? Al-khatir itu bisa

Kemursyidan

Definisi Mursyid

Mursyid dalam literatur tasawuf berarti pembimbing spiritual bagi orang² yg menempuh jalan khusus mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah Ta’ala. Tugas dan fungsi Mursyid ialah membimbing,

Fiqh

Urutan Memotong Kuku

Suatu hari Grandsyekh (q) berkata kepada saya, “Tolong potong kukuku.” MasyaaAllah, beliau mempunyai sebuah pisau yang besar, dan sepanjang hidup saya, saya belum pernah melihatnya

Tasawuf

Memelihara Sadar dan Tenang

“Wahai jiwa yg tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yg puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jama’ah) hamba²Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS.

Tasawuf

Bagaimana Bahagia dari Dalam Diri

Sebagian besar dari kita menganggap bahagia itu ada syaratnya dan ada di luar diri kita. Saya akan bahagia jika keinginan saya terpenuhi, saya akan bahagia

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj

17 Feb - 27 Feb

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

Ramadhan

7 Apr - 17 Apr

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

El Amin

Pekanbaru

Karya Limboto

Gorontalo

Hari Guru

10 Jun - 20 Jun

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Akhlaqul Amin

Lombok

Mujibul Amin

Samarinda

Idul Adha

29 Jun - 9 Jul

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Maulid Nabi

29 Sep - 9 Okt

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

El Amin

Pekanbaru

Rutin

15 Des - 25 Des

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Akhlaqul Amin

Lombok

Karya Limboto

Gorontalo

Ar Rahman

Johor Baru

Download:

Fathur Rabbani

38. Keutamaan Laa ilaaha illa Allah

Dlm Fathur Rabbani: Majelis ke-38: “Keutamaan Laa ilaaha illa Allah” Pengajian Ahad pagi, 7 Rajab 545 H. di Ribath. Rasulullah Saw. bersabda: “Payahkanlah setan²mu dengan

Nasihat

Dua Penjaga Manusia

Disebutkan dalam Hakaya Ash Shufiyah إن الله تعالى جعل لأهل الأرض أمانين . الأول : رسول الله صلى الله عليه وسلم . والثاني : الاستغفار

Tasawuf

Jalan Menuju Allah

Banyak orang mencari Allah Ta’ala, dengan berbagai cara dan mencari keluar kemana-mana, tetapi tidak ketemu, karena salah alamat. Bagi pejalan ruhani jika tidak tahu peta

Thariqat

Perbedaan Fungsi Antara Al-Qur’an & Dzikir

Imam Ghozali ditanya, “Anda mengagung-agungkan perkara dzikir, apakah dzikir itu lebih agung derajatnya dari membaca Al-Qur’an?” Imam Ghozali menjawab; فاعلم أن قراءة القرآن أفضل للخلق

162 Masalah Sufistik

Masalah 42

162 Masalah Sufistik (Masalah 42): Syaikh Abdullah bin Ahmad az-Zubaidi ra. bertanya: “Tentang rasa panas yg didapati oleh sebagian orang yg suka berdzikir yg mana

Bidayatul Hidayah

26. Adab Mandi

آداب الغسل فإذا أصابتك جنابة، من احتلام أو وقاع، فخذ الإناء إلى المغتسل، واغسل يديك أولا ثلاثا، وأزل ما على بدنك من قذر، وتوضأ كما

Risalatul Mu'awanah

87. Uzlah (Mengucilkan Diri)

Dlm Risalatul Mu’awanah: 87. Uzlah (Mengucilkan Diri) (وعليك) إذا تفاحش ظهور المعاصي والمنكراتفي موضع أنت فيه وأيست من قبول الحق بالعزلة فإن فيها السلامة، أو

Al-Hikam

119. Allah Menutupi Rahasia Kewalian

Hikmah 119 dlm Al-Hikam: “Allah Menutupi Rahasia Kewalian” سُبْحاَنَ من سَتَرَ سِرَّالخُصُوصيَّةِ بِظُهُورِ البَشَرِيَّةِ وَظَهرَ بِعَظَمةِ الرُّبُوْبِيَّةِ فِى اِظهاَرِالعُبُودِيَّةِ Maha Suci Allah yg telah menutupi

Tauhid & Ma'rifat

Al-Ghayyur: Allah Maha Pencemburu

Allah (swt) adalah “Al-Ghayyur” atau “Tuhan Yang Maha Pencemburu”. Dia menyuruh diri kita untuk menyatukan semua cinta yang kita rasakan ke dalam Cinta Ilahiah-Nya; untuk

Fathur Rabbani

38. Keutamaan Laa ilaaha illa Allah

Dlm Fathur Rabbani: Majelis ke-38: “Keutamaan Laa ilaaha illa Allah” Pengajian Ahad pagi, 7 Rajab 545 H. di Ribath. Rasulullah Saw. bersabda: “Payahkanlah setan²mu dengan

162 Masalah Sufistik

Masalah 42

162 Masalah Sufistik (Masalah 42): Syaikh Abdullah bin Ahmad az-Zubaidi ra. bertanya: “Tentang rasa panas yg didapati oleh sebagian orang yg suka berdzikir yg mana

Bidayatul Hidayah

26. Adab Mandi

آداب الغسل فإذا أصابتك جنابة، من احتلام أو وقاع، فخذ الإناء إلى المغتسل، واغسل يديك أولا ثلاثا، وأزل ما على بدنك من قذر، وتوضأ كما

Risalatul Mu'awanah

87. Uzlah (Mengucilkan Diri)

Dlm Risalatul Mu’awanah: 87. Uzlah (Mengucilkan Diri) (وعليك) إذا تفاحش ظهور المعاصي والمنكراتفي موضع أنت فيه وأيست من قبول الحق بالعزلة فإن فيها السلامة، أو

Al-Hikam

119. Allah Menutupi Rahasia Kewalian

Hikmah 119 dlm Al-Hikam: “Allah Menutupi Rahasia Kewalian” سُبْحاَنَ من سَتَرَ سِرَّالخُصُوصيَّةِ بِظُهُورِ البَشَرِيَّةِ وَظَهرَ بِعَظَمةِ الرُّبُوْبِيَّةِ فِى اِظهاَرِالعُبُودِيَّةِ Maha Suci Allah yg telah menutupi

Sabilus Salikin

187. Hukum Perempuan Menjadi Mursyid dalam Tarekat

Dalam dunia tarekat, yang menjadi mursyid atau khalifah semuanya adalah dari kalangan pria. Hal ini disebabkan karena syarat seorang mursyid adalah laki-laki. Oleh karena itu,

Sabilus Salikin

186. Menggerakkan atau Menundukkan Kepala Ketika Berzikir

Tanya: Bagaimana hukum menggerak-gerakkan atau menundukkan kepala ketika berzikir? Jika dengan menggerak-gerakkan atau menundukkan kepala itu bisa menjadikan diri orang yang berzikir lebih khusyuk, maka

Sabilus Salikin

185. Tidak Boleh, Memberi Baiat Kepada Anak Kecil

Tanya: Menurut keputusan kongres Jam`iyah Tarekat Mu’tabarah di Tegal Rejo, bahwa orang baiat tarekat “mu’tabarah” diwajibkan menjalaninya. Lalu bagaimana hukumnya orang yang memberi baiat kepada

Sabilus Salikin

184. Masuk Tarekat Secara Bersama

Tanya: Apakah boleh seorang masuk tarekat Naqsyabandiyah dan lainnya secara bersama? Apakah demikian itu tidak seperti sebutir telur dierami dua induk ayam, sehingga akhirnya menjadi

Sabilus Salikin

183. Tanya Jawab Tasawuf dan Tarekat

Tanya: Bagaimana hukum masuk tarekat dan mengamalkannya? Jawab: Jikalau yang dikehendaki masuk tarekat itu belajar membersihkan hati dari sifat-sifat yang rendah, dan menghiasi sifat-sifat yang

Sabilus Salikin

182. Muraqabah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Muraqabah memiliki perbedaan dengan zikir terutama pada obyek pemusatan kesadaran (kosentrasinya). Zikir memikili obyek perhatian pada simbol, yang berupa kata atau kalimat, sedangkan muraqabah menjaga

Sabilus Salikin

181. Rabitah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Pengertian rabitah atau wasilah adalah perantara guru (syaikh), yaitu murid berwasilah pada guru (syaikh). Menurut al-Khalidi dalam kitabnya Bahjah as-Saniyah halaman 64, rabitah adalah menghadirkan rupa guru

Sabilus Salikin

180. Suluk Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Istilah suluk (merambah jalan kesufian) terdapat dalam Al-Qur’an Surat an-Nahl; 69. فَاسْلُوْكِىْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً ) النحل: 69 ( …. dan tempuhlah jalan Tuhan-mu yang telah

Sabilus Salikin

179. Pembaiatan

Dalam pelaksanaan zikir, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah melakukan beberapa tata acara amaliyah yang sudah ditetapkan, seperti baiat. Prosesi pembaiatan dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah biasanya

Sabilus Salikin

177. Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah

Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah merupakan gabungan dari Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah (TQN) yang didirikan oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas (1802-1872 M.) yang dikenal sebagai penulis

Sabilus Salikin

176. Aurad Tarekat Sanusiyah

Aurad Tarekat Sanusiyah secara umum yaitu: Membaca Al-Qur’an al-Karim Membaca istighfar Membaca tahlil Membaca salawat kepada Nabi Muhammad saw. Aurad Tarekat Sanusiyah yang telah ditulis

Sabilus Salikin

175. Sanad Tarekat Sanusiyah Melalui Enam Jalur Tarekat

Sanad Tarekat Hidiriyah Muhammadiyah yang diterima Syaikh Muhammad Sanusi dari Syaikh Ahmad al-Rifi al-Qal’i bin Abdu Qadir dari Syaikh Muhammad bin ‘Ali al-Syarif dari Syaikh Abi Abbas al-‘Aroisyi

Sabilus Salikin

174. Kewajiban Salik Tarekat Sanusiyah

Kewajiban salik Tarekat Sanusiyah untuk melakukan dakwah berpegang pada beberapa pedoman.  Menyampaikan wahyu Allah kepada manusia, meliputi menjelaskan dasar-dasar dan kaidah agama kepada manusia, menjelaskan

Sabilus Salikin

173. Tarekat Sanusiyah

Pendiri tarekat ini adalah Syaikh Muhammad bin Ali bin Sanusi bin Arabi bin Muhammad bin Abdul Qadir bin Syahidah bin Khamim bin Yusuf bin Abdullah

Sabilus Salikin

172. Aurad Tarekat Idrisiyah

Berikut ini adalah tata cara mengamalkan zikir Tarekat Idrisiyah yang dijelaskan di dalam kitab al-Nafahât al-Aqdasiyah fi Syarh al-Shalawât al-Ahmadiyah al-Idrisiyah, halaman: 21-22. Mukadimah aurad, membaca; بِسْمِ

Silakan muat-ulang halaman.

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

Daftar Isi

Share via
Copy link
Powered by Social Snap