55. Syarat-syarat Masuk Tarekat Ghazaliyah

Sâlik harus memenuhi beberapa syarat sebelum memasuki tarekat, menurut al-Ghazâli memerlukan beberapa syarat yang tidak mudah diantaranya:

  1. Mengedepankan ilmu dari pada ibadah

Dalam pandangan ilmu al-Ghazâli, mendahulukan ilmu dari pada ibadah menjadi wajib, karena dua hal;

Pertama, agar ibadah menjadi sah dan diterima, Kedua, ilmu yang bermanfaat menghasilkan ketakutan dan ketundukan dalam hati kepada Allah SWT.

Dan hal itu akan mendatangkan ketaatan dan mencegah ma`siat dengan pertolongan dan petunjuk Allah SWT Dibalik dua hal ini tidak menyimpan suatu maksud dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT Karena itu, ilmu yang manfaat harus dimiliki seorang shufi, karena itulah masih terdapat prasyarat lain; Pertama, untuk beribadah seorang harus mengetahui sembahannya. Bagaimana menyembah sesuatu yang tidak diketahui keberadaan-Nya dan sifat-sifat-Nya serta apa yang wajib dan yang mustahil bagi-Nya. Barangkali seseorang meyakini sesuatu dalam sifat-sifat-Nya yang menyimpang dari kebenaran, maka ibadah itu laksana debu yang tercerai-berai.

Kedua, seseorang harus mengerti apa yang menjadi kewajiban dan apa yang harus ditinggalkan menurut syara’. Dari uraian ini, al-Ghazâli melihat bahwa ilmu yang harus dikuasai seseorang pelaku tarekat ada tiga macam:

  1. Ilmu tauhid. Batasan minimal yang harus dikuasai Sâlik adalah apa yang dikenal sebagai ilmu dasar-dasar Agama dan kaidah-kaidah dalam ber-akidah.
  2. Ilmu sirr (rahasia). Yaitu ilmu yang berhubungan dengan hati.
  3. Ilmu adat yang terlihat. Yaitu ilmu yang berhubungan dengan anggota tubuh, badan dan harta.

Setelah Allah memberikan pengetahuan kepada apa yang wajib diketahui, apa yang wajib dijalani serta apa yang harus ditinggalkan, seorang murid barulah diperkenankan menghadap Imam/ Syaikh, (al-Ghazâli, Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, Indonesia: al-Haramain, halaman: 14).

  1. Mengedepankan kesungguhan, menghapus sifat tercela, memutuskan seluruh ikatan dan tulus kepada Allah SWT

Menurut al-Ghazâli, tarekat adalah mengedepankan kesungguhan, menghapus sifat tercela, memutuskan semua ikatan dan tulus dengan subtansi cita-cita. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Pertama-tama ia menyendiri dalam zawiyah berkonsentrasi dengan ibadah-ibadah, baik yang fardhu maupun rawatib, dan duduk dengan hati yang hanya dipenuhi keinginan berzikir kepada Allah SWT Kemudian mengulang-ulang sebutan “Allah” dengan lisannya secara menghadirkan segenap hati dan perasaannya sampai pada suatu kondisi tertentu. Kondisi dimana seandainya gerakan lisan telah berhenti dan beralih menuju alam pikiran, terlihat seakan-akan lafadz itu tetap terucap dari lidahnya karena seringnya pengulangan.

Kondisi ini berlangsung sampai pengaruh lisan benar-benar hilang disusul oleh gerakan batin dan hati secara terus-menerus. Setelah itu barulah yang tertinggal dalam hati hanya sebatas makanan yang dimaksud, tidak lagi mengindahkan huruf-huruf dan struktu-struktur kalimat. Seorang murid hanya berikhtiar sampai batas ini. Setelah itu hanya berkewajiban menjaga diri dari Rasa was-was yang bisa mengganggu konsentrasinya. Jika semua ini telah dilewati, ia tinggal menanti apa yang akan muncul padanya, sebagaimana terjadi pada para wali. Dan itu adalah sebagian dari yang dialami para Nabi.

Simâ’ dan Adabnya

Derajat pertama dalam simâ’ yaitu faham pada sesuatu yang didengar dan bisa menangkap ma’na sesuatu yang didengar oleh pendengar, kemudian pemahaman tersebut membuahkan al-wajdu (keadaan hati), al-wajdu bisa menggerakan anggota tubuh lahir tanpa pertimbangan, hal ini disebut al-Idlthirâb, adapun gerakan yang menggunakan pertimbangan disebut dengan al-roqsh (menari dengan gerakan teratur) dan al-Tashfîq (menari sambil tepuk tangan).

Simâ’ bagi salik bisa menghasilkan keadaan jiwa bermuamalah kepada Allah, merubah keadaan salik dari keadaan (hâl) satu ke keadaan (hâl) lainnya karena tidak ada tujuan bagi murid kecuali ma’rifat, wushûl kepada Allah dengan cara musyâhadah secara sirri dan membuka tutup hati, hal-hal yang terjadi ketika salik simâ’, adakalanya salik mencela dirinya sendiri atau menerima percakapan atau menerima sesuatu, atau menolak atau wushûl atau diam atau mendekat atau menjauh atau rindu kepada penantian atau rindu pada yang akan terjadi atau muncul harapan atau putus asa atau galau/kesediahan atau merasa tentram atau bisa menerima janji dst, (Ihya’ ‘Ulûm al-dîn, juz 2, hlm. 257).

Adab simâ’, Salik harus mengikuti aturan ilmu tentang ma’rifat kepada Allah dan sifat-Nya jika tidak maka simâ’ bisa berakibat buruk pada salik.

Sumber: Alif.ID

Sabilus Salikin

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj

17 Feb - 27 Feb

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

Ramadhan

7 Apr - 17 Apr

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

El Amin

Pekanbaru

Karya Limboto

Gorontalo

Hari Guru

10 Jun - 20 Jun

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Akhlaqul Amin

Lombok

Mujibul Amin

Samarinda

Idul Adha

29 Jun - 9 Jul

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Maulid Nabi

29 Sep - 9 Okt

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

El Amin

Pekanbaru

Rutin

15 Des - 25 Des

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Akhlaqul Amin

Lombok

Karya Limboto

Gorontalo

Ar Rahman

Johor Baru

Download:

166. Hati Menjadi Sumbernya Nur (4)

Hikmah 166 dlm Al-Hikam: ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ Bisa jadi…

48. Amal Shaleh

Dlm Fathur Rabbani:karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. Majelis ke-48: “Amal Shaleh” Pengajian Selasa sore,…

164. Hati Menjadi Sumbernya Nur (2)

Hikmah 164 dlm Al-Hikam: نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ Cahaya yg tersimpan…

163. Hati Menjadi Sumbernya Nur (1)

Hikmah 163 dlm Al-Hikam: “Hati Menjadi Sumbernya Nur” مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ Tempat terbitnya cahaya Ilahi…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

161. Roja’ dan Khouf

Hikmah 161 dlm Al-Hikam: “Roja’ dan Khouf” اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه…
All articles loaded
No more articles to load

166. Hati Menjadi Sumbernya Nur (4)

Hikmah 166 dlm Al-Hikam: ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ Bisa jadi…

48. Amal Shaleh

Dlm Fathur Rabbani:karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. Majelis ke-48: “Amal Shaleh” Pengajian Selasa sore,…

164. Hati Menjadi Sumbernya Nur (2)

Hikmah 164 dlm Al-Hikam: نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ Cahaya yg tersimpan…

163. Hati Menjadi Sumbernya Nur (1)

Hikmah 163 dlm Al-Hikam: “Hati Menjadi Sumbernya Nur” مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ Tempat terbitnya cahaya Ilahi…

161. Roja’ dan Khouf

Hikmah 161 dlm Al-Hikam: “Roja’ dan Khouf” اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه…

160. Jangan Putus Asa

Hikmah 160 dlm Al-Hikam: “Jangan Putus Asa” إذا وقع منك ذنب فلا يكن سببالياءْسك من…

159. Sifat Ke-Kanak-Kanakan

Hikmah 159 dlm Al-Hikam: “Sifat Ke-Kanak-Kanakan” متى كنت اذا اُعطيتَ بسطك العطاءُوإذامنعت قبضك المنع فاستدلّ…
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on telegram
Telegram
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Share on print
Print

Daftar Isi

Copy link
Powered by Social Snap