158. Tarekat Jalwatiyah

Tarekat ini dinisbatkan kepada Syaikh ‘Aziz Mahmud Hada’I (w.1628 M) dari Syaikh Muhammad Syahir, dari Syaikh al-Barwasawiyi, dari Syaikh al-Haj Birom al-Anqoridi, dari Syaikh Quthub al-Aqtab Humaid al-Din al-Aqsaroi, dari Syaikh Khowajah ‘Ali al-Ardabili, dari Syaikh Shofiyuddin al-Ardabili, dari Syaikh Ibrahim al-Zahid al-Kailani, dari Syaikh Syihabuddin Muhammad al-Tibrizi.

Syihabuddin Muhammad al-Tibrizi dari Syaikh Rukunuddin Muhammad al-Sanjani dari Syaikh Qutbuddin al-Abhari (w.590) dari Syaikh Najib al-Suhrawardi (w.563) dari Syaikh Wasiyuddin al-Qodhi Umar al-Bakri (w.532 H) dari Syaikh Muhammad al-Bakri (w.475 H) dari Syaikh Junaid (w.297 H) dari Syaikh Sari al-Siqti (w.253 H) dari syaikh Ma’ruf ibn Fairuz al-Karkhi (w.199) dari Syaikh Dawud al-Thoi (165) dari Syaikh Hasan Bashri (w.110 H) dari Sayyid Hasan (w.50 H) dari Sayidina Ali bin Abi Thalib Krw (w.40 H), dan dari Nabi Muhammad Saw.

Nama Jalwatiyah berasal dari kata jala-yajli-jalwan yang bermakna keluarnya hamba dari khalwat dengan membawa dan memakai sifat-sifat ilahiyah (ketuhanan). Pemakaian istilah خلوتية dengan huruf خ dan جلوتية degan huruf ج sebenarnya tidak ada bedanya, karena makna خلوة adalah meninggalkan pergaulan dengan manusia baik secara bentuk maupun maknawi, berkomunikasi secara langsung dengan Allah Swt secara sirri tanpa melalui perantara seseorang atau malaikat, (Tamâm al-Faidh fi Bâbi al-Rijâl, halaman: 20).

Turunnya titik huruf خ menjadi ج sebagai isyarat turunnya sirri nabi Muhammad Saw menjadi wujud alam semesta dan sebagai qutubnya. Dalam ajaran Jalwatiyah membagi perjalanan menjadi dua:

  1. Perjalanan pertama yang disebut fana’ al-kulli, ini adalah tingkatan لا إله إلا الله dibaca 100 x pada akhir bacaan ditambah محمد رسول الله. Penyebutan محمد رسول الله itu merupakan penjelasan kerasulan Nabi Muhammad Saw yang telah ditentukan oleh Allah Swt, begitu juga dengan pewaris-pewaris nabi diantara ahli Tarekat. Adakalanya penentuan itu tanpa melalui perantara (ini langka) adakalanya melalui perantara syaikh yang menjadi pengganti atau pewaris nabi, sementara nabi Muhammad Saw mendapat dari Allah Swt.
  2. Perjalanan kedua disebut dengan baqa’ (ini adalah maqam Nabi Muhammad yang disebut maqam Qab Qusain).

Dalam Tarekat Jalwatiyah, salik harus melaksanakan amal sesuai dengan hukum syariat sampai akhir hayatnya, karena ahli hakikat dalam pelaksanaan syari’at menganut pada ahli syariat. Sehingga salik tetap bergaul dengan manusia umum, berdagang, bertani, menikah, dan berbagai macam muamalah dan ibadah.

Nabi Muhammad Saw telah memberi isyarat ketika memberi perintah untuk merapatkan dan meluruskan barisan dalam shalat jamaah. Dalam hal ini nabi membedakan antara menghadap kepada Allah Swt secara individu dengan menghadap kepada Allah Swt secara berjama’ah atau kelompok. Karena sebagian orang dari kelompok pertama (individu) memetik buah kebahagiaan sebelum tujuannya berhasil.

Hal ini tidak terjadi pada golongan kedua (jama’ah/kelompok) sebagai tawajjuh (beribadah menghadap kepada Allah Swt) bagaikan selendang/surban bagi sebagian orang dan bahkan bisa menjadi penunjang untuk mendapatkan keutamaan. Seperti hujan bisa mempercepat aliran air yang sebelumnya lemah bukan malah memutus aliran air untuk sampai ke laut lepas, begitu juga dengan setiap tawajjuh yang dilakukan individu secara berkelompok itu bisa dibedakan dan menjadi penolong kesempurnaan tawajjuh di hadapan Allah Swt.

Tarekat Jalwatiyah mengenal konsep daur (memutar). Salik di masa awal harus melakukan khalwat dengan syarat-syarat yang telah ditentukan, setelah itu keluar dari khalwat lalu bergaul dengan manusia umum dengan membawa perubahan dari sifat jelek menjadi baik, dari sifat manusia umum menjadi sifat-sifat uluhiyah. Dalam hal ini memiliki sirri yang lain yaitu menyatunya tahap awal (khalwat) dan tahap akhir (jalwat).

Sebagian mursyid Jalwatiyah ditanya apa itu pamungkas (nihayah)? Dijawab “kembali ke tahap awal, ketika salik sudah sampai tahap akhir maka menyatulah tahap pertama dan tahap akhir menjadi kesatuan lahir batin”.

Takutlah wahai salik melakukan amal yang tidak sesuai dengan syariat-syariat tarekat karena hal itu adalah penyakit dan pemiliknya berpenyakit. Jadilah anak zaman, kenalilah batas-batasmu yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan.

Jangan engkau tidak menyesuaikan amal dengan bapak dan kakek (tirulah guru-guru tarekat yang menjadi bapak dan kakek ruhanimu). Jika engkau memilih untuk memutar atau daur (menyatunya tahap awal dan akhir) bergerak, hal itu adalah jalan tata kramanya, maka engkau akan menemukan kebaikan dan barokah, (Tamâm al-Faidh fi Bâbi al-Rijâl, halaman: 24-25).

Kewajiban

  1. Menjalankan amalan sesuai aturan syariat;
  2. Membaca Alquran dan menghayati makna-makna yang terkandung dan tersiratat dalam Alquran;
  3. Melaksanakan khalwat sebagai berikut (tata cara khalwat seperti Khalwatiyah):

Dilaksanakan selama 40 tahun atau kurang, menurut kebiasaan yang dilakukan oleh Allah (sunnatullah).

Perjalanan salik Jalwatiyah dalam menempuh tingkatan Asma` itu lambat dan mendaki karena membangun maqâm pada diri salik berbeda dengan membangun rumah, darah salik bukan batu bata bahan bangunan, kecuali setelah menempuh suluk dalam beberapa masa dengan benar maka bangunan maqâm salik bisa terwujud.

Salik Jalwatiyah memiliki dzauq (anugerah ilahi berupa pengetahuan yang ditancapkan ke dalam hati kekasih Allah Swt) yang sempurna, karena sang salik melaksanakan riyadhot al-nafs yang sempurna, selalu melaksanakan munajad kepada Allah Swt sepanjang siang dan malam, hati salik sudah mukasyafahmukasyafah qubur, melihat jin, malaikat, menyaksikan bentuk-bentuk amal, sifat-sifat yang biasa dilakukan manusia baik secara yaqdhoh (nyata), khisi (perasaan), mimpi, mengerti kalam matsal;

  1. Salik menyibukkan diri dengan zikir;
  2. Bersungguh secara ruhani dan jasmani, karena salik Jalwatiyah dalam melaksanakan tarekatnya akan mendapatkan mihnah (cobaan berupa kenikmatan). Yang sempurna diantaranya akan diberi pengetahuan tentang rahasia kehidupan seluruh cakrawala alam semesta dan tajalli, (Tamâm al-Faidh fi Bâbi al-Rijâl, halaman: 28-29).

Salik dalam menjalankan suluknya adakalanya di bawah naungan mursyid yang kamil, jika tidak maka akan sangat sulit untuk memahami dan mendalami asma` kecuali mendapatkan bimbingan langsung dari Allah Swt seperti Uwais al-Qarni RA.

Untuk bisa seperti Uwais harus mendapatkan persiapan yang sempurna, jika tidak maka akan sulit tetap ada di tarekatnya tanpa mendapatkan maqâm.

Bagaikan seorang anak yang meratapi kematian ibunya sehingga penuntun Tarekat Jalwatiyah lebih sedikit jika dinisbatkan kepada Tarekat Khalwatiyah.

Sumber: Alif.ID

Sabilus Salikin

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj

17 Feb - 27 Feb

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

Ramadhan

7 Apr - 17 Apr

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

El Amin

Pekanbaru

Karya Limboto

Gorontalo

Hari Guru

10 Jun - 20 Jun

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Akhlaqul Amin

Lombok

Mujibul Amin

Samarinda

Idul Adha

29 Jun - 9 Jul

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Maulid Nabi

29 Sep - 9 Okt

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

El Amin

Pekanbaru

Rutin

15 Des - 25 Des

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Akhlaqul Amin

Lombok

Karya Limboto

Gorontalo

Ar Rahman

Johor Baru

Download:

166. Hati Menjadi Sumbernya Nur (4)

Hikmah 166 dlm Al-Hikam: ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ Bisa jadi…

48. Amal Shaleh

Dlm Fathur Rabbani:karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. Majelis ke-48: “Amal Shaleh” Pengajian Selasa sore,…

164. Hati Menjadi Sumbernya Nur (2)

Hikmah 164 dlm Al-Hikam: نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ Cahaya yg tersimpan…

163. Hati Menjadi Sumbernya Nur (1)

Hikmah 163 dlm Al-Hikam: “Hati Menjadi Sumbernya Nur” مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ Tempat terbitnya cahaya Ilahi…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

161. Roja’ dan Khouf

Hikmah 161 dlm Al-Hikam: “Roja’ dan Khouf” اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه…
All articles loaded
No more articles to load

166. Hati Menjadi Sumbernya Nur (4)

Hikmah 166 dlm Al-Hikam: ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ Bisa jadi…

48. Amal Shaleh

Dlm Fathur Rabbani:karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. Majelis ke-48: “Amal Shaleh” Pengajian Selasa sore,…

164. Hati Menjadi Sumbernya Nur (2)

Hikmah 164 dlm Al-Hikam: نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ Cahaya yg tersimpan…

163. Hati Menjadi Sumbernya Nur (1)

Hikmah 163 dlm Al-Hikam: “Hati Menjadi Sumbernya Nur” مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ Tempat terbitnya cahaya Ilahi…

161. Roja’ dan Khouf

Hikmah 161 dlm Al-Hikam: “Roja’ dan Khouf” اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه…

160. Jangan Putus Asa

Hikmah 160 dlm Al-Hikam: “Jangan Putus Asa” إذا وقع منك ذنب فلا يكن سببالياءْسك من…

159. Sifat Ke-Kanak-Kanakan

Hikmah 159 dlm Al-Hikam: “Sifat Ke-Kanak-Kanakan” متى كنت اذا اُعطيتَ بسطك العطاءُوإذامنعت قبضك المنع فاستدلّ…
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on telegram
Telegram
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Share on print
Print

Daftar Isi

Copy link
Powered by Social Snap