107. Tarekat Akbariyah dan Riwayat Ibnu Arabi (2)

Pada beberapa bagian karyanya, Ibn ‘Arabi menyebutkan secara tersurat maupun tersirat upayanya untuk kembali kepada Allah SWT. Kita dapat secara langsung mencatat pengulangan beberapa istilah kunci, yakni khalwat (penyendirian), fath (pencerahan), mubasysyirah, wâqi’ah (mimpi), tawbah (tobat), rujû’ (kembali). Semua istilah tersebut mewakili begitu banyak kepingan asimetris, yang jika dikumpulkan dan disusun secara koheren, memungkinkan kita membentuk kembali sebuah catatan logis mengenai rentetan fase dalam proses kembalinya Ibn ‘Arabi kepada Allah SWT.

Pada 590 H. (1193) ketika pikiran-pikirannya telah mengkristal, ia berkelana mengelilingi Andalusia. Pertama ia menuju kota Murur untuk menemui Syaikh Abû  Muḥammad al-Mawrûrî. Selanjutnya ia meneruskan kelananya ke Kordova dan Granada. Setelah puas menikmati kelananya ke berbagai kota di Andalusia ia ingin menyebeRAngi laut dan menuju daratan lain.

Ia pun pergi ke Bejayah (Bugia) Aljazair untuk mengunjungi Syaikh Abû Madyân, seorang pendiri alIran tasawuf yang barangkali adalah syaikh paling terkemuka pada zamannya. Melalui Abû Madyânlah kecenderungan sufi yang khas di Maghrib benar-benar kentara. Berasal dari daerah Sevilla, Abû  Madyân tinggal sementara di Fez. Di sana dia bertemu dengan Abû Abdullâh al-Daqqâq, seorang sufi aneh yang luar biasa, demikian menurut para penulis hagiografi yang tampaknya mewariskan khirqah untuknya.

Abû  Madyân adalah seorang yang sangat berpengaruh pada diri Ibn ’Arabi. Hal ini terlihat dari kisah-kisah yang ditulisnya sendiri mengenai tokoh-tokoh spiritual pada zamannya. Keinginannya untuk bertemu dengan Abû  Madyân secara fisik tidak pernah tercapai, bahkan ajaran Abû  Madyân diperolehnya hanya dari murid-muridnya yang notabene adalah guru-gurunya, seperti al-Mawrûrî , al-Kûmî dan al-Sadrânî.

Akan tetapi Ibn ’Arabi meyakini bahwa Abû Madyân mengenalnya, bahkan telah menemuinya berkali-kali secara spiritual. Tokoh inilah yang kerap kali disebut-sebut sebagai salah satu mata rantai yang menghubungkan Ibn ’Arabi dengan alIran Neoplatonisme.

Dari Bugia Ibn ’Arabi meneruskan kelananya ke Tunisia. Di sana ia mengkaji karya seorang sufi politisi, Abû  al-Qâsim Ibn Qushay, Khal’an Na’layn (melepas kedua sandal). Tokoh inilah yang terkenal pembelotannya terhadap dinasti al-Murâbitûn di Andalusia Barat. Selain mengkaji karya tersebut, pada tahun yang sama Ibn ’Arabi mengunjungi beberapa murid Abû  Madyân, seperti ‘Abd al-Azîz al-Mahdâwî dan Abû  Muḥammad ‘AbdAllah al-Kinânî. Kepada al-Mahdâwî ia mempelajari karya Ibn Barajân, yakni Kitab al-Hikmah.

Dituturkan bahwa selama berada di Tunisia, Ibn ’Arabi bertemu dengan Nabi Khidir As. Pertemuan kemudian terjadi lagi ketika pada akhir 1194 Ibn ’Arabi kembali ke Andalusia. Dengan demikian sebanyak tiga kali telah ditemui oleh Khiḍir As. dalam tingkatan yang berada secara fisik.

Pertemuan pertama berlangsung di daratan, di jalan kota pada siang hari, di mana ia menekankan kepasrahan lahiriah kepada guru duniawi. Pertemuan kedua terjadi di air, sebuah pertemuan pribadi di bawah cahaya bulan purnama. Dan ketiga, Khiḍir memperlihatkan diri di atas udara.

Tampaklah bahwa ada tahapan dari ajaran Khiḍir As. dalam “bahasa yang khusus” untuk menuntun Ibn ’Arabi ke dalam pengetahuan misteri Ilahi dan mendorongnya untuk merenungkan kualitas dari pendidikan tersebut. Sejak saat itu ia memulai aktifitas menulis, menuangkan ilham atau inspirasi yang diterimanya ke dalam tulisan agar bisa dibaca para sahabatnya.

Pada akhir tahun  1194, setelah kembali ke Andalusia, ia menulis salah satu karya besarnya, Maqâṣid al-Asrâr, untuk sahabat-sahabat dari Mahdawî. Pada sekitar tahun yang sama ia menyusun Tadbîrât al-Ilâhiyyah untuk al-Mawrûrî.

Perjalanan spiritual

Dalam periode sepuluh tahun sejak pengunduran dirinya dari pemerintahan al-Muwaḥḥidin dan memasuki jalan rohani, Ibn ’Arabi melakukan perjalanan yang menandai masa instruksi dalam kebijaksanaan kenabian. Ia memulai sebagai Isawi, kemudian menjadi Musawi. Setelah bertemu dengan Hud dan semua nabi, ia akhirnya sampai pada warisan Muḥammad SAW.

Terkadang proses ini berada di bawah bimbingan para guru spiritual, terkadang melalui campur tangan langsung dari para nabi itu sendiri. Ibn ’Arabi dengan jelas melihat seluruh proses perkembangan spiritual dan kewalian dari segi kebijaksanaan khusus dari para nabi dan Rasul. Baginya, kebijaksanaan-kebijaksanaan itu tidak lain adalah ekspresi integral dan menyatukan kebijaksanaan Muḥammad.

Warisan kenabian ini membentuk basis riil dari semua tulisannya. Ia mulai sebagai pengikut Îsâ, menekankan pada penarikan diri, dan kemudian di dalam jalan spiritual Mûsâ , saat cahaya wahyu diturunkan. Setelah melalui tempat-tempat wahyu diwakili oleh masing-masing nabi, ia akhirnya sampai pada warisan sempurna dari Muḥammad.

Ketika ayahnya meninggal dunia, lalu disusul ibunya beberapa bulan kemudian, Ibn ’Arabi menerima kenyataan bahwa ia harus merawat kedua saudarinya, yakni Umm Sa’d dan Umm ‘Alā’[xxv], sehingga ia harus meninggalkan kehidupan spiritualnya.

Desakan duniawi juga muncul, ketika terjadi ketegangan politik antara al-Muwaḥḥidīn di Sevilla dan Raja Alfonso VIII dari Castile. Ibn ‘Arabi mendapat tawaran pekerjaan dalam pasukan pengawal Sultan. Karena teringat ucapan Sâliḥ al-Adawî, Ibn ‘Arabi menolak tawaran itu.

Kemudian ia meninggalkan Sevilla membawa kedua saudarinya menuju Fez dan tinggal di sana untuk beberapa tahun. Setelah kedua adiknya mendapatkan suami, tanggung jawab duniawinya selesai dan ia kembali mencurahkan diri pada jalan spiritual.

Fez tampaknya menandai periode kebahagiaan yang luar biasa dalam kehidupannya, di mana ia bisa mengabdikan dirinya secara penuh kepada kegiatan spiritual dan bergaul dengan orang-orang yang sepaham dan memiliki aspirasi yang sama. Dia tidak hanya bertemu dengan para wali yang merupakan pewaris Muḥammad, dia sendiri juga semakin jauh masuk ke dalam warisan ini.

Di Masjid al-Azhar di Fez ia memasuki tingkatan baru dari visi di dalam bentuk cahaya, visi cahaya ini adalah sejenis rasa pendahuluan dari perjalanan cahaya yang besar. Pada tahun berikutnya, pada usia 33 tahun, Ibn ‘Arabi mengalami suatu perjalanan yang luar biasa dari semuanya, yaitu pendakian (mi’raj) yang mencerminkan perjalanan malam Nabi Muḥammad yang terkenal.

Perjalanan ini kemudian tertuang dalam Kitāb al-Isrâ’. Perjalanan ini merupakan perjalanan spiritual ke atas langit, perjalanan yang membawa peziarah melampaui sekat-sekat geografis menuju hadirat Ilahi, “yang berjarak dua busur atau lebih dekat”, (Al-Najm: 9). Bagi para wali, meneladani Nabi berpuncak dalam “perjalanan malam” ini.

Setelah dianugerahi visi yang paling terang tentang takdirnya, Ibn ‘Arabi kembali ke semenanjung Liberia untuk terakhir kalinya pada tahun 1198. Pada bulan Desember tahun itu ia berada di Kordova daat pemakaman Ibn Rusydi. Kemudian dari Kordova, bersama sahabat dekatnya al-Habsyi mereka menuju ke Granada dan kembali bertemu dengan ‘AbdAllah  al-Mawrûrî.

Pada bulan Januari 1199 di Granada Ibn ‘Arabi mendapat visi yang memperkuat makna dari penutup para wali. Dari Granada mereka menuju Murcia. Setelah dua tahun berada di negeri kelahIrannya ini, mereka pergi ke Marakesy. Pada awal 1201 (597) dari kota ini mereka menuju Bugia lagi, setelah itu berkelana ke Tripoli, Tunisia, Mesir dan kemudian menuju Makkah.

Sumber: Alif.ID

Sabilus Salikin

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj

17 Feb - 27 Feb

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

Ramadhan

7 Apr - 17 Apr

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

El Amin

Pekanbaru

Karya Limboto

Gorontalo

Hari Guru

10 Jun - 20 Jun

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Akhlaqul Amin

Lombok

Mujibul Amin

Samarinda

Idul Adha

29 Jun - 9 Jul

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Maulid Nabi

29 Sep - 9 Okt

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

El Amin

Pekanbaru

Rutin

15 Des - 25 Des

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Akhlaqul Amin

Lombok

Karya Limboto

Gorontalo

Ar Rahman

Johor Baru

Download:

166. Hati Menjadi Sumbernya Nur (4)

Hikmah 166 dlm Al-Hikam: ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ Bisa jadi…

48. Amal Shaleh

Dlm Fathur Rabbani:karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. Majelis ke-48: “Amal Shaleh” Pengajian Selasa sore,…

164. Hati Menjadi Sumbernya Nur (2)

Hikmah 164 dlm Al-Hikam: نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ Cahaya yg tersimpan…

163. Hati Menjadi Sumbernya Nur (1)

Hikmah 163 dlm Al-Hikam: “Hati Menjadi Sumbernya Nur” مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ Tempat terbitnya cahaya Ilahi…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

161. Roja’ dan Khouf

Hikmah 161 dlm Al-Hikam: “Roja’ dan Khouf” اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه…
All articles loaded
No more articles to load

166. Hati Menjadi Sumbernya Nur (4)

Hikmah 166 dlm Al-Hikam: ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ Bisa jadi…

48. Amal Shaleh

Dlm Fathur Rabbani:karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. Majelis ke-48: “Amal Shaleh” Pengajian Selasa sore,…

164. Hati Menjadi Sumbernya Nur (2)

Hikmah 164 dlm Al-Hikam: نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ Cahaya yg tersimpan…

163. Hati Menjadi Sumbernya Nur (1)

Hikmah 163 dlm Al-Hikam: “Hati Menjadi Sumbernya Nur” مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ Tempat terbitnya cahaya Ilahi…

161. Roja’ dan Khouf

Hikmah 161 dlm Al-Hikam: “Roja’ dan Khouf” اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه…

160. Jangan Putus Asa

Hikmah 160 dlm Al-Hikam: “Jangan Putus Asa” إذا وقع منك ذنب فلا يكن سببالياءْسك من…

159. Sifat Ke-Kanak-Kanakan

Hikmah 159 dlm Al-Hikam: “Sifat Ke-Kanak-Kanakan” متى كنت اذا اُعطيتَ بسطك العطاءُوإذامنعت قبضك المنع فاستدلّ…
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on telegram
Telegram
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Share on print
Print

Daftar Isi

Copy link
Powered by Social Snap