5. Sejarah Berguru

Sekembalinya dari menempuh pendidikan kuliah Ilmu Jiwa di Amsterdam, Belanda, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya muda mulai belajar mengenal tarekat melalui salah seorang khalifah dari Syaikh Syihabuddin Aek Libung (1892-1967) yang berasal dari Sayur Matinggi, Tapanuli Selatan, pada era tahun tahun 1943-1946. Pada waktu itu masa pergolakan (penjajahan Jepang) hingga masa perjuangan melawan agresi militer Belanda pasca kemerdekaan. Walaupun kondisi sedang sulit, hal itu tidak memudarkan semangatnya untuk mempelajari tarekat lebih dalam, sebagai jalan menuju Tuhan.

Pernikahan Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya muda dengan putri Syaikh Haji Jalaluddin yang bermukim di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, memberinya peluang untuk memperdalam tarekat. Kala itu rumah Syaikh Haji Jalaluddin menjadi posko tempat perkumpulan pasukan yang akan berangkat perang di zaman penjajahan, dan merupakan tempat pertemuan para Syaikh tarekat.

Di rumah mertuanya inilah pada tahun 1947 Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya muda berkenalan dengan Syaikh yang kelak menjadi guru utamanya, yaitu Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan, seorang Syaikh tarekat Naqsyabandiyah yang tinggal di nagari Buayan Lubuk Aluang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, yang mendapatkan ijazah tarekat Naqsyabandiyah dari Syaikh ‘Ali al-Rida di Jabal Abu Qubays, Mekkah, yang dibantu oleh Syaikh Husain. Keduanya adalah khalifah dari Syaikh Sulaiman al-Zuhdi.

Kemudian, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya diundang oleh Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan untuk datang ke rumah salah seorang murid Beliau yang bernama Syiaudin Syahib di daerah Pasar Atas Bukit Tinggi. Saat itulah pertama kalinya Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya mengikuti kegiatan tawajuh atau zikir berjamaah yang dipimpin oleh Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim.

Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan adalah orang yang sangat disiplin dalam melaksanakan ketentuan tawajuh, dan biasanya siapa saja yang belum ikut tarekat belum diperbolehkan ikut dalam kegiatan ini dan harus menunggu di luar. Tetapi pada waktu kegiatan tawajuh hendak dilaksanakan, saat itu Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan melihat Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya muda, dan membolehkannya ikut tawajuh dengan diajarkan kaifiat (tata cara) singkat oleh khalifahnya pada saat itu juga.
Ini merupakan peristiwa yang langka terjadi pada murid Tarekat Naqsyabandiyah seperti yang terjadi atas diri Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, yaitu belum memasuki tarekat tetapi sudah mengikuti kegiatan tawajuh. Hal ini menunjukkan tanda-tanda bahwa Beliau sudah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Peristiwa langka berikutnya yang dialami Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah dalam situasi Agresi Militer Belanda II, pada tahun 1949, di mana saat itu Beliau mengungsi ke pedalaman Tanjung Alam, Batu Sangkar, Sumatera Barat. Di sinilah Beliau berkenalan dengan Syaikh yang termasyhur yaitu Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam (1873-1958), seorang Syaikh dari Guguk Salo (Tanjung Alam, Batusangkar) yang juga dikenal dengan sebutan Syaikh Abdul Majid Guguk Salo.

Pada saat itu Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya bermohon kepada Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam untuk dapat mengikuti suluk yang dipimpin oleh Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam. Namun pada awalnya Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam menolak karena Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya mempunyai guru, yaitu Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan. dan harus mendapatkan izin dari gurunya tersebut.

Kemudian Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam secara batin memohon izin pada Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan, dengan izin yang didapat secara batin itulah maka Prof. Dr. H. Kadirun Yahya dapat mengikuti suluk tersebut.
Pada hari kelima suluk, Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam mengatakan kepada Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, untuk meneruskan memimpin suluk sampai selesai penutupan suluk. Dengan kepatuhan yang tinggi Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya pun memimpin suluk hingga selesai. Satu lagi bukti kelebihan yang diperolah Beliau dari Allah SWT, yaitu sebelum menjadi Syaikh, tapi telah diberi kepercayaan dan amanah memimpin suluk (mensulukkan orang).

Setelah suluk berakhir, maka Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, diangkat menjadi Syaikh oleh Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam dan dianugrahi satu ijazah yang isinya sangat memberikan kemuliaan kepada Beliau.

Pada saat itu Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sebagai seorang yang masih muda dan tidak memiliki apa-apa merasa tidak berhak menerima kemuliaan itu, dia merasa sebuah tanggung jawab yang maha besar disandarkan dipundaknya, tetapi Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam mengatakan bahwa hal itu telah digariskan untuk Beliau dari Allah SWT, karena guru Beliau pernah berkata bahwa suatu saat Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam akan memberikan ijazah kepada seorang yang dicerdikkan Allah SWT. Dan Beliau mengatakan kepada Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya bahwa Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya kelak akan menjadi guru dari orang–orang cerdik pandai dan ahli mengobat.

Menurut menantu/wakil/penjaga suluk yaitu khalifah H. Imam Ramali, Syaikh Abdul Majid Guguk Salo pernah berkata bahwa Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, adalah orang yang benar-benar mampu melaksanakan suluk dan kelak akan dikenal di seluruh dunia sebagai pembawa tarekat Naqsyabandiyah.

Selanjutnya Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, kembali menjumpai Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan untuk mempertanggung jawabkan kegiatan Beliau yang “di luar prosedur lazim” tersebut, yaitu ikut bersuluk di tempat Syaikh Abdul Majid Tanjung Alam, dan ada perasaan bersalah di dalam dirinya. Dengan rendah hati dan takut akan gurunya, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya memohon izin untuk bersuluk kepada Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan pada saat bila sang guru Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan akan membuka suluk. Ternyata hal ini diperkenankan oleh sang guru dengan langsung membuka suluk khusus pada saat itu juga, terkhusus untuk Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, murid utama terkasih sang guru.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sangat erat hatinya dengan gurunya, Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Buayan. Selama guru Beliau hidup setiap minggu Beliau ziarah kepadanya pada kisaran tahun 1950-1954. Dan hal ini tidak berhenti setelah guru Beliau wafat, ziarah tetap dilanjutkan dilanjutkan antara satu sampai tiga kali dalam setahun.

Pada tahun 1950, Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan mengangkat Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya menjadi Syaikh. Pemberian ijazah kepada Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sekaligus menempatkannya dalam daftar silsilah ke-35 dalam urutan silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah. Dua tahun kemudian Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya mendapatkan predikat Syaikh penuh dengan gelar Sayyidi Syaikh.

Karena besarnya rasa sayang dan cinta Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya kepada gurunya, maka pantaslah penilaian yang diberikan Sayyidi Syaikh M. Hasyim Buayan tentang Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, adalah:

  1. Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, mendapatkan pujian tinggi antara lain dari segi ketakwaan, kualitas pribadi dan kemampuan melaksanakan suluk sesuai dengan ketentuan akidah dan syariat Islam;
  2. Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah satu-satunya murid yang diangkat menjadi Sayyidi Syaikh oleh gurunya di makam moyang guru, yaitu Sayyidi Syaikh Sulaiman al-Khalidi Hutapungkut (1841-1917) di Hutapungkut, Kota Nopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan diumumkan ke seluruh Negeri pada saat itu.
  3. Dalam Ijazah Beliau dicantumkan kalimat “Guru dari orang-orang cerdik pandai dan ahli mengobat”. Beberapa puluh tahun kemudian kalimat dalam ijazah ini terbukti kebenarannya
  4. Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, diberikan izin untuk melaksanakan dan menyesuaikan segala ketentuan Tarekat Naqsyabandiyah dengan kondisi zaman, sebab semua hakikat ilmu telah dilimpahkan gurunya pada Beliau.
  5. Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, adalah orang yang benar-benar mampu melaksanakan suluk sesuai dengan pesan guru Beliau yang disampaikan kepada menantu/penjaga suluk/khalifah Anwar Rangkayo Sati.

Sebagaimana pada awalnya begitu pulalah pada akhirnya. Pada suatu saat yang lain, Syaikh Syihabuddin Aek Libung Sayur Matinggi juga memberikan ijazah dan pengakuan sebagai Syaikh Tarekat kepada Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya. Pada awalnya, melalui salah seorang khalifah dari Syaikh Syihabuddin Aek Libung Sayur Matinggi inilah mula-mula Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya mengenal tarekat pada tahun 1943-1946. Syaikh Syihabuddinn Aek Libung Sayur Matinggi pernah berkata kepada cucunya yang menjaga suluk, yaitu Syaikh Husein, bahwa kelak muridnya yang benar-benar dapat menegakkan suluk adalah Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya.

Pada tahun 1971, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya berziarah dan bertemu dengan Syaikh Muhammad Said Bonjol (1881-1979), seorang Syaikh besar yang berasal dari daerah Bonjol, Sumatera Barat. Setelah tawajjuh, Syaikh Muhammad Said Bonjol memutuskan untuk memberikan kepada Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya sebuah benda berwujud semacam mahkota yang konon telah berusia lebih dari 300 tahun, yang dititipkan oleh guru Syaikh Muhammad Said Bonjol, yaitu Syaikh Ibrahim Kumpulan (1764-1914), di mana Syaikh Ibrahim Kumpulan juga mendapatkannya dari gurunya, yaitu Sayyidi Syaikh Sulaiman Al-Qarimi (Jabal Abu Qubaisy, Mekkah), dengan pesan agar kelak diberikan kepada “seseorang yang pantas, yang memiliki tanda-tanda tertentu”.

Puluhan tahun berlalu, barulah “orang yang pantas” tersebut ditemukan oleh Syaikh Muhammad Said Bonjol, yaitu Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya. Bersamaan dengan penyerahan mahkota itu terjadi hujan rintik-rintik yang disertai petir tunggal menggelegar dan gempa bumi. Peristiwa ini lazim terjadi setiap kali ada timbang terima amanah besar.

Mengenal YM Ayahanda Guru

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Tingkatan Alam Menurut Para Sufi

“Tingkatan Alam Menurut Para Sufi” فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُّوحِى فَقَعُوا لَهُۥ سٰجِدِينَ “Maka…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Mengenal Yang Mulia Ayahanda Guru

Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin al-Khalidi qs.

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj (Rajab)

26 Jan - 05 Feb

Ramadhan

30 Mar - 09 Apr

Hari Guru & Idul Adha

20 Jun - 30 Jun

Muharam

27 Jul - 06 Ags

Maulid Nabi

28 Sep - 08 Okt

Rutin

30 Nov - 10 Des

All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

WhatsApp
Facebook
Telegram
Twitter
Email
Print
Copy link
Powered by Social Snap