07. Bagaimana Allah Ta’ala?

Dialog Jin Dengan Sufi
Pertanyaan Ke-7:

“Bagaimana Allah Ta’ala?”

Mereka juga bertanya kepadaku tentang sebab akal bertanya, “Bagaimana Allah Ta’ala?” Padahal Allah Ta’ala secara Dzat tidak bisa ditanya “bagaimana”, tidak bisa di umpamakan, dan tidak bisa di serupakan. Lalu datang dari mana pertanyaan bagaimana itu kepada makhluk?

Aku menjawab, “Hal itu datang kepada mereka dari pendangan mereka terhadap diri mereka sendiri di dalam cermin makrifat Allah Ta’ala, seperti cermin material. Sungguh jika engkau melihat ke dalam cermin itu, engkau hanya akan melihat rupamu. Cermin itu mendahuluimu, lalu engkau dibentuk di dalamnya. Lalu, kalau engkau benar² melihat, engkau pasti mendapati bahwa rupamu benar² mendahuluimu.

Kemudian, rupamu itu menjadi tampak jelas di depanmu hingga yg menjadi sasaran pandanganmu hanya rupamu. Berusahalah untuk menghilangkan ketampakan itu hingga engkau bisa melihat cermin itu tanpa kekuasaan sama sekali selamanya. Pahamilah! Lalu ketahuilah, jika hati menjadi terlihat jelas cerminnya, didekatkan dengan cahaya Ilahi, isinya bersih dan di dekatkan ke hadirat Allah dengan kedekatan yg di syari’atkan, maka engkau tidak akan menemukan apa pun di sisi Allah Ta’ala, kecuali kesucian yg mutlak. Itu karena Allah Ta’ala sungguh berbeda dengan makhluk-Nya dalam seluruh level.

Allah Ta’ala tidak akan berhimpun dengan makhluk-Nya, baik di dalam satu batas, satu substansi, satu jenis, satu sosok, maupun satu ragam. Sedangkan sesuatu di dalam teks yg lahirnya diberi penyerupaan, itu bukan penyerupaan secara hakikat. Hal itu hanya penempatan Ilahi untuk kita dan menjadi rahmat terhadap akal kita agar mempelajari banyak makna yg datang melalui tangan para Rasul-Nya, tidak ada yg lain.

Seandainya Allah Ta’ala menuntut kita agar mempelajari sesuatu yg ada pada-Nya di dalam ketinggian Dzat-Nya sebagai suatu kesucian mutlak, niscaya kita tidak mengerti sedikit pun di antara hukum²Nya. Itu karena kita tidak akan bisa berpikir kecuali tentang sesuatu yg bentuknya sama dengan kita melalui sesuatu di maqam kita.

Kemudian ada yg berkata kepada salah satu di antara kita, ‘Pendengaran, tapi di mana posisi pendengarannya dari pendengaran Allah Ta’ala?’ Ada juga berkata kepada salah satu di antara kita, ‘Berbicara, tapi di mana posisi ucapannya dari ucapan Allah Ta’ala?’ Ada juga yg berkata kepada salah satu di antara kita, ‘Mengetahui, tapi di mana posisi pengetahuannya dari pengetahuan Allah Ta’ala?’ Ada juga yg berkata kepada salah satu di antara kita, ‘Santun, tapi di mana posisi kesantunannya dari kesantunan Allah Ta’ala?’ Juga ada yg berkata kepada salah satu di antara kita, ‘Pemurah, tapi di mana posisi kemurahannya dari kemurahan Allah Ta’ala.’

Jika bukan karena Allah Ta’ala berbicara kepada kita dengan membandingkan Nama² dan Sifat²Nya, niscaya kita tidak pernah tahu sedikit pun tentang Dia, apalagi sesuatu yg Dia bicarakan kepada kita. Allah Ta’ala juga telah menyandarkan perbuatan kepada hamba²Nya dan menjadikan mereka sebagai orang² yg berbuat. Padahal keberadaan mereka sebagai orang² yg berbuat lagi diperbuat oleh Allah Ta’ala. Lalu di mana letak perbuatan mereka dari perbuatan-Nya.

Apabila Allah Ta’ala adalah pencipta dzat mereka, bagaimana mungkin Dia bukan pencipta apa pun yg Dia kehendaki melalui tangan dzat mereka. Organ² manusia seperti pintu yg menjadi tempat keluar manusia. Jika manusia tidak pernah keluar dari dalam pintu itu, begitu juga dengan perkataan² makhluk. Meski secara artikulasi perkataan² itu di nisbatkan kepada mereka, mereka tidak pernah menciptakannya. Begitu juga perbuatan² para hamba.

Perbuatan² itu tidak diciptakan dari organ² mereka. Akan tetapi, karena sifatnya tidak tampak kecuali pada jasad, perbuatan² itu disandarkan pada organ² tersebut, seperti penyandaran hilangnya dahaga dan kenyang pada air dan makanan. Allah Ta’ala menciptakan hilangnya dahaga dan kenyang di sisi air dan makanan, bukan dengan air dan makanan.

Siapa pun yg ingin melihat hakikat masalah kasab (usaha hamba), silakan perhatikan lewat nalar makhluk pertama yg tiada satu makhluk pun mendahuluinya. Silakan dilihat, apakah di sana ada yg bersekutu dengar Allah Ta’ala dalam menciptakan. Niscaya hal itu menjadi jelas baginya. Allah Ta’ala menciptakan banyak perkara di sisi banyak perkara, bukan dengan banyak perkara. Dia menciptakan peniupan di dalam diri Isa dan menciptakan ruh di dalam burung.

Namun tidak bisa dikatakan, ‘Apabila Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Berbuat sendirian, lalu kenapa Dia berbicara dengan perkataan-Nya, ‘Lakukan’ atau ‘Jangan lakukan’? Itu karena di antara etika wajib terhadap Allah Ta’ala apabila seseorang di antara hamba²Nya melihat sesuatu di antara banyak isi ilmu-Nya, ia harus mematuhi etika terhadap-Nya.

Hadirat Allah Ta’ala tidak menerima kesalingberhakan karena hadirat itu termasuk rahasia takdir. Jadi, jangan sampai kalian beretika buruk. Kalian harus memperhatikan hadirat azal dan terus membawa pendidikan yg disucikan itu selamanya, niscaya kalian beruntung.

Mereka juga melantunkan syair,

Ketika seorang hamba memandangi Tuhannya di dalam kesucian, kemuliaan, dan ketinggian-Nya dari berbagai perangkat, perangkat² itu datang menyusul dengan membawa cara dan penyerupaan.
Itu adalah penunjukan yg memastikan kedudukan seorang hamba dan isyaratnya, juga sah tidaknya ilmu, penetapan, penyampaian yg baru dan pemutarbalikan.

Dialog Jin Dengan Sufi

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Tingkatan Alam Menurut Para Sufi

“Tingkatan Alam Menurut Para Sufi” فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُّوحِى فَقَعُوا لَهُۥ سٰجِدِينَ “Maka…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Mengenal Yang Mulia Ayahanda Guru

Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin al-Khalidi qs.

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj (Rajab)

26 Jan - 05 Feb

Ramadhan

30 Mar - 09 Apr

Hari Guru & Idul Adha

20 Jun - 30 Jun

Muharam

27 Jul - 06 Ags

Maulid Nabi

28 Sep - 08 Okt

Rutin

30 Nov - 10 Des

All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

WhatsApp
Facebook
Telegram
Twitter
Email
Print
Copy link
Powered by Social Snap