03. Hulul dan Ittihad

Dialog Jin Dengan Sufi
Pertanyaan Ke-3

Hulul dan Ittihad

Mereka juga bertanya kepadaku, “Apabila tidak ada hulul dan ittihad, lalu kekuatan (dzat atau sesuatu yg lain) apa yg membawa seorang hamba? Jika kita menjawab, bahwa kekuatan itu adalah sesuatu yg lain, hamba itu berarti berdiri dengan sendirinya dan itu tidak mungkin. Dan jika kita menjawab bahwa kekuatan itu adalah dzat, berarti itulah pernyataan hulul. Lalu apa makna hadits,

“Aku adalah pendengaran yg ia gunakan untuk mendengar, pandangan yg ia gunakan untuk memandang, tangan yg ia gunakan untuk memegang, dan kaki yg ia gunakan untuk berjalan.”

Berikan jawaban yg jelas kepada kami karena kami sangat kebingungan!”

Aku menjawab, “Itu adalah satu masalah dengan kerancuan di dalamnya yg tidak bisa dihilangkan secara keseluruhan, kecuali oleh kasyaf. Jadi, jalankan amal² yg tinggi dan watak yg diridhai menurut cermin hati kalian yg terang. Jika tidak, nalar akan bingung menghadapi hal itu.

Sungguh mereka melantunkan syair,

Apabila Engkau adalah diriku sekaligus inti kekuatanku, maka di manakah aku dan Engkau?
Bisa saja perkara itu adalah diriku, dan bisa saja perkara itu adalah Engkau.
Bisa saja aku adalah aku dari satu sisi, dan dari sisi yg lain, selain-Mu adalah Engkau.
Engkau adalah huruf yg tidak bisa terbaca, dan tidak bisa diketahui. Engkau juga Pencipta kebingungan atau teka-teki.
Aku melihat satu kelemahan dan kelemahan itu adalah diriku. Juga kebodohan tentang banyak kata. Lalu di mana Engkau?
Aku pun tidak sanggup mendapatkan pengetahuan ataupun makna yg ditunjukkan oleh-Mu.
Kami pun bingung mengenai wujud Yang Maha Benar sebagai satu kelemahan. Engkaulah Allah, dan Yang Maha Pengasih adalah Engkau.
Itulah aku, dan itu bukan Engkau. Perhatikan ucapanku ketika aku berkata, ‘Engkau’.
Siapa yg aku maksud dengan ‘Engkau?’, sementara engkau bukan diriku ataupun yg lain. Aku bingung mengenai kata ‘Engkau’.
Aku sungguh tidak bisa melihat maksud kata itu dan tidak mengetahui orang yg berkata ‘Engkau’.
Aku melihat satu perkara yg dikandung oleh wujudku, sementara Engkau cemburu terhadapnya. Itu bukan Engkau.
Lalu jika aku berhenti pada ucapan, “Engkau telah berbuat, wahai hamba-Ku,” maka tetapkanlah kami pada satu perkara yg bukan Engkau.
Lalu katakan kepadaku, siapa aku, agar aku bisa melihatnya, lalu aku tahu siapa aku, dan Engkau adalah Engkau.
Seandainya tidak ada Tuhan niscaya kami bukan hamba; dan seandainya tidak ada hamba niscaya Engkau bukan Engkau.
Tetapkanlah aku agar kami menetapkan kalian sebagai tuhan. Jangan sisakan ego agar Engkau tidak sirna.

Makna ‘agar kami menetapkan kalian’ adalah Engkau berada di sisi kami setelah Engkau menciptakan kami. Jika tidak, berarti Engkau tetap untuk Diri-Mu ketika kami hilang. Sedangkan ‘agar Engkau tidak sirna’ artinya Engkau tidak menghalangi manusia dari menyaksikan-Mu sampai tidak ada seorang pun yg menyaksikan-Mu. Maha Suci Allah dari kesirnaan yg merupakan ketiadaan. Jadi, pahamilah.

Sementara arti ‘Aku adalah pendengarannya yg ia gunakan untuk mendengar…’ adalah sesungguhnya Aku akan berbuat untuknya dengan sesuatu yg ia inginkan dengan segenap kekuatannya. Jadi, Dia mengungkapkan banyak makna pada organ² tersebut dengan kata “Dirinya sendiri’. Hal itu karena sesungguhnya Dialah yg berbuat dan mengadakannya di dalam diri hamba hingga seakan-akan makna² itu adalah Dia, padahal bukan. Allah Ta’ala bisa berbuat tanpa alat ataupun dengan alat, seperti firman-Nya:

قٰتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan²mu.” (QS. at-Taubah (9): 14)

Juga seperti firman Allah Ta’ala:

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللَّهَ رَمٰى

“Dan bukan kamu yg melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yg melempar.” (QS. al-Anfal (8): 17)

Jadi, pahamilah! Lebih dari itu, hal tersebut tidak bisa dikatakan kepada ulama manusia, apalagi kepada kaum jin mukmin. Namun, Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui.”

Dialog Jin Dengan Sufi

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Tingkatan Alam Menurut Para Sufi

“Tingkatan Alam Menurut Para Sufi” فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُّوحِى فَقَعُوا لَهُۥ سٰجِدِينَ “Maka…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Mengenal Yang Mulia Ayahanda Guru

Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin al-Khalidi qs.

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj (Rajab)

26 Jan - 05 Feb

Ramadhan

30 Mar - 09 Apr

Hari Guru & Idul Adha

20 Jun - 30 Jun

Muharam

27 Jul - 06 Ags

Maulid Nabi

28 Sep - 08 Okt

Rutin

30 Nov - 10 Des

All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

WhatsApp
Facebook
Telegram
Twitter
Email
Print
Copy link
Powered by Social Snap