47. Penjelasan Tentang Penghuni Surga dan Nikmatnya Surga

Di dalam khobar, sesungguhnya dari belakang shirath (titian) terdapat padang belantara, di dalamnya terdapat pohon-pohon yang indah, di bawah setiap pohon terdapat 2 sumber mata air yang mengalir dari surga, salah satunya dari sisi kanan dan satu lainnya dari sisi kiri. 

Dan orang-orang mukmin ketika mereka melewati shirath dan mereka telah bangkit dari kubur, yaitu (ketika) mereka bangkit untuk dihisab, berdiam diri di atas matahari, membaca catatan-catatan amal, melewati neraka-neraka, dan datang ke padang belantara itu, maka mereka meminum dari salah satu sumber mata air.

Ketika air dari sumber mata air itu sampai ke dada mereka, maka keluarlah apapun yang ada di dalamnya, termasuk rasa benci, penipuan, dan dengki, dan hilanglah apapun itu dari dada mereka. Lalu tatkala air itu menetap di perut mereka, maka keluarlah apapun yang ada di dalamnnya, termasuk kerusakan, penyakit, dan air kencing, sucilah dhohir dan batin mereka.

Kemudian mereka datang ke mata air lainnya, lalu mereka mandi di dalamnya, jadilah wajah mereka seperti bulan di malam purnama, jiwa dan hati mereka nyaman, dan tubuh mereka wangi seperti misik (kasturi). Sampilah mereka ke pintu surga, tiba-tiba (mereka melihat) cincin pintunya (cincin pintu untuk mengetuk) dari batu yaqut merah, lalu mereka mengetuknya. 

Para bidadari pun menyambut mereka dengan piring-piring di atas tangannya. Keluarlah semua bidadari menemui pemiliknya (suaminya), memeluknya, dan berkata kepadanya, “Kamu adalah kekasihku, aku ridlo kepadamu, dan aku mencintaimu selamanya“. Bidadari itu masuk bersamanya ke dalam rumahnya.

Di dalam rumah itu ada 70 ranjang, di atas setiap ranjang terdapat 70 kasur, dan di tas setiap kasur terdapat bidadari, bidadari itu memiliki 70 pakaian yang bisa dilihat sum-sum betisnya karena tipisnya pakaian-pakaia itu. Dan jikalau satu rambut dari rambut-rambut wanita (bidadari) surga terjatuh ke bumi, niscaya satu rambut itu menerangi penghuni bumi.

Nabi SAW bersabda : Pakaian-pakaian surga memancarkan cahaya. (Di dalam surga) tiada matahari (siang), tiada malam di dalamnya dan tiada tidur karena tidur adalah saudara kematian. Dinding surga terdapat 7 pagar yang mengelilingi semua surga. Pagar pertama dari perak, pagar kedua dari emas, pagar ketiga dari batu zamrud, pagar keempat dari lu’luk (mutiara), pagar kelima dari durr (mutiara), pagar keenam dari batu yaqut, dan pagar ketujuh dari cahaya yang memancar. Jarak di antara setiap 2 dinding adalah perjalanan 500 tahun berjalan kaki. Adapun penghuni surga, maka mereka jurd (tidak berbulu) murd (tidak berjenggot), lagi bercelak mata. Orang laki-laki memiliki kumis yang tipis (hijau menunjukkan masih tumbuh), renggang, lagi wajahnya berseri-seri. Sedangkan tidaklah demikian itu bagi para wanita untuk membedakan mereka dengan para lelaki.

Di dalam khobar, sesungguhnya setiap seorang dari penghuni surga mengenakan 70 pakaian, setiap pakaian akan berubah warna dalam setiap satu jam sebanyak 70 warna. Wajahnya dapat dilihat di wajah istrinya dan wajah istrinya dapat dilihat di wajah suaminya, dada dan betis istrinya (dapat dilihat) dari dada dan betis suaminya. (Di dalam surga) mereka tidak meludah dan tidak pula beringus. Tidaklah ada satu bulu saja di tubuh mereka kecuali 2 alis, rambut kepala, dan bulu mata.

Dari Sahabat Abu Hurairah ra, demi Dzat yang telah menurunkan kitab Al-Qur’an kepada nabi-Nya, sesungguhnya penghuni surga akan semakin bertambah indah dan bagus setiap hari, sebagaimana mereka semakin bertambah muda dan pikun (tua) di dunia. Seorang laki-laki diberikan 100 kekuatan dalam makan, minum, dan jimak. Ia pun dapat menjimak istrinya sebagaimana ia menjimak istrinya di dunis selama satu huqub, satu huqub adalah 80 tahun, tiada mani dan tiada pula maniah (sperma wanita), dan setiap hari ia mendapati 100 makanan.

Catatan :

Para ulama’ berbeda pendapat tentang jumlah dalam satu huqub, ada yang menyatakan 80 tahun dan ada juga sampai ribuan tahun, seperti penjelasan dalam bab 40 sebelumnya : Daqoiqul Akhbar – Bab 40, Penjelasan Macam-Macam Siksa Berdasarkan Kadar Amal Umat.

Sahabat Ibnu Abbas ra berkata, tatkala kekasih Allah memakan buah-buahan yang ia kehendaki dan menginginkan makanan, maka Allah Yang Maha Luhur memerintahkan agar para pelayan surga menyuguhkannya makanan. Lalu datanglah mereka kepadanya dengan membawa 70 talam (wadah makanan besar) dan 70 hidangan dari durr (mutiara) dan batu yaqut. Di atas setiap hidangan ada 1.000 piring dari emas, sebagaimana Allah Yang Maha Luhur berfirman:

يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيْهَا مَا تَشْتَهِيْهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ ۖ وَأَنْتُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya” (Az-Zhuhruf : 71).

Dan di dalam setiap piring ada bermacam-macam makanan yang tidak tersentuh api, tukang masak tidak memasaknya, dan tidak dimasak di dalam periuk (guci atau kendil) tembaga dan lainnya, tetapi Allah mengatakan pada makanan itu “Jadilah“, maka makanan itu ada tanpa susah dan payah. 

Lalu kekasih Allah memakan dari piring-piring itu apapun yang ia kehendaki. Tatkala ia sudah kenyang, maka turunlah burung-burung dari burung-burung surga kepadanya seperti unta besarnya. Burung-burung itu pun membentangkan sayapnya di atas kepala kekasih Allah dan berkata, “Makanlah daging yang segar. Wahai kekasih Allah, aku demikian dan demikian ini, aku meminum air Salsabil, air kapur, dan aku dipelihara dari taman-taman surga“.

Lalu kekasih Allah itu pun menginginkan daging burung-burung itu. Allah Yang Maha Luhur pun memerintahkan agar burung-burung itu hinggap di atas hidangan dari jenis manapun yang dikehendaki oleh kekasih Allah itu. Jadilah burung-burung itu panggangan, lalu kekasih Allah Yang Maha Luhur memakan dagingnya. Kemudian burung-burung itu dikembalikan seperti sedia kala dengan izin Allah Yang Maha Luhur.

Surga tidak akan kehabisan makanannya, dan meskipun ia memakannya maka tidak akan berkurang apapun dari makanan itu. Cara pandangnya (asumsinya) di dunia adalah Al-Qur’an, manusia mempelajari dan mengajarkannya sedangkan Al-Qur’an tetap berada pada keadaannya, tidak akan berkurang apapun darinya. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya penghuni surga memakan dan meminum, kemudian keluarlah bau dari tubuh mereka seperti bau misik (kasturi) dan demikian ini sampai abadi selamanya“.

______________PENUTUP__________________

Segala puji hanya bagi Allah atas nikmat-Nya dan rasa syukur bagi-Nya atas anugerah kemurahan-Nya. Rahmat ta’dhim dan kesejahteraan semoga terlimpahkan kepada Baginda kami, Nabi Muhammad, sebaik-baik makhluk-Nya, kepada keluarga, dan sahabatnya, selama cahaya masih bersinar di ufuk-Nya.

[Adapun setelah itu] maka telah sempurna, dengan memuji Allah Yang Maha Luhur, mencetak (menyusun) kitab “Daqoiqul Akhbar” di dalam penjelasan tentang surga dan neraka, perhiasan dari catatan-catatan dengan mutiara-mutiara kebaikan di dalam penjelasan tentang hari kebangkitan dan kenikmatan surga-surga. Dan Kitab Daqoiqul Akhbar adalah kitab yang bisa melunakkan hati yang keras dan mendorongnya pada melakukan amal-amal untuk meningkatkan diri (amal-amal baik), yang dishahihkan dengan diketahui oleh panitia tashih dan demikian itu.

Semoga Allah melimpahkan rahmat ta’dhim kepada baginda kami, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga serta semua sahabat Beliau, amiin.

Wallahu a’lam bis showab

Sumber: Arjurahmah




KHATAM

Daqaiqul Akhbar

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Tingkatan Alam Menurut Para Sufi

“Tingkatan Alam Menurut Para Sufi” فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُّوحِى فَقَعُوا لَهُۥ سٰجِدِينَ “Maka…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Mengenal Yang Mulia Ayahanda Guru

Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin al-Khalidi qs.

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj (Rajab)

26 Jan - 05 Feb

Ramadhan

30 Mar - 09 Apr

Hari Guru & Idul Adha

20 Jun - 30 Jun

Muharam

27 Jul - 06 Ags

Maulid Nabi

28 Sep - 08 Okt

Rutin

30 Nov - 10 Des

All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

WhatsApp
Facebook
Telegram
Twitter
Email
Print

Daftar Isi

Copy link
Powered by Social Snap