28. Penjelasan Tentang Panasnya Hari Kiamat

Di dalam khobar, tatkala hari kiamat, Allah Yang Maha Luhur mengumpulkan orang-orang awal dan orang-orang akhir di dalam debu (lapangan) satu. Matahari pun didekatkan di atas kepala mereka dan matahari dijadikan sangat panas kepada mereka di hari kiamat. Lalu keluarlah leher (kepala) dari neraka seperti naungan (iyupan).

Kemudian menyerulah Dzat yang menyeru, “Wahai golongan para makhluk, pergilah ke naungan itu“. Mereka pun pergi menuju naungan (iyupan) itu dan mereka ada 3 golongan, yaitu golongan orang-orang mukmin, golongan orang-orang munafiq, dan golongan orang-orang kafir.

Tatkala para makhluk telah sampai pada bayang-bayang itu, naungan (iyupan) itu pun terbagi menjadi 3 bagian, yaitu satu bagian panas, satu bagian kabut, dan satu bagian cahaya. Maka demikian itulah Allah Yang Maha Luhur berfirman :
انْطَلِقُوْا إِلٰى ظِلٍّ ذِيْ ثَلَاثِ شُعَبٍ

Pergilah kalian untuk mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang” (Al-Mursalat : 30).

Naungan panas berada di atas kepala orang-orang munafiq karena sesungguhnya mereka menjaga diri dari panasnya dunia, sebagaimana dikatakan kepada mereka :
وَقَالُوْا لَا تَنْفِرُوْا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ

Dan mereka (orang-orang munafiq) berkata : “Janganlah kalian berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah : “Api neraka jahannam itu jauh lebih panas” jika mereka mengetahui“. (At-Taubah : 81).

Naungan kabut berdiam di atas kepala orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka di dunia berada di dalam cahaya dan di akhirat berada di dalam kegelapan. Maka demikian itu adalah Firman Allah Yang Maha Luhur :
يُخْرِجُوْنَهُمْ مِنَ النُّوْرِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

Para syaitan mengeluarkan mereka (orang-orang kafir) dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kekafiran)“. (Al-Baqarah : 257).

Dan naungan cahaya berdiam di atas kepala orang-orang mukmin, karena sesungguhnya mereka di dunia berada di dalam kegelapan dan di akhirat berada di dalam cahaya. Maka demikian itu adalah Firman Allah Yang Maha Luhur :
اللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)“. (Al-Baqarah : 257).

Allah Yang Maha Luhur berfirman mengenai sifat orang-orang mukmin di hari kiamat :
يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعٰى نُوْرُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا ۚ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka) : “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar” (Al-Hadid : 12).

Nabi SAW bersabda :
سَبْعَةٌ يُظِلِّهُمُ اللّٰهُ فِيْ ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لَا ظِلَّ اِلَّا ظِلُّهُ : اِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌ نَشَأَ فِيْ عِبَادِةِ اللّٰهِ تَعَالٰى، وَرَجَلَانِ تُحَابَّا فِى اللّٰهِ، وَرَجُلٌ طَلَبْتْهُ اِمْرَأَةٌ ذَا جَمَالٍ فَقَالَ اِنِّيْ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللّٰهَ تَعَالٰى خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ مِنَ الدَّمْعِ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ تَعَالٰى، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِيَمِيْنِهِ فَاَخْفَاهَا عَنْ شِمَالِهِ، وَرَجُلٌ مُعَلِّقٌ قَلْبُهُ بِالْمَسَاجِدِ

Ada tujuh orang yang akan dinaungi oleh Allah di dalam naungan Arsy pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu (pertama) pemimpin yang adil, (kedua) pemuda yang tumbuh di dalam beribadah kepada Allah Yang Maha Luhur, (ketiga) dua orang yang saling mencintai karena Allah, (keempat) orang laki-laki yang diminta (berzina) oleh wanita yang cantik, lalu laki-laki itu berkata “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam”, (kelima) seorang yang mengingat Allah Yang Maha Luhur di waktu sepi, lalu mengalirkan air matanya karena takut kepada Allah Yang Maha Luhur, (keenam) seseorang yang bershadaqah dengan tangan kanannya, lalu ia menyamarkan dari tangan kirinya (shadaqah sirri), (ketujuh) seseorang yang hatinya digantungkan di dalam masjid-masjid“.

***____________________________

Nabi Muhammad SAW bersabda, tatkala Allah Yang Maha Luhur mengumpulkan para makhluk, maka menyerulah Dzat yang menyeru, “Dimana ahli keumataan (orang-orang yang memiliki keutamaan ?“. Lalu beberapa orang berdiri, mereka bergegas dengan cepat menuju surga dan mereka disambut oleh para malaikat. Para malaikat pun bertanya, “Sesungguhnya kami melihat kalian bergegas menuju surga, maka siapa kalian ?“. Mereka pun menjawab, “Kami adalah ahlul keutamaan“. Lalu para malaikat bertanya, “Apa fadl (keutamaan) kalian ?“. Mereka pun menjawab, “Tatkala kami dianiyaya kami bersabar dan tatkala orang berbuat buruk kepada kami, maka kami memaafkan“. Lalu para malaikat berkata kepada mereka, “Masuklah kalian ke dalam surga, maka ia adalah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal“.

Kemudian menyerulah Dzat yang menyeru, “Dimana ahli sabar ?“. Lalu beberapa orang berdiri, mereka bergegas dengan cepat menuju surga dan mereka disambut oleh para malaikat. Para malaikat pun bertanya, “Sesungguhnya kami melihat kalian bergegas menuju surga, maka siapa kalian ?“. Mereka pun menjawab, “Kami adalah ahlul sabar“. Lalu para malaikat bertanya, “Bagaimana sabar kalian ?“. Mereka pun menjawab, “Kami bersabar dalam melaksanakan taat kepada Allah dan kami bersabar dari maksiat kepada Allah Yang Maha Luhur“. Lalu para malaikat berkata kepada mereka, “Masuklah kalian ke dalam surga“.

Kemudian menyerulah Dzat yang menyeru, “Di mana orang-orang yang mencintai karena Allah ?“. Lalu beberapa orang berdiri, mereka bergegas dengan cepat menuju surga dan mereka disambut oleh para malaikat. Para malaikat pun bertanya, “Sesungguhnya kami melihat kalian bergegas menuju surga, maka siapa kalian ?“. Mereka pun menjawab, “Kami adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah dan orang-orang yang saling berjanji karena Allah“. Lalu dikatakan kepada mereka, “Masuklah kalian ke dalam surga“.

Nabi SAW bersabda mizan (timbangan amal) diletakkan setelah mereka (tiga golongan di atas) memasuki surga.

***____________________________

[Adapun bendera pujian] maka ada di atas langit-langit. Rosulullah SAW pernah ditanyai tentang liwa’ul hamdi (bendera pujian), lebar, dan panjangnya. Lalu Beliau menjawab, panjangnya seperti perjalanan 1.000 tahun, tertulis di atasnya kalimat “لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللّٰهِ ” (tiada tuhan selain Allah, Nabi Muhammad utusan Allah) dan lebarnya adalah jarak antara langit dan bumi. Gigi-giginya dari batu yaqut merah dan pegangannya dari emas putih dan batu zamrud hijau.

Liwa’ul hamdi (bendera pujian) itu memiliki tiga ekor (umbul-umbul) dari cahaya, umbul-umbul satu ada di timur, umbul-umbul lainnya ada di tengah dunia, dan umbul-umbul lainnya di barat. Tertulis di dalamnya 3 baris tulisan, pertama “بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ” (dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), kedua “الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ” (segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam), dan ketiga “لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللّٰهِ” (tiada tuhan selain Allah, Nabi Muhammad utusan Allah).

Panjang setiap baris seperti perjalanan 1.000 tahun, di sekitarnya ada 70.000 bendera, di bawah setiap bendera ada 70.000 baris malaikat, dan setiap baris malaikat ada 500.000 malaikat. Mereka membaca tasbih dan mennsucikan Allah Yang Maha Luhur.

Syekh Al-Jaryani mengatakan tentang makna sabda Nabi SAW, “liwa’ul hamdi (bendera pujian) ada di tanganku (tangan Nabi SAW)“, sesungguhnya tatkala hari kiamat, bendera itu dikibarkan di hadapan Nabi SAW dan orang-orang mukmin, mulai dari keturunan Nabi Adam as sampai ditegakkannya hari kiamat, berada di sekitar bendera Nabi SAW. Sedangkan orang-orang kafir berada dalam istirahat dari neraka (belum digiring ke neraka) selama liwa’ul hamdi (bendera pujian) dikibarkan. Tatkala bendera itu dipindahkan maka pada waktu itu orang-orang kafir digiring ke nereka.

***____________________________

Di dalam khobar, tatkala hari kiamat ditegakkanlah liwa’us shidqi (bendera kejujuran) untuk Sahabat Abu Bakar ra dan setiap orang yang jujur berada di bawah benderanya. Liwaul fuqaha’ (bendera ahli fiqih) untuk Sahabat Muadz bin Jabal ra dan setiap orang yang ahli fiqih berada di bawah benderanya. Liwa’uz Zuhdi (bendera kezuhudan) untuk Sahabat Abu Dzar Al-Ghifari ra dan setiap orang yang zuhud berada di bawah benderanya. Liwa’us Sakhowah ra (bendera kedermawanan) untuk Sahabat Utsman bin Affan ra dan setiap orang yang dermawan berada di bawah benderanya. Liwa’us Syuhada’ (bendera syuhada’) untuk Sahabat Ali bin Abi Thalib ra dan setiap orang yang mati syahid berada di bawah benderanya. Liwa’ul Qurra’ ra (bendera bacaan Al-Qur’an) untuk Sahabat Ubay bin Ka’ab dan setiap orang yang membaca Al-Qur’an berada di bawah benderanya. Liwa’ul Muaddzin (bendera tukang adzan) untuk sahabat Bilal bin Rabah ra dan setiap orang yang adzan berada di bawah benderanya. Bendera orang-orang yang terbunuh karena dianiyaya untuk Husain bin Ali ra dan setiap orang yang terbunuh karena dianiyaya ada di bawah benderanya. Demikian itu adalah Firman Allah Yang Maha Luhur :
يَوْمَ نَدْعُوْ كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ

Hari di mana kami memanggil setiap manusia dengan pemimpin mereka” (Al-Isra : 71).

***____________________________

Di dalam khobar, tatkala hari kiamat, para makhluk berdiri dan mereka merasa sangat haus, keringat pun mengendalikan mereka (keringat bercucuran deras). Lalu Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemui Nabi Muhammad SAW, lalu berkata, “Wahai Nabi Muhammad, katakan kepada umatmu agar mereka menyeru kepada-Ku dengan sebuah nama yang mana kamu berdoa kepada-Ku dengan nama itu di dunia, ketika (mereka tertimpa) dalam  penderitaan“.

Nabi SAW pun menyeru kepada umat Beliau dengan hal itu, lalu umat mengatakan “بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ” (dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Seketika itulah Allah SWT memisahkan qadla’ di antara para makhluk. Kemudian Allah berkata kepada umat-umat lainnya, “Jika mereka (umat Nabi SAW) tidak menyebut-Ku dengan nama ini, niscaya aku akan memanjangkan qadla’ selama 1.000 tahun“.

Kemudian Allah yang Maha Luhur memutuskan hukum di antara hewan-hewan buas dan hewan-hewan ternak, hingga Dia memberikan putusan pada domba/kambing dari golongan hewan yang memiliki tanduk. Kemudian Allah Yang Maha Luhur berkata kepada hewan-hewan buas dan hewan-hewan ternak, “Jadilah tanah !“, maka ketika itulah orang kafir berkata, “Andai saja aku adalah tanah“.

***____________________________

Imam Muqatil mengatakan, ada 10 hewan yang masuk surga, yaitu unta Nabi Sholeh, pedhet (anakan sapi) Nabi Ibrahim, kambing Nabi Ismail, sapi Nabi Musa, ikan paus Nabi Yunus, khimar Nabi Uzair, ratu semut Nabi Sulaiman, burung hud-hud Ratu Bulqis, unta Nabi Muhammad SAW, dan anjing Ashabul Kahfi yang mana Allah merubahnya menjadi bentuk kambing dan memasukkannya ke dalam surga.

Tidakkah kamu lihat sesungguhnya seekor anjing masuk ke surga di tengah-tengah golongan orang yang dicintai Allah SWT. Lalu mengapa seorang ahli maksiat di dalam gua tauhid selama 50 tahun ditolak ? akankah ia ditolak dari rahmat-Nya ?.

Sebutan anjing hilang darinya, para penghuni surga memberinya nama “turama“, ada yang mengatakan “qithmir“, dan ada pula yang mengatakan “huban“, dan warnanya kuning.

***____________________________

Dikatakan, pada hari kiamat didatangkan seorang alim dari golongan ulama’ yang merupakan umat Nabi Muhammad SAW. Ia dihadapkan di sisi Allah Yang Maha Luhur, lalu Allah Yang Maha Luhur berkata, “Wahai Malaikat Jibril, peganglah tangannya dan pergilah bersamanya menuju nabinya, yaitu Nabi Muhammad SAW“.

Malaikat Jibri pun mendatangkannya kepada Nabi SAW, sedangkan Beliau berada di tepi telaga sembari memberi minuman kepada orang-orang dengan menggunakan wadah minum. Nabi SAW pun beranjak memberi minum kepada ulama’ dengan telapak tangannya.

Lalu orang-orang bertanya, “Wahai Rosulullah, engkau memberi minum kepada orang-orang dengan menggunakan wadah minum, sedangkan engkau memberi minum kepada ulama’ dengan menggunakan telapak tanganmu ?“.

Nabi SAW pun menjawab, “Tentu, karena sesungguhnya orang-orang tersibukkan dengan perdagangan mereka di dunia, sedangkan ulama’ tersibukkan dengan ilmu“.

Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi ra berkata, amal yang paling utama adalah menyayangi (mencintai) para kekasih (wali) Allah Yang Maha Luhur dan memusuhi musuh-musuh Allah.

Berdasarkan maqolah ini (Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi) telah datang di dalam khobar, bahwa Nabi Musa bermunajah kepada Tuhannya. Lalu Allah Yang Maha Luhur bertanya, “Apakah kamu telah melakukan satu amal saja untukku ?“.

Nabi Musa menjawab, “Wahai Tuhanku, aku sholat untuk-Mu, aku berpuasa dan bershodaqoh karena-Mu, aku mensucikan-Mu, aku memuji-Mu, aku membaca kitab-Mu, dan aku mengingat-Mu“.

Allah SWT berkata, “Wahai Musa, adapun sholat maka menjadi burhan (pertanda) bagimu. Adapun puasa adalah tameng (dari neraka) bagimu, shodaqoh adalah naungan bagimu, tasbih adalah menjadi pohon-pohon di dalam surga. Adapun membaca kitab-Ku, maka akan menjadi gedung-gedung mewah dan bidadari di surga bagimu. Dan adapun dzikirmu pada-Ku adalah cahaya bagimu. Ini semua adalah untukmu, wahai Musa, maka manakah amal yang kamu kerjakan untuk-Ku ?“.

Nabi Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, tunjukkanlah aku suatu amal yang mana amal itu adalah untuk-Mu ?“.

Allah SWT berkata, “Wahai Musa, apakah kamu telah mencintai seorang kekasih-Ku dan apakah kamu sudah memusuhi musuh-Ku ?“. Lalu Nabi Musa pun mengetahui bahwa amal yang paling utama adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.

***____________________________

[Fasal] kemudian Allah Yang Maha Luhur memutuskan hukum di antara para makhluk, lalu pada saat itu mereka telah berdiam di hadapan Allah. Dikatakan, “Di manakah orang-orang memiliki penganiayaan ?“. Lalu didatangkanlah 2 orang, diambillah kebaikan-kebaikan orang yang menganiaya lalu diberikan kepada orang yang dianiaya, hari di mana tidak ada dinar dan dirham.

Maka tiada henti diambil kebaikannya hingga tidak tersisa satu kebaikan pun darinya. Lalu diambillah keburukan orang yang dianiaya, lalu dikembalikan (diberikan) kepada orang yang menganiaya. Ketika telah habis kebaikannya, dikatakan (kepada orang yang menganiyaya), “Kembalilah kepada ibumu, yaitu Neraka Hawiyah, karena tidak ada penganiayaan di hari ini, sesungguhnya Allah adlah Dzat yang cepat hisabnya, yakni Dzat yang cepat pembalasannya“.

Berdasarkan maqolah ini, maka telah datang dalam sebuah khobar, Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa as, “Katakan kepada kaummu untuk melakukan satu perkara yang mana Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga“.

Lalu Nabi Musa as bertanya, “Apa perkara itu ?“.

Allah menjawab, “Mintalah keridloan kepada lawan pertikaian mereka“.

Nabi Musa bertanya, “Jika mereka (lawan pertikaian) telah meninggal dunia ?“.

Allah Yang Maha Luhur menjawab, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku Maha Hidup, tidak akan mati selamanya, katakan kepada mereka untuk meminta ridlo kepada-Ku

Nabi Musa bertanya, “Bagaimana mereka meminta ridlo kepada-Mu ?

Allah Yang Maha Luhur menjawab, “Dengan melakukan 4 perkara, yaitu penyesalan hati, istighfar dengan lisan, meneteskan air mata, dan menggunakan anggota badan untuk berkhidmat (bertaubat dan melakukan kebaikan)“.

Wallahu a’lam bisshowab.

Sumber: Arjurahmah

Daqaiqul Akhbar

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj

17 Feb - 27 Feb

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

Ramadhan

7 Apr - 17 Apr

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

El Amin

Pekanbaru

Karya Limboto

Gorontalo

Hari Guru

10 Jun - 20 Jun

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Akhlaqul Amin

Lombok

Mujibul Amin

Samarinda

Idul Adha

29 Jun - 9 Jul

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Maulid Nabi

29 Sep - 9 Okt

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

El Amin

Pekanbaru

Rutin

15 Des - 25 Des

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Akhlaqul Amin

Lombok

Karya Limboto

Gorontalo

Ar Rahman

Johor Baru

Download:

166. Hati Menjadi Sumbernya Nur (4)

Hikmah 166 dlm Al-Hikam: ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ Bisa jadi…

48. Amal Shaleh

Dlm Fathur Rabbani:karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. Majelis ke-48: “Amal Shaleh” Pengajian Selasa sore,…

164. Hati Menjadi Sumbernya Nur (2)

Hikmah 164 dlm Al-Hikam: نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ Cahaya yg tersimpan…

163. Hati Menjadi Sumbernya Nur (1)

Hikmah 163 dlm Al-Hikam: “Hati Menjadi Sumbernya Nur” مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ Tempat terbitnya cahaya Ilahi…

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

161. Roja’ dan Khouf

Hikmah 161 dlm Al-Hikam: “Roja’ dan Khouf” اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه…
All articles loaded
No more articles to load

166. Hati Menjadi Sumbernya Nur (4)

Hikmah 166 dlm Al-Hikam: ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ Bisa jadi…

48. Amal Shaleh

Dlm Fathur Rabbani:karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani qs. Majelis ke-48: “Amal Shaleh” Pengajian Selasa sore,…

164. Hati Menjadi Sumbernya Nur (2)

Hikmah 164 dlm Al-Hikam: نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ Cahaya yg tersimpan…

163. Hati Menjadi Sumbernya Nur (1)

Hikmah 163 dlm Al-Hikam: “Hati Menjadi Sumbernya Nur” مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ Tempat terbitnya cahaya Ilahi…

161. Roja’ dan Khouf

Hikmah 161 dlm Al-Hikam: “Roja’ dan Khouf” اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه…

160. Jangan Putus Asa

Hikmah 160 dlm Al-Hikam: “Jangan Putus Asa” إذا وقع منك ذنب فلا يكن سببالياءْسك من…

159. Sifat Ke-Kanak-Kanakan

Hikmah 159 dlm Al-Hikam: “Sifat Ke-Kanak-Kanakan” متى كنت اذا اُعطيتَ بسطك العطاءُوإذامنعت قبضك المنع فاستدلّ…
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on telegram
Telegram
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Share on print
Print

Daftar Isi

Copy link
Powered by Social Snap