19. Tentang Ruh Mendatangi Kubur dan Rumahnya Setelah Keluar

Nabi Muhammad SAW bersabda, tatkala ruh telah keluar dari badan anak Adam (manusia) dan telah terlewati waktu 3 hari, maka ia berkata, “Wahai Tuhanku, izinkanlah aku sehingga aku bisa lewat dan melihat jasadku yang mana aku dulu ada di dalamnya“.

Lalu Allah Yang Maha Luhur mengizinkannya, datanglah ia ke kuburnya dan melihatnya dari arah jauh, telah mengalir darah dari 2 lubang hidung dan mulutnya. Ia pun menangis dengan tangisan yang lama, lalu berkata, “Aduh kesusahanku, wahai jasadku yang miskin, wahai kekasihku, apakah kamu ingat hari-hari dalam hidupmu ?. Tempat ini adalah tempat kesedihan, cobaan, kesusahan, sedih, dan penyesalah“. Lalu dia pun pergi.

Tatkala sudah lima hari, ia berkata, “Wahai Tuhanku, izinkanlah aku sehingga aku melihat jasadku“. Lalu Allah mengizinkannya, dia pun pergi ke kuburnya dan melihat dari jauh.

Telah mengalir air dari 2 lubang hidung, mulut, dan kedua telinganya, berupa nanah yang bercampur darah dan nanah kuning. Lalu dia menangis kemudian berkata, “Wahai jasadku yang miskin, apakah kamu ingin hari-hari dalam hidupmu ? Ini adalah tempat kesusahan, prihatin, ujian, belatung-belatung, dan kalajengking-kalajengking. Dagingmu telah dimakan oleh belatung-belatung, kulitmu dan anggota-anggota tubuhmu telah robek“. Kemudian dia pergi.

Tatkala sudah tujuh hari, ia berkata, “Wahai Tuhanku, izinkanlah aku sehingga aku melihat jasadku“. Lalu Allah mengizinkannya, dia pun pergi ke kuburnya dan melihat dari jauh.

Telah dijamah di dalam jasadnya banyak sekali belatung, lalu dia menangis dengan tangisan keras seraya berkata, “Wahai jasadku, apakah kamu ingat hari-hari dalam hidupmu ? di mana anak-anakmu ? di mana kerabat-kerabatmu ? di mana istrimu ?  di mana saudara-saudara dan teman-temanmu ? di mana teman-teman akrabmu ? di mana tetangga-tetanggamu yang mereka rela bertetangga denganmu ?. Hari ini mereka menangis kepadaku dan kepadamu“.

*** ________________________________

Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah ra, tatkala seorang mukmin meninggal dunia, maka ruhnya akan berputar-putar di sekitar rumahnya selama sebulan. Ia melihat harta yang sudah ia tinggalkan, bagaimana harta itu dibagi atau bagaimana dilunasi hutang-hutangnya.

Tatkala telah sempurna sebulan, maka ruhnya dikembalikan pada liang kuburnya. Ia pun berputar-putar sesudah itu sampai sempurna setahun. Ia melihat siapa yang mendoakannya dan bersedih kepadanya.

Tatkala telah sempurna setahun, maka diangkatlah ruhnya pada tempat di mana para ruh berkumpul sampai hari kiamat, yakni hari ditiupnya sangkakala. Allah Yang Maha Luhur berfirman:
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan” (Al-Qadr : 4).

  • Dikatakan (dalam sebuah pendapat), mereka (para malaikat) bersama ruh dan raihan (bau wangi surga). 
  • Dikatakan (dalam sebuah pendapat), ruh itu adalah malaikat yang agung yang turun untuk melayani orang-orang mukmin, sebagaimana Allah Yang Maha Luhur berfirman:

يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf” (An-Naba’ : 38).

  • Dikatakan (dalam sebuah pendapat), makna ruh itu adalah ruh Nabi Adam. 
  • Dikatakan (dalam sebuah pendapat), ruh itu adalah Malaikat Jibril as,
  • Dikatakan (dalam sebuah pendapat), ruh itu adalah ruh Nabi Muhammad SAW yang berada di bawah Arsy sembari meminta izin dari Allah agar menurunkan (malam lailatul qadar) untuk diserahkan kepada semua orang mukminin dan mukminat. Lalu letwatlah ruh Nabi Muhammad SAW itu bersama mereka (para malaikat).
  • Dikatakan (dalam sebuah pendapat), ruh itu adalah ruh kerabat-kerabat yang tergolong dari orang-orang yang telah meninggal dunia, mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, izinkanlah kami untuk turun ke rumah kami sehingga kami bisa melihat anak-anak dan keluarga kami“, lalu mereka pun turun di malam lailatul qadar.

(Melanjutkan pendapat paling akhir di atas) sebagaimana Sahabat Ibnu Abbas ra berkata, tatkala hari raya, hari Asyura’ (tanggal 10 Muharram), hari Jum’at pertama dari Bulan Rajab, malam Nisfu Sa’ban, Lailatul Qadar, dan malam Jum’at, para ruh orang-orang yang meninggal dunia keluar dari kubur mereka dan berdiri di depan pintu rumah mereka.

Mereka berkata, “Kasihanilah kami di dalam malam yang berkah ini dengan shodaqoh atau sesuap makanan, karena sesungguhnya kami sangat membutuhkannya. Jika kalian merasa keberatan dan tidak mau memberikannya, maka ingatlah kami dengan membaca Surat Fatihah Al-Qur’an di dalam malam yang berkah ini. Adakah seseorang yang mengasihi kami ? adakah seseorang yang mengingat kepergian jauh kami ? wahai orang yang tinggal di rumah kami ? wahai orang yang menikahi istri kami ? wahai orang yang tinggal di gedung rumah kami yang luas, sedangkan kami ada di dalam kubur kami yang sempit ? wahai orang yang membagi harta-harta kami ? wahai orang yang menghina anak-anak yatim kami ? adakah seseorang yang mengingat kepergian jauh kami ? buku catatan amal kami telah dilipat sedangkan buku catatan amal kalian terbeber dan mayit tidak lagi mendapatkan pahala di dalam liang lahat, maka jangan lupakan kami dengan shodaqoh sepotong roti dan doa kalian, karena sesungguhnya kami membutuhkan kalian selamanya“.

Jika mayit mendapati shodaqoh dan doa, maka dia kembali dalam keadaan gembira lagi bahagia. Jika dia tidak mendapatinya, maka dia kembali dalam keadaan sedih, terhalangi, dan merasa putus asa terhadap mereka.

*** ________________________________

Dikatakan (dalam sebuah riwayat), sesungguhnya ruh ada di dalam perkumpulan anggota-anggota badan, tidak di dalam semua badan, tetapi ruh berada dalam bagian dari beberapa bagian yang tidak tertentu. Dengan bukti bahwa seseorang yang mendapatkan banyak luka namun dia tidak mati, sedangkan seseorang yang mendapat satu luka lalu dia mati karena luka itu mengenai tempat di mana ruh bersemayam di dalamnya.

Dikatakan (dalam sebuah riwayat), ruh bertempat di seluruh badan karena kematian ada di seluruh badan. yang ditunjukkan oleh Firman Allah Yang Maha Luhur:
قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْ أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ

Katakanlah : “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama” (Yasin : 79).

Jika ditanya, apa perbedaan ruh dan rowan ? maka kami menjawab keduanya satu kesatuan, tidak ada perbedaan antara keduanya, sebagaimana badan dan tangan adalah satu kesatuan, tetapi tangan bisa datang dan pergi (bergerak ke arah mana-mana) sedangkan badan tidak bisa bergerak sama sekali. Demikian pula rowan, datang dan pergi, sedangkan ruh tidak bergerak sama sekali,

Kemudian tempat ruh di dalam badan tidak tertentu, sedangkan tempat rowan ada di kedua alis. Tatkala ruh hilang, maka seorang hamba mati tanpa diragukan, sedangkan tatkala rowan hilang, seorang hamba tertidur. Sebagaimana tatkala air dituangkan ke dalam mangkok dan diletakkan di dalam rumah. Mangkok itu tersinari matahari dari sebuah lubang (di dalam rumah), maka pantulan sinarnya berada di atas atap rumah, sedangkan mangkok itu tidak bergerak dari tempatnya.

Demikianlah ruh yang menempati badan, pantulan sinarnya di dalam Arsy, dan pantulan sinar itu adalah rowan. Lalu seseorang melihat di dalam mimpi dan mimpi itu ada di Alam Malakut.

*** ________________________________

Adapun tempat ruh setelah dicabut, maka dikatakan (dalam sebuah riwayat) tempatnya ada di dalam sangkakala. Di dalam sangkakala itu terdapat lubang sejumlah semua makhluk (yang bernyawa) yang diciptakan sampai hari kiamat. Jika dia mendapatkan kenikmatan maka dia ada di sana (sangkakala itu), dan jika dia disiksa maka dia ada di sana (sangkakala itu).

Dikatakan (dalam sebuah riwayat), bahwa ruh-ruh orang-orang mukmin ada di lambung burung-burung hijau di dalam Surga Illiyin, sedangkan ruh-ruh orang-orang kafir di almbung burung-burung hitam di dalam neraka.

Dikatakan (dalam sebuah riwayat), bahwa ruh-ruh orang-orang mukmin tatkala dicabut, maka malaikat rohmat membawanya naik ke atas langit ke tujuh dengan dimuliakan dan diagungkan. Lalu menyerulah yang menyeru dari arah Dzat Yang Maha Pengasih, “Tulislah ruh itu di dalam Surga Illiyyin, kemudian kembalikan ruh itu ke bumi“. Periwayat berkata (melanjutkan riwayat), lalu para malaikat rohmat mengembalikan ruhnya ke dalam jasadnya dan dibuka baginya pintu menuju surga. Ia pun melihat tempatnya di dalam surga sampai hari kiamat. Sedangkan ruh-ruh orang-orang kafir tatkala dicabut, maka malaikat siksa membawanya ke langit dunia, pintu-pintu langit pun ditutup karena kedatangannya. Lalu malaikat adzab diperintah untuk mengembalikan ruh itu di dalam tempat berbaring di jasadnya, disempitkanlah kuburnya, dan dibuka baginya pintu menuju neraka. Ia pun melihat tempat duduknya di dalam neraka sampai hari kiamat. Dan riwayat ini berdasarkan sabda Nabi SAW:
حَتَّى اَنَّهُمْ لَيَسْمَعُوْنَ صَوْتَ نِعَالِكُمْ وَاِنَّمَا مَنَعُوْا عَنِ الْكَلَامِ

Sehingga sesunguhnya mereka (orang-orang yang sudah meninggal) mampu mendengar suara sandal-sandal kalian, hanya saja mereka dicegah untuk berbicara“.

Sebagian orang-orang ahli hikmah ditanya tentang tempat para ruh setelah kematian, ia pun menjawab :

  1. Sesungguhnya ruh-ruh para nabi ada di dalam Surga Adn. Ruh-ruh itu menentramkan jasad-jasadnya di dalam liang lahat, sedangkan jasad-jasadnya dalam keadaaan bersujud kepada Tuhannya.
  2. Ruh-ruh para syuhada’ (orang-orang yang mati syahid) ada di dalam Surga Firdaus, di tengah surga, di dalam lambung burung-burung hijau yang terbang di dalam surga ke manapun ia mau, kemudian ia datang pada lampu yang digantungkan di Arsy.
  3. Ruh-ruh anak-anak dari orang-orang islam ada di dalam lambung burung-burung pipit surga.
  4. Ruh-ruh anak-anak dari orang-orang musyrik berputar-putar di dalam surga, ia tidak punya tempat sampai hari kiamat, kemudian mereka akan melayani orang-orang mukmin.
  5. Ruh-ruh orang-orang mukmin yang masih memiliki hutang dan penaniayaan tergantungkan di angkasa, tak bisa sampai ke surga dan tidak pula ke langit sampai dilunasi hutang dan aniyaya itu. 
  6. Ruh-ruh orang-orang islam yang berbuat dosa disiksa di dalam kubur bersama jasadnya
  7. Dan ruh-ruh orang-orang kafir dan orang-orang menafiq ada di dalam Neraka Sijjin di dalam Neraka Jahannam, ditampakkan siksa baginya di waktu pagi dan petang.

*** ________________________________

Dikatakan (dalam sebuah riwayat), bahwa ruh merupakan jisim (materi) yang lembut (abstrak). Karena itulah tak boleh dikatakan bahwa Allah Yang Maha Luhur memiliki ruh, karena mustahil jika Allah bertempat seperti jisim
Dikatakan (dalam sebuah riwayat), bahwa ruh adalah sifat. Dan dikatakan (dalam sebuah riwayat), ruh terpecah dari hawa/angin (pecahan hawa). Dan kedua pendapat ini merupakan pendapat orang yang mengingkari adanya siksa kubur.

Diriwayatkan, sesungguhnya orang-orang Yahudi datang kepada Nabi SAW, lalu mereka bertanya tentang ruh, tentang para pemilik raqim (raqim adalah lempengan batu yang tertulis padanya nama-nama mereka dan nasab-nasabnya. Namun, sebagian ulama’ menafsiri, raqim adalah nama anjing Ashabul Kahfi), dan tentang Raja Dzul Qarnain. Lalu turunlah Surat Al-Kahfi di dalam perkara mereka (Surat Al-Kahfi : 9) dan turunlah ayat dalam hak ruh yaitu Firman Allah Yang Maha Luhur:
وَيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۖ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّيْ وَمَا أُوتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيْلًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”” (Al-Isra’ : 85).

  • Dikatakan (dalam sebuah riwayat) bahwa maknanya adalah ruh merupakan urusan Tuhan dan tidak ada pengetahuan bagi kita tentang ruh.
  • Dikatakan (dalam sebuah riwayat) bahwa ruh bukanlah makhluk, karena ia adalah amar (perintah) Allah Yang Maha Luhur, sedangkan amrun (perintah) Allah Yang Maha Luhur adalah kalam (firman-Nya).
  • Dikatakan (dalam sebuah riwayat) bahwa maknanya adalah ruh berasal dari Tuhan dengan kalimat “كُنْ” atau “jadilah”.

Sesungguhnya amrun (perintah Allah) ada 2 macam :

  1. Amrun Iltizam (perintah mewajibkan), seperti perintah-Nya untuk menjalankan ibadah-ibadah seperti sholat, puasa, haji, dan zakat.
  2. Amrun Takwin (perintah mewujudkan) yaitu perintah “كُنْ” atau “jadilah”, sebagaimana dalam Firman Allah Yang Maha Luhur:

قُلْ كُوْنُوْا حِجَارَةً أَوْ حَدِيْدًا – أَوْ خَلْقًا مِمَّا يَكْبُرُ فِيْ صُدُوْرِكُمْ

Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu”” (Al-Isra’ : 50-51).

Dan seperti Firman Allah Yang Maha Luhur:
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْـًٔا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ

Sesungguhnya keadaan kekuasaanNya apabila Ia menghendaki adanya sesuatu, hanyalah Ia berfirman kepada (hakikat) benda itu: ” Jadilah engkau! “. Maka ia terus menjadi” (Yasin : 82).
Adapun Firman Allah Yang Maha Luhur:
نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْأَمِيْنُ

Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Malaikat Jibril)” (As-Syu’ara’ : 193).

Dan Firman Allah Yang Maha Luhur:
يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf” (An-Naba’ : 38).

Dikatakan (dalam sebuah riwayat) bahwa makna ruh (pada Surat As-Syu’ara’ dan Surat An-Naba’ di atas) adalah dalam bentuk anak Adam (manusia), sesunggunya ruh itu adalah malaikat yang agung, yang berdiri sendiri dalam keadaan berbaris.

Adapun Firman Allah Yang Maha Luhur:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوْحِيْ فَقَعُوْا لَهُ سَاجِدِيْنَ

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (Al-Hijr : 29 atau Shaad : 72).

Makna ruh (pada Surat Al-Hijr : 29 atau Surat Shaad : 72) adalah tatkala Allah menyempurnakan penciptaan Nabi Adam as dan meniupkan ruh di dalam Nabi Adam as. Ini adalah “idhofah kholqin” atau dikatakan juga “idhofah takrim” sebagaimana dikatakan naqotullah (unta Allah) dan baitullah (rumah Allah).

Catatan :
Idhofah kholqin (menyandarkan pada makhluk), maksudnya adalah menyandarkan Aku (Pencipta makhluk) pada ruh (makhluk) sehingga menjadi “ruhi” atau “ruh-Ku”. Ada pula yang berpendapat kalimat “ruhi” adalah idhofah takrim (penyandaran memuliakan), maksudnya adalah penyandaran itu berfungsi sebagai bentuk memuliakan makhluk-Nya, seperti penyandaran nama “Allah” dengan kalimat “baitun(rumah)” menjadi baitullah (rumah Allah) juga berfungsi untuk memuliakan.

Adapun Firman Allah Yang Maha Luhur:
فَنَفَخْنَا فِيْهَا مِنْ رُوْحِنَا

Lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami” (Al-Anbiya’ : 91).

(Kalimat “Ruhina”) merupakan idhofah takrim berdasarkan apa yang telah kami jelaskan. Dikatakan bahwa maknanya adalah lalu Kami tiupkan ke dalamnya ruh dari Kami yakni Malaikat Jibril as. Berdasarkan ini pula dikatakan bahwa ruh itu adalah ruh Nabi Isa karena sesungguhnya beliau diciptakan dari tiupan Malaikat Jibril as. Dan dikatakan bahwa makna ruh itu adalah rohmat, Allah Yang Maha Luhur berfirman:
وَأَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِنْهُ

Dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya” (Al-Mujadalah : 22).

Wallahu a’lam bisshowab.

Sumber: Arjurahmah

Daqaiqul Akhbar

Mulai Perjalanan

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Buku Lain

Rekomendasi

Di sejumlah pesantren salafiyah, buku ini (Tanwir al-Qulub) biasanya dipelajari bersamaan dengan kitab-kitab fikih. Yang sedikit membedakan, kitab ini ditulis oleh seorang pelaku tarekat sekaligus mursyid dari tarekat Naqsyabandiyah.

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Sabilus Salikin

Sabilus Salikin atau Jalan Para Salik ini disusun oleh santri-santri KH. Munawir Kertosono Nganjuk dan KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan.
All articles loaded
No more articles to load

Islam, Iman dan Ihsan

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى…

Hidup Ini Terlalu Singkat

Postingan yg indah dari Bunda Amanah: Bismillahirrahmanirrahim. “Hidup ini Terlalu Singkat” Oleh: Siti Amanah Hidup…
All articles loaded
No more articles to load

Silsilah Kemursyidan

Dokumentasi

Download Capita Selecta

Isra' Mi'raj

17 Feb - 27 Feb

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

Ramadhan

7 Apr - 17 Apr

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

El Amin

Pekanbaru

Karya Limboto

Gorontalo

Hari Guru

10 Jun - 20 Jun

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Akhlaqul Amin

Lombok

Mujibul Amin

Samarinda

Idul Adha

29 Jun - 9 Jul

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Maulid Nabi

29 Sep - 9 Okt

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Baitul Amin 6

Bekasi

Ghausil Amin

Jember

El Amin

Pekanbaru

Rutin

15 Des - 25 Des

Darul Amin

Medan

Baitul Malik

Depok

Akhlaqul Amin

Lombok

Karya Limboto

Gorontalo

Ar Rahman

Johor Baru

Download:

177. Hijabnya Makhluk (2)

Hikmah 177 dlm Al-Hikam: إنَّمَا احْتَجَبَ لِشِدَّة ِظُهُرِهِ، وَخَفِيَ عَنِ الاَبْصَارِ لِعَظِيمِ نُورِهِ Dia terhijab…

176. Hijabnya Makhluk (1)

Hikmah 176 dlm Al-Hikam: “Hijabnya Makhluk” إِنَّمَا حَجَبَ اْلحَقَّ عَنْكَ شِدَّةَُ قُرْبِهِ مِنْكَ Yg membuat…

174. Penghambaan Yang Sebenarnya

Hikmah 174 dlm Al-Hikam: “Penghambaan Yang Sebenarnya” غيّبْ نَظَرَالخلقِ اِليْكَ بِنَظَرِاللهِ اِليْكَ، وَغِبْ عَنْ اِقْبالهِمْ…
All articles loaded
No more articles to load

177. Hijabnya Makhluk (2)

Hikmah 177 dlm Al-Hikam: إنَّمَا احْتَجَبَ لِشِدَّة ِظُهُرِهِ، وَخَفِيَ عَنِ الاَبْصَارِ لِعَظِيمِ نُورِهِ Dia terhijab…

176. Hijabnya Makhluk (1)

Hikmah 176 dlm Al-Hikam: “Hijabnya Makhluk” إِنَّمَا حَجَبَ اْلحَقَّ عَنْكَ شِدَّةَُ قُرْبِهِ مِنْكَ Yg membuat…

174. Penghambaan Yang Sebenarnya

Hikmah 174 dlm Al-Hikam: “Penghambaan Yang Sebenarnya” غيّبْ نَظَرَالخلقِ اِليْكَ بِنَظَرِاللهِ اِليْكَ، وَغِبْ عَنْ اِقْبالهِمْ…
All articles loaded
No more articles to load
All articles loaded
No more articles to load

Kontak Person

Mulai perjalanan ruhani dalam bimbingan Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sayyidi Syaikh Ahmad Farki al-Khalidi qs.

Abangda Teguh

Kediri, Jawa Timur

Abangda Tomas

Pangkalan Bun 

Abangda Vici

Kediri, Jawa Timur

Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Facebook
Share on telegram
Telegram
Share on twitter
Twitter
Share on email
Email
Share on print
Print

Daftar Isi

Copy link
Powered by Social Snap