Hikmah 97 dlm Al-Hikam:
“Carilah Kemuliaan Yang Abadi”
اذا اَرَدتَ اَنْ يَكُونَ لكَ عِزًّ لاَ يَفْنىَ فَلاَ تَسْتَعِزَّنَّ بِعِزٍّ يُفـْنىٰ
Jika engkau ingin mendapatkan kemuliaan yg tidak punah/rusak, maka jangan membanggakan kemuliaan yg bisa rusak.
Manusia mencari kemuliaan melalui berbagai macam cara. Mereka mencarinya melalui harta, pangkat dan kekuasaan. Ada yg mencarinya melalui ilmu dan amal. Semua kemuliaan yg diperoleh dengan cara demikian bersifat sementara. Semua kemuliaan tersebut adalah fatamorgana.
Kemuliaan yg abadi/tidak rusak hanya kemuliaan Allah, maka bergantunglah dengan Allah, sebab Allah kekal abadi dan tidak rusak. Adapun jika bergantung kepada kekayaan, kebangsaan, kedudukan, maka semua itu palsu dan akan rusak tidak kekal. Maka barang siapa bergantung pada suatu sebab yg tidak kekal, maka akan rusak bersama dengan rusaknya sebab/alat itu.
Allah berfirman: “Apakah mereka mengharapkan pada apa yg mereka sanjung itu suatu kemuliaan, ketahuilah sesungguhnya kemuliaan itu semuanya milik dan hak Allah Ta’ala.”
Ada hikayat: Seseorang datang kepada raja Harun al-Rasyid, untuk memberi nasihat, tiba² Harun al-Rasyid marah kepadanya, lalu memerintahkan kepada pengawalnya supaya mengikat orang itu bersama dengan keledainya yg nakal, supaya dia mati di tendang keledai. Setelah perintah dilaksanakan tiba² keledai itu jadi lunak kepada orang yg akan dihukum. Kemudian Harun memerintahkan supaya orang tersebut di masukkan kedalam rumah dan pintunya supaya ditutup dengan semen, supaya dia mati didalamnya, tiba² orang yg dihukum itu telah berada di luar (kebun) sedang pintu rumah masih tertutup dengan semen. Maka orang itu dipanggil oleh Harun al-Rasyid dan ditanya: “Siapa yg mengeluarkan kamu dari rumah (penjara)?” Jawabnya: “Yg memasukkan saya ke kebun.” Harun bertanya lagi: “Dan siapa yg memasukkan engkau ke dalam kebun?” Jawabnya: “Yg mengeluarkan aku dari rumah.”
Kemudian Harun al-Rasyid sadar dan memerintahkan pengawalnya untuk membawa orang itu diatas kendaraan dan keliling kota, sambil memberitahukan pada masyarakat: “Ketahuilah bahwa raja Harun al-Rasyid menghinakan orang yg telah di muliakan Allah, maka tidak bisa.”
Seseorang datang kepada seorang ‘Arif sambil menangis, maka ditanya oleh sang ‘Arif: “Mengapa engkau menangis?” Jawabnya: “Karena Guruku telah mati.” Orang ‘Arif itu berkata: “Mengapa engkau berguru pada orang yg bisa mati.”
Syaikh Abdullah as-Syarqawi mensyarah:
Jika kau menghendaki kemuliaan abadi, jauhilah segala sebab dan yakinlah dengan adanya sang Pencipta sebab. Pencipta sebab adalah Tuhan Yang Abadi sehingga ketergantunganmu kepada-Nya menjadi sumber kemuliaan yg abadi.
Jangan kau tertipu dengan kemuliaan yg fana, misalnya dengan menyandarkan diri pada sebab dan tidak menyadari siapa Penciptanya. Karena sebab itu fana, ketergantunganmu terhadap sebab menjadi sumber kemuliaan yg tidak abadi.
Apabila kau merasa mulia karena Allah, kemuliaanmu akan abadi dan tak seorang pun yg mampu menghinakanmu. Namun, jika kau mendapat kemuliaan dari selain-Nya, seperti dari harta, kehormatan, dan kedudukan, dan kau merasa puas serta menjadikannya sandaran, lalu kau lalai dari Tuhanmu, maka tak ada keabadian bagi kemuliaanmu itu. Tak ada kemuliaan pada sesuatu yg kau banggakan selain Tuhan. Wallaahu a’lam